Tama, cowok baik-baik, kalem dan jago olahraga yang jatuh cinta dengan Raina si gadis yang terkenal dengan reputasi buruknya. Suka dugem, mabok, merokok, bahkan gosipnya dia pun jadi sugar baby simpanan om-om.
Tama menghadapi banyak tantangan agar bisa bersama Raina. Teman dan keluarganya yang tak menyukai Raina, rumitnya latar belakang keluarga Raina, juga cintanya yang penuh gairah yang amat sulit dikendalikan oleh cowok itu.
Kisah mereka terajut sejak masa di bangku kuliah. Saat mereka lulus, Tama berjanji akan menikahi Raina satu tahun kemudian. Tapi dengan banyaknya pihak yang menginginkan mereka untuk berpisah, bisakah mereka bertahan? Apalagi mereka terpaksa harus berpisah demi mempersiapkan masa depan untuk bersama?
Author masih belajar, tetapi selalu berusaha memperhatikan ejaan dan penggunaan huruf kapital yang benar sehingga nyaman di baca. Silahkan mampir😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sugar Baby?
Tama menghabiskan waktu beberapa menit saja untuk berlari mengelilingi lapangan kampus. Ia berlari seperti kesetanan, memaksa tubuhnya hingga batas. Di saat teman-temannya sudah nyerah, tidak sanggup lagi berlari, Tama masih bergeming dan tetap menyelesaikan putarannya. Cowok itu kelihatan semakin pendiam dan jika ditanya ada apa, cuma mendengus acuh.
"Elo naksir Raina, sob?" tanya Arsen, sore itu di Soccerland saat Raina telah pulang. Tama tak menjawab pertanyaan itu dengan segera.
"Maksud elo apaan nih nanya gitu" sahut Tama.
"Gue tahu elo. Tahu latar belakang dan kehidupan elo. Raina gak cocok buat elo, Tam. Dia bukan cewek baik-baik"
Tama memandang Arsen tak suka. Apa maksud temannya ini mencampuri urusan pribadinya? Dia bukan anak kecil lagi yang harus didikte mana yang baik mana yang bukan.
Melihat raut muka Tama yang mengeras, Arsen tertawa kecil.
"Gue paham apa yang elo rasain. Pesona Raina emang susah buat ditolak. Dia emang cantik banget. Tapi elo ngerti kan kalau yang terlalu cantik kadang belum tentu bikin bahagia? Gue tahu prinsip hidup elo."
"Gua nggak ngerti inti dari omongan elo tu apa"
"Elo yakin cewek kayak Raina gitu yang mau elo ajakin ketemu sama keluarga besar Lo? Gimana kata Bunda Dayen nanti kalau tahu anak bungsu kesayangannya dekat sama cewek nakal yang suka Gonta ganti cowok semaunya? Yang hidup bebas, bahkan banyak yang bilang kalau Raina itu jadi simpanan om-om" kata Arsen.
"Raina itu punya rumah sendiri, punya mobil, bisa hidup mewah itu elo pikir siapa yang ngebiayain? Orangtuanya udah cerai dari dia kecil. Ayahnya kerjaannya cuma pemabuk dan tukang judi. Ibunya? Cuma jualan kue kecil-kecilan. Tapi elo lihat kan gaya hidup Raina kayak gimana? Kalau bukan karena dia jadi sugar Baby darimana lagi dia dapat semua fasilitas itu?"lanjut Arsen
Ucapan Arsen itu membuat Tama teringat apa yang dilihatnya tadi. Seorang pria berusia pertengahan 40an, masih terlihat gagah, bersetelan jas mahal, menjemput Raina dengan mobil mewah. Kejadian itu sungguh sangat sukar untuk diabaikan.
"Gue cuma sekedar dekat doang sama dia. Belum ada hubungan apa-apa" Tama berharap jawabannya akan membuat Arsen puas dan segera meninggalkannya sendirian, namun ternyata ia salah. Arsen belum selesai.
"Syukur dah kalau gitu. Gue sempet kaget tadi lihat elo ngobrol berdua sama Raina. Cara elo ngeliat Raina tuh beda, elo kan jarang ngeliatin cewek sampe kaya gitu. Raina juga, kelihatan banget kalo dia genit sama elo. Gue tahu elo orangnya serius, jadi sebelum elo terlanjur terlibat terlalu dalam, mending elo berhenti sekarang. Percaya sama gue, Raina bukan yang terbaik buat elo"
Tama tak menjawab. Hanya jemarinya yang mencengkeram gelas kopinya dengan keras.
Ucapan Arsen itu sukses membuat Tama kesulitan memejamkan mata malam harinya. Ucapan Arsen terus berputar-putar di telinganya, sementara bayangan dirinya tengah mencumbu Raina di lantai yang basah terus terbayang di matanya. Belum pernah ada perempuan yang bisa membuatnya sekacau ini.
Tama tidak banyak pengalaman dengan perempuan. Masa remajanya lebih banyak ia habiskan untuk berlatih taekwondo, main sepakbola, dan mendaki gunung. Hobi yang cukup menguras waktu dan tenaga. Dulu saat SMA dia pernah punya pacar, tapi ketika pacarnya menuntut banyak waktu dan perhatiannya, Tama menyerah.
Sejak saat itu Tama jarang berkomitmen dengan gadis manapun karena tidak mau membuang waktu untuk meladeni keribetan makhluk yang bernama perempuan.
Tama tumbuh dari keluarga yang harmonis. Ayah Bundanya mendidiknya untuk menjadi lelaki bertanggung jawab, itu sebabnya jika ia memutuskan untuk berkomitmen dengan seorang gadis itu tandanya ia tidak main-main.
Kehadiran Raina dalam hidupnya dalam waktu singkat mampu memporak porandakan hidup tenangnya. Sesungguhnya Tama tidak percaya begitu saja dengan segala rumor tentang Raina. Gadis itu mungkin kelihatan sembrono dan suka bersikap seenaknya, tapi ia sering melihat gadis itu dalam keadaan yang paling rentan. Tidak sekali dua kali ia melihat sorot ketakutan dalam mata hazel gadis itu, namun Raina pandai menyamarkannya dalam senyum sok tegar.
Raina baru saja selesai mandi, ia baru saja keluar menemani Jema yang sakit bulanan. Malam belum terlalu larut, baru pukul delapan. Raina menyadari kalau ia belum makan sejak siang tadi saat perutnya berbunyi. Gadis itu meringis. Kulkas di dapur kosong.
Ketika Raina hendak memesan makanan lewat ponselnya, benda itu lebih dulu berbunyi. Ada pesan masuk dari Maya.
[papa lo barusan datang ke rumah. marah-marah, ngamuk. toko kue mama lo rusak parah]
Raina mendadak lemas membaca pesan itu. Apalagi sih ini? Kenapa hidupnya tidak pernah tenang sebentar saja?
[mama gue gimana? ga terluka kan?]
[enggak. cuma shock aja. elo ga usah kesini]
Raina hancur. Perjanjian sialan itu memaksa ia untuk menjauh dari Mamanya. Demi semua fasilitas yang ia nikmati saat ini. Padahal ia dan ibunya hanya punya satu sama lain. Hanya ibunyalah satu-satunya yang membuatnya kuat.
Tanpa pikir panjang Raina meraih kunci mobilnya dan segera melesat menuju sebuah rumah di pinggiran kota. Rumah kecil dengan toko kecil di depan rumah tempat ibunya berjualan kue kering.
Sekarang toko kecil itu hancur. Pecahan kaca berserakan dimana-mana bercampur dengan remah-remah kue kering. Ia melihat ibunya sedang menangis di sudut ruangan. Raina merasa sesuatu dalam dirinya seperti diremas, nyeri sekali.
"Ma..."
Wanita berusia akhir 40an itu mengangkat mukanya. Wajah yang masih terlihat cantik itu basah oleh air mata. Untuk sesaat Elina memandang anak perempuan nya dengan penuh kerinduan, namun saat Raina hendak memeluknya, Elina serta merta mendorong putrinya menjauh.
"Kamu ngapain kesini? Siapa yang nyuruh kamu datang kesini? Jangan sampai orang itu tahu kalau kamu kesini, Nak"
" Aku ga mungkin ngebiarin Mama ngelewatin semua ini sendirian. Dan aku tidak peduli kalau dia tahu, Ma. Biar dia ambil semua fasilitas itu, Raina nggak peduli. Raina cuma mau deket sama Mama" jawab Raina.
"Jangan bodoh kamu. Apa yang bakal kamu dapat kalau kamu tetep sama Mama? Hidup kamu akan sama hancurnya seperti hidup Mama. Sekarang kamu pulang dan jangan pernah datang kesini lagi!" Elina membentak Raina membuat tangis Raina pecah.
"Aku cuma mau bantuin Mama. Apa salah Raina, Ma?"
Elina menepis lengan Raina yang hendak memeluknya dengan kasar membuat tubuh Raina tersungkur menubruk sebuah rak yang penuh dengan pecahan kaca yang berasal dari toples pecah.
Elina mematikan nuraninya saat melihat darah mengucur dari lengan Raina, membasahi gaun putih gadingnya.
"Mama tidak butuh bantuan kamu. Sekarang kamu pulang dan jangan pernah injakkan kaki di rumah ini lagi!" Elina membalikkan badan, setengah berlari segera masuk rumah. Ia tidak ingin Raina tahu kalau hatinya sama hancurnya.
Raina merosot, menangis sambil memeluk lututnya di tengah toko ibunya yang porak poranda. Hatinya sama porak porandanya dengan keadaan di sekitarnya.
Sejak kecil Raina selalu ditolak. Hanya ibunya satu-satunya tempat ia mendapatkan kasih sayang dan kekuatan untuk menjalani hidupnya yang berat. Kini apa gunanya uang berlimpah yang ia miliki tapi harus ia bayar dengan kehilangan ibunya?
Bolehkah ia menyerah saja?