"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033: Pulang ke Kota Awan
Kota Awan menyambut mereka dengan hujan tipis.
Mobil masuk dari gerbang tol utara menjelang sore. Gedung-gedung yang dulu terasa seperti saksi penghinaan Arya kini berdiri di bawah langit abu-abu, memantulkan lampu jalan yang mulai menyala. Pak Satria mengemudi lebih cepat dari biasanya, tetapi tetap halus.
Nayla duduk di kursi depan, diam sejak pesan Dewi masuk.
Arya di belakang membaca laporan singkat tentang kedatangan Prabu. Luka di sisi kirinya berdenyut setiap kali mobil melewati sambungan jalan. Ia tidak menunjukkan rasa sakit, tetapi Nayla melihat tangan kirinya sesekali menekan perban di balik jaket.
"Kita ke rumah sakit dulu," katanya.
"Tidak perlu."
"Kamu baru ditusuk."
"Disayat."
"Itu bukan perbedaan yang membuatku tenang."
Pak Satria berkata pelan, "Tuan Muda, dokter juga menyarankan kontrol ulang malam ini."
Arya menatap kaca depan. "Prabu menunggu di Gedung Takdir. Kalau aku ke rumah sakit dulu, dia akan membaca itu sebagai kelemahan."
Nayla berbalik. "Dan kalau jahitanmu terbuka di depan dia?"
"Maka dia akan membaca bahwa aku tetap datang."
Nayla hendak membalas, tetapi ponsel Arya bergetar.
Andini.
Nama itu muncul di layar, cukup jelas untuk dilihat Nayla.
Arya mengangkat.
"Mas Arya, kamu sudah kembali?"
Suara Andini lembut, tetapi ada tepi khawatir di sana.
"Baru masuk Kota Awan."
"Saya dengar dari Pak Waskito soal Kota Selatan. Kamu terluka?"
Arya melirik Nayla yang langsung menatapnya.
"Luka kecil."
Nayla mendesis pelan.
Andini terdiam satu detik. "Kalau kamu bilang kecil, biasanya tidak kecil."
Pak Satria kali ini benar-benar tersenyum tipis.
"Aku akan periksa setelah urusan di Takdir selesai," kata Arya.
"Prabu sudah datang?"
"Ya."
"Hati-hati. Mas Arya... jangan selalu merasa harus menghadapi semuanya sendiri."
Kalimat itu lembut, tetapi mengenai tempat yang sama dengan pelukan Nayla di gudang.
"Aku ingat."
Telepon ditutup.
Nayla menatap jalan lagi. "Kak Dini tahu kamu terluka."
"Pak Waskito cepat memberi kabar."
"Dia khawatir."
"Ya."
"Kamu juga khawatir kalau dia khawatir."
Arya tidak menjawab.
Nayla tersenyum kecil tanpa humor. "Baik. Aku mengerti."
Mobil memasuki halaman Rumah Bukit untuk singgah sepuluh menit. Bukan untuk istirahat, melainkan mengganti mobil, mengambil pakaian bersih, dan memastikan hard disk tetap di brankas mekanik. Pak Satria memeriksa perimeter. Nayla menunggu di ruang tamu, berdiri di depan jendela.
Rumah Bukit terasa berbeda dari hotel Kota Selatan. Tenang, aman, tetapi di udara ada ketegangan yang lebih tua. Ini markas perang Arya.
Ketika Arya keluar dari ruang kerja dengan kemeja hitam dan jas gelap, Nayla melihat wajahnya sedikit lebih pucat.
"Kamu benar-benar keras kepala."
"Aku diberi tahu itu."
"Oleh berapa perempuan?"
"Hari ini?"
Nayla hampir tertawa, tetapi menahannya.
Sebelum berangkat ke Gedung Takdir, Andini datang.
Ia turun dari mobil dengan payung kecil. Rambutnya sedikit basah oleh hujan. Matanya langsung mencari Arya, lalu berhenti pada gerakan tubuhnya yang sedikit kaku.
"Mas Arya."
"Dini."
Nayla berdiri di belakang sofa. Keduanya saling melihat.
Andini tersenyum sopan. "Nayla."
"Kak Dini."
Tidak ada permusuhan. Justru terlalu sopan, dan karena itu terasa lebih tajam.
Andini mendekat kepada Arya. "Saya membawa salep dari dokter keluarga. Pak Waskito memaksa saya membawanya."
"Terima kasih."
Ia tidak menyentuh Arya di depan Nayla, tetapi matanya jelas ingin memeriksa luka itu sendiri.
Nayla melihatnya.
Lalu ia berkata, "Dokter di Kota Selatan sudah menjahit. Tapi dia menolak istirahat."
Andini menoleh ke Arya. "Tentu saja."
"Kalian bisa berhenti bekerja sama untuk memarahiku," kata Arya.
Andini dan Nayla menjawab hampir bersamaan.
"Tidak bisa."
Ruangan hening sesaat.
Pak Satria menunduk, pura-pura memeriksa ponsel.
Andini akhirnya meletakkan kantong obat di meja. "Saya tidak akan menahan Mas Arya dari urusan keluarga. Tapi setelah bertemu Prabu, luka ini harus diperiksa ulang."
Nayla menyambung cepat, "Aku akan pastikan dia tidak kabur."
Andini menatapnya, lalu mengangguk. "Terima kasih."
"Jangan terlalu cepat berterima kasih. Dia sangat sulit diatur."
"Saya tahu."
Keduanya saling tersenyum tipis. Untuk orang luar, itu mungkin terlihat ramah. Bagi Arya, itu lebih mirip dua komandan yang baru saja menyepakati pengawasan terhadap satu tahanan keras kepala.
Ada sesuatu yang aneh dalam momen itu. Dua perempuan berbeda, satu lembut seperti hujan di luar, satu tajam seperti api di gudang, berdiri di ruangan yang sama dengan kekhawatiran yang sama.
Arya merasa medan perang keluarga mungkin lebih mudah daripada ini.
Ponsel Dewi masuk.
"Arya, Prabu sudah di ruang VIP. Dia membawa dua orang dari Divisi Intelijen Keluarga."
"Aku berangkat."
Dewi menahan napas. "Dan Arya, dia tidak datang seperti orang yang ingin membunuhmu."
"Lebih berbahaya?"
"Jauh."
Mobil menuju Gedung Takdir dalam konvoi kecil. Andini tidak ikut masuk, tetapi ia berdiri di halaman Rumah Bukit sampai mobil Arya hilang di balik gerbang. Nayla ikut di mobil, kali ini duduk di belakang bersama Arya.
"Aku ikut sampai lobi," katanya.
"Ini urusan Suryanegara."
"Aku tahu. Dan setelah Kota Selatan, Wicaksana tidak lagi sepenuhnya di luar urusanmu."
"Prabu bisa menganggap itu provokasi."
"Bagus. Berarti dia tahu Wicaksana tidak takut berdiri di dekatmu."
Arya menatapnya. "Kamu belajar cepat."
"Aku memang pintar. Kamu saja yang baru sadar."
Gedung Takdir terlihat dari kejauhan, tinggi, dingin, dan terang. Di depan lobi, Dewi sudah menunggu dengan wajah yang tidak menyisakan ruang untuk basa-basi.
Ia melihat Arya turun, lalu langsung melihat cara ia menahan sisi tubuh.
"Kamu terluka."
"Sudah dijahit."
"Itu bukan jawaban yang membuatku bangga."
Nayla berkata, "Selamat bergabung."
Dewi menatap Nayla, lalu tersenyum tipis. "Aku mulai menyukaimu."
Mereka masuk bersama.
Di lantai atas, pintu ruang VIP tertutup.
Di depan pintu itu berdiri dua lelaki berpakaian hitam. Bukan bodyguard biasa. Mata mereka kosong, posisi tangan mereka tenang, dan cara mereka mengukur Arya tidak seperti orang yang melihat tamu.
Mereka melihat target.
Dewi berbisik, "Orang Prabu."
Arya berhenti di depan pintu.
Satu dari dua lelaki itu membuka pintu tanpa kata.
Di dalam, Prabu Suryanegara duduk di kursi utama.
Usianya lanjut, rambutnya putih, wajahnya tenang. Di atas meja di depannya hanya ada secangkir teh jahe dan satu amplop cokelat.
Ia memandang Arya, lalu perban yang sedikit terlihat di balik kerah kemeja.
"Kota Selatan membuatmu berdarah."
Arya masuk.
"Tapi tidak membuatku terlambat."
Prabu tersenyum.
"Bagus. Duduklah, Arya. Kali ini, aku datang bukan untuk mengusirmu."
Pintu tertutup di belakang mereka.
Nayla tertahan di luar bersama Pak Satria.
Dewi ikut masuk.
Di dalam ruangan, udara terasa lebih dingin daripada hujan di luar.
Prabu menyentuh amplop cokelat itu dengan ujung jari.
"Aku datang," katanya, "untuk menawarkan jalan pulang."