NovelToon NovelToon
PENGEMBARA DARI DESA

PENGEMBARA DARI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Djafar S

Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 JEJAK DARAH

​Dua jam setelah keheningan malam dihancurkan oleh bentrokan berdarah di lorong rumah kolonial Ciumbuleuit, suasana di kediaman berarsitektur klasik itu perlahan mulai terkendali. Lampu-lampu sorot dari tiga unit mobil tim keamanan pribadi kepercayaan

Tuan Wiratman berpendar terang di sepanjang pelataran halaman depan. Beberapa pria bersetelan hitam bertubuh tegap mengamankan dua preman Geng Serigala Hitam yang masih tak sadarkan diri, mengikat tangan mereka dengan tali klem baja, lalu mengangkut mereka ke dalam mobil van tertutup untuk diserahkan langsung kepada pihak kepolisian yang telah dikoordinasikan secara tertutup oleh tim hukum keluarga Hartono.

​Di sudut lorong yang pecah berkeping-keping, Raka Ardian sedang mengumpulkan barang bukti fisik di atas meja kayu. Sebilah pisau belati beracun yang mengkilap kebiruan, tabung logam thermite cair yang tersisa separuh, serta sebuah dompet milik salah satu penyusup yang memuat kartu identitas serta lembaran uang tunai dalam jumlah besar bertanda khusus dari divisi logistik PT Cimanuk Perkasa. Semua bukti ini tidak lagi sekadar petunjuk samar, melainkan rantai fakta yang mengikat Prabu Baskara secara langsung pada kejahatan percobaan pembunuhan dan pembakaran berencana.

​Namun, di tengah kesibukan tim keamanan yang merapikan serpihan kaca dan puing-puing kayu, ada satu hal yang tidak berubah sejak pertempuran mereda: Nadia sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari lengan Raka.

​Gadis berambut panjang itu mengenakan mantel hangat yang diselimutkan Raka di bahunya. Setiap kali ada langkah kaki orang asing mendekat, jemari Nadia serta-merta meremas kain jaket Raka lebih erat, menyembunyikan wajahnya di balik pundak bidang pemuda desa tersebut. Trauma atas ancaman maut yang hampir merenggut nyawanya beberapa jam lalu masih membayang jelas di dalam seluk-beluk pikirannya. Satu-satunya jangkar keselamatan yang membuat napasnya tetap teratur hanyalah keberadaan Raka di sisinya.

​"Nadia," panggil Raka dengan suara lembut seraya memiringkan wajahnya, menatap lurus ke dalam bola mata gadis itu yang masih tampak berkaca-kaca. "Tim keamanan Tuan Wiratman sudah menjaga seluruh perimeter rumah. Polisi juga sudah memproses tempat kejadian. Kau bisa masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Aku akan berjaga di depan pintu kamarmu."

​Nadia menggelengkan kepalanya dengan cepat, bibirnya yang pucat mengatup rapat. "Tidak... jangan tinggalkan aku sendiri di dalam kamar, Raka. Aku tidak mau memejamkan mata kalau kau tidak ada di jarak pandangku. Tempat ini... lorong ini terasa sangat menakutkan jika kau pergi."

​Melihat binar kepasrahan dan ketakutan yang murni di wajah gadis yang dulu terkenal sangat angkuh dan mandiri itu, Raka tidak tega untuk menolak. Ia menghela napas halus, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Kita duduk di teras pendopo belakang sampai fajar menyingsing. Di sana udaranya lebih segar dan jauh dari bekas pertarungan ini."

​Fajar menyingsing di Ujung Timur Bandung dengan bias warna jingga keemasan yang menembus kabut tipis pegunungan. Udara pagi Ciumbuleuit yang dingin menyapu lembut teras pendopo kayu di halaman belakang.

​Nadia duduk bersandar di bahu kanan Raka, terselimuti kain sarung tenun tebal yang dibawakan Raka. Rasa lelah yang luar biasa akhirnya membuat kelopak mata gadis itu terpejam perlahan, namun jemarinya masih bertaut erat di antara sela-sela jemari tangan kiri Raka. Di balik tidur lelapnya yang gelisah, sesekali napas Nadia terhela panjang, seolah mengonfirmasi bahwa sosok pemuda yang menyelamatkannya masih berada di sana, menopang tubuhnya tanpa goyah sedikit pun.

​Raka menatap wajah tidur Nadia yang polos di bawah naungan cahaya fajar. Tidak ada lagi sisa-sisa tatapan sinis, sindiran pedas, atau keangkuhan seorang putri keluarga terpandang kota besar. Yang tersisa hanyalah seorang wanita muda yang jujur pada perasaannya, seorang gadis yang menggantungkan seluruh jiwa raganya pada ketulusan seorang pengembara dari Desa Ciherang.

​Raka perlahan mengangkat tangan kanannya, mengusap lembut helaian rambut yang menutupi dahi Nadia. Sebuah debaran hangat merayap masuk ke dalam relung dadanya tersembunyi—sebuah perasaan murni yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun menimba ilmu Welingan Sejati di tengah kesendirian Hutan Mandalagiri. Ia menyadari sepenuhnya bahwa perjalanannya di Kota Bandung kini bukan lagi sekadar misi pembalasan atas keadilan tanah desanya atau sekadar melunasi janji perlindungan kepada Tuan Wiratman. Kehadiran Nadia telah memberi warna dan arah baru dalam hidupnya.

​"Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu lagi, Nadia... tidak Prabu Baskara, tidak pula kekuasaan hitamnya," bisik Raka lirih, ikrar itu terucap mantap di dalam batinnya.

​Sekitar pukul delapan pagi, deru mesin mobil sedan hitam berpelat diplomatik terdengar berhenti di pelataran depan. Tuan Wiratman turun dari mobil ditemani oleh Ibu Sinta.

Wajah pengusaha senior itu tampak sangat tegang, namun begitu melihat Raka dan Nadia duduk selamat di teras pendopo, raut kecemasan di mukanya sedikit mereda digantikan oleh gelombang amarah yang membara kepada sang musuh.

​Nadia terbangun begitu mendengar langkah kaki paman dan bibinya. Dengan wajah berseri penuh rasa syukur, Ibu Sinta langsung memeluk keponakannya erat-erat sambil meneteskan air mata kelegaan.

​"Nadia... oh Tuhan, syukur Kau masih melindungi keponakanku..." bisik Bu Sinta berulang kali sambil mencium pelipis Nadia.

​Sementara itu, Tuan Wiratman berjalan mendekati Raka yang berdiri memberi hormat. Pengusaha senior yang kini telah pulih sepenuhnya itu menepuk kedua pundak Raka dengan genggaman yang sangat kuat, menatap pemuda itu dengan sorot mata penuh rasa hormat yang mendalam.

​"Raka... tidak ada kata-kata yang cukup untuk membalas kebaikan dan keberanianmu malam tadi," ucap Tuan Wiratman dengan suara berat bergetar. "Baskara sudah benar-benar gila. Dia melangkahi garis batas yang paling sakral dengan menyerang keluargaku secara langsung menggunakan preman dan bahan peledak. Dia mengira dengan melumpuhkanku dan mengintimidasi Nadia, dia bisa menguasai seluruh aset dan membungkam kasus Ciherang."

​Raka menyerahkan kantong kain berisi barang bukti pisau beracun, dokumen transaksi, dan sisa bahan peledak yang berhasil diamankan malam tadi kepada Tuan Wiratman.

​"Semua bukti fisik kejahatan malam ini sudah aman di tangan kita, Tuan Wiratman," kata Raka tegas, matanya memancarkan keteguhan baja. "Prabu Baskara sudah kehabisan cara halus. Ketika seorang penjahat mulai bertindak membabi buta seperti binatang terdesak, itu artinya dia tahu bahwa singgasananya sebentar lagi akan hancur."

​Tuan Wiratman menerima kantong bukti tersebut, lalu tersenyum dingin—sebuah senyuman khas dari seorang raksasa bisnis yang siap melancarkan serangan balik mematikan.

​"Kau benar, Raka. Waktu untuk bertahan dan bersembunyi sudah resmi berakhir," ujar Tuan Wiratman dengan nada suara yang penuh wibawa dan intonasi yang memotong dinginnya udara pagi. "Hari Selasa depan, PT Cimanuk Perkasa akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di gedung markas utama mereka di pusat kota. Baskara berencana mengesahkan pemindahtanganan lahan Ciherang dan akuisisi total aset keluarga Hartono secara permanen."

​Tuan Wiratman menatap Raka dan Nadia bergantian, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.

​"Kita akan hadir di rapat itu. Bukan sebagai tamu undangan, melainkan sebagai eksekutor yang akan membongkar seluruh kejahatan, pemalsuan, percobaan pembunuhan, dan terorismenya di depan seluruh jajaran dewan komisaris, investor asing, dan media massa nasional. Kita akan hancurkan Prabu Baskara di puncak panggung kesombongannya sendiri!"

​Raka mengepalkan tangan kanannya erat-erat, membiarkan aliran energi Welingan Sejati bergelora hangat di dalam dadanya. Babak akhir konfrontasi telah di depan mata; sang pengembara desa dan sekutunya siap menerjang jantung markas besar sang penguasa korporasi hitam.

1
indah Mayaddah f
Jadi penasaran, apa isi catatan rahasia di buku harian kakek Wirya itu 🤔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Nanti deh aku bisikin... 🤭
total 1 replies
Myz Pena
kebiasaan orang2 di kampung kalau ada orang yang udah naik mobil mewah lalu di bawa ke kampunh pasti jadi tontonan warga kampung 🤭
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Betul😄
total 1 replies
Myz Pena
keuarganya raka sangat sederhana apalagi penggambaran sosok ibundanya 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: iya, memang tokoh pendamping kadang kurang kita perhatikan
total 1 replies
CNNTAYY
utusan juga itu ngeremehin+songong banget untung ada raka/Proud//Proud/
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih CNNTAY ku😍
total 1 replies
iorlif
sepertinya mirip kejadian di suatu tempat
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Mungkin juga sih, tapi murni kok dari imaginasi ku👍
total 1 replies
Siti Aisyah
Kalau ngomongin tentang gabah dan dijemur dihalaman jadi teringat ibu waktu dikampung 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!