NovelToon NovelToon
Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Dewinisme

"Kau istriku, Laura!"

Sabiel membopong tubuh telanjang Laura. Dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan, Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.

"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku Sabiel, tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.

Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika Sabiel mulai menciumi tubuhnya dengan buas.


Update setiap hari kecuali minggu.

Jangan lupa like, vote dan komen! 😍😍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Gisel tampak gusar menatap isi lemarinya. Sejak sore tadi dia belum juga menemukan pakaian yang cocok untuk menghadiri inagurasi malam ini.

Beberapa potong pakaian tumpang tindih memenuhi kasur single Gisel hingga menggunung. Laura geleng-geleng kepala melihat kekacauan yang dibuat temannya itu. Dia melihat pakaian yang berserakan di kasur dan lantai. Beberapa alat make up tertumpah ruah di meja belajarnya. Dalam waktu beberapa jam saja, kamarnya berubah menjadi kapal pecah.

"Apa yang kau lakukan Gisel?!" tanya Laura tak tahan melihat kekacauan itu.

"Bagaimana ini? Aku bingung akan memakai baju yang mana." keluh Gisel sambil terus melihat-lihat pakaiannya di lemari.

"Astaga. Dari begitu banyaknya pakaian yang kau keluarkan. Kau masih belum juga memutuskan akan memakai pakaian yang mana?" tanya Laura heran. Ia berjalan memunguti pakaian Gisel yang tergeletak tak berdaya di lantai.

"Semakin banyak pilihan, semakin sulit untuk memutuskan." Gisel mempreteli baju yang ia kenakan untuk kesekian kalinya.

"Coba yang ini." Laura menyodorkan satu buah gaun maroon selutut yang indah dengan manik-manik kecil di sekitar kerahnya.

Tanpa berkata, Gisel mengambil gaun itu dari tangan Laura. Dia memakainya di hadapan sebuah cermin panjang.

"Aku merasa terlihat gemuk memakai gaun ini." dengus Gisel sembari mengelus perutnya yang terasa membuncit.

"Itu dia masalahnya." ucap Laura menghampiri temannya yang sedang bercermin. Di rangkulnya bahu Gisel lembut.

"Kau tidak percaya diri." Mata Laura menatap lekat mata Gisel dalam pantulan cermin. Dia tersenyum lembut melihat bibir Gisel yang mulai cemberut.

"Aku tidak cantik sepertimu Laura. Kau lihat ini, lemak-lemak di pinggangku begitu terlihat." Gisel mencubit sedikit pinggangnya untuk menunjukkannya pada Laura.

"Itu akibatnya karna kau suka sekali makan tengah malam." ledek Laura mengingat kebiasaan buruk temannya itu.

Gisel terkekeh menyadari kebiasaan buruknya. Dia tidak merasa tersinggung mendengar ledekan dari Laura. Karna memang benar adanya.

Setelah cukup lama berjibaku dengan pilihan pakaian yang ingin Gisel kenakan. Akhirnya mereka berdua telah siap untuk berangkat meninggalkan asrama. Mahasiswa lain yang keluar dari kamarnya masing-masing pun tampak siap untuk berjalan bersama menuju aula kampus.

Acara digelar pukul tujuh malam, para senior tampak berjalan setengah berlari agar tiba lebih dulu dari para juniornya.

Laura berjalan bergandengan dengan Gisel. Langkahnya santai sembari memandang langit yang gelap dengan beberapa kelip bintang disana. Melihat Gisel yang sangat antusias membuat Laura tersenyum kecut. Seharusnya malam ini ia bersantai di kamarnya, membaca satu buku dan membuat tulisan untuk blog-nya.

Tapi ya sudahlah, apa salahnya mengikuti acara yang hanya diadakan sekali dalam setahun ini. Tidak ada salahnya bukan?

Gedung aula saat itu sudah tampak ramai oleh orang-orang. Mahasiswa dari tiga asrama berkumpul dalam satu aula besar. Begitu melewati pintu masuk, Laura melihat banyak kursi berjejer rapi di tengah aula yang telah terisi beberapa mahasiswa disana. Kursi-kursi itu dibagi menjadi dua bagian, sisi kiri dan kanan yang dipisahkan oleh sekitar dua meter jarak yang disediakan untuk orang berlalu lalang.

Di ujung sebelah kanan, dekat dengan tangga menuju mimbar aula terdapat stand makanan yang berjejer memanjang. Aneka makanan enak sudah tersaji disana.

Gisel menarik lengan Laura agar ikut dengannya duduk di kursi sebelah kiri. Laura mengikuti kemana Gisel membawanya, ia belum menyadari kehadiran Sabiel yang sejak tadi sudah memperhatikannya dari arah kursi para tamu undangan.

Sabiel terpukau melihat Laura yang tampak cantik mengenakan gaun selutut berwarna salem yang begitu pas melekat ditubuhnya. Rambut coklat sebahunya di gerai dengan dihiasi simpulan kelabang di sisi kirinya. Sabiel memandang sekitar aula, matanya merasa terganggu ketika ia melihat banyak mahasiswa dari asrama putra yang ternyata terpukau pula pada kecantikan Laura. Mereka tampak berbisik satu sama lain dengan tatapan yang tak lepas dari sosok gadis yang kini sedang tertawa renyah bersama temannya.

"Sial!!" umpatnya dalam hati.

🍁🍁🍁

Laura bergegas memisahkan diri dari kerumunan orang di aula itu. Langkah kakinya berjalan lebar menuju pintu keluar yang terletak disudut kanan dekat dengan stand makanan.

Keramaian membuatnya sesak. Terlebih lagi ada beberapa lelaki yang membuatnya risih didalam sana karna mereka terus saja berusaha mendekatinya. Laura jengah dengan hal itu. Dia memutuskan untuk keluar dari hingar bingar acara.

Sebelum membuka pintu keluar, Ia menolehkan lagi kepalanya pada kerumunan di tengah aula sana, matanya berpencar mencari Gisel yang tampak tersamarkan keberadaannya oleh puluhan orang yang mulai sibuk kesana kemari menikmati jalannya acara.

Dengan putus asa karna tak melihat Gisel disana, Laura membuka pintu keluar. Dan melangkah melewatinya.

"Hei." Sabiel menatap antusias ketika Laura muncul dari balik pintu.

"Maafkan saya pak, mengganggu." Laura menjadi serba salah ketika begitu membuka pintu, matanya melihat Sabiel yang sedang duduk di kursi panjang sambil menghisap rokoknya.

Sabiel langsung mematikan rokoknya seketika. Dia tersenyum lembut pada Laura yang masih berdiri mematung di dekat pintu keluar.

"Kemari." Sabiel memberi isyarat agar Laura menghampirinya. Ia bergeser dari duduknya, memberi Laura ruang untuk duduk di sampingnya.

"Aku sudah membaca tulisanmu." Sabiel tersenyum senang saat menatap keterkejutan wajah Laura.

"Bapak membacanya?" Laura merasa malu sendiri.

"Yah. Aku suka tulisanmu." aku Sabiel terus terang.

"Terima kasih. Itu hanya tulisan amatir pak." ucap Laura canggung. Dia merapikan sedikit rambutnya yang tertiup angin sambil tersipu malu. Sejenak Sabiel merasa terpesona melihat gerakan anggun Laura ketika ia merapikan kembali rambutnya yang tertiup angin itu. Dalam khayalannya, dia ingin membelai lembut rambut itu. Pasti akan terasa halus di sela-sela jemarinya.

"Aku juga membaca prosamu." Sabiel kembali berucap. "Oh sayang.. Lembayung senja kan selalu menanti. Tak jemu sampai nanti. Saat ragaku berpapas dengan ragamu...."

"Saat hatiku bersinggung dengan hatimu." Laura merapalkan sambungan prosa yang diucapkan Sabiel.

Dalam keramaian malam itu, pandangan mereka bertemu. Laura tersenyum malu mengetahui bahwa Sabiel ternyata hafal salah satu baris prosa yang ia buat. Sementara Sabiel, perasaannya membuncah oleh rasa senang karna Laura begitu cerdas menyambung bait prosa yang ia ucapkan. Sebenarnya, itu hanyalah salah satu bait dari beberapa bait prosa Laura yang Sabiel hafal.

"Suatu hari nanti kau akan menjadi penulis besar." Sabiel meramalkan.

"Menulis hanya sekedar hobi saya saja pak. Saya tidak tertarik menjadikannya profesi." ucap Laura sopan.

"Mengapa begitu?" tanya Sabiel heran.

"Karna saya hanya akan menulis ketika saya ingin. Sedangkan jika saya menjadikan menulis sebagai profesi, akan banyak tekanan yang terjadi pada diri saya." Laura mencoba menjelaskan. "Rasa tertekan deadline, rasa jenuh ketika hilang ide atau inspirasi, belum lagi tuntutan untuk selalu membuat tulisan yang out of the box. Itu semua bisa berakhir menjemukan bagi saya."

"Tapi tulisanmu bagus Laura." ucap Sabiel tulus.

"Bagus atau tidak itu hanya para pembaca yang tahu. Saya hanya ingin menulis, menuangkan apa yang ada dalam benak saya saja." ujar Laura santai.

"Baiklah. Jika itu hobimu maka teruslah menulis. Dan aku akan setia membaca tulisan-tulisanmu itu." Sabiel menatap lembut wajah cantik Laura.

Sungguh aneh. Ketika berbicara dengan gadis ini, Sabiel jadi merasa bersemangat. Dia bisa melupakan permasalahan rumah tangganya dalam sekejap. Laura seperti membuatnya merasa bergairah kembali, setelah sekian lama.

Gadis ini. Entah mengapa semakin Sabiel baca tulisan-tulisannya, semakin ia merasakan kedekatan tak kasat mata dengannya. Laura seperti menariknya untuk jatuh bersimpuh dalam pesonanya. Memerangkapnya dengan sikapnya yang penuh dengan kejutan.

"Laura." setelah keheningan yang sempat tercipta tadi. Sabiel kembali berucap.

"Hm" Laura menengokkan kepalanya menatap kedua bola mata hitam legam dosennya itu.

"Bisakan.. Jika kita sedang berbicara berdua seperti ini. Kau tidak bersikap formal padaku?" ucap Sabiel ragu.

"Ma-maksud bapak?" Laura tak bisa menutupi keterkejutannya.

"Panggil aku Sabiel." pinta Sabiel lugas. Ia tersenyum menatap bola mata coklat Laura yang melebar akibat mendengar ucapannya.

🍁🍁🍁

Jangan lupa Like koment dan Vote-nya 😘😘

1
mociii
thor kok aku tb" kepikiran kalo novel ini terinspirasi dr dosen yg kamu suka ya😭
mociii
DIHHH "GADISKU?"
mociii
gapernah semuak ini sm novel
mociii
jujur garela gue laura yg perawan disandingin sm laki yg udah ga perjaka
Qaisaa Nazarudin
Ini kah yg Sabiel inginkan? Di perebukan oleh 2 wanita..Dia mah enak dapat 2 lobang,Egois emang..
Qaisaa Nazarudin
Pekerjaan Bimashakti itu mmg terlalu berisiko buruk,kenapa gak cari pekerjaan lain aja sih..
Qaisaa Nazarudin
Biarkan aja dia memberikan poto mu itu ke Ayah mu,Ayah mu juga udah tau kan kalian udah menikah, Apa lagi yg kau takuti Laura,Heran deh dengan sikap oon dan leletnya Laura..
Qaisaa Nazarudin
Sabiel bersikap TEGAS ke Laura tapi tidak TEGAS ke Intan...
Qaisaa Nazarudin
Itu bukan CINTA namanya,Tapi OBSESI..Sabiel terlalu terobses dengan Laura,Hingga menghalal kan segala cara utk mendapatkan Laura,Sedangkan Intan di biarkan selingkuh..
Qaisaa Nazarudin
Asal kamu tau Faizal itu gak ada apa-apa nya, Itu semua harta isteri nya..Kamu tgu aja saat isteri nya bertindak,Faizal akan jadi Gembel,Dan saat itu lah kamu akan mencari dan mengemis pada Sabiel..
Qaisaa Nazarudin
Laura..Laura..Kamu terlalu santuy menghadapi Sabiel yg gila,Ini awal hari yg buruk untuk mu..
Qaisaa Nazarudin
Bagi Bima dan Laura ini hanya PERPISAHAN sementara,Tapi bagi Sabiel ini PERPISAHAN sebenarnya..
Qaisaa Nazarudin
Laura terlalu memandang REMEH Sabiel,Gak ada rasa curiga dan hati2 terhadap Sabiel ya..
Qaisaa Nazarudin
PONDOK KENANGA,Disitu lah Sabiel akan menyekap Laura..Aku bukannya gak suka Sabiel sama Laura,Tapi Sabiel itu terlalu pengecut dgn Intan,Kalo Intan tau Sabiel ounya hubungan dgn Laura Pasti Intan akan menyakiti Laura,Dan menganggap Laura PELAKOR,Padahal dia yg duluan selingkuh,Tapi seakan dia yg tersakiti,Apa Sabiel tdk memikirkan semua itu? Jangan terlalu Egois Sabiel...
Qaisaa Nazarudin
Tapi sayangnya harus terhalang dgn dosen mu yg gila itu,Kamu harus hati2 Laura dgn Sabiel..
Qaisaa Nazarudin
Harusnya bukan Laura yg kau mata-matain Sabiel,Tapi isteri kamu..ckk
Qaisaa Nazarudin
Lha Dosen menyamar..😂
Qaisaa Nazarudin
SKAKMATT buat Sabiel,Laura tau dia cuman di jadikan PELARIAN,Makanya selesaikan dulu masalah mu denga Intan,SIAPA juga gak akan mau di sebut PELAKOR,Sadar gak kamu Sabiel..
Qaisaa Nazarudin
ITU KARENA INTAN CUMAN MENGANGGAP KAMU HANYA ATM BERJALAN,KAMU NYA AJA YG BODOH MASIH MAU BERPEGANG DGN JANJI MU,SEDANGKAN INTAN MANPAATIN JANJI MU ITU UNTUK MENGIKAT MU,DASAR BEGO..
Qaisaa Nazarudin
Laura mulai punya rasa dengan Bimasakti,Sedangkan Sabiel mengejar Laura,Bakal ada yg di kurung dlm sangkar emas nih kayaknya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!