Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 7
Pengantaran pizza Dave dan Emma di apartemen Avant Suites masih berlanjut. Tinggal dua kotak lagi yang harus segera di serahkan ke pembeli di lantai sepuluh gedung ini.
"Sekarang kita antar ke unit apartemen nomor dua ratus enam puluh tujuh," ucap Emma, berjalan menyusuri koridor. Dave mengikutinya sambil membawa dua kotak pizza di kedua tangannya.
"Ingat ya Dave, kamu harus ramah, lalu di akhir kamu harus bilang selamat menikmati," jelas Emma lirih saat mereka berdua sudah berdiri tepat di depan pintu.
"Sebenarnya aku paham," jawab Dave. "Tapi kan lebih baik kamu mencontohkan dulu," lanjutnya.
Emma tampak menghela napas menahan rasa kesalnya pada pria di sampingnya ini. "Kenapa harus perlu contoh, Dave ?. Kamu sudah lihat caranya tadi. Simpel, pintu terbuka, bilang ada pengantaran Hudson's Pizza. Lalu pizza kamu serahkan. Saat diterima, kamu bilang selamat menikmati. Simpelkan," ucapnya.
Dave memalingkan wajahnya. Menatap pintu didepannya. "Bagiku itu tidak simpel," ucapnya. "Aku tidak terbiasa bersikap ramah pada orang lain," lanjutnya.
"Kalau begitu mulai hari ini kamu harus biasakan bersikap ramah," jawab Emma.
"Tidak bisa," sahut Dave.
"Tidak bisa ?" Emma sedikit terkejut dengan heran. "Kenapa ?" tanyanya lagi.
"Aku sudah ditakdirkan memiliki aura yang dominan," jelas Dave. "Aku tidak bisa harus lemah lembut pada orang lain. Aku terbiasa menjadi orang yang selalu di hormati," lanjutnya.
Dasar pria sombong batin Emma. Ia semakin muak di dekat Dave. Jauh dilubuk hatinya, kini Emma menyesal menerima tugas barunya. Tapi karena itu perintah Pak Hudson, pimpinannya, mau tidak mau ia harus melakukannya.
Ini baru hari pertama. Emma sudah merasakan ujian yang sangat berat. Dave tak hentinya bersikap sombong yang menguji kesabarannya. Ia tak bisa membayangkan ujian apalagi nanti di hari-hari berikutnya.
"Sudah sombongnya ?" ucap Emma dengan sinis. "Baru pertama kali ini, aku bertemu pria sombong sepertimu," lanjutnya.
"Kamu merasa beruntung kan bisa–"
"Sssttt," potong Emma. "Cukup bicaranya ! semakin kamu banyak bicara, waktu kita semakin habis disini," lanjutnya dengan kesal.
Kini Dave terdiam. Ia tak melanjutkan perkataannya.
"Sekarang kita fokus ke pekerjaan. Masih banyak pizza yang belum kita antarkan. Kita terlalu lama disini," kata Emma. Dave tak menanggapinya. "Kamu pahamkan ?" lanjutnya. Pria itu masih mengabaikannya.
"Dave, kamu pahamkan ?" kata Emma dengan pelan dan penuh kesabaran.
"Sekarang siapa yang banyak bicara ? Aku ?" ucap Dave.
Emma semakin jengkel dengan Dave, ingin sekali rasanya memukul pria itu. Namun, ia berusaha tetap sabar dengan sisa-sisa energinya.
Tok...tok...tok...
Emma mengetuk pintu. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Beberapa pria berbadan besar dan atletis, berdiri didepannya. Mereka mengenakan jaket kulit hitam dengan logo kecil khas sebuah geng di saku sebelah kanan.
Emma dan Dave tampak terdiam membeku. Sesaat mereka juga saling melirik.
"Siapa yang mengetuk pintu ?" tanya salah satu pria dengan suara yang berat.
"Bukan saya," sahut Dave. Sekilas ia melirik ke Emma.
Emma langsung menelan ludah dalam-dalam. "Eehh...saya mau mengantarkan pizza," ucapnya dengan gugup.
Pria yang bertanya, melangkah mendekat ke arah Emma. Seketika detak jantung perempuan itu berdegup kencang. Ia ingin segera menghindar, tapi ia sadar kalau pekerjaannya belum selesai. Akhirnya ia hanya bisa membeku dan berharap pria yang ada di depannya tidak berbuat hal mengerikan padanya.
Sementara Dave, hanya bisa terdiam di posisinya. Pria lain yang masih berdiri di ambang pintu, terus menatap tajam kearahnya.
"Untuk siapa ?" tanya pria yang berada di depan Emma.
"Eeehh..." Emma langsung mengecek ponselnya. Tangannya terlihat sedikit bergetar. "Pemesan atas nama Alex, kamar nomor dua ratus enam puluh tujuh," lanjutnya.
"Ini kamar nomor berapa ?" sahut pria didepan Emma.
Jangan sampai salah kamar batin Emma. Perasaannya mulai khawatir.
Emma lalu melihat kembali ke pintu yang telah terbuka. Tubuh pria didepannya menghalangi padangannya, ia lalu sedikit bergeser. Benar, ini kamar nomor dua ratus enam puluh tujuh batinnya lagi.
"Eehh...ini nomor kamar sesuai dengan yang tertera disini," jawab Emma.
Sesaat suasana hening. Beberapa pria atletis itu, terus menatap mereka berdua. Sedetik pun mereka tak mengalihkan pandangan.
Jantung Emma dan Dave terus terpompa keras. Kini keringat dingin mulai membasahi wajah. Mereka berdua berusaha untuk tidak berkontak mata langsung dengan beberapa pria atletis itu.
Tiba-tiba pria didepan mereka tertawa. Entah apa yang membuat mereka seperti itu. Emma dan Dave saling berpandangan. Mereka tampak bingung dengan suasana yang tiba-tiba berubah.
"Wajah kalian sangat lucu," ujar salah satu pria. "Maaf ya, kami cuma bercanda," lanjutnya.
Emma dan Dave tersenyum dengan ragu. Mereka masih bingung dengan situasinya.
"Mana pizzanya ?" ucap pria yang berdiri didepan Emma. Ia lalu mengambil satu kotak pizza dari kedua tangan Dave. "Terima kasih ya," lanjutnya. Emma dan Dave pun mengangguk. Setelah itu, beberapa pria yang keluar dari kamar itu, masuk dan pintu kembali ditutup.
...----------------...
Emma dan Dave langsung bernapas lega, seakan baru saja terhindar dari bahaya yang mencekam.
Emma menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya. lalu wajahnya yang basah oleh keringat, ia usap dengan kedua tangannya.
"Aku pikir kita dalam masalah besar," ucap Emma dengan terus menenangkan dirinya.
Ia lalu menoleh kearah Dave. Rasa kesalnya pada pria disampingnya ini mendadak kembali saat teringat pada reaksinya di situasi tegang beberapa detik yang lalu.
"Bukan saya ? serius, Dave ?" kata Emma dengan tatapan tajam. "Dalam situasi tegang seperti tadi, kamu melemparkan tanggung jawab ke orang lain ?" lanjutnya.
"Siapa yang melemparkan tanggung jawab ?" Sikap angkuh Dave telah kembali. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Memang bukan aku yang mengetuk pintu," jelasnya.
"Katanya aura dominan. Ditanya begitu saja langsung lempar ke orang lain," ejek Emma.
"Aku sengaja, untuk mengujimu," jawab Dave masih dengan sikap angkuhnya.
Mendengar jawaban pria itu, Emma semakin geram. Kesombongan dan keangkuhannya sudah diluar batas.
Tiba-tiba Dave berdeham. "Masih mau dilanjutin atau tidak pengantaran pizzanya ?" ucapnya.
Emma tampak menghela napas panjang sejenak. Mencoba meyakinkan diri bahwa dirinya mampu melewati ujian kesabaran dari Dave—pria paling sombong didunia menurutnya.
"Lanjut," jawab Emma. Ia lalu berjalan mendahului Dave. "Kita harus cepat selesaikan, waktu kita sudah semakin mepet," lanjutnya.
Langkah Emma tiba-tiba dipercepat saat di ponsel yang ia pegang muncul notifikasi soal keterlambatan pengantaran. Sementara, Dave berjalan santai dibelakangnya.
Emma berhenti melangkah dan memutar kepalanya menatap Dave yang berjalan sangat santai. "Dave kamu bisa cepat sedikit ?" ucapnya.
"Kenapa harus buru-buru ? Tenang saja, kita masih punya banyak waktu," jawab Dave dengan terlihat sangat tenang.
Karena tak mau waktu pengantaran terbuang hanya untuk menanggapi Dave, Emma langsung merampas satu kotak pizza dari tangan pria itu. Ia bergegas menuju unit apartemen nomor dua ratus tujuh puluh. Dengan cepat satu kotak pizza berhasil di terima pelanggan.