*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Benturan Dua Anomali
Langit di atas Kota Suci Tianyu telah berubah menjadi lautan darah.
Awan emas keputihan yang selama jutaan tahun menjadi lambang kejayaan Ras Dewa Kuno kini terkoyak. Pusaran racun ungu memenuhi langit dan perlahan menelan cahaya suci yang biasanya menyelimuti seluruh kota.
Kristal-kristal raksasa yang menopang formasi pelindung Tianyu mulai retak. Suara gemeretaknya menggema di antara bangunan-bangunan suci.
Di luar Gerbang Tulang Naga yang menjulang tinggi, kehancuran telah tiba.
Ribuan Ksatria Emas mundur dengan wajah pucat. Mereka merupakan barisan pertahanan terkuat Tianyu, tetapi di hadapan sosok yang terus berjalan menuju kota, keberanian mereka perlahan runtuh.
Meriam-meriam raksasa di atas menara meraung dan melepaskan pilar cahaya yang mengandung panas inti bintang. Serangan seperti itu seharusnya cukup untuk menghancurkan sebuah benua.
Namun, seluruh pilar cahaya berhenti sepuluh langkah di depan seorang pemuda.
Di tengah debu dan hujan darah emas, pemuda itu terus berjalan seolah tidak ada seorang pun di hadapannya.
Jubah hitamnya berkibar diterpa angin. Wajahnya pucat, sementara sepasang matanya memancarkan ketenangan yang hampir menyerupai kebosanan.
Mo Xie.
Tuan Muda Iblis Kuno.
Pewaris Takhta Kehancuran.
Ketika pilar cahaya kembali menghujaninya, kerangka tulang hitam tiba-tiba muncul dari kehampaan. Tulang-tulang itu bukan sekadar perisai. Mereka berdenyut seperti makhluk hidup dan dipenuhi Hukum Kehancuran.
Begitu cahaya menyentuhnya, sinarnya langsung meredup. Panas inti bintang berubah menjadi abu hitam sebelum lenyap tertiup angin.
Mo Xie bahkan tidak menoleh.
“Seni Penempaan Tulang Surgawi.”
Suaranya terdengar pelan, tetapi gemanya mengguncang lautan roh seluruh makhluk di Kota Suci Tianyu.
“Cahaya kalian terlalu lemah.” Ia mengangkat satu jari.
Energi hitam perlahan berkumpul di ujung jarinya.
Sesaat kemudian...
Booom!
Ribuan pilar tulang hitam meledak dari dalam tanah.
Jalanan kristal Tianyu pecah. Pilar-pilar tulang menembus tubuh para Ksatria Emas sebelum mereka sempat mengangkat senjata.
Darah emas berhamburan ke udara.
Mayat para dewa tergantung di antara pilar-pilar tulang seperti persembahan bagi kematian.
Jeritan memenuhi gerbang kota.
“Tahan dia!”
Seorang Komandan Ksatria Emas menghunus pedangnya dan memimpin seratus ksatria terakhir.
“Demi Yang Mulia Putri! Jangan biarkan iblis itu masuk!”
Mereka menyerbu dengan seluruh keberanian yang tersisa.
Mo Xie tidak berhenti berjalan.
Tatapannya hanya bergeser sedikit.
Dari telapak tangannya muncul sebuah bilah tulang melengkung. Bentuknya menyerupai sabit yang digunakan untuk menghancurkan kehidupan.
Mo Xie mengayunkannya.
Hanya satu ayunan.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada suara menggelegar. Hanya seberkas garis hitam yang melintas di udara.
Seratus Ksatria Emas tiba-tiba berhenti.
Sesaat kemudian, tubuh dan zirah mereka terbelah menjadi dua. Bahkan senjata yang mereka genggam ikut terpotong sebelum tubuh ilahi mereka berubah menjadi abu.
Mo Xie terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun, tepat ketika ia hendak menghancurkan gerbang terdalam Tianyu, cahaya putih tiba-tiba turun dari langit.
“Iblis Kotor!”
Suara penuh amarah mengguncang seluruh kota.
Shen Ziyue turun dari puncak Balai Penguasa. Tekanan dahsyat meledak dari tubuhnya dan menghancurkan pilar-pilar tulang yang berdiri di sekelilingnya.
Zirah putih keemasannya berkilau di bawah cahaya langit. Rambut emas keperakannya berkibar diterpa badai, sementara mata safirnya dipenuhi cahaya kehancuran.
Sang Putri Bintang telah turun ke medan perang.
Di belakangnya, Lin Xuan mendarat tanpa suara. Jubah perang putih yang dikenakannya masih menyamarkan identitasnya sebagai orang luar.
Bayangan di bawah kakinya bergerak.
Hun Yuan perlahan muncul dari dalamnya. “Kepadatan Qi kematian orang itu sangat aneh, Tuanku.”
Nada suaranya terdengar serius.
“Tulangnya bahkan mampu menelan hukum di sekitarnya. Dia bukan Iblis Kuno biasa.”
“Aku tahu.”
Lin Xuan menatap Mo Xie.
“Hukum yang mengalir dalam tubuhnya berbeda dari makhluk di alam ini.”
Shen Ziyue tidak menunggu lebih lama.
Kedua tangannya terangkat. Dalam sekejap, langit di atasnya dipenuhi ribuan pedang cahaya.
“Cahaya Pemusnah!”
Ribuan pedang cahaya turun bersamaan.
Kekuatan dahsyatnya membuat bangunan di sekitar gerbang runtuh. Tanah retak dan ruang bergetar hebat di bawah tekanan serangan tersebut.
“Mo Xie!”
Shen Ziyue menatap tajam.
“Kau berani datang ke Kota Suci Tianyu seorang diri. Hari ini, aku akan menjadikan kepalamu sebagai pijakan menuju Takhta Suci!”
Mo Xie akhirnya berhenti. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
“Cahaya Pemusnah?” Ia tertawa pelan. “Ini yang kau sebut pemusnahan?”
Mo Xie merentangkan kedua tangannya.
Cahaya ungu pekat meledak dari tubuhnya. Tulang-tulang di balik jubah hitamnya bergetar, lalu sebuah Domain Kehancuran menyebar ke segala arah dan menyelimuti tubuhnya.
Ribuan pedang cahaya menghantam domain tersebut.
Namun, tidak satu pun meledak.
Semuanya lenyap begitu saja, seolah ditelan jurang tanpa dasar.
Mo Xie menyerap seluruh kekuatan serangan itu.
Sesaat kemudian, cahaya hitam keemasan meledak dari tubuhnya. Ribuan panah tulang melesat menuju Shen Ziyue.
Wajah Ziyue berubah.
Perisai Bintang segera muncul di hadapannya.
Kraaak!
Retakan menjalar ke seluruh permukaannya.
Beberapa panah tulang berhasil menembus pertahanan dan menghantam bahu serta pahanya.
Darah emas menyembur.
Racun kematian langsung meresap ke dalam luka dan berusaha membusukkan daging ilahinya.
Ziyue mengerang dan terpaksa mundur puluhan langkah.
Mo Xie berjalan mendekat.
“Kau bahkan tidak pantas menjadi pemanasan buatku sebelum aku menghancurkan kota ini.”
Sabit tulang di tangannya perlahan memanjang hingga mencapai sepuluh meter.
Ziyue berusaha menekan racun dengan Qi-nya, tetapi Mo Xie sudah mengangkat sabit tersebut.
“Putri Mahkota Dewa Kuno…” Tatapannya menjadi dingin. “Mati.”
Sabit itu menebas turun.
Ruang di hadapannya seketika membeku. Bahkan hukum ruang dan waktu seolah terkunci oleh satu tebasan tersebut.
Ziyue tidak mampu menghindar. Kematian sudah berada tepat di depan matanya.
Namun...
Boom!
Gelombang dahsyat tiba-tiba meledak.
Gerbang Kota Suci Tianyu hancur dan pecahan batu serta kristal beterbangan ke segala arah.
Ziyue membuka matanya.
Seseorang berdiri tepat di hadapannya. Jubah perang putih berkibar diterpa badai.
Lin Xuan.
Tangan kirinya terangkat dan telapak tangannya menggenggam bilah sabit Mo Xie.
Sabit yang mampu membelah ruang itu berhenti begitu saja.
Tidak ada perisai. Tidak ada teknik pertahanan. Lin Xuan hanya menggunakan telapak tangannya sendiri untuk menahan tebasan tersebut.
Mata Mo Xie sedikit melebar.
Untuk pertama kalinya, kebosanan di wajahnya menghilang.
Tebasan terkuat Seni Tulang Surgawi yang mampu membunuh Kaisar Hukum Kehancuran justru ditahan oleh tubuh seorang manusia yang bahkan tidak menggunakan Qi.
Lin Xuan menunduk dan menatap bilah tulang yang berada dalam genggamannya.
“Tulang yang lumayan keras.” Nada suaranya datar. “Tapi kalau ingin memotong jariku, kau harus mengayunkannya lebih keras.”
Wajah Mo Xie berubah.
Di dalam tubuh Lin Xuan, Tungku Daging Kesepuluh bergemuruh.
Setiap bagian tubuhnya memancarkan kekuatan mengerikan. Tekanan yang berasal dari tubuhnya menyebar ke segala arah hingga tanah di bawah kaki mereka retak dan perlahan tenggelam.
Sabit Mo Xie bergetar hebat.
Namun, bilah itu tidak patah.
Cahaya ungu kembali mengalir di sepanjang tulangnya. Hukum Kehancuran dan kekuatan tubuh Lin Xuan bertabrakan secara langsung.
Ruang di antara mereka mulai retak.
Percikan energi primordial menyebar ke segala arah.
Pada saat itulah, keduanya merasakan sesuatu yang aneh.
Saat kulit Lin Xuan bersentuhan langsung dengan tulang Mo Xie, lautan roh mereka seolah ikut bergetar.
Lin Xuan merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuh lawannya.
Itu bukan sekadar aura Iblis Kuno.
Di balik kekuatan kehancuran tersebut terdapat keputusasaan, ambisi, dan naluri bertahan hidup yang begitu kuat. Itu adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh makhluk yang pernah merangkak keluar dari dasar penderitaan.
Mo Xie pun merasakan hal yang sama.
Kepadatan tubuh Lin Xuan jelas bukan berasal dari hukum Ras Dewa Kuno.
Tubuh itu ditempa melalui rasa sakit, darah, alkimia, dan penempaan tanpa akhir.
Kedua pasang mata bertemu.
Di tengah medan perang dua ras purba, mereka seolah melihat bayangan diri mereka sendiri pada tubuh lawannya.
Dua monster. Dua manusia yang menolak tunduk kepada takdir.
Dua anomali yang seharusnya tidak pernah muncul di alam ini.
“Kau bukan Dewa Kuno.”
Suara Mo Xie terdengar rendah.
Sabit di tangannya kembali berdenyut. Racun kematian mengalir deras melalui bilahnya dan mencoba merobek telapak tangan Lin Xuan.
Namun, Lin Xuan hanya tersenyum tipis. Cengkeramannya semakin kuat.
Krek!
Retakan kecil muncul di sepanjang bilah tulang.
Mata Mo Xie berkilat.
“Dan kau juga bukan sekadar tumpukan tulang.” Lin Xuan menatapnya tanpa gentar.
“Kalau begitu, mari kita lihat.”
Tekanan dari tubuhnya semakin berat.
Tanah di bawah mereka terus tenggelam, sementara retakan menjalar ke segala arah.