maaf, untuk sementara karya ini tidak di lanjutkan dulu dikarenakan authornya sedang sibuk, insyaallah, nanti akan saya lanjutkan kembali🙏🙏
apakah sebuah hubungan rumah tangga akan sakinah mawadah warahmah, jika suami dengan tega mengkhianati istri..??
.
kisah kehidupan yang menguras emosi dan air mata..🥀
Dinda harus menerima kenyataan kalau suaminya harus menikah lagi dengan sahabatnya sendiri karena hubungan terlarang yang mereka lakukan.
Dinda harus menjalani hari harinya dengan penuh kesedihan, ambisi Dewi untuk memiliki kekayaan suaminya membuat Dinda selalu disalahkan, Dewi melakukan segala cara untuk menyingkirkan Dinda dari rumah dia sendiri.
bagaimana ceritanya..?
baca yuk..!!
jngn lupa like, comen n votenya
rate ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawar berduri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyesalan
Dinda membawa ibunya menuju rumah sakit,
sedangkan bi Ijah bertugas menunggu rumah.
Dinda melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, derai air mata terus membasahi pipinya karena dia merasa bersalah dengan ibunya,
dia sangat khawatir dengan kondisi ibunya yang terbaring tak sadarkan diri.
mata yang sendu sesekali melihat ke belakang, dia sangat sangat khawatir, Dia takut terjadi apa-apa dengan ibunya.
perjalanan dari rumah menuju rumah sakit menempuh waktu 30 menit, tak memerlukan waktu yang lama untuk Dinda sampai di rumah sakit.
''suster' tolong ibu saya sus" teriak Dinda memanggil suster jaga untuk membantunya.
tubuh yang gemetar dengan air mata yang terus mengalir dengan derasnya Dinda membawa ibunya masuk ke dalam rumah sakit.
Dinda membantu suster mendorong ibunya dengan menggunakan alat dorong yang sudah tersedia di rumah sakit itu.
'' Bu bangun Bu" ujar Dinda yang terus menangis
'' ibu bisa tunggu di luar, kami akan melakukan yang terbaik" ujar suster itu membawa Bu Laras masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintu ruangan itu
Dinda hanya bisa menangis, duduk bersandar di dinding memeluk lututnya. cobaan yang bertubi tubi itu yang Dinda rasakan saat ini, dia tidak memikirkan sesakit apa hatinya saat ini, yang dia pikirkan hanyalah kesembuhan ibu yang sedang terbaring lemah tak berdaya.
'' bagaimana dengan kondisi ibu saya dok?" tanya Dinda bangkit dari duduknya ketika melihat dokter Gibran membuka pintu ruangan
'' Bu Laras terkena serangan jantung, tapi sekarang keadaannya sudah membaik, beliau hanya perlu istirahat yang cukup, besok juga sudah bisa pulang'' jawab dokter Gibran tersenyum
'' maaf saya permisi dulu'' ujar dokter pamit berjalan meninggalkan ruangan itu.
'' iya dok, terimakasih'' ujar Dinda tersenyum, setidaknya sekarang dia merasa tenang dengan perkataan dokter barusan
Dinda masuk ke dalam ruangan dengan penuh penyesalan, dia menyesal karena telah membentak ibunya hingga ibunya seperti ini.
terlihat Bu Laras yang sudah siuman, tersenyum menatap Dinda yang sedang berjalan mendekati nya.
'' Bu, maafin Dinda'' ujar Dinda menangis memeluk ibunya yang terbaring lemah
'' tidak pp, ibu mengerti perasaan kamu nak'' ujar Bu Laras tersenyum mengelus pundak Dinda.
Dinda melepaskan pelukannya tersenyum menatap ibunya dengan penuh kasih sayang, dia bersyukur melihat kondisi ibunya yang sekarang baik baik saja.
'' bu, kata dokter besok ibu sudah boleh pulang, sekarang ibu istirahat, aku mau ngambil resep obat ibu sekalian bayar admin dulu ya!" ujar Dinda
'' iya nak'' ujar Bu Laras tersenyum
Dinda berjalan meninggalkan ruangan tempat ibunya di rawat menuju bagian administrasi.
dari ruangan Bu Laras menuju ruang admin jaraknya lumayan jauh, Dinda harus berjalan melewati kamar demi kamar di rumah sakit itu untuk sampai ke ruangannya administrasi.
...🌺di rumah Hendra🌺...
baru setengah hari Dinda keluar dari rumah itu, Hendra sudah merasa sangat khawatir, dia kangen dengan sosok Dinda yang selalu ada disampingnya.
Hendra yang sejak tadi mengurung diri di kamar akhirnya keluar menggunakan pakaian rapih, dia berjalan meninggalkan rumah lalu masuk ke dalam mobilnya.
dia sangat menyesali perbuatannya, dia juga merasa sangat bersalah, hari ini Hendra berniat untuk meminta maaf kepada Dinda dan ibunya.
mobil melaju dengan kecepatan tinggi membuat Hendra tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai di rumah mertuanya.
Hendra keluar dari mobil dengan perasaan canggung, dia merasa sangat malu hingga tak berani menginjakkan kakinya di rumah mertuanya itu, tapi dia harus tetap menemui Dinda untuk meminta maaf, Hendra berharap Dinda mau memaafkan dan menerima nya kembali.
Hendra melangkahkan kakinya berjalan mendekati pintu rumah dengan perasaan tidak karuan
...tok...
...tok...
...tok...
tangannya yang gemetar itu mencoba mengetuk pintu rumah Bu Laras
'' sebentar''. ujar bi Ijah membuka pintu
'' eh ada den Hendra, ayo masuk den'' ujar bi Ijah menyuruh Hendra masuk ke dalam rumah
'' gak usah bi, saya mau jemput istri saya, apa istri saya ada di sini?'' tanya Hendra seakan semua baik baik saja
'' loh memangnya non Dinda tidak bilang ke Aden kalo ibu masuk rumah sakit?'' tanya bi Ijah heran, bi Ijah tidak mengetahui kalau Hendra dan Dinda sedang tidak baik
'' engga bi, memangnya ibu kenapa bi?'' tanya Hendra khawatir
'' ibu tadi pingsan den, jadi non Dinda bawa ibu ke rumah sakit'' jawab bi
'' oh ya sudah, kalo gitu saya nyusul ke rumah sakit ya bi, assalamualaikum'' ujar Hendra pamit kepada Bi Ijah.
dengan terburu buru dia berlari menuju mobil lalu pergi meninggalkan rumah Bu Laras menuju rumah sakit
karena Hendra yang begitu sangat menyangi Bu Laras, tubuh yang sejak tadi terasa sangat berat kini berubah, seakan Hendra melupakan masalah yang terjadi pada dirinya, dia hanya fokus memikirkan kesehatan mertuanya yang kini sedang berada di rumah sakit.
mobil melaju dengan kencang membuatnya tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai di rumah sakit.
Hendra memarkirkan mobilnya lalu dia berlari masuk ke dalam rumah sakit untuk mencari keberadaan mertuanya itu.
setelah menemui bagian administrasi untuk menanyakan kamar Bu Laras, Hendra langsung menemui Bu Laras di ruangannya.
''assalamualaikum bu'' Hendra membuka pintu ruangan.
nampak Bu Laras sedang tertidur lelap, Hendra tidak berani membangunkannya, dia hanya duduk menemani sembari menangis menyesali semua perbuatan yang sudah dia lakukan.
ketika hendra sedang bersama Bu Laras,
Dinda yang meminta izin untuk mengurus administrasi dia malah asik mengobrol dengan teman lamanya Rico.
Dinda bertemu Rico ketika dia ingin menebus obat di apotek, tidak sengaja Dinda bertemu Rico di dalam apotek tersebut.
Rico adalah teman baik Dinda sewaktu Dinda masih kuliah, Karena Rico memilih kuliah kedokteran akhirnya Rico berhasil mendapatkan gelar sebagai doktor, dan sekarang dia sudah menjadi dokter spesialis jantung.
dulu Rico sempat menaruh hati kepada Dinda, tapi karena Rico harus melanjutkannya studi di luar negeri membuat dia berpisah dengan Dinda sebelum dia mengungkapkan perasaan nya.
'' oh iya Din, ko kamu bisa ada di sini, siapa yang sakit? ini ko kamu tebus obat jantung, kamu sakit jantung?'' Rico bertanya tanya, dia sangat khawatir dengan kondisi Dinda
'' ibu aku yang sakit ric, tadi ibu serangan jantung'' jawab Dinda menundukkan kepalanya karena merasa sangat bersalah
'' ya Allah Din, ko bisa? gimana kondisi ibu kamu sekarang? boleh saya lihat?'' tanya Rico yang sangat mengkhawatirkan Bu Laras, Rico tidak suka melihat Dinda bersedih seperti ini, dia meminta untuk dipertemukan dengan ibunya.
'' Alhamdulillah sekarang kondisi ibu baik baik saja, besok ibu sudah boleh pulang ko ric, kamu tidak perlu khawatir'' jawab Dinda tersenyum
'' syukurlah, jngn sedih lagi ya'' ujar Rico tersenyum menatap Dinda
'' iya ric, trimksh, kalo gitu aku permisi dulu ya'' ujar Dinda pamit, Dinda pergi meninggalkan Rico yang sedang rindu, rindu kepada Dinda yang sudah lama tidak bertemu,
dindapun berjalan menuju ruangan ibunya,
Dinda tidak mengetahui kalau Hendra ada di rumah sakit, dia tetap melanjutkan langkahnya tanpa berpikir apa apa.
ruangan yang ditempati ibunya sudah ada di depan mata, tangannya bergerak mendorong pintu lalu masuk ke dalam ruangan.
deg, jantung nya berdetak lebih cepat ketika dia melihat laki laki yang sangat dia benci itu ada di hadapannya.
perasaan yang baik baik saja kini berubah menjadi pnas, Dinda mengepalkan tangannya menahan amarahnya yang sudah meronta ronta dalam jiwanya.
'' ngapainn kamu disini mas? masih punya muka kamu? heeh dasar laki laki gak tau malu'' ujar Dinda yang sangat membenci suaminya itu. Dinda memalingkan wajahnya seakan tidak mau melihat wajah Hendra
'' hus, gk boleh ngomong gitu'' ujar Bu Laras menoleh ke arah Dinda
'' mending sekarang kamu pulang saja deh, aku gak mau lagi liat muka kamu'' ujar Dinda pergi meninggalkan ruangan itu mencoba menghindari Hendra
'' maafkan perkataan Dinda ya nak Hendra'' ujar Bu Laras meminta maaf atas apa yang di ucapkan Dinda terhadap suaminya itu
Hendra tersenyum mengangguk kan kepalanya, dia menangis memeluk mertuanya itu, meminta maaf atas kesalahan yang telah dia perbuat.
kesalahan yang tak akan pernah dia ulangi, Hendra sangat menyesali perbuatannya, dia terus menangis di hadapan mertuanya itu sembari mencium tangan mertuanya.
...bersambung...
🌾🌾jngn lupa like n comen
vote nya jg ya🤗🤗
....itu pembantunya hendra...suruh peka dikit lah.....jgn oon2 amat....
yg ambilnperhiasan Dinda blum tau emg rumah org kaya gk da cctv