Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kukuruyuk.
Ayam jantan peliharaan Mang Udin berkokok dengan sangat nyaring menyambut pagi.
Matahari perlahan naik menghangatkan atap-atap daun rumbia di desa yang kini makmur itu.
Di dalam rumah Arga, suasana terasa sangat berbeda dari biasanya.
Ruang tengah yang dulunya kosong kini dipenuhi oleh berbagai macam barang mewah pemberian warga.
Ada tumpukan kain sutra, kendi berisi madu hutan, hingga keranjang penuh buah-buahan segar.
"Ibu, aku mau makan singkong rebus saja pagi ini."
Natasya menatap tumpukan makanan enak itu dengan wajah yang terlihat sangat bosan.
"Buah-buahan manis ini membuat perutku rasanya aneh karena terlalu sering memakannya."
Mira yang sedang menyapu lantai hanya bisa tersenyum canggung menanggapi keluhan putrinya.
"Singkong kita sudah habis, Natasya."
"Bapak-bapak di desa melarang kita makan singkong lagi dan terus mengirimkan buah serta daging setiap hari."
Kriet.
Pintu depan rumah terbuka dan Arga masuk dengan membawa segentong air bersih.
Wajah pria kekar itu terlihat lelah namun bukan karena bekerja di ladang.
Arga kelelahan karena harus terus meladeni warga yang datang berkunjung tanpa henti.
"Ayah sudah bilang pada mereka untuk berhenti mengirimkan barang."
Arga meletakkan gentong air itu di sudut dapur dengan napas terengah-engah.
"Tapi mereka bilang ini adalah bentuk ibadah mereka pada dewi kecil penyelamat desa."
"Aku ini bukan dewi kecil, Ayah, aku kan cuma anak perempuan biasa."
Natasya mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku jadi tidak bisa main ke luar rumah lagi karena setiap kali keluar pasti langsung dikerumuni orang-orang."
"Sabar ya, sayang."
Mira mengusap kepala Natasya dengan lembut mencoba memberikan pengertian.
"Orang-orang itu hanya terlalu bahagia karena desa kita tidak jadi mati kelaparan."
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu kembali terdengar membuat Arga langsung menghela napas panjang.
Pria itu berjalan ke depan dan membuka pintu dengan wajah yang dipaksakan untuk tersenyum.
"Selamat pagi, Tuan Arga."
Seorang ibu dari desa tetangga berdiri di depan pintu sambil menggendong anaknya yang sedang batuk-batuk.
"Bolehkah saya meminta segelas air yang sudah didoakan oleh Dewi Natasya untuk anak saya ini?"
Arga menepuk jidatnya pelan mendengar permintaan yang semakin lama semakin tidak masuk akal tersebut.
"Maaf, Bu, anak saya masih tidur dan kami tidak punya air doa macam-macam."
Tanpa menunggu balasan, Arga langsung menutup pintunya dan menguncinya rapat-rapat dari dalam.
Brak.
Natasya yang melihat kejadian itu dari celah tirai bambu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Gaga benar seratus persen, manusia itu memang sangat merepotkan kalau sudah percaya pada sesuatu."
Gadis kecil itu bergumam pelan di dalam hatinya sambil mengingat peringatan sahabat serigalanya.
Karena merasa bosan terkurung di dalam rumah, Natasya berjalan menuju jendela belakang.
Ia membuka daun jendela kayu itu dan memanggil teman kecilnya dengan siulan pelan.
Fwiiit.
Ciap.
Seekor burung gereja terbang melesat dari atas pohon jambu dan mendarat di ambang jendela.
"Selamat pagi, dewi kecil pujaannya para manusia bodoh."
Burung gereja itu berkicau dengan nada yang sangat mengejek dan menyebalkan.
"Jangan ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan konyol itu, Tuan Burung."
Natasya menatap burung itu dengan mata menyipit tajam.
"Aku pusing sekali di dalam rumah ini, apa ada kabar menarik di luar sana hari ini?"
"Kabar di hutan cukup membosankan karena semua hewan sedang sibuk mencari makan."
Burung gereja itu memiringkan kepalanya sambil membersihkan bulu sayapnya.
"Tapi tadi pagi aku melihat tetangga manusiamu yang berwajah galak itu pergi keluar desa."
"Maksudmu Bu Rini?"
Natasya mengerutkan keningnya karena merasa agak penasaran.
"Tumben sekali dia pergi pagi-pagi buta, memangnya dia mau ke mana?"
"Dia naik gerobak sapi tua menuju ke arah kota kecamatan di seberang sungai besar sana."
Burung itu berkicau memberikan informasi yang sangat akurat.
"Wajahnya terlihat sangat kesal dan dia terus menggerutu sendiri di sepanjang jalan."
"Pasti dia sedang merencanakan sesuatu yang jelek untuk menjatuhkan keluargaku."
Natasya mendengus pelan dan memberikan sedikit remahan kue pada burung gereja tersebut.
"Terima kasih informasinya ya, kamu boleh pergi main lagi sekarang."
Ciap.
Burung itu mematuk remahan kue tersebut dan langsung terbang menjauh meninggalkan Natasya yang sedang berpikir keras.
Firasat buruk yang dikatakan Gaga kemarin sore sepertinya mulai menunjukkan tanda-tanda kebenarannya.
Sementara itu, di sebuah pasar tradisional yang ramai di kota kecamatan.
Klotak.
Klotak.
Sebuah gerobak sapi berhenti tepat di depan gerbang pasar yang terbuat dari bambu.
Bu Rini turun dari gerobak itu sambil merapikan kain kebayanya yang agak kusut.
Wanita itu berjalan masuk ke dalam pasar yang dipenuhi oleh suara tawar-menawar yang sangat berisik.
Tujuan utamanya datang jauh-jauh ke kota ini bukanlah untuk berbelanja sayuran atau daging.
Bu Rini berjalan lurus menuju sebuah warung kopi kecil yang biasanya menjadi pusat berkumpulnya para pedagang.
Ia memesan segelas teh hangat dan duduk di bangku kayu panjang yang agak kotor.
Matanya menyapu sekeliling warung mencari lawan bicara yang pas untuk memulai penyelidikannya.
"Tumben sekali Ibu datang jauh-jauh dari desa pinggir hutan ke pasar kota ini."
Pemilik warung yang bernama Bi Minah menyapa sambil meletakkan segelas teh panas di meja.
"Apa ada hajatan besar di desa kalian sampai harus belanja ke sini?"
"Boro-boro hajatan, Bi Minah, desaku itu sedang kacau balau karena ada aliran sesat."
Bu Rini langsung meluncurkan umpan gosip pertamanya dengan suara yang sengaja dibesarkan.
"Semua warga desa di tempatku sekarang sedang sibuk menyembah seorang anak kecil."
Mendengar kata menyembah anak kecil, beberapa pengunjung warung langsung menoleh ke arah Bu Rini.
"Menyembah anak kecil bagaimana maksudnya, Bu?"
Seorang pria tua yang sedang meminum kopi ikut menyela karena merasa sangat penasaran.
"Iya, anak perempuan berumur tujuh tahun yang diangkat anak oleh keluarga miskin bernama Arga."
Bu Rini meminum tehnya sedikit untuk mebasahi tenggorokannya yang kering.
"Anak itu katanya bisa bicara dengan binatang dan memunculkan air dari dalam tanah kering."
"Astaga, itu pasti anak jadi-jadian atau siluman dari Hutan Larangan."
Bi Minah menutupi mulutnya dengan ekspresi ngeri yang sangat berlebihan.
"Lalu dari mana asal-usul anak aneh itu sebenarnya?"
Nah, ini dia pertanyaan yang paling ditunggu-tunggu oleh Bu Rini sejak tadi.
"Tujuh tahun yang lalu, Arga dan istrinya menemukan anak itu dibuang di perbatasan Hutan Larangan."
Bu Rini bercerita dengan gaya yang sangat dramatis seolah ia sedang menceritakan dongeng misteri.
"Anak itu dibuang di dalam keranjang bambu kecil dan hampir dimakan oleh serigala."
Di sudut warung kopi yang agak gelap, duduk sepasang suami istri yang berpakaian sangat lusuh.