NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

POV: Fariz

Aku ingin Lia tiba di Surabaya sebagai tamu terhormat, bukan pengungsi. Karena itu aku tidak langsung membawanya ke Vila, apalagi ke tengah keluargaku. Kubawa dia mengenal kotanya dulu, laut di Kenjeran, matahari terbenam dari ujung jembatan, Tugu Pahlawan menjulang di tengah kota, supaya dia paham bahwa dia sedang tiba di suatu tempat, bukan lari dari tempat lain.

"Indah," katanya, di jembatan itu, angin menerbangkan rambutnya. "Sudah lama aku tidak melihat sesuatu yang indah tanpa mencari cacat tersembunyi."

"Di sini tidak ada cacat tersembunyi. Di sini cuma laut."

Dia tertawa, tawanya sudah lebih lepas dari saat kutemukan lagi dirinya.

Hari Minggu kubawa dia ke makan siang keluarga, di Darmo. Dan makan siang Minggu keluarga Mahardika bukan sekadar makan. Itu sidang yang menyamar jadi pesta, dengan panggangan sate sebagai ganti palu.

"Jadi ini gadis dari Jakarta," kata ibuku, menyambut Lia dengan pelukan yang takarannya sama antara hangat dan terukur. "Bu Laksmi. Selamat datang, Nak."

"Terima kasih, Bu Laksmi."

Rumah itu penuh. Ayahku, Rangga, memegang panggangan, serius seperti biasa. Eyang Hardjono, kakekku dan patriark klan, di kepala meja, matanya tajam seperti orang yang menguburkan lebih banyak orang daripada yang mau diakuinya, dan menyuruh menguburkan sebagian besar.

Bibi, bersemangat, langsung menempel pada Lia. Ivan, kakak angkatku yang tertua, di kursi roda, ramah dan tak terbaca seperti biasa, mengamati. Pak Slamet, orang rumah, melayani. Bi Ningsih, yang ikut Lia dari Jakarta, membantu di dapur dan diperlakukan hormat, seperti keluargaku memperlakukan orang yang setia.

Ibuku matriark. Mantan eksekutor keluarga, dari masa ketika fasadnya lebih tipis dan pekerjaannya lebih kotor. Dia menyelidiki orang dengan cara dulu dia membidik, sabar, tak terburu-buru, menunggu sasaran membuka diri. Pertanyaannya pada Lia ramah di luar dan tajam di dalam.

"Dan keluargamu, Amelia? Dari mana asalnya?"

"Saya dibesarkan nenek saya, di Bekasi. Beliau baru meninggal. Eh, belum, beliau masih hidup, tapi sakit, di panti." Lia mengoreksi diri, dan sakit melintas cepat di wajahnya. "Tanpa orang tua. Ibu saya menitipkan saya pada nenek waktu bayi. Saya tak pernah kenal keduanya."

Ibuku mengangguk pelan, dan kulihat sesuatu melintas di wajahnya yang tak bisa kubaca saat itu. Minat lebih. Perhatian yang bukan sekadar penyelidikan.

Bibi mengadopsi Lia dalam lima menit, seperti yang kuduga. Dia duduk di sebelahnya, berbisik, tertawa, membelanya dari sindiran pertama seorang tante jauh. Ivan membuka percakapan sopan, terlalu perhatian, dan kutangkap dia mengamati Lia dengan perhatian yang membuat tengkukku gatal. Minat yang tidak pada tempatnya, terlalu cermat untuk sekadar kenalan rumah. Kusimpan itu.

Dan Eyang Hardjono, tentu saja, tidak membuang waktu.

"Fariz," katanya, cukup keras supaya seisi meja dengar, caranya mengubah segalanya menjadi pernyataan. "Eyang harap kamu ingat bahwa keluarga ini punya nama yang harus dijaga. Pernikahan itu aliansi. Bukan amal untuk orang tanpa nama keluarga."

Meja membisu. Lia menegang di sampingku, tapi tak menunduk, tak menurunkan mata.

"Dengan segala hormat, Eyang," kataku, "siapa yang kupilih itu urusanku."

"Selama kamu membawa nama kita, bukan. Tidak pernah."

Kubiarkan lewat. Bukan saatnya. Tapi aku tahu konfrontasi ini akan kembali, dan kembali keras, dan Lia akan ada di tengahnya.

Selama makan, nyaris kuceritakan segalanya pada Lia: sang pelindung, syal itu, tiga tahun menjaga dari jauh. Dua-tiga kali hampir naik ke tenggorokanku, di tengah bising, bau daging bakar, tawa Bibi.

Tapi bercerita di sana, di depan keluargaku, dengan Eyang Hardjono mengasah penghakimannya, sama dengan melempar hal paling suci yang kusimpan ke tengah sidang. Aku mundur lagi. Hanya kali ini dengan takut baru: kalau tak segera kuceritakan, ada anggota keluargaku yang akan menceritakannya, dengan cara salah di waktu salah.

Di akhir makan, aku keluar ke teras mencari udara. Dari jauh, kulihat ibuku menarik Lia ke samping, dekat sebuah potret lama di dinding, potret yang sudah ada sejak aku kecil dan tak pernah kuperhatikan, salah satu lukisan yang berhenti kita lihat karena terlalu sering dilihat. Ibuku mengatakan sesuatu pelan pada Lia. Aku tak mendengar. Hanya kulihat Lia terpaku, menatap potret itu terlalu lama, lalu menoleh pada ibuku dengan ekspresi yang tak kupahami.

Aku ke sana ketika ibuku sudah menjauh.

"Ibu bilang apa padamu?" tanyaku.

Lia lama menjawab. Dia masih menatap potret itu, seorang perempuan pirang bermata terang, dari zaman lain, dari dunia lain.

"Beliau bilang," kata Lia, pelan, "aku mengingatkannya pada seseorang yang dulu dia kenal, lama sekali."

Kutatap potret itu, lalu Lia, lalu potret itu lagi. Dan saat itu sesuatu yang tak pernah kuperhatikan membuatku merinding. Memang ada kemiripan. Sesuatu yang tak bisa kunamai, antara wajah di potret dan wajah perempuan yang kucintai. Bukan wajah yang sama. Tapi seperti dua gambar yang digores tangan yang sama.

"Siapa perempuan di potret itu?" tanyaku pada Lia, pelan.

"Ibumu tidak bilang." Dia masih memandang. "Hanya katanya sahabat lama keluarga. Dari zaman lain." Dia mengangkat bahu, berusaha tampak ringan. "Mungkin cuma perasaanku. Semua perempuan pirang di potret lama terlihat mirip."

Tapi itu bukan perasaannya. Dan itu bukan tatapan biasa. Itu tatapan orang yang mengenali wajah, wajah yang pernah dia lihat sebelumnya, di masa yang biasanya tak disentuh ibuku dengan suara keras.

Aku belum paham apa itu. Tapi kusimpan, seperti menyimpan segala hal, di laci terkunci di kepala, untuk kuperiksa tenang ketika waktunya tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!