NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4 BENTURAN ELEMEN.

***

Suara langkah kaki yang tergesa menggema di sepanjang lorong batu. Lentera bergoyang saat seorang pria paruh baya dengan jubah penyembuh berwarna biru gelap dan lambang emas Kekaisaran berlari mendekat.

Master Eldric Moreven—tabib istana, penyembuh utama, dan teman lama Grand Duke Darian—mendorong pintu kamar Grand Duchess dengan paksa.

“Di mana dia?!” serunya penuh cemas.

Di dalam ruangan, Iris telah direbahkan kembali ke tempat tidurnya. Wajahnya masih pucat, napasnya tipis. Di samping ranjang, Darian berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, tegak dan diam seperti patung ksatria. Lisa duduk di kursi dengan mata bengkak dan jemari saling menggenggam erat di pangkuannya.

Begitu melihat sang tabib masuk, Lisa langsung berdiri. “T-Tabib! Tolong periksa Yang Mulia... dia… dia pingsan tiba-tiba!”

Eldric segera menghampiri Iris. Jemarinya yang cekatan menyentuh pergelangan tangan sang Duchess, memeriksa denyut nadi, suhu tubuh, dan kondisi perutnya dengan gerakan ahli. Ia menyalurkan sedikit energi penyembuhan ke tubuh Iris, tapi merasakan getaran lembut yang memantul balik.

Setelah beberapa menit, ia menarik napas panjang dan menatap Lisa.

“Apa yang terjadi?” tanyanya cepat. “Siang tadi kondisinya stabil. Ia bahkan sempat tersenyum.”

Lisa menunduk, suaranya bergetar. “Saya… saya tertidur sebentar. Tapi saat bangun, Yang Mulia sudah tidak ada. Saya mencari ke seluruh ruangan tetapi tidak ada… dan menemukan beliau di lorong utama… menangis… di hadapan Tuan Grand Duke…”

Tatapan Eldric langsung berpindah. Mata cokelat tuanya menatap Darian dengan sorot tajam campuran rasa khawatir, jengkel, dan keheranan.

Darian tidak bergeming. Suaranya tetap dingin, nyaris tidak peduli.

“Ia menangis… karena menginginkan puding mangga,” ujarnya tenang, seolah menjelaskan hal sepele seperti laporan cuaca.

Lisa memekik pelan. Eldric membeku. “...Puding mangga?”

Darian mengangguk pelan. “Tengah malam. Di lorong istana.”

Suasana hening beberapa detik. Lalu Eldric memijat pelipisnya sambil mendesah panjang.

“Darian,” katanya, kali ini tak lagi memakai gelar. “Kau bilang... istrimu pingsan karena... puding mangga?”

“Karena dia ingin makan puding mangga, tapi tidak mendapatkannya,” jawab Darian tetap tenang. “Dan menangis.”

Eldric melirik ke arah Lisa yang mengangguk lemah membenarkan. Ia lalu kembali menatap sahabat lamanya dengan ekspresi frustasi.

“Apakah kau benar-benar sebatu ini?” geram Eldric pelan. “Kau pikir permintaan wanita hamil bisa diperlakukan seperti permintaan prajurit yang merengek cuti tempur?”

Darian menyipitkan mata. “Jangan membandingkan pertempuran dan... makanan manis.”

Eldric hampir tertawa. “Kau tahu, aku bisa menulis buku khusus ‘Bagaimana Tidak Menjadi Suami Saat Istri Hamil’ oleh Darian von Ravengard.”

Darian tidak menjawab, tapi raut wajahnya mengeras. Lisa menahan senyum getir di balik air matanya.

Eldric menarik napas lagi, lalu menatap Iris yang masih belum sadarkan diri.

“Aku tak bisa memberinya obat atau ramuan pemulih biasa,” katanya dengan suara lebih tenang. “Tubuh Grand Duchess sedang menyatu dengan aliran suci.”

Darian menoleh. “Aliran... suci?”

Eldric mengangguk pelan. “Aku sudah mencurigainya sejak pertama kali memeriksa kandungannya. Tapi siang tadi… dan sekarang, setelah menyentuhnya… aku yakin. Bayi dalam kandungannya memiliki reaksi alami yang menolak sihir biasa. Bahkan milikku.”

Lisa ternganga. “Tapi… bukankah itu… tidak biasa?”

“Tidak,” jawab Eldric pelan. “Itu bukan sekadar tidak biasa. Itu… luar biasa.”

Ia menatap Darian penuh arti. “Janin yang dikandung istrimu… anakmu, Darian… memiliki inti kekuatan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Energinya murni. Tidak hanya menyatu dengan ibunya… tapi melindungi dirinya sendiri dari energi luar.”

Darian diam, ekspresinya sulit terbaca.

Eldric melanjutkan, lebih lirih. “Bayi ini... punya kekuatan jauh melebihi kekuatanmu, Darian. Dan mungkin lebih besar dari semua bangsawan kekaisaran yang pernah ada.”

Lisa menutup mulut dengan kedua tangannya.

Darian menatap perut Iris. Tatapannya lebih lama kali ini. Lebih dalam.

“Aku... tidak tahu hal itu,” gumamnya akhirnya.

Eldric menatapnya. “Tentu kau tak tahu. Karena kau bahkan tak pernah mendekatinya sejak ia hamil.”

Darian menoleh tajam, tapi Eldric tak gentar. “Kau bisa jadi panglima, suami dari wilayah Ravengard, legenda medan perang… tapi sebagai suami? Kau payah.”

Lisa terhanyut terkejut, hampir menjatuhkan kain basah dari tangannya. Tak ada yang berani berbicara seperti itu pada Grand Duke selain Eldric.

Darian hanya menjawab pelan. “Aku tidak tahu harus berbuat apa.”

Suara itu rendah, jujur... dan untuk pertama kalinya, terdengar rapuh.

Eldric mendekat dan menepuk bahunya. “Lalu sekarang belajarlah. Karena istrimu bukan hanya cantik. Dia sedang mengandung sesuatu yang bisa mengguncang sejarah.”

Sunyi mengisi kamar.

Lisa kembali duduk, memegangi tangan Iris.

Sementara Darian… berdiri mematung. Tapi pikirannya tidak lagi setenang permukaan wajahnya. Dalam hatinya, muncul gema aneh rasa bersalah… dan ketertarikan yang selama ini ia sangkal.

Cahaya mentari pagi mulai menyusup pelan di balik tirai renda putih yang menghiasi jendela kamar Grand Duchess. Embun masih menggantung di ujung-ujung kaca, sementara hawa dingin khas utara masih setia menyelimuti batu-batu dinding kastil Ravengard.

Pelan... tubuh Iris bergerak di balik selimut.

Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi pelipis. Dan di dalam tubuhnya tepat di balik perut yang mulai membuncit ada sesuatu yang bergerak pelan, seperti getaran lembut... atau sentuhan dari dalam.

“Aaah…” gumamnya lirih.

Tangannya refleks menyentuh perutnya.

"Apa itu tadi...?"

Rasa mual mendadak naik dari ulu hati. Ia menutup mulut, lalu tanpa berpikir panjang, bangkit dari ranjang dan melangkah cepat terhuyung ke kamar mandi.

Begitu membuka pintu kayu gading itu, tubuhnya hampir jatuh ke lantai marmer dingin. Tapi ia sempat berpegangan ke meja wastafel. Dan…

Suara muntahan menggema singkat.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Lisa masuk sambil membawa baskom kecil berisi air hangat, handuk bersih, dan wewangian herbal untuk menyegarkan Nyonya-nya seperti biasa.

“Yang Mulia, saya bawa air hangat—” Lisa terdiam. Matanya melebar. “Nyonya?!”

Ia melihat selimut di ranjang tak tersentuh. Jantungnya melonjak.

“Grand Duchess?!” serunya lebih keras.

Suara batuk pelan dari kamar mandi membuat Lisa segera berlari.

“Yang Mulia!”

Begitu membuka pintu, ia mendapati Iris terduduk lemas di lantai dingin, wajahnya sangat pucat, rambut peraknya kusut dan menjuntai di bahu. Tangan kirinya memegang perut, tangan kanannya bergetar saat mencoba menopang tubuhnya di tepi wastafel.

“Maaf… Lisa… aku tidak ingin membuatmu khawatir,” ujar Iris dengan suara serak.

Lisa berjongkok, air matanya nyaris menetes karena kaget. “T-Tidak, Yang Mulia! Anda tidak boleh bangun sendiri! Tubuh Anda masih lemah!”

Dengan cepat, Lisa membantu Iris berdiri dan memapahnya kembali ke ranjang. Napas Iris tersengal, wajahnya memucat kembali setelah perjalanan singkat itu.

Lisa menepuk pipi Iris lembut dengan handuk hangat. “Maafkan saya, saya seharusnya berjaga sepanjang malam…”

“Tidak apa-apa,” bisik Iris. “Aku... hanya... merasa mual. Tapi aku baik-baik saja.”

Lisa menatapnya khawatir. “Apakah Anda ingin saya panggilkan Tabib Eldric?”

Iris menggeleng pelan. “Tidak… aku hanya... ingin satu hal…”

Lisa menunggu.

“…Puding mangga.”

Lisa membeku. “…Maaf?”

Iris menatapnya, mata violet jernih itu penuh ketulusan. “Aku ingin makan puding mangga, Lisa. Sekarang.”

Lisa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berseru, “Bahkan dalam kondisi seperti ini… Anda masih mengidamkan puding mangga?”

Iris mengangguk polos. “Rasanya asam… dingin... manis. Entah kenapa… bayi ini sepertinya ingin juga.”

Lisa terdiam, lalu tersenyum kecil, menyeka air mata dari sudut matanya. “Baiklah. Saya akan memerintahkan dapur istana. Puding mangga akan segera disiapkan.”

Iris menarik selimut ke pundaknya. “Terima kasih… Kau selalu yang terbaik.”

Lisa berdiri. Sebelum keluar kamar, ia menoleh dan bertanya hati-hati, “Nyonya… apakah Anda ingat apa yang terjadi semalam?”

Iris mengernyit. “Aku… aku sedang berjalan… aku lapar. Ingin puding. Lalu… aku bertemu dia…”

Wajahnya memerah saat mengucapkan kata dia.

“Lalu apa yang terjadi setelah itu?” tanya Lisa hati-hati.

Iris mencoba mengingat. “Setelah itu… gelap. Aku tidak ingat apa-apa.”

Lisa menunduk. “Anda pingsan di hadapannya, Nyonya. Grand Duke menangkap Anda sebelum jatuh ke lantai.”

Iris terdiam. Ada rasa asing dalam hatinya. Malu... canggung... dan sesuatu yang ia tak bisa definisikan.

“Aku... membuat keributan, ya?”

Lisa menggeleng pelan. “Bukan salah Anda, Nyonya. Tapi... saya tidak akan membahas perkataan Tabib Eldric. Yang penting sekarang adalah Anda dan bayi sehat.”

Iris tersenyum lemah. “Dan puding mangganya.”

Sementara itu, di dapur utama sayap barat Kastil Ravengard...

Seorang pelayan muda sedang mendorong troli perak berisi nampan porselen putih. Di atasnya, semangkuk puding mangga dingin tampak segar dengan saus mangga kental di atasnya dan irisan buah segar di sisi-sisi mangkuk.

Ia melangkah cepat ke arah kamar sang Duchess, namun saat berbelok di lorong utama…

Langkahnya terhenti.

Grand Duke Darian berdiri di sana. Tegak, mengenakan pakaian gelap yang elegan, mata kelabu tajamnya memicing menatap troli itu.

“Apa yang kau bawa?” tanyanya datar.

Pelayan tersebut langsung membungkuk dalam-dalam. “A-ampun, Yang Mulia. Saya membawa makanan untuk… Grand Duchess.”

Darian mengerutkan alis. “Puding mangga?”

Pelayan itu mengangguk dengan gugup. “Y-ya, Yang Mulia. Permintaan khusus dari Nyonya pagi ini.”

Untuk sejenak, Darian menatap mangkuk puding itu. Diam. Lalu berkata dengan datar, “Teruskan.”

Pelayan tersebut membungkuk lagi. “Baik, Yang Mulia.” Ia segera mendorong troli itu kembali, langkahnya gemetar, menahan napas hingga keluar dari pandangan.

Begitu pelayan itu menghilang, Darian masih berdiri di tempat.

Ia mendongak sedikit, menatap jendela yang mengarah ke kamar istrinya.

Dalam diam, entah mengapa... aroma mangga segar pagi itu seperti mengusik sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang selama ini ia tekan... dan kini perlahan muncul ke permukaan.

Bersambung....

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!