Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. PERSIAPAN PINDAH RUMAH
Hujan telah turun selama tiga hari berturut-turut, membuat tanah di pekarangan rumah menjadi berlumpur dan udara di dalam ruangan terasa lembab dan dingin. Rian berdiri di tengah ruang tamu yang sekarang terlihat sangat luas karena sebagian besar barang sudah dipindahkan atau disiapkan untuk dikemas. Dia melihat sekeliling rumah yang telah menjadi tempat tinggal keluarga kecilnya selama tiga tahun terakhir – setiap sudut ruangan menyimpan kenangan yang tak terlupakan, baik yang bahagia maupun yang menyakitkan hati.
Kemarin sore, setelah sidang pertama yang tidak menguntungkan itu, pemilik rumah datang dengan membawa surat pemberitahuan bahwa mereka harus keluar dari rumah dalam waktu seminggu. Pihak pemilik telah menerima penawaran dari keluarga Novi untuk menyewa rumah tersebut dengan harga lebih tinggi, dan mereka tidak punya pilihan lain selain memindahkan diri ke tempat lain. Rian tidak bisa membantahnya – dia memang sudah terlambat membayar sewa selama dua bulan, dan keluarga Novi tampaknya telah menyusun semua hal dengan sangat matang untuk mengusir mereka dari rumah yang telah menjadi tempat perlindungan bagi dia dan anak-anak.
“Papa, apakah kita benar-benar harus pergi dari rumah ini?” tanya Hadian dengan suara yang penuh kesedihan, sedang membantu ayahnya menyortir buku-bukunya di rak kamar. Anak laki-laki itu sudah berusia tujuh tahun, tapi wajahnya tampak jauh lebih dewasa akibat semua kesusahan yang telah mereka alami bersama-sama. Dia melihat ke arah dinding kamar yang dipenuhi dengan gambar-gambar yang dia dan Alea lukis bersama, serta jejak-jejak tinggi badan yang dicatat dengan hati-hati setiap tahun ulang tahun mereka.
Rian mendekat dan menepuk pundak putranya dengan lembut. “Kita harus pergi, Nak,” jawabnya dengan suara yang lembut namun jelas. “Kita tidak punya pilihan lain. Tapi jangan khawatir, kita akan menemukan rumah baru yang lebih baik nanti – rumah yang benar-benar menjadi milik kita sendiri suatu hari nanti.”
Hadian mengangguk perlahan, namun ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia masih sangat menyayangi rumah ini. Dia mengambil sebuah buku cerita yang sudah lusuh dari rak – buku yang telah dibacakan Rian berkali-kali sebelum tidur untuk dia dan Alea. “Aku akan menyimpan buku ini dengan baik, Papa,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Ini adalah buku pertama yang kamu belikan untukku.”
Rian merasa mataharinya berkaca-kaca melihat itu. Dia mengingat bagaimana dia harus menabung selama hampir sebulan untuk bisa membeli buku itu sebagai hadiah ulang tahun Hadian yang kelima. Saat itu mereka masih hidup dengan cukup layak, sebelum dia terkena PHK dan semua kesulitan mulai datang bertubi-tubi.
Di ruang tamu, Alea sedang duduk di lantai bersama boneka Kiki-nya yang sudah sangat lusuh. Dia sedang memasukkan beberapa baju kecil boneka itu ke dalam kotak kardus kecil yang dibuat khusus oleh Hadian. “Kiki juga harus ikut kita pindah ya, Kakak,” ujarnya dengan suara yang lembut kepada kakaknya yang baru saja keluar dari kamar. “Dia tidak bisa tinggal di sini sendirian.”
Hadian mendekat dan duduk bersamanya, membantu mengemas barang-barang kecil adik perempuannya. “Tentu saja Kakak Alea,” jawabnya dengan senyum hangat. “Semua yang penting untuk kita harus kita bawa. Yang tidak bisa dibawa, kita tinggal tinggalkan saja.”
Rian mulai mengemas barang-barang di dapur – beberapa peralatan makan yang masih layak pakai, ember plastik yang digunakan untuk menyimpan air, serta beberapa wadah makanan yang masih bisa digunakan. Sebagian besar peralatan masak yang lebih besar harus ditinggalkan karena tidak bisa dibawa – kompor gas yang telah menemani mereka selama bertahun-tahun, meja makan yang menjadi tempat mereka berkumpul setiap hari untuk makan bersama, serta lemari kayu yang digunakan untuk menyimpan pakaian dan barang penting lainnya.
“Saya akan mencoba membawa kompor kecil itu saja, Sayang,” ujar Rian sambil melihat ke arah kompor listrik kecil yang mereka gunakan ketika tidak punya uang untuk membeli gas. “Yang lain kita tinggalkan saja. Mungkin ada orang lain yang membutuhkannya lebih dari kita.”
Dia juga mulai mengemas beberapa baju yang masih layak pakai untuk anak-anak dan dirinya sendiri. Sebagian besar baju sudah aus dan sedikit sobek, tapi mereka masih bisa dikenakan dan menjadi perlindungan dari cuaca yang tidak menentu. Baju-baju yang sudah terlalu kecil atau rusak parah harus ditinggalkan, termasuk beberapa baju baru yang pernah dibeli Novi untuk anak-anak sebelum semua kesulitan terjadi.
“Apa ini baju ulang tahun aku yang lalu, Papa?” tanya Alea dengan mata yang terbuka lebar ketika melihat sebuah baju warna merah muda yang masih sangat cantik. “Aku suka banget sama baju ini.”
Rian mengambil baju itu dengan hati-hati dan melihatnya dengan penuh kenangan. “Ya, Nak,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Bu Mama belikan untukmu saat ulang tahun kamu yang keempat. Kamu sangat senang waktu itu dan tidak mau melepas baju itu dari tubuhmu selama tiga hari berturut-turut.”
Alea mengambil baju itu dan memeluknya dengan erat. “Aku mau bawa baju ini ya Papa,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Aku mau pakainya ketika kita sudah punya rumah baru.”
Rian mengangguk dan membantu memasukkan baju itu ke dalam kotak kardus yang sudah disiapkan. Dia melihat sekeliling rumah dan menyadari bahwa sebagian besar barang yang mereka miliki harus ditinggalkan – lemari es yang sudah sering rusak, televisi kecil yang hanya bisa menangkap satu saluran saja, meja kerja yang pernah digunakan untuk membantu Hadian belajar, serta banyak lagi barang-barang kecil yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Pada sore hari itu, Pak Slamet – tetangga sebelah yang telah banyak membantu mereka selama ini – datang dengan membawa dua karung besar yang bisa digunakan untuk mengemas barang-barang. Dia melihat kondisi Rian dan anak-anak dengan wajah yang penuh rasa iba.
“Kamu tidak perlu khawatir, Rian,” ujarnya dengan suara yang hangat, membantu mengemas beberapa barang besar yang masih bisa dibawa. “Aku sudah menyuruh anak-anakku mencari tahu tentang rumah kosong yang bisa kamu sewa dengan harga murah di pinggiran kota. Mungkin tidak sesempurna rumah ini, tapi setidaknya kamu punya tempat untuk tinggal.”
Rian merasa sangat terima kasih mendengar kata-kata itu. Dia telah merasa sangat sendirian dan tidak berdaya setelah semua tekanan yang datang bertubi-tubi, dan bantuan dari Pak Slamet seperti angin segar yang menghangatkan hatinya. “Terima kasih banyak, Pak Slamet,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Tanpa bantuanmu, aku tidak tahu bagaimana aku bisa melalui semua ini sendirian.”
Pak Slamet mengangguk dan terus membantu mengemas barang-barang. Dia bahkan menawarkan untuk membantu membawa barang-barang mereka ke rumah baru ketika hari pemindahan tiba. “Kita adalah tetangga, Rian,” ujarnya dengan senyum hangat. “Kita harus saling membantu satu sama lain, terutama dalam keadaan sulit seperti ini.”
Saat malam menjelang, mereka baru saja menyelesaikan mengemas sebagian besar barang yang bisa dibawa. Kotak-kotak kardus dan karung besar memenuhi sebagian besar ruang tamu, sementara barang-barang yang akan ditinggalkan diletakkan rapi di sudut ruangan – diharapkan bisa bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkannya.
Rian memasak makanan malam yang sederhana – nasi putih dengan lauk tempe orek yang dia beli dengan uang yang tersisa. Mereka makan bersama di lantai karena meja makan sudah harus ditinggalkan. Meskipun makanan sangat sederhana dan suasana terasa sangat sedih, namun mereka makan dengan rasa syukur yang dalam.
“Kita akan segera punya rumah baru yang lebih baik, ya Papa?” tanya Alea dengan suara yang lembut, melihat ayahnya dengan mata yang penuh harapan.
Rian mencium dahi putrinya dan berkata dengan suara yang penuh tekad, “Tentu saja, sayang. Kita akan bekerja keras bersama-sama, dan suatu hari nanti kita akan memiliki rumah yang benar-benar menjadi milik kita sendiri – rumah yang penuh dengan kebahagiaan dan tidak ada lagi kesusahan yang datang menghampiri kita.”
Hadian mengangguk dan mengambil tangan ayahnya dengan erat. “Aku akan membantu Papa bekerja, lho,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Setelah aku lulus sekolah, aku akan mencari pekerjaan untuk membantu Papa dan Kakak Alea.”
Rian merasa hati nya menjadi hangat mendengar kata-kata putranya yang sudah mulai tumbuh menjadi anak yang tanggung jawab dan penuh kasih sayang. Dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh masih sangat panjang dan penuh dengan rintangan, namun dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka pasti akan bisa mengatasi segala kesulitan yang ada.
Di malam hari itu, sebelum tidur, mereka semua berjalan ke setiap kamar untuk melihatnya untuk terakhir kalinya. Rian menunjukkan kepada anak-anak bagaimana mereka dulu bermain bersama di lantai kamar, bagaimana Alea pernah menangis karena tidak bisa mencapai mainan yang ada di atas rak, dan bagaimana Hadian pernah menggambar gambar keluarga mereka di dinding kamar dengan cat yang dia temukan di luar rumah.
Setelah itu, mereka pergi ke teras depan rumah dan duduk bersama melihat langit yang sudah mulai jelas setelah hujan berhenti turun. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu, memberikan cahaya yang lembut namun penuh harapan di langit malam yang gelap.
“Meskipun kita harus meninggalkan rumah ini,” ujar Rian dengan suara yang lembut, membungkus anak-anaknya dengan pelukan yang erat, “semua kenangan yang kita buat di sini akan selalu tinggal di hati kita. Dan ketika kita punya rumah baru nanti, kita akan membuat kenangan baru yang lebih indah dan bahagia lagi.”
Hadian dan Alea mengangguk dengan penuh keyakinan, menyandarkan wajah mereka pada dada ayahnya yang memberikan rasa aman dan perlindungan yang mereka butuhkan. Meskipun mereka harus meninggalkan sebagian besar barang-barang yang mereka miliki dan rumah yang telah menjadi tempat perlindungan bagi mereka, namun mereka tahu bahwa yang paling penting adalah mereka tetap bersama-sama sebagai keluarga yang utuh dan cinta satu sama lain.
Pada pagi hari berikutnya, Rian mulai mempersiapkan diri untuk hari pemindahan yang akan datang dalam beberapa hari lagi. Dia akan pergi ke kantor kecamatan untuk mengurus surat-surat yang diperlukan dan juga mencari tahu tentang cara untuk membela diri di sidang kedua yang akan datang dalam waktu dua minggu. Dia tahu bahwa dia tidak punya banyak uang atau kekuatan untuk melawan keluarga Novi yang memiliki banyak sumber daya, namun dia akan melakukan segala yang bisa untuk memastikan bahwa anak-anak bisa tetap tinggal bersamanya – karena itu adalah satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya.
Saat dia melihat anak-anak yang sedang bermain dengan boneka Kiki di teras depan rumah, tertawa riang meskipun mereka tahu bahwa mereka akan segera meninggalkan tempat yang telah menjadi rumah mereka selama ini, Rian merasa mendapatkan kekuatan baru untuk terus berjuang. Dia bertekad bahwa dia akan memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anak, tidak peduli seberapa sulit jalan yang harus ditempuh – karena cinta mereka adalah anugerah terbesar yang pernah dia terima dalam hidupnya.