NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Putri Asli "Dendam Sang Alkemis"

Kembalinya Sang Putri Asli "Dendam Sang Alkemis"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.

Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.

Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.

“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”

~Grand Duke Erik Klaus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PESAN RAJA

Deg

Jantung Joel serasa berhenti berdetak sesaat mendengar pengakuan mengejutkan dari sang Raja.

"Y-yang Mulia, apa maksud Anda?" tanya Joel terkejut, suaranya bergetar.

"Apakah Anda sedang meragukan Putri Mahkota?" tanya Joel, pelan.

"Kamu tahu sendiri, aku sangat menyayangi nya Joel, tapi aku tidak akan membiarkan kerajaan ini jatuh ke tangan yang salah... rakyat ku di luar sana masih banyak yang membutuhkan ulur tangan dari pemimpin yang jujur, bukan dari tangan-tangan kotor..." bisik Raja Veldora, dengan perasaan sesak.

"Jangan... jangan kasih tahu Ratu," bisik Raja Veldora sangat pelan.

"Hati Ratu terlalu lembut... dia tidak akan sanggup menerima kenyataan pahit ini. Cukup kita yang tahu, dan tugas mu awasi anak itu..." bisik Raja Veldora, lirih.

Glek

Joel menelan ludah kelat, tenggorokannya terasa tercekat, keringat dingin mulai membasahi pelipis pria paruh baya itu, dia tidak percaya bahwa sang Raja yang selama ini terlihat sangat menyayangi Putri Edelyn, ternyata menyimpan kecurigaan.

"Ingat Joel Tugasmu saat ini...hanya memastikan istana dan kerajaan Veldora ini tidak jatuh ke tangan yang salah. Lindungi Ratu... dan lindungi takhta ini..." bisik Raja Veldora lirih.

"Yang Mulia... Sebenarnya apa yang sedang Anda sembunyikan?" tanya Joel mengepalkan tangannya kuat.

Joel tahu betul, seperti apa sifat Raja Veldora, kalau pria itu sudah memberikan titah seperti itu, itu artinya ada hal besar yang disembunyikan oleh sang penguasa Veldora itu.

Sebagai seorang kesatria setia, sumpah darahnya kepada sang Raja kini terasa begitu berat untuk diemban di tengah badai kehancuran yang mengintai.

"Saya, Panglima Joel, bersumpah dengan nyawa saya, selama saya masih bernapas, tidak ada seorang pun yang bisa merebut singgasana ini dengan cara kotor! Bahkan Putri Mahkota Edelyn sekalipun!" janji Joel, dengan tegas.

Mendengar janji setia itu, sudut bibir Raja Veldora terangkat membentuk senyuman kecil, cengkeraman di jubah Joel perlahan mengendor, seolah beban terberat di pundak sang Raja akhirnya terangkat meski hanya sedikit.

Brak

Pintu kamar tiba-tiba, terbuka dengan keras secara paksa dari luar membuat Joel langsung terperanjat, dia buru-buru menegakkan tubuhnya, menyeka sisa emosi di wajahnya, lalu berbalik dengan tatapan tajam dan waspada.

Di ambang pintu, muncullah Putri Edelyn.

Gadis itu berdiri dengan dagu terangkat tinggi, meski sisa-sisa amarah dan rasa kesalnya dari kejadian hari ini masih tampak jelas di wajahnya, dia menerobos masuk ke dalam kamar pribadi Raja tanpa izin.

Joel langsung melangkah maju, merentangkan sebelah tangannya untuk menghalangi Edelyn agar tidak mendekati ranjang Raja.

"Berhenti di situ, Yang Mulia Putri Mahkota," ucap Joel dingin.

"Kondisi Yang Mulia Raja sedang sangat lemah. Tidak seorang pun diizinkan masuk tanpa izin dari tabib istana atau Ratu!" lanjut Joel, tegas.

Edelyn menghentikan langkahnya, dia mendengus sinis, menatap Joel dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.

"Menyingkir dari hadapanku, Panglima tua," desis Edelyn tajam.

"Beraninya penjaga rendahan sepertimu mengatur ke mana aku boleh melangkah di istana ayahku sendiri?" hina Edelyn, sinis.

"Saya hanya menjalankan tugas untuk melindungi keselamatan Raja, Putri," jawab Joel tanpa gentar sedikit pun.

"Jika Anda memaksa masuk, saya terpaksa harus menggunakan wewenang saya sebagai kepala pengawal kerajaan!" lanjut Joel, tegas.

Mendengar ancaman itu, Edelyn semakin kesal, darahnya mendidih, hari ini di sudah terlalu banyak direndahkan, mulai dari Grand Duke Erik, si gadis jalang di gubuk hutan, hingga sekarang, seekor panglima rendahan di istananya sendiri berani melarangnya masuk.

"Kau..." Edelyn menunjuk wajah Joel dengan jarinya yang gemetar karena marah.

"Kau benar-benar sudah bosan hidup, ya! Minggir sekarang juga, atau aku akan pastikan kepalamu dipenggal begitu aku resmi naik takhta!" bentak Edelyn, geram.

"Putri..."

Suara parau dan lemah tiba-tiba mengalun dari arah ranjang, menghentikan pertikaian sengit di antara keduanya.

Edelyn dan Joel sama-sama menoleh, di atas pembaringannya, Raja Veldora perlahan membuka mata, menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya dengan pandangan sayu.

Edelyn segera memasang raut wajah masam namun pura-pura cemas, lalu berjalan menerobos Joel yang terpaksa memberi jalan demi menghormati sang Raja.

Edelyn duduk di tepi ranjang, mencengkeram selimut Raja dengan nada bicara yang dibuat-buat manja.

"Ayah... kenapa penjaga galak ini melarang ku masuk?" adu Edelyn dengan bibir mengerucut, mencoba menarik simpati.

"Aku hanya ingin melihat keadaan Ayah, para menteri di luar sana terus meributkan kesehatan Ayah dan masalah pewarisan, membuatku pusing," ucap Edelyn, penuh dusta.

Raja Veldora menatap wajah Edelyn lekat-lekat, gadis yang dibesarkan dengan kemewahan istana, namun kini dia tahu menyimpan racun yang mematikan di balik senyum cantiknya.

"Kau... mengincar takhta itu separah itu, Edelyn?" tanya Raja Veldora pelan, suaranya terdengar begitu berat dan menusuk.

Edelyn tertegun sejenak, sedikit terusik dengan nada bicara sang Ayah yang tidak seperti biasanya. Namun, dia segera tersenyum kaku dan mengangguk mantap.

"Tentu saja, Ayah! Bukankah sejak dulu aku dipersiapkan untuk memimpin kerajaan ini?" jawab Edelyn tegas.

"Karena itu... berikan padaku, berikan stempel dan titah resmi pewarisan itu sekarang, Ayah. Biar aku yang mengurus semuanya!" lanjut Edelyn, cepat.

Suasana di dalam kamar tidur agung itu mendadak menjadi begitu sunyi hingga suara detak jam dinding besar di sudut ruangan terdengar begitu nyaring.

Raja Veldora tidak langsung menjawab, dia menatap lekat-lekat ke arah Edelyn, putri yang selama belasan tahun dia timang dengan penuh kasih sayang, yang kini duduk di sisinya bukan karena mengkhawatirkan nyawanya, melainkan demi mengincar stempel dan singgasana.

Sudut bibir Raja Veldora terangkat sedikit, membentuk senyuman getir yang penuh penyesalan.

"Stempel... dan titah resmi itu... kamu begitu menginginkannya, Edelyn..." tanya Raja Veldora, parau.

Edelyn yang tidak menyadari perubahan makna di balik tatapan sang Ayah mengangguk antusias, ambisi jelas terpancar di matanya.

"Tentu saja, Ayah! Dengan begitu, para menteri tua di luar sana tidak akan berani meremehkan ku lagi, dan aku bisa segera membersihkan istana ini dari orang-orang yang tidak berguna," jawab Edelyn, semangat.

Panglima Joel, yang berdiri beberapa langkah di belakang Edelyn, mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kuku jarinya memutih, menatap punggung Edelyn dengan sorot mata penuh kebencian.

"Orang-orang yang tidak berguna, katamu?" ulang Raja Veldora pelan.

Pria tua itu mengerahkan sisa-sisa tenaga di tubuhnya yang melemah untuk mengangkat tangan kanannya, meraba bantal di bawah kepalanya perlahan.

Edelyn mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik sang Ayah.

"Ayah, apa yang sedang Ayah cari?" tanya Edelyn penasaran.

Raja Veldora menarik tangannya keluar dari balik bantal, di genggaman jarinya yang gemetar, terdapat sebuah kotak kayu kecil berukir lambang singa Veldora, kotak rahasia yang tidak pernah disentuh oleh siapapun selain sang Raja sendiri.

1
Dessy Rinda
tggin up niihh kak thor😁🙏
Nawi
kenapa cuma 1 up nya thor nanggung
Tiara Bella
thor kurang....
kaylla salsabella
semoga gagal kabur nya
Nawi
cemungut thor lanjut 💪
TT: Jejaktinta14: terimakasih sayangggg 🫶🏻
total 1 replies
kaylla salsabella
sabar bentar lagi... ratu kamu tahu siapa kalyca
Anisa Tanjung
👍👍gas tor
kaylla salsabella
dia bukan lawan mu Joel
kaylla salsabella
seru..... lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangattt
makaci crazy up nya 😍👍
kaylla salsabella
semangat kalyca dan erik
kaylla salsabella
lanjut
Tiara Bella
kompaknya kalyca sm Erik....
Maria Lina
😍😍
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Kusii Yaati
oalahhh pantes orang emak kandungnya edelyn ternyata seorang penyihir hitam pantes anaknya kayak Dajjal,...
Kusii Yaati
bukannya sadar akan kesalahannya semakin menjadi brutal iya.lagian aneh ibunya lembut ayahnya juga lembut hatinya nah anaknya kayak Mak Lampir suka teriak", kasar, sombong dan angkuh. di tes DNA aja biar tahu itu anaknya atau anak demit
Tiara Bella
wow makasih thor up nya banyak puas bngt bacanya.....
TT: Jejaktinta14: kembali kasih sayangggg
total 1 replies
kaylla salsabella
cari mati aja kamu carollita
kaylla salsabella
ratu alice terlalu lembek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!