Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
om ganteng ! terus janda dari mana?
Pagi di toko bakery milik Nala terasa hangat dan ramai. Aroma adonan roti yang baru matang berpadu sempurna dengan seduhan kopi segar.
Hari ini adalah hari pertama Arka membantu Nala menjaga toko di karena ada satu orang yang izin Tidak masuk kerja ,usai mutasinya ke kantor pusat disetujui.
Arka yang mengenakan kaos polos hitam tampak gagah saat membawakan nampan berisi dua cangkir kopi untuk pelanggan di meja pojok. Meski berotot tegap ala pria proyek, Arka cukup cekatan membawakan pesanan.
Tiba-tiba, lonceng pintu toko berdenting manis. Seorang pria berkemeja rapi dengan jam tangan berkilau melangkah masuk membawa sebuah mainan baru di tangannya.
"Bapak Ganteng datang!" seru Aira nyaring dari meja tempatnya bermain.
Balita tiga tahun itu langsung bangkit, berlari kecil dengan kaki gempalnya menghampiri pria itu. "Bapak Kevin! Aila (Aira) mau mainannya!"
Pria bernama Kevin itu tertawa renyah, berlutut menyamai tinggi Aira lalu mengelus rambut balita itu seraya menyerahkan mainan baru. "Pagi, Aira anak pintar. Nih, Bapak bawa mainan buat Aira."
"Makasih Bapak Ganteng!" cicit Aira girang, langsung memeluk mainan itu.
DEG.
Langkah Arka seketika terhenti total di tengah ruangan. Tangannya yang memegang nampan kopi mendadak kaku, hampir saja cangkir kopi di atasnya goyah dan tumpah!
Matanya melotot lebar. Bapak Ganteng?! Sejak kapan anak gue punya panggilan 'Bapak Ganteng' buat cowok lain?! batin Arka menjerit kaget campuran cemburu yang langsung membakar dadanya.
Arka dengan cepat menaruh nampan kopi di meja pelanggan, lalu melangkah lebar-lebar menghampiri meja kasir dengan aura dingin nan mencekam.
Sementara itu, Kevin tersenyum manis ke arah Nala di balik kasir. "Pagi, Mbak Nala. Seperti biasa ya, kopi dan croissant. Senang deh liat Mbak Nala rajin banget ngurus toko sendirian. Udah cantik, mandiri lagi."
Nala tersenyum canggung. "Eh, iya Pak Kevin. Terima kasih..."
"Lagipula saya merhatiin Mbak Nala ini kasihan juga, udah hampir dua tahun saya langganan di sini tapi Mbak Nala sendirian terus ngurus Aira," lanjut Kevin penuh percaya diri. "Mbak Nala kan single parent ya? Janda muda yang hebat. Saya siap kok kalau Mbak mau..."
"Maaf."
Sebuah suara berat, dalam, dan dingin memotong ucapan Kevin.
Kevin tersentak kaget saat sebuah bayangan tegap menutupi pandangannya. Arka sudah berdiri persis di samping Nala. Tubuhnya yang tinggi menjulang, dada bidangnya, serta tatapan matanya yang tajam bagai elang membuat Kevin refleks mundur setengah langkah.
"M-mas siapa ya? Karyawan baru Mbak Nala?" tanya Kevin sedikit gugup menatap Arka yang penampilannya sangat mengintimidasi.
Arka tidak menjawab. Satu tangannya yang kekar langsung melingkar erat di pinggang Nala, menarik tubuh istrinya merapat rapat tanpa jarak ke badannya.
"Saya Arka," ucap Arka penuh penekanan di setiap kata. "Suami sah Nala. Dan Papanya Aira."
JGEERRR!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, jantung Kevin serasa mau copot saat itu juga! Matanya terbelalak lebar, wajahnya yang tadi percaya diri seketika pucat pasi bagai kertas HVS. Napasnya tertahan dan lidahnya mendadak kelu tak bergeming.
"S-suami?! Bukannya Mbak Nala janda? Saya enggak pernah liat Mas di sini!" gagap Kevin dengan jantung yang masih berdebar hebat karena syok.
"Istri saya bukan janda," potong Arka dingin, giginya merapat menahan gemas. "Saya kerja di laut lepas. Dan mulai hari ini, saya bertugas di kantor pusat. Jadi saya bakal ada di toko ini di hari tertentu."
Aira yang sedang memegang mainan mendongak polos menatap Arka. "Papa... kok Papa mukanya galak kayak dinosayus (dinosaurus)?"
Nala yang berada dalam dekapan Arka langsung menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menahan tawa yang hampir meledak melihat reaksi Kevin yang seperti disambar petir dan suaminya yang perkasa kini mati-matian menahan cemburu gara-gara sebutan "Bapak Ganteng".
"M-maaf banget, Mas! Saya benar-benar enggak tahu kalau Mbak Nala punya suami... Saya pesen kopinya takeaway aja deh, Mbak. Maaf ya, Mas!" cerocos Kevin ketakutan sambil menyerahkan uang pas dan buru-buru ngacir keluar toko seperti dikejar hantu.
Begitu Kevin menghilang di balik pintu, Arka langsung bergerak cepat. Tanpa ragu, Arka mengambil mainan yang tadi diberikan Kevin ke Aira, lalu menyambarnya dan langsung membuangnya ke tempat sampah di sudut kasir!
"Ehh! Kok dibuang Papa?" protes Aira memanyunkan bibirnya.
"Mainan dari orang asing enggak boleh disimpan, Sayang. Nanti Papa belikan sepuluh mainan baru yang lebih bagus!" tegas Arka dengan wajah posesifnya.
Setelah itu, Arka berjongkok di hadapan Aira. Tubuh tegap yang biasanya perkasa menghadapi kerasnya gelombang laut itu kini bergetar kecil. Arka menggenggam kedua tangan mungil Aira, menatap dalam-dalam mata polos putrinya.
Kedua mata Arka mulai berkaca-kaca, ada genangan air mata yang siap menetes di pelupuk matanya. Suaranya yang tadinya tegas berubah serak dan emosional.
"Aira... dengar Papa ya, Nak," ucap Arka lirih dengan mata meredup emosional.
"Papa ini Papa-nya Aira. Laki-laki yang punya Aira cuma Papa. Aira enggak boleh panggil laki-laki lain dengan sebutan 'Bapak' atau 'Papa', apalagi panggil 'Bapak Ganteng'... Hati Papa rasanya sakit banget, Nak..."
Satu tetes air mata Arka akhirnya lolos membasahi pipinya. Rasa takut kehilangan dan rasa bersalah karena sempat lama meninggalkan anak-istrinya di laut lepas membuat perasaan Arka begitu sensitif.
"Bapak dan Papa Aira cuma satu... cuma Papa Arka. Janji sama Papa ya, Sayang? Enggak boleh sebut laki-laki lain 'Bapak' lagi..." bisik Arka penuh ketulusan, mengusap pipi gempal Aira dengan jempolnya yang kasar.
Aira yang melihat mata papanya memerah dan meneteskan air mata langsung terdiam polos. Tangan mungilnya terulur mengusap air mata di pipi Arka.
"Papa... jangan nangis," cicit Aira polos sambil memeluk leher Arka erat-erat. "Aila (Aira) janji. Cuma Papa Arka yang Bapak Ganteng-nya Aila."
Nala yang menyaksikan pemandangan itu di balik meja kasir tersenyum haru. Matanya ikut berembun melihat betapa dalamnya rasa sayang dan rasa memiliki Arka terhadap putri kecil mereka.
Arka berdiri sambil menggendong Aira erat-erat di dadanya, lalu memutar tubuh Nala agar menghadap sepenuhnya padanya. Ia lalu menatap Nala dengan sisa-sisa mata merahnya.
"Lagian, di mata aku cuma ada satu pria paling ganteng... Papa nya Aira ," goda Nala manis sambil mengusap sisa air mata di sudut mata suaminya.
Mendengar ucapan lembut istrinya dan dekap hangat dari Aira, pertahanan cemburu serta rasa haru Arka menyatu. Pria tegap itu mengecup dahi Nala dengan durasi lama.
"Pokoknya mulai besok, Mas yang bakal antar jemput kamu dan Aira. Biar enggak ada lagi orang asing yang coba-coba mendekat," gumam Arka posesif yang dibalas tawa hangat dari Nala.
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga