Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Tawaran yang Bukan Pilihan
Setengah jam kemudian, halaman rumah tanah itu mulai sepi.
Sebastian dan rombongannya dipersilakan memakai rumah bata kosong milik kerabat perangkat desa. Bangunannya hanya berjarak beberapa puluh langkah dari rumah Karina, tetapi memiliki pintu yang kokoh, tiga kamar, dan listrik yang tidak berkedip setiap kali angin bertiup.
Tuti ditempatkan di kamar paling dalam. Lukanya dibersihkan lagi dan dibalut. Seorang pengawal berjaga di luar pintu, sedangkan yang lain mencoba menghubungi petugas kecamatan dari titik jalan yang memiliki sinyal lebih baik.
Nathan dan Lucas duduk berdampingan di atas kasur tipis ruang tengah. Keduanya sudah diberi air hangat, tetapi masih menoleh setiap kali terdengar langkah di luar.
Karina berjongkok di depan mereka. "Malam ini kita tidur di sini. Ada orang yang jaga pintu."
Lucas menarik ujung bajunya. "Orang jahatnya nggak balik?"
"Nggak malam ini."
"Mama tidur sama kami?"
"Iya."
Jawaban itu baru membuat Lucas bersedia berbaring. Nathan tidak bertanya apa pun, hanya memilih sisi kasur yang paling dekat dengan pintu. Kebiasaan kecil tersebut membuat dada Karina terasa berat.
Ia menarik selimut sampai ke bahu kedua anak itu. "Mama bicara sebentar di sebelah. Kalau butuh apa-apa, panggil."
Nathan menatap pintu, lalu Karina. "Jangan lama."
"Nggak lama."
Sebastian menunggu di ruang depan yang hanya diterangi lampu kuning. Jasnya telah dilepas dan diletakkan di sandaran kursi. Lengan kemejanya masih tertutup sampai pergelangan, tetapi simpul dasinya sedikit longgar. Sebuah map hitam berada di meja bersama HP dan segelas air yang belum disentuh.
Karina duduk berhadapan dengannya.
"Tuti sudah lebih tenang," katanya. "Lukanya kebanyakan di permukaan. Namun dia tetap perlu diperiksa di tempat yang memadai, terutama karena dipukul berkali-kali."
"Orang saya akan mengurusnya besok."
"Dia juga melihat sesuatu yang mungkin berkaitan dengan tindak kejahatan lain."
Karina menurunkan suara, lalu menceritakan terpal berbentuk tubuh manusia, percakapan tentang galian dangkal, dan penguncian Tuti setelah salah satu anggota keluarga Karta melihatnya berada di dekat gudang.
Sebastian tidak memotong. Ia hanya bertanya kapan kejadian itu berlangsung, berapa orang yang terlihat, serta apakah Tuti mengetahui lokasi bukit dengan cukup tepat. Pertanyaannya singkat dan tidak memaksa Karina menyimpulkan sesuatu yang belum terbukti.
"Simpan informasi itu di antara kita sampai Tuti bisa bicara dalam keadaan aman," katanya setelah Karina selesai. "Besok orang saya akan menghubungi pihak yang tepat."
Karina mengangguk. Setidaknya lelaki ini memahami beda antara kecurigaan dan bukti.
Sebastian menyandarkan punggung. "Sekarang tentang kalian."
Nada suaranya membuat Karina tahu bahwa percakapan utama baru dimulai.
"Ada perubahan di rumah," lanjutnya. "Saya akan membawa kamu, Nathan, dan Lucas kembali ke Jakarta."
Bukan apakah kamu bersedia. Bukan bagaimana menurutmu.
Saya akan membawa.
Karina memandangnya. "Kapan?"
"Besok pagi."
"Cepat sekali."
"Kalian tidak punya alasan untuk tinggal lebih lama di rumah dengan pagar rusak, sementara orang yang baru saja mengancam kalian masih berada di wilayah ini."
Alasan itu masuk akal. Justru karena terlalu masuk akal, Karina tidak bisa langsung menemukan apa yang disembunyikan di belakangnya.
Meninggalkan Cibungur berarti Nathan dan Lucas mendapat makanan yang cukup, akses dokter, sekolah yang lebih layak, serta rumah yang tidak bisa dirobohkan dengan tiga batang kayu. Namun Jakarta juga berarti memasuki bagian cerita yang selama ini berusaha ia hindari.
Keluarga Wijaya bukan sekadar keluarga kaya. Dalam novel yang dibacanya, nama itu berdiri di tengah perebutan kuasa, kebencian antarcabang keluarga, rahasia kelahiran, dan orang-orang yang tersenyum sambil menghitung kerugian orang lain. Karina tahu akhir buruk pemilik tubuh ini berawal dari banyak pilihan kejam, tetapi rumah besar itu menyediakan panggung dan penonton bagi kehancurannya.
Di hadapannya duduk lelaki yang bahkan belum bisa ia baca.
"Kenapa baru sekarang?" tanyanya.
Sebastian tidak mengubah ekspresi. "Pengaturan keluarga berubah."
"Pengaturan apa?"
"Hal yang belum perlu kamu tangani."
Jawaban yang rapi, tertutup, dan sama sekali tidak menjawab.
Karina menyilangkan tangan di pangkuan. "Kalau menyangkut tempat tinggal anak-anak, saya perlu tahu setidaknya apakah mereka aman di sana."
Sorot mata Sebastian menajam sedikit. "Kamu menganggap mereka aman di sini?"
"Tidak. Itu sebabnya saya tidak menolak pergi. Tapi berpindah dari satu bahaya ke bahaya lain bukan perbaikan."
Hening turun di antara mereka.
Dari ruang tengah terdengar Lucas menggumam dalam tidur. Karina menoleh, memastikan tidak ada tangisan, lalu kembali memandang Sebastian.
Lelaki itu mengetukkan satu jari ke meja. "Kediaman di Jakarta dijaga. Kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tidak ada orang yang boleh menyentuh mereka tanpa sepengetahuan saya."
Kalimat terakhir disampaikan dengan suara lebih rendah.
"Termasuk saya?" tanya Karina.
Sebastian menatapnya cukup lama hingga suara serangga dari halaman terdengar semakin jelas.
"Termasuk siapa pun," jawabnya.
Karina tidak tersinggung. Jika ia berada di posisi Sebastian dan hanya mengenal riwayat pemilik tubuh lama, ia juga tidak akan percaya hanya karena beberapa jawaban di telepon.
"Baik," katanya. "Saya ikut."
Alis Sebastian bergerak nyaris tak terlihat. Mungkin ia mengira Karina akan menuntut uang, kamar, atau janji lain.
"Kamu tidak ingin tahu apa yang akan kamu dapatkan di Jakarta?"
"Tempat yang aman untuk anak-anak sudah cukup sebagai alasan berangkat. Hal lain bisa dibicarakan setelah saya melihat keadaannya sendiri."
"Kamu sangat ingin meninggalkan desa ini?"
Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi Karina menangkap mata kail di baliknya.
Jika ia terlalu bersemangat, Sebastian akan menganggapnya mengejar kehidupan mewah. Jika ia menolak, keselamatan anak-anak bisa menjadi taruhan. Pemilik tubuh lama mungkin akan menyambut Jakarta sebagai jalan kembali menuju uang dan kedudukan. Karina tidak membutuhkan keduanya dengan harga kehilangan kendali atas hidupnya.
"Saya ingin anak-anak makan cukup dan tumbuh tanpa takut pagar didobrak," jawabnya. "Kalau itu tersedia di Jakarta, saya akan pergi. Kalau suatu hari tempat itu tidak aman bagi mereka, saya akan mencari pilihan lain."
Tatapan Sebastian menjadi semakin sulit dibaca.
Karina tetap tenang. Kepindahan ini bukan penyerahan diri. Ia bisa menggunakan waktu untuk merawat Nathan dan Lucas sambil memahami aturan rumah Wijaya. Setelah itu, ia harus memiliki penghasilan, tabungan, dan tempat yang bisa dituju tanpa meminta izin siapa pun.
Di kehidupan sebelumnya, ilmu dan kerja keras pernah memberinya jalan berdiri sendiri. Di dunia ini, ia akan membangun jalan serupa dari awal.
Tidak peduli seberapa besar rumah Sebastian, Karina tidak berniat menjadikan belas kasihan seorang suami asing sebagai satu-satunya atap di atas kepalanya.
Sebastian mengambil HP dan berdiri. Gerakannya tetap tenang, tetapi untuk pertama kalinya Karina melihat bayang-bayang lelah di bawah matanya. Seolah perjalanan ke desa ini hanya salah satu dari terlalu banyak urusan yang dipaksanya selesai dalam satu hari.
Ia mengenakan jas, lalu berhenti di ambang pintu.
Bibirnya sempat bergerak. Karina menunggu, tetapi apa pun yang hendak dikatakan lelaki itu tidak pernah keluar.
"Besok pagi kita berangkat," katanya akhirnya.
Sebastian meninggalkan ruangan. Dalam cahaya lampu yang redup, punggungnya tampak lebih berat daripada ketika ia berdiri di depan Bang Jajang.
Karina kembali memeriksa anak-anak. Nathan dan Lucas telah tertidur saling menghadap. Setelah memastikan selimut mereka tidak tersingkap, ia mengambil tikar untuk dibentangkan di samping kasur.
Saat itulah sudut sebuah map hitam di meja menarik perhatiannya.
Sebastian rupanya meninggalkannya bersama gelas air.
Karina tidak membuka map itu. Namun penutupnya bergeser sedikit, memperlihatkan bagian atas selembar dokumen. Tulisan Wijaya Group tercetak keemasan pada kepala surat. Di bawahnya tampak beberapa kata yang terpotong.
Restrukturisasi. Pengalihan kepemilikan. Persetujuan pemegang saham.
Istilah-istilah itu seharusnya asing baginya, tetapi susunannya membangkitkan gema samar dari alur novel yang pernah dibacanya.
Karina menatap dokumen tersebut sedikit lebih lama, dan rasa tidak nyaman perlahan mengencang di dadanya.