Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Zoey berlari cepat menyusuri lorong panjang menuju area belakang gedung olahraga dengan nafas nafasnya sedikit memburu.
Di kejauhan, kerumunan siswa dan beberapa staf pengajar sudah membentuk lingkaran yang riuh.
Tepat di tengah kerumunan itu, Victor tengah mencengkeram kerah seragam Dante. Tanpa ampun, pemuda bermata dingin itu melayangkan pukulan keras ke rahang Dante, mengabaikan teriakan panik dari orang-orang di sekitarnya.
“Hentikan, Victor! Lepaskan dia!” teriak seorang guru olahraga, panik namun tak berani melerai karena aura mematikan yang dipancarkan Victor.
“Victor! Cukup!” Suara Zoey memecah keributan.
Tangan Victor yang bersiap melayangkan pukulan berikutnya mendadak terhenti di udara. Dada pemuda itu naik-turun dengan napas kasar.
Victor menoleh perlahan menatap Zoey dengan sorot mata yang luar biasa dingin, lalu melepaskan cengkeramannya begitu saja hingga Dante jatuh tersungkur ke tanah.
Dante yang sudut bibirnya robek langsung memanfaatkan momen. Ia terbatuk-batuk dramatis, menyentuh wajahnya yang memar, dan menatap para guru dengan pandangan memelas.
“S–saya tidak tahu apa salah saya, Pak Guru,” ucap Dante dengan suara bergetar, sengaja merintih kesakitan saat melihat kehadiran Zoey. “Saya hanya sedang berjalan menuju kantin, tapi Victor tiba-tiba menarik saya ke sini dan memukuli saya. Dia menuduh saya yang tidak-tidak. Tolong saya, Nyonya. Victor sepertinya kehilangan akal sehatnya hanya karena saya menasihatinya soal membolos.”
Semua mata kini menatap Victor dengan kilat penghakiman.
Bisik-bisik cibiran mulai terdengar.
Namun, mata Zoey yang jeli menangkap sekelebat senyum licik penuh kemenangan di sudut bibir Dante yang berdarah. Zoey tidak mudah termakan sandiwara itu.
Alih-alih bereaksi seperti para guru yang mulai menceramahi Victor, wanita itu melangkah anggun menengahi kerumunan.
Bukannya memarahi, Zoey justru memandang lurus ke dalam mata Victor dan bertanya dengan nada yang sangat tenang, “Kenapa kau memukulnya, Victor?”
Bening mata Zoey memancarkan kepercayaan, bukan tuduhan.
Victor tetap membisu bagai patung es. Rahangnya mengeras kaku. Ia memalingkan wajahnya dengan dingin, enggan membuka mulut sepatah kata pun untuk membela diri.
“Nyonya, sudah jelas Victor yang memulai,” sela Dante, mencoba memojokkan Victor lebih jauh. “Dia memang selalu begitu! Mengandalkan kekerasan kalau merasa tersaingi dan tidak punya otak untuk berdebat!”
“Aku tidak sedang bertanya padamu, bocah!” ucap Zoey dingin, sukses membungkam mulut manipulatif pemuda itu seketika.
“Victor, ikut aku ke ruang Bimbingan Konseling. Sekarang,” ajak Zoey. Ia butuh bicara sempat mata dengan anak sambungnya itu.
Di ruang BK yang cukup sepi, Zoey duduk berhadapan dengan anak Victor. Guru BK telah keluar, memberikan privasi bagi mereka berdua.
“Kau punya kesempatan untuk bicara dan mengatakan semua padaku. Aku tahu kau bukan orang bodoh yang memukul seseorang tanpa alasan kuat. Apa yang sebenarnya Dante perbuat?”
Victor tetap terdiam. Sorot matanya kosong menatap ke arah meja, mengunci rapat-rapat rahasia yang membuatnya begitu murka tadi.
“Vic, please. Katakan.”
“Tidak mau.”
Zoey membuang nafas pelan. Di saat seperti ini ia tak mungkin memaksa Victor untuk bicara.
Yang ada, Zoey malah memperkeruh keadaan. Sepertinya Victor butuh waktu.
Brak!
Pintu ruangan terbuka dengan sangat kasar.
Damian melangkah masuk dengan wajah memerah padam. Napasnya menderu membawa amarah yang meledak-ledak setelah mendengar laporan sepihak dari pihak sekolah.
“Papa...” gumam Victor terkejut, mendongak menatap ayahnya.
Tanpa peringatan maupun pertanyaan, sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Victor.
Kepala pemuda itu terlempar ke samping akibat kerasnya pukulan Damian.
“Damian, apa yang kau lakukan?!” pekik Zoey terkejut. Ia refleks berdiri dan menarik lengan suaminya kuat-kuat sebelum tangan besar itu kembali melayang.
“Lepaskan aku, Zoey!” bentak Damian, matanya menatap nyalang ke arah putranya yang hanya diam mengusap sudut bibirnya yang kini ikut berdarah.
“Lihat kelakuannya? Sudah kubilang sejak awal, mereka memang anak bermasalah. Kau mau membela anak berandal yang bisanya hanya mempermalukan nama keluarga Alfred ini, hah?!”
Victor menunduk dalam, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Tidak ada perlawanan, tidak ada bantahan. Hanya kepasrahan dingin yang diam-diam menyayat hati Zoey.
Bukankah sejak dulu ayahnya tak pernah sedikit saja percaya padanya? Lalu, untuk apa Victor bicara?
Zoey melangkah maju, memposisikan dirinya tepat di depan Victor, menjadi tameng antara ayah dan anak itu.
“Cukup. Kendalikan dirimu! Tidakkah kau perhatikan? Dia bahkan tidak membela dirinya sendiri saat kau menamparnya. Apakah kau pernah sekali saja, sebagai seorang ayah, bertanya kenapa dia melakukan ini?!” Zoey menatap suaminya tanpa rasa gentar sedikit pun
Damian mendengus kasar.
“Untuk apa ditanya? Fakta di luar sana membuktikan dia memukuli anak orang tanpa ampun! Dia pembuat onar, Zoey!”
“Fakta yang dilihat mata belum tentu sebuah kebenaran utuh, Damian,” balas Zoey.
“Seorang pembuat onar yang bersalah akan mencari seribu satu alasan untuk membela diri, menyalahkan keadaan, atau mengarang cerita. Tapi coba kau lihat Victor. Dia memilih bungkam menerima semua tuduhan, dia diam menelan pukulanmu.”
Damian tertegun, rahangnya sedikit mengendur mendengar analisis logis istrinya.
“Dan itu bukan sikap seorang berandal. Itu adalah sikap seseorang yang sedang melindungi sebuah rahasia yang ia anggap jauh lebih penting daripada harga dirinya sendiri. Dante sedang memanipulasi situasi dan kau dengan mudahnya termakan skenario murahan anak itu.”
Di balik punggung Zoey, Victor perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang dingin kini membelalak tak percaya.
Seumur hidupnya, belum pernah ada orang dewasa yang mampu membaca isi kepalanya sedalam ini. Bahkan membelanya mati-matian dan rela bertengkar dengan ayah kandungnya.
“Jika kau tidak bisa menjadi pelindung untuk putramu sendiri saat dia terpojok, maka biarkan aku yang melakukannya. Aku akan mencari tahu kebenaran insiden ini. Dan sampai kebenaran itu terungkap, jangan pernah berani mengangkat tanganmu lagi pada Victor,” ucap Zoey memperingatkan.