Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Piring Sekaligus
Seminggu setelah upgrade sistem, hidup Doni berubah jadi jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Kalau dulu dia cuma perlu fokus satu hal per minggu, sekarang dia harus bagi otak buat tiga urusan sekaligus cabai, program agritech, dan pengajuan KUR bank sementara kuliah dan tugas asisten riset Pak Hardianto tetap jalan seperti biasa.
"Lo kayak orang lagi nyulap piring, Don," celetuk Herman suatu malam, ngeliat Doni duduk di lantai kamar dikelilingi tiga map warna berbeda merah buat cabai, biru buat agritech, kuning buat KUR bank.
"Nyulap gimana, Man?"tanya Doni
"Ituloh, yang muter-muterin piring di atas tongkat, banyak sekaligus. Kalau kelewat lama nggak diputer, jatoh semua."
Doni mendengus, tapi ngerasa analogi itu ada benarnya juga. "Makanya gue bikin jadwal, Man. Senin-Selasa fokus cabai, Rabu-Kamis agritech, Jumat-Sabtu KUR bank."
"Terus kuliah kapan?"
"Ya di sela-selanya lah, Man. Untung dosen-dosen semester ini nggak terlalu killer semua."
Senin pagi, Doni mulai eksekusi rencana soal cabai. Dia telepon bapaknya lagi buat update.
"Pak, gimana soal petani cabai yang kemarin Bapak bilang mau ditanyain?"
"Ada tiga keluarga, Nak. Pak Slamet bukan Bapak yang ini ya, beda orang terus Bu Painah, sama Mas Joko. Mereka nanam cabai di lahan sekitar dua hektar gabungan."
"Bisa saya minta nomor mereka, Pak? Saya mau coba hubungkan ke pembeli yang lebih baik, sama kayak gula aren kemarin."
"Bapak kasih nanti lewat WhatsApp ya."
Sore itu, Doni mulai telepon satu-satu petani cabai yang dimaksud, jelasin rencana serupa koperasi tapi lebih sederhana semacam kesepakatan jual langsung tanpa lewat tengkulak, khusus buat musim ini aja dulu, sambil dia cari tau apa perlu bikin unit usaha terpisah di bawah koperasi yang udah ada.
"Jadi gini, Pak Joko, kalau harga cabai beneran naik kayak yang saya dengar, saya bisa bantu carikan pembeli di kota yang harganya lebih tinggi dibanding jual ke pengepul biasa."
"Serius, Nak? Kemarin-kemarin desa sebelah juga sempat coba begituan, tapi malah kena tipu, pembelinya kabur nggak bayar."
"Saya ngerti kekhawatiran Bapak. Makanya saya mau pastiin dulu, pembelinya jelas, ada kontrak tertulis, bukan cuma janji lisan doang."
"Kalau gitu, boleh, Nak. Yang penting jelas aturannya."
Selasa malam, Doni pindah fokus ke folder biru, mulai nyusun proposal buat program agritech.
Berkat bantuan Pak Hardianto yang udah kasih kontak kolega penyeleksi program, Doni dapet gambaran lebih jelas soal apa yang mereka cari.
"Programnya fokus ke digitalisasi pencatatan produksi sama distribusi, Don," jelas Pak Hardianto waktu mereka ketemu di kampus.
"Kamu perlu tunjukin gimana koperasi kamu bisa manfaatin sistem digital itu buat efisiensi, bukan cuma buat gaya-gayaan doang."
"Kalau soal itu, saya kepikiran bikin sistem pencatatan sederhana dulu, Pak. Excel yang bisa diakses semua anggota lewat HP, biar transparan."
"Bagus, tapi coba juga singgung soal potensi ke depan, misalnya integrasi sama aplikasi jual-beli online, biar kelihatan visinya jangka panjang."
Doni mencatat semua masukan itu, mikir keras gimana cara nulisnya biar meyakinkan tapi tetap realistis, nggak kedengaran kayak janji muluk-muluk yang nggak bisa dibuktiin.
Rabu siang, giliran folder kuning yang dia pegang. Doni ketemu Mas Rian di kantor cabang bank daerah, ngobrolin detail syarat KUR buat koperasi baru.
"Jadi, syarat utamanya koperasi harus punya legalitas lengkap itu udah kamu punya. Terus laporan keuangan minimal tiga bulan terakhir." jelas Mas Rian
"Laporan keuangan koperasi kami baru jalan dua bulan, Mas. Gimana?" tanya Doni
"Kalau begitu, kamu perlu lampirin proyeksi keuangan juga, plus surat keterangan dari pendamping akademik atau dinas terkait, biar makin kuat."
"Pak Hardianto bisa jadi pendamping, Mas. Beliau dosen ekonomi yang selama ini bimbing koperasi kami."
"Bagus, itu bakal ngebantu banget buat penilaian. Coba lengkapi semua dokumennya minggu ini, biar bisa masuk gelombang pendaftaran pertama."
Doni pulang dari bank dengan daftar dokumen yang harus dilengkapi, kepalanya udah mulai berat mikirin tiga urusan sekaligus, ditambah tugas kuliah yang tetap harus dikerjain.
Kamis malam, di tengah kesibukan itu, Doni sempat kelewat deadline tugas kelompok Ekonomi Internasional gara-gara lupa gara-gara sibuk ngurus dokumen KUR. Sinta, yang jadi ketua kelompoknya, sampai nge-chat kesel.
"Don, lo lupa ya bagian lo belum dikirim? Presentasi besok pagi loh."
Doni langsung panik, buru-buru buka laptop, ngerjain bagiannya sampai jam dua pagi.
"Sori banget, Sin, kelewat gara-gara sibuk urusan koperasi. Bentar lagi gue kirim."
"Ya udah, cepetan. Tapi Don, lo jangan sampe kuliah keteteran gara-gara koperasi terus. Gue tau itu penting, tapi kuliah lo juga penting."
Doni menghela napas, sadar Sinta benar. Tiga info sekaligus dari sistem emang ngasih peluang gede, tapi kalau nggak diimbangin manajemen waktu yang lebih baik, bisa-bisa dia malah kolaps di tengah jalan, atau lebih parah, sampai kena masalah akademik yang bisa ganggu masa depannya sendiri.
Jumat pagi, sehabis presentasi kelompok yang untungnya berjalan lancar meski Doni sempat keteteran nyampein bagiannya karena kurang tidur, dia duduk sebentar di kantin, ngerenungin keadaan.
"Gue kayaknya kebanyakan ngambil beban, Sin," katanya ke Sinta yang duduk di seberang meja, masih agak kesel gara-gara kejadian semalam.
"Iya, Don. Lo harus belajar milih prioritas, bukan nyoba nanganin semuanya sekaligus kayak superhero."
"Tapi kalau gue nggak ambil semua kesempatan ini, sayang banget, Sin. Ini semua bisa ngebantu banyak orang."
"Gue ngerti niat lo baik, Don. Tapi lo juga manusia biasa, bukan robot yang bisa kerja nonstop tanpa istirahat. Coba deh, mana yang paling mendesak, fokus situ dulu, yang lain jalan pelan-pelan aja."
Doni terdiam, mikirin saran itu. Malam itu, sebelum tidur, dia bikin ulang jadwalnya, kali ini lebih realistis fokus utama ke pengajuan KUR dulu karena deadline paling dekat, disusul proposal agritech, sementara urusan cabai dia serahkan sementara ke bapaknya buat koordinasi awal sama petani, biar dia nggak collapse sendirian nanganin semuanya.
"Pelan-pelan aja," gumamnya sendiri, menatap tiga map warna-warni yang masih tergeletak di lantai kamar. "Yang penting jalan terus, nggak harus buru-buru semuanya kelar barengan."
Dari balik kelopak mata yang mulai berat, dia sempat kepikiran, mungkin ini juga bagian dari pelajaran yang sistem mau kasih bukan cuma soal nangkep peluang, tapi juga soal belajar nentuin batas diri sendiri, sesuatu yang selama ini jarang dia pikirkan waktu masih sibuk kejar untung sesaat.