“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Rumah Yang Sunyi
Pintu rumah tertutup di belakang Laras dengan bunyi pelan.
Ia masih mengenakan pakaian yang dipakainya saat makan malam bersama Reno dan Ibu Retno. Sepatu hak tingginya terasa menyiksa setelah seharian dipakai, tetapi ia tidak langsung melepasnya. Tangannya sibuk mencari sakelar lampu di dekat pintu.
Ruang tamu menyala.
Sofa tetap di tempatnya. Bantal yang tadi pagi ia letakkan di ujung sofa masih miring. Gelas kosong di atas meja belum sempat dibawa ke dapur. Tidak ada barang yang berubah, tidak ada sesuatu yang hilang dari pandangan.
Namun, begitu berdiri sendirian di sana, Laras merasa rumah itu berbeda.
Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu menoleh ke arah meja makan. Kursi yang biasanya diduduki Arkan masih menghadap sedikit ke arah dapur. Posisi itu selalu membuatnya kesal karena terlihat tidak rapi. Dulu, beberapa kali ia meminta Arkan menggeser kursi tersebut setelah selesai makan.
Arkan selalu menurut.
Kadang-kadang ia hanya mengangguk, menyelesaikan pekerjaannya, lalu mendorong kursi itu kembali ke tempat semula.
Hal kecil yang bahkan tidak pernah masuk dalam ingatan Laras ketika ia memutuskan bahwa suaminya tidak memberikan apa-apa.
Laras mengembuskan napas, kemudian memalingkan wajah.
Ia tidak pulang untuk mengingat Arkan. Ia pulang karena lelah dan ingin beristirahat. Perayaan malam ini sudah cukup menyenangkan. Reno menemaninya, Ibu Retno terlihat puas, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada yang mengingatkannya bahwa ia masih memiliki suami yang dianggap tidak berguna.
Tidak ada yang perlu disesali.
Setidaknya, itu yang ingin dipercayainya.
Laras berjalan ke dapur untuk mengambil air putih. Gelas yang biasa digunakannya berada di rak kedua. Ia meraihnya, mengisi air dari dispenser, lalu meminumnya sambil berdiri.
Di dekat wastafel, lap dapur tergantung rapi. Tempat sabun cuci piring terisi. Spons yang sudah menipis beberapa hari lalu ternyata telah diganti.
Laras memandangi spons itu.
Ia ingat pernah mengeluh karena spons lama membuat tangannya berbau amis setelah mencuci peralatan makan. Arkan tidak menjawab panjang lebar. Keesokan harinya, spons baru sudah tersedia.
Waktu itu ia menganggap hal seperti itu sebagai sesuatu yang memang seharusnya dilakukan orang yang berada di rumah sepanjang hari.
Sekarang, benda kecil tersebut terasa seperti catatan yang tidak pernah ia minta, tetapi terus muncul di hadapannya.
Ia meletakkan gelas agak keras di meja.
“Sudah,” gumamnya. “Jangan mulai lagi.”
Tidak ada yang menjawab.
Laras membawa gelas itu ke ruang tengah, lalu duduk di sofa. Ia mengambil ponsel dari tas.
Reno sudah mengunggah foto dengan tulisan Kita.
Laras sempat tersenyum saat melihat unggahan tersebut. Ia bahkan menyukai foto itu sebelum meninggalkan restoran.
Sekarang, ketika layar ponselnya kembali menampilkan foto yang sama, senyumnya tidak bertahan lama.
Bukan karena Reno melakukan sesuatu yang salah. Reno memperlakukannya dengan baik. Ia tahu cara membuat Laras merasa didengar, memuji pencapaiannya, dan menyampaikan pendapat seolah-olah setiap keputusan Laras layak dirayakan.
Berada di dekat Reno terasa mudah.
Tidak ada tatapan yang membuatnya merasa harus menjelaskan mengapa suaminya tidak pergi ke kantor. Tidak ada pertanyaan dari orang lain tentang pekerjaan Arkan. Tidak ada kebutuhan untuk menutupi rasa malu ketika seseorang membicarakan pencapaian pasangannya.
Reno memberinya sesuatu yang selama ini ia cari: perasaan bahwa dirinya tidak tertinggal dari orang-orang di sekitarnya.
Tetapi, malam ini, setelah semua percakapan selesai dan rumah kembali menjadi miliknya sendiri, Laras justru merasa sulit menikmati ketenangan itu.
Ia membuka aplikasi pesan, lalu menutupnya lagi.
Tidak ada pesan baru dari Arkan.
Laras tidak tahu mengapa ia memeriksa. Mereka sedang menjalani proses perceraian. Arkan sudah menandatangani dokumen yang diperlukan, dan ia sendiri tidak pernah meminta lelaki itu menghubunginya setelah mereka berpisah.
Bukankah itu yang diinginkannya?
Arkan tidak mengganggu. Tidak menuntut penjelasan tambahan. Tidak mengirim pesan panjang untuk membuatnya merasa bersalah. Ia menerima keputusan Laras dengan sikap yang justru membuat perempuan itu kesulitan mencari alasan untuk marah.
Seandainya Arkan memohon, mungkin semuanya akan terasa lebih sederhana.
Laras bisa mengatakan bahwa keputusan itu sudah tepat. Ia bisa meyakinkan dirinya bahwa Arkan tidak memahami kebutuhannya, bahwa mereka memang sudah tidak cocok, bahwa perpisahan tersebut merupakan jalan terbaik bagi keduanya.
Namun, Arkan tidak memberikan pertengkaran yang bisa ia gunakan untuk membenarkan pilihannya.
Lelaki itu hanya pergi.
Dan rumah ini masih menyimpan kebiasaannya.
Laras menaruh ponsel di meja, kemudian bangkit untuk mematikan lampu dapur. Saat melewati lorong menuju kamar, ia mendengar bunyi berulang dari arah ruang tengah.
Jam dinding di atas lemari berdetak. Arkan pernah memperbaikinya malam itu.
Ia berhenti dan menatap jam itu beberapa saat.
Arkan hanya berkata bahwa jam itu masih bisa digunakan.
Setelah selesai, ia mengembalikan jam tersebut ke dinding dan memastikan jarumnya bergerak dengan benar.
Sejak saat itu, jam tersebut tidak pernah berhenti lagi.
Laras menatap bingkai kayu yang sedikit kusam. Ada goresan tipis di sisi bawahnya, bekas obeng yang pernah terpeleset ketika Arkan membuka penutup belakang. Goresan itu kecil, nyaris tidak terlihat dari tempat duduk.
Arkan pernah berdiri di kursi kecil untuk membuka penutup belakangnya. Obengnya terpeleset, meninggalkan goresan pada bingkai kayu. Laras menyuruhnya mengganti jam itu saja, tetapi Arkan menjawab bahwa jam tersebut masih bisa dipakai. Ia tidak pernah memperbaiki goresan itu.
Dulu, Laras sempat menyuruhnya mengganti bingkai tersebut.
Arkan bilang tidak perlu.
Laras mengangkat tangan, tetapi tidak menyentuhnya. Ia menurunkan tangan itu lagi, lalu berbalik menuju kamar.
Malam ini, ia hanya ingin tidur.
Kamar tidur terasa terlalu rapi.
Laras mengganti pakaian, mencuci muka, lalu duduk di tepi ranjang sambil menyisir rambut dengan jari. Di sisi lemari terdapat ruang kosong yang sebelumnya ditempati beberapa barang Arkan. Ia sudah melihatnya berkali-kali sejak lelaki itu mulai mengemas barang-barangnya.
Tetap saja, ruang kosong itu menarik perhatiannya.
Tidak ada tumpukan kaus polos. Tidak ada jam tangan murah di atas meja. Tidak ada kabel pengisi daya yang sesekali membuatnya kesal karena melintang di dekat stopkontak.
Sekarang, ia tidak bisa menyangkal bahwa sebagian besar rutinitas rumah mereka memang berjalan karena Arkan.
Sebagian besar rutinitas rumah karena Arkan: menyiapkan air, memperbaiki keran, mengganti lampu. Jika Laras pulang larut, makanan biasanya masih tersedia.
Dulu, Laras tidak pernah menghitung semua itu sebagai kontribusi.
Ia menghitung gaji, jabatan, dan pengakuan orang lain. Ia membandingkan suaminya dengan pasangan rekan-rekan kerja yang datang menjemput menggunakan mobil bagus atau bercerita tentang perjalanan bisnis ke luar negeri.
Arkan tidak pernah menawarkan cerita seperti itu.
Yang dilihat Laras hanya laptop di meja, pakaian sederhana, dan hari-hari yang tampak sama. Ia tidak pernah benar-benar berusaha memahami pekerjaan yang dilakukan lelaki itu. Setiap kali Arkan terlihat sibuk, Laras mengira ia hanya menghabiskan waktu di depan layar.
Ia merasa telah bekerja keras untuk membangun kehidupan yang lebih baik, sementara suaminya tidak bergerak ke mana-mana.
Pikiran itu dulu terasa masuk akal baginya.
Sekarang, ia mulai menyadari bahwa ia telah memutuskan nilai seseorang berdasarkan hal-hal yang mudah dilihatnya.
Kesadaran tersebut membuat Laras kesal. Bukan hanya kepada Arkan, melainkan juga kepada dirinya sendiri.
Ia sudah memilih.
Ia harus berani menerima akibatnya.
Laras berbaring dan menarik selimut hingga pinggang. Ponselnya berada di samping bantal. Ia membuka percakapan dengan Reno, membaca pesan terakhir mereka, lalu mengetik balasan singkat.
Sudah sampai rumah.
Balasan Reno datang tidak lama kemudian.
Istirahat yang cukup. Besok kita bicara lagi.
Laras membaca pesan itu dua kali. Ia mengetik ucapan terima kasih, menambahkan emotikon senyum, lalu meletakkan ponselnya.
Reno tidak melakukan kesalahan. Ia tidak pantas menjadi sasaran kegelisahan yang bahkan tidak bisa dijelaskan Laras sendiri.
Perempuan itu memejamkan mata.
Beberapa menit berlalu. Ia membuka mata lagi.
Dari ruang tengah, bunyi jam dinding terdengar samar. Tik-tiknya tidak keras, tetapi cukup jelas ketika tidak ada suara lain di rumah. Laras menarik selimut lebih tinggi, lalu memiringkan tubuh membelakangi pintu kamar.
Ia mencoba menghitung pekerjaan yang harus diselesaikannya besok. Ada laporan yang belum diperiksa, beberapa pesan kantor yang perlu dibalas, dan jadwal pertemuan yang harus dipastikan. Ia menyusun semuanya di dalam kepala seperti biasa.
Pekerjaan selalu membantunya mengalihkan pikiran.
Namun, malam ini, daftar itu tidak cukup.
Ia teringat kebiasaan Arkan mengetuk pintu kamar sebelum masuk ketika Laras masih bekerja. Lelaki itu biasanya bertanya apakah ia sudah makan. Jika Laras menjawab belum, Arkan akan menyampaikan bahwa makanan ada di meja, lalu kembali ke ruang tengah tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Laras dulu menganggap perhatian itu sebagai gangguan kecil.
Ada saat-saat ketika ia bahkan sengaja menjawab ketus karena tidak ingin merasa diawasi. Arkan tidak pernah memaksa. Ia hanya memastikan makanan tersedia, lalu membiarkan Laras memilih sendiri.
Sekarang tidak ada yang akan mengetuk pintu untuk menanyakan hal sesederhana itu.
Laras menggigit bagian dalam pipinya. Ia membenci kenyataan bahwa sesuatu yang dahulu membuatnya jengkel justru menjadi bagian yang paling mudah diingat.
Ia bangun lagi, menyalakan lampu meja, lalu meraih ponsel.
Nama Arkan masih tersimpan di daftar kontak. Tidak ada alasan untuk menghapusnya, pikirnya. Mereka masih harus menyelesaikan beberapa urusan terkait dokumen perceraian dan rumah. Komunikasi yang diperlukan tetap bisa dilakukan melalui pesan.
Ia membuka kontak tersebut.
Foto profil Arkan masih berupa gambar sederhana yang sudah lama tidak diganti. Laras menatap nomor itu, kemudian menggerakkan ibu jarinya ke ikon panggilan.
Ia ingin bertanya tentang pembayaran rumah yang muncul di rekening dengan nama yang tidak dikenalnya. Tagihan itu sudah diproses, padahal ia tidak ingat pernah melakukan pembayaran tersebut. Nomor referensi transaksi masih tersimpan di ponselnya.
Mungkin Arkan mengetahui sesuatu.
Mungkin ada penjelasan sederhana yang belum ia temukan.
Laras hampir menekan ikon itu.
Namun, ibu jarinya berhenti beberapa milimeter di atas layar.
Apa yang akan ia katakan jika Arkan mengangkat telepon?
Bahwa ia ingin menanyakan tagihan? Itu alasan yang masuk akal. Mereka masih memiliki urusan yang belum sepenuhnya selesai. Akan tetapi, jika memang hanya itu tujuannya, ia bisa mengirim pesan besok pagi.
Ia tidak perlu menelepon malam-malam.
Terlebih, ia tidak tahu apakah Arkan ingin mendengar suaranya.
Laras mengunci layar dan meletakkan ponsel di atas meja. Ia segera mengambilnya kembali, membuka kontak itu sekali lagi, lalu membaca nama yang tertera di sana.
Arkan.
Hanya lima huruf yang selama bertahun-tahun begitu akrab baginya.
Ia pernah memanggil nama itu dari dapur ketika membutuhkan bantuan. Pernah mengucapkannya dengan nada kesal karena Arkan tidak segera menjawab. Pernah pula menyebutnya dengan lembut pada masa ketika mereka masih bisa duduk bersama tanpa merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Laras menurunkan ponsel.
Ia tidak akan menelepon. Bukan malam ini.
Ia menghapus layar panggilan, mematikan lampu meja, lalu kembali berbaring. Kali ini ia meletakkan ponsel di atas nakas, sedikit lebih jauh dari jangkauan tangannya.
Jam dinding terus berdetak di luar kamar.
Laras menarik napas panjang dan memaksa dirinya memejamkan mata. Rumah itu tetap milik Arkan, dan ia masih tinggal di dalamnya berdasarkan pengaturan yang belum selesai. Ia tahu suatu hari nanti akan ada keputusan yang harus diambil mengenai tempat tinggalnya. Untuk sekarang, tidak ada yang memintanya pergi malam ini.
Ia tidak perlu membuat keputusan tambahan.
Ia hanya perlu melewati malam.
Beberapa saat kemudian, Laras membuka mata lagi. Pandangannya jatuh pada pintu kamar yang tertutup. Tidak ada langkah kaki di baliknya. Tidak ada suara Arkan yang sedang merapikan barang atau memindahkan kursi makan ke posisi semula.
Ia meraih selimut, menutup bahunya, lalu membalikkan tubuh.
Di atas nakas, ponselnya tetap gelap.
Nama Arkan tidak lagi muncul di layar, tetapi nomor itu masih ada di dalam kontaknya. Laras tahu ia bisa menghubunginya kapan saja untuk urusan yang memang perlu diselesaikan.
Yang tidak ia ketahui adalah apakah suatu hari nanti ia masih punya keberanian untuk menekan tombol panggilan tanpa berlindung di balik alasan tentang tagihan rumah.
Malam semakin larut.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Laras tidak punya siapa pun untuk disalahkan atas kesunyian yang memenuhi rumah itu.
Dan ia belum siap mengakui bahwa sebagian dari dirinya masih menunggu suara langkah Arkan dari ruang tengah.