Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Nyonya Nomor Satu
Kabar dari Sirkuit Bukit Utara menyebar lebih cepat daripada hujan turun.
Dalam satu malam, grup obrolan anak-anak konglomerat Kota Biru penuh dengan video Ferrari merah menyalip Lamborghini hitam di tikungan ketiga.
Ada yang membicarakan mobil.
Ada yang membicarakan taruhan Rp 1 Miliar.
Tetapi paling banyak orang membicarakan satu teriakan dari garis finis.
Suamiku, semangat!
Jessica melihat potongan video itu di ponsel Michelle pagi harinya.
Michelle tertawa sampai hampir jatuh dari sofa.
"Mbak Jessica, kamu romantis juga ya."
Wajah Jessica langsung memerah. "Hapus."
"Tidak bisa. Sudah tersebar."
Daun duduk di karpet sambil memeluk boneka. "Mama panggil Papa suami?"
Michelle makin tertawa.
Jessica menutup wajah dengan satu tangan.
Hendry berdiri di dapur, menuang air hangat, sudut bibirnya tampak terlalu tenang.
Jessica menatapnya tajam. "Kamu tidak boleh senyum."
"Aku sedang minum."
"Matamu senyum."
Hendry menunduk pada gelasnya. "Sulit mengatur mata."
Michelle memukul bantal sofa karena tertawa.
Malamnya, Brandon mengirim undangan lain.
Kali ini bukan pesta liar.
Gala amal Kota Biru untuk yayasan pendidikan seni.
Tempatnya masih di lingkaran atas, sebuah ballroom hotel mewah yang biasa dipakai pejabat, pengusaha, dan keluarga lama untuk saling menunjukkan kemurahan hati.
Jessica awalnya tidak ingin datang.
"Aku sudah terlalu lelah jadi tontonan orang," katanya.
Hendry berdiri di dekat pintu kamar.
"Kalau kamu tidak datang, mereka akan bercerita tanpa melihatmu."
"Kalau aku datang?"
"Mereka akan melihat sendiri."
Jessica menatapnya.
Beberapa hari terakhir, pria ini terlalu sering berdiri di tempat yang membuatnya aman.
Akhirnya ia mengangguk.
Ballroom itu dipenuhi cahaya putih keemasan. Meja bundar tersusun rapi. Di panggung kecil, kuartet gesek memainkan musik lembut. Di salah satu dinding, layar besar menampilkan foto anak-anak penerima beasiswa seni.
Brandon menyambut mereka di pintu.
"Mas Hendry, Mbak Jessica. Malam ini kalian legenda."
Jessica menatapnya. "Jangan mulai."
Brandon langsung mengangkat dua tangan. "Baik. Tidak mulai. Tapi semua orang sudah mulai duluan."
Kevin Saputra datang tak lama kemudian. Ia memberi anggukan sopan kepada Jessica.
"Bu Jessica, selamat malam. Setelah semalam, nama Anda membuat banyak orang sadar bahwa dukungan di garis finis lebih menakutkan daripada mesin Lamborghini."
Jessica ingin tenang, tetapi pipinya kembali merah.
Hendry melirik Kevin.
Kevin tersenyum seolah tidak bersalah.
Di sisi lain ballroom, pintu utama terbuka.
Percakapan menurun satu tingkat.
Angelica Permata masuk.
Gaunnya hitam, sederhana tetapi mahal. Rambutnya jatuh di bahu. Ia berjalan seperti seseorang yang sudah terbiasa ruangan menyesuaikan diri dengan kehadirannya.
Kota Biru menyebutnya Nona Nomor Satu.
Cantik, kaya, terdidik, dan lahir dari keluarga Permata.
Mata Angelica melewati beberapa tamu, lalu berhenti pada Jessica.
Ia berjalan mendekat.
"Bu Jessica Mahendra."
Jessica berdiri dengan tenang. "Nona Angelica."
Angelica tersenyum. "Akhir-akhir ini nama Anda ramai sekali. Semua orang bilang Kota Biru menemukan wanita paling cantik yang baru."
Nada suaranya lembut.
Pisau di dalamnya lebih lembut lagi.
Jessica menjawab, "Orang-orang suka berlebihan."
"Mungkin." Angelica melirik Hendry. "Atau mungkin mereka hanya suka cerita wanita cantik yang tiba-tiba bersinar karena pria di sampingnya."
Meja di sekitar mereka menjadi sunyi.
Brandon berhenti minum.
Kevin menatap gelasnya, tetapi jelas mendengar.
Jessica menggenggam ujung tas kecilnya.
Ia bisa menjawab.
Ia ingin menjawab.
Namun setiap kata di ruangan seperti ini bisa berubah menjadi pisau baru.
Hendry berdiri.
"Nona Angelica."
Angelica menoleh.
"Ya?"
"Musiknya terlalu bagus untuk hanya dipakai saling menguji."
Ia mengulurkan tangan kepada Jessica.
"Menari denganku?"
Jessica tertegun.
"Hendry, aku..."
"Percaya padaku."
Dua kata itu pelan.
Jessica menatap tangannya.
Lalu meletakkan jemarinya di sana.
Brandon membelalak. "Mas Hendry bisa menari?"
Kevin tersenyum. "Malam ini sepertinya kita akan tahu banyak hal."
Kuartet di panggung berganti irama setelah seorang petugas acara memberi isyarat. Musik tango mengalir, lebih tajam, lebih hidup.
Hendry membawa Jessica ke tengah lantai.
Pada langkah pertama, Jessica masih kaku.
Ia tidak siap.
Ia tidak pernah membayangkan pria yang dulu ia anggap hanya diam di rumah bisa berdiri di ballroom seperti ini dan memimpin tarian.
Hendry tidak menariknya kasar.
Ia hanya memberi tekanan ringan di punggung tangannya.
Kiri.
Berhenti.
Putar.
Jessica mengikuti.
Tubuh Hendry stabil. Setiap geraknya bersih. Tidak pamer, tidak terburu-buru, tetapi cukup kuat untuk membuat Jessica merasa jika ia melangkah salah pun, ia tidak akan jatuh.
Sedikit demi sedikit, bahunya rileks.
Matanya terangkat.
Musik naik.
Hendry memutar Jessica satu kali.
Gaun Jessica membuka garis cahaya di lantai. Rambutnya bergerak mengikuti putaran. Wajahnya yang beberapa jam lalu malu kini berubah.
Tenang.
Percaya diri.
Bercahaya.
Para tamu berhenti bicara.
Angelica berdiri di tepi lantai dansa.
Ia awalnya ingin melihat Jessica goyah.
Tetapi yang ia lihat justru berbeda.
Wanita itu tidak sedang bersinar karena pria di sampingnya.
Pria itu sedang memegang ruang agar ia bisa bersinar tanpa takut.
Itu jauh lebih sulit dikalahkan.
Langkah terakhir datang seperti napas yang ditahan.
Hendry menarik Jessica mendekat, berhenti tepat saat musik jatuh pada nada terakhir.
Mata mereka bertemu.
Jarak mereka sangat dekat.
Untuk sesaat, ballroom tidak ada.
Hanya napas Jessica yang sedikit cepat.
Dan mata Hendry yang memandangnya seolah semua lampu di ruangan itu tidak ada artinya dibanding wanita di hadapannya.
Tepuk tangan pecah.
Satu orang berdiri.
Lalu yang lain.
Dalam beberapa detik, seluruh ballroom berdiri memberi aplaus.
Brandon bersiul keras.
Kevin bertepuk tangan dengan senyum tenang.
Jessica baru sadar semua orang melihat. Ia hampir mundur, tetapi Hendry tetap menggenggam tangannya.
"Angkat dagu," bisiknya.
"Apa?"
"Malam ini kamu Nyonya Nomor Satu."
Jessica menatapnya, lalu perlahan mengangkat dagu.
Angelica melihat itu.
Senyumnya menghilang sebentar.
Lalu muncul lagi, tetapi kali ini berbeda.
Nada ejekan sudah hilang.
Rasa ingin tahu.
Ia menatap Hendry lebih lama.
"Pria itu..." gumamnya pelan, "sebenarnya siapa?"
Acara berakhir hampir pukul sebelas.
Jessica masih tampak seperti orang yang baru keluar dari mimpi. Di lorong hotel, ia berkata pelan, "Aku tidak tahu kamu bisa menari."
"Aku juga tidak tahu kamu bisa membuat ballroom diam."
Jessica menoleh, wajahnya kembali hangat.
"Jangan mulai."
"Aku belum mulai."
Di luar hotel, Bagus tidak ikut tersenyum.
Matanya mengikuti sebuah van abu-abu yang berhenti terlalu lama di sisi jalan.
Empat pria turun begitu Hendry dan Jessica masuk mobil.
Bagus menutup pintu mobil dari luar.
"Pak Hendry, tunggu sebentar."
Hendry melihat lewat kaca.
Bagus berjalan ke arah empat pria itu.
Tidak ada teriakan panjang.
Tidak ada pertarungan rumit.
Pria pertama mencoba memukul. Bagus menangkap pergelangan tangannya dan memutar.
Pria kedua maju dengan tongkat pendek. Bagus menendang lututnya.
Pria ketiga dan keempat baru sempat bergerak ketika bahu Bagus menghantam mereka seperti dinding.
Dua puluh detik.
Empat orang jatuh.
Bagus merogoh salah satu jaket mereka, menemukan kartu identitas perusahaan keamanan, lalu memotretnya.
Foto itu masuk ke ponsel Hendry.
Logo kecil di kartu.
Hadiprana Security Service.
Hendry menatap layar.
Matanya menjadi dingin.
"Orang Hadiprana."
Jessica di sampingnya masih tersenyum kecil, belum menyadari apa yang terjadi di luar karena kaca mobil gelap dan musik ballroom masih tertinggal di kepalanya.
Hendry mematikan layar ponsel.
"Vincent sudah melewati batas."