Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Penyergapan di Lautan Putih
Di tengah lautan badai salju, dua belas sosok tinggi besar melangkah dengan kecepatan tinggi.
Mereka mengenakan zirah perak ringan yang memancarkan cahaya energi redup, menolak hawa dingin yang mencoba menembus kulit mereka.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menggigil. Mata mereka yang berwarna keemasan menatap tajam menembus badai, mencari jejak sekecil apa pun.
Ini adalah regu Pasukan Pelacak elit dari Kerajaan Surga Tiran.
Di posisi terdepan, memimpin barisan, berdirilah Yan Lie. Berbeda dengan prajurit lainnya yang mengenakan helm tertutup, Yan Lie membiarkan kepalanya terbuka. Rambut merahnya yang panjang berkobar. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah tombak logam hitam.
Yan Lie mendecakkan lidahnya dengan kesal.
"Misi konyol," gerutu Yan Lie, suaranya terdengar jelas meski badai menderu. "Penguasa Di Tian mengirim kita jauh-jauh ke ujung tempat beku ini hanya untuk memburu sekelompok budak pelarian? Mereka pasti sudah mati membeku menjadi patung es berminggu-minggu yang lalu."
"Tapi Tuan," seorang prajurit di belakangnya berbicara, "Xie Tu terbunuh. Jimat jiwanya hancur. Budak fana tidak mungkin bisa membunuh Kepala Pengawas Gunung Darah."
"Xie Tu itu babi gemuk yang lamban. Mungkin dia tergelincir jatuh ke dalam kawah magma," ejek Yan Lie sambil menyentuh sebuah batu merah berpola rumit yang tergantung di sabuknya—Batu Suara.
"Begitu kita menemukan tumpukan tulang-belulang para budak itu, aku akan memecahkan batu ini, melaporkan kegagalan mereka bertahan hidup, dan kita bisa kembali ke ibu kota untuk minum kembali anggur surgawi."
Regu itu terus melangkah maju. Tanpa mereka sadari, mereka baru saja melewati sebuah gundukan salju kecil yang membeku.
Tiba-tiba, angin berubah arah.
Yan Lie, yang memiliki insting elemen api yang sangat peka terhadap perubahan suhu, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit. Hawa dingin di sekitarnya terasa... aneh.
Sebelum Yan Lie sempat memberi perintah, terdengar suara gemerisik pelan dari arah belakang barisan.
Sret!
Prajurit dewa yang berada di urutan paling belakang tersentak. Sebuah bayangan putih melesat dari dalam salju tepat di bawah kakinya. Sebelum prajurit itu bisa bereaksi, sebuah belati yang bergerigi menebas bagian belakang lututnya—satu-satunya celah yang tidak tertutup zirah perak.
Darah emas menyembur keluar, langsung membeku di udara. Prajurit itu kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut dengan raungan tertahan.
Dalam sekejap mata, bayangan putih itu kembali menyelam ke dalam tumpukan salju.
"Serangan musuh!" teriak Yan Lie, tombaknya langsung berkobar menyala. "Bentuk formasi melingkar! Lindungi titik buta!"
Sebelas prajurit dewa yang tersisa segera merapatkan barisan, menghunuskan pedang dan tombak mereka ke arah badai yang mengelilingi mereka. Namun, yang mereka hadapi bukanlah sekawanan serigala atau beruang purba.
Swush! Swush! Swush!
Dari empat arah yang berbeda, belasan gundukan salju meledak secara bersamaan. Sosok-sosok yang dibalut kulit serigala putih berlari dengan postur sangat rendah, nyaris merangkak, menghindari sapuan pedang para dewa.
Mereka adalah Pasukan Fana. Mereka tidak menyerang secara frontal. Mereka mengincar persendian, leher bagian belakang, dan mata.
Seorang prajurit dewa mengayunkan pedang besarnya untuk membelah salah satu penyerang. Penyerang itu, seorang pemuda fana bernama Da Hu, tidak menangkis. Ia menjatuhkan diri, meluncur di atas es, dan menusukkan tombak kayunya tepat ke ketiak sang prajurit dewa.
Crak!
"Aaarrrggghh!" Prajurit dewa itu menjerit kesakitan, menjatuhkan pedangnya.
Setelah pukulan Da Hu masuk, ia tidak mencoba memberikan serangan lanjutan. Ia langsung berguling ke belakang dan menghilang kembali ditelan badai putih.
Ini adalah taktik "Serigala Berburu Beruang" yang dirancang oleh Ye Cangtian. Menghadapi musuh dengan kekuatan fisik dan zirah yang jauh lebih unggul, serangan langsung adalah bunuh diri. Pasukan Fana menggunakan badai sebagai perisai mereka.
Selama sepuluh menit berikutnya, kepanikan mulai melanda regu elit tersebut.
Mereka adalah "Dewa". Mereka tidak pernah berdarah oleh tangan manusia. Namun kini, armor perak mereka dipenuhi goresan. Beberapa dari mereka pincang. Darah emas menetes mewarnai salju menjadi kuning keemasan yang menjijikkan.
"Pengecut!" raung Yan Lie, memutar tombak apinya untuk menangkis tiga belati obsidian yang melayang ke arahnya. Belati itu hancur menjadi debu saat menyentuh apinya. "Kalian budak rendahan! Keluar dan bertarunglah seperti ksatria!"
Yan Lie menatap serpihan belati obsidian yang hancur di tanah. Matanya terbelalak lebar saat menyadari sesuatu yang sangat mustahil.
Ujung belati itu... memancarkan fluktuasi Qi. Sangat tipis, hanya setara dengan ranah Ahli Persilatan Tingkat 1, namun itu benar-benar Qi.
"Mustahil..." gumam Yan Lie, rahangnya mengeras. "Bagaimana mungkin para ternak-ternak ini... bisa menggunakan energi surga? Siapa yang mengajari mereka?!"
Rasa kaget itu segera berubah menjadi kemarahan yang mutlak. Arogansinya sebagai ras penguasa tercabik-cabik. Jika manusia fana bisa mempelajari cara menggunakan Qi, maka dominasi mutlak klan dewa akan terancam. Ia harus memusnahkan mereka semua di sini, sekarang juga!
"Mati kalian semua,!!"
Yan Lie mengangkat tombak hitamnya tinggi-tinggi ke udara. Urat-urat di lehernya menonjol saat ia memompa seluruh Qi Api setara Ahli Persilatan Tingkat 5 ke dalam senjatanya. Ujung tombak itu menyala sangat terang.
Blaaarrr!
Yan Lie menghantamkan pangkal tombaknya ke tanah es.
Sebuah gelombang kejut berupa cincin api raksasa meledak dan menyapu segala arah. Badai salju dalam radius lima puluh meter menguap dalam sekejap mata. Tumpukan salju tebal mencair menjadi genangan air mendidih.
Taktik kamuflase Serigala Berburu Beruang hancur total.
Tanpa penutup salju, ratusan prajurit fana yang sedang bersiap untuk serangan gelombang berikutnya kini terekspos jelas di atas bebatuan es yang basah. Beberapa dari mereka mengerang kesakitan, kulit lengan dan wajah mereka melepuh akibat terkena ujung gelombang api Yan Lie.
"Kena kalian," desis Yan Lie dengan senyum sadis yang merekah di wajahnya.
Ia mengangkat tombaknya kembali, membidik sekumpulan prajurit fana, termasuk Da Hu yang kini terjebak tanpa tempat bersembunyi. "Akan kubakar kalian menjadi abu, lalu aku akan meremukkan Batu Suara ini agar Pasukan Pemusnah menghabisi sisa ras kalian!"
Yan Lie menarik lengannya ke belakang, bersiap untuk melempar tombaknya. Para prajurit fana menggertakkan gigi, bersiap menyambut kematian tanpa menutup mata mereka.
Namun, sebelum tombak itu lepas dari tangan Yan Lie...
Sebuah suara dingin bergema dari langit di atas mereka
"Kau terlalu banyak bicara, antek-antek dewa."
Yan Lie mendongak secara refleks.
Dari puncak tebing es setinggi dua puluh meter, sebuah bayangan perak terjun bebas. Ye Cangtian yang sudah menggenggam erat pedang peraknya.
Qi berwarna hijau-emas meledak dari tubuh Cangtian, begitu pekat dan kuat. Ini bukan sekadar Qi pelindung, ini adalah Napas Kehidupan murni dari Ahli Persilatan Tingkat 3 yang telah dikompresi ke titik ekstrem.
Yan Lie terkesiap. Ia secara naluriah menarik kembali tombaknya dan menyilangkannya di atas kepala untuk menangkis.
Tranggggg!!!!
Benturan antara pedang ganda Cangtian dan tombak api Yan Lie menghasilkan suara denting logam yang memekakkan telinga. Gelombang kejut kedua meledak, kali ini meretakkan lapisan es pijakan mereka hingga sedalam tiga meter.
Yan Lie mengerang tertahan. Kakinya amblas hingga ke lutut. Ia menatap pemuda berambut hitam di atasnya dengan ketidakpercayaan yang luar biasa.
Pemuda ini... fana ini... memiliki kekuatan fisik yang hampir setara dengannya!
Cangtian menekan pedangnya lebih dalam, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Yan Lie. Matanya menyala dengan dendam ribuan tahun umat manusia.