NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batasan yang Diuji

Mobil sedan hitam Damien melaju di jalanan kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih senyap dari biasanya. Musik instrumental klasik yang diputar pelan dari radio justru membuat debaran di dada Clyrine makin terdengar jelas di telinganya sendiri.

Pipi gadis itu masih menyisakan rona kemerahan akibat kejadian di rooftop kafe tadi. Rasa malu yang mendera sempat membuatnya terdiam beberapa menit. Namun, sifat pemberani—atau lebih tepatnya rasa penasaran yang mendalam—membuat Clyrine tidak bisa menahan lidahnya lebih lama lagi.

Ia menoleh ke arah Damien yang fokus menyetir dengan rahang mengeras.

"Gue penasaran, Kak..." celetuk Clyrine tiba-tiba, memecah keheningan malam di dalam mobil.

Damien meliriknya sekilas, sebelah alisnya terangkat. "Penasaran apa lagi?"

"Gimana rasanya ciuman?" tanya Clyrine polos tanpa beban, matanya menatap lurus wajah Damien.

Sreeet!

Damien nyaris menginjak pedal rem terlalu mendadak. Mobil sedan itu bergeser sedikit sebelum Damien kembali menguasai kemudi dengan tangan kanannya yang mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia menoleh tajam ke arah Clyrine, netra gelapnya memancarkan peringatan keras. "Clyrine Rexander. Jangan mulai mancing-mancing hal yang nggak seharusnya."

"Ih, kan cuma nanya!" bela Clyrine, meski ada nada gugup di balik suaranya. Ia melipat tangan di dada, memajukan sedikit duduknya. "Lo kan udah dewasa, Kak. Masa iya belum pernah? Atau jangan-jangan... lo sengaja nahan diri karena menganggap gue anak kecil?"

Damien menghela napas panjang, membuang muka kembali ke jalan raya di depan. Rahangnya mengeras hebat. "Lo memang anak kecil buat gue, Cly. Enam belas tahun. Dan omongan lo barusan itu bukti kalau lo benar-benar belum ngerti apa-apa."

"Gue bukan anak kecil lagi!" protes Clyrine, nada suaranya sedikit meninggi karena kesal. "Tahun depan umur gue tujuh belas. Gue paham apa yang gue lakuin!"

Damien mendengus sinis, suaranya berubah jauh lebih berat dan dingin. "Kalau lo paham, lo nggak bakal ngomong sembarangan kayak tadi di mobil gue. Pikirin sekolah lo, pikirin cara ngadepin Claire, dan berhenti bahas hal-hal di luar batas umur lo, atau gue batalin niat gue buat jadi tutor lo."

Ancaman itu berhasil membuat Clyrine terdiam seketika. Ia mengerucutkan bibirnya, membuang pandangan ke luar jendela mobil. Ada rasa kesal yang menggelayut di dadanya—bukan pada Damien, melainkan pada kenyataan bahwa usianya memang baru enam belas tahun, batasan yang membuat pria di sampingnya terus menjaga jarak.

Namun, di balik omelan tegas itu, Clyrine menangkap kepulan napas berat yang dilepaskan Damien, seolah pria itu juga sedang mati-matian menahan gejolaknya sendiri.

Sisa perjalanan malam itu dihabiskan dalam diam, hingga mobil Damien akhirnya berhenti sempurna di depan gerbang megah kediaman keluarga Rexander.

Damien mematikan mesin mobil, lalu menoleh menatap Clyrine yang masih cemberut menghadap jendela.

"Turun," ucap Damien datar. "Besok lusa jadwal kita mulai belajar di rumah lo. Pastikan kepala lo udah dingin waktu itu."

Clyrine melepas sabuk pengamannya dengan kasar, membuka pintu mobil, lalu melangkah keluar tanpa menoleh. Namun, tepat sebelum ia menutup pintu mobil, Clyrine membungkuk sedikit dan menatap tepat ke mata Damien.

"Gue bakal cepet-cepet umur tujuh belas, Kak," bisik Clyrine setengah menantang, lalu membanting pintu mobil dengan lembut dan berjalan masuk ke gerbang rumah.

Damien di dalam mobil hanya bisa mematung sejenak, mengusap wajahnya dengan satu tangan seraya tertawa pelan penuh frustrasi.

Anak itu benar-benar... batin Damien, menyadari bahwa hari-hari kedepannya tidak akan pernah sama lagi.

Belum sempat Clyrine melangkah lebih jauh meninggalkan mobil, suara bantingan pintu pengemudi terdengar berderit menutup kembali.

Clyrine menghentikan langkahnya, lalu menoleh dengan alis bertaut bingung. Ia melihat Damien menyusul turun dari mobil, berjalan mendekatinya dengan langkah tegap di bawah pendar lampu gerbang. Pria itu tampak baru mengingat sesuatu yang tertinggal—atau lebih tepatnya, sebuah urusan penting yang belum diselesaikannya malam ini.

Melihat Damien mengejarnya, senyum usil khas Clyrine kembali mengembang di wajahnya. Rasa malu akibat perdebatan di dalam mobil tadi seketika menguap, digantikan niatnya untuk kembali menggoda pria itu.

"Kenapa, Kak?" tanya Clyrine dengan nada meledek, membalikkan badan dan melipat tangan di dada.

"Berubah pikiran mau ngelanjutin omongan soal ciuman tadi?"

Sentik!

"Aduh!" Clyrine sontak meringis sambil mengusap dahinya yang baru saja disentil pelan oleh jari telunjuk Damien. Ia menatap pria itu dengan mata membelalak sebal. "Ih, suka banget main fisik ya!"

Damien menurunkan tangannya, menyeringai tipis melihat ekspresi protes di wajah gadis itu.

"Mulut lo makin lama makin minta disumpal pakai plester," ujar Damien datar, namun ada kilat geli di matanya. "Gue turun bukan buat ngeladenin omongan ngawur lo."

"Terus kalau nggak mau ngelanjutin, buat apa nyusul keluar?" selidik Clyrine, memicingkan mata curiga.

Damien melangkah lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Clyrine harus sedikit mendongak. Damien menatap lurus ke manik mata oranye-tembaga Clyrine sebelum membuka suara dengan nada santai yang sukses membuat darah Clyrine berdesir seketika.

"Gue mau masuk ke dalam, nemuin orang tua lo," ucap Damien tenang.

Clyrine mengerjap kaget. "Hah? Masuk ke dalam? Malam-malam begini mau ngapain ketemu Daddy sama Mommy?!"

"Mau minta izin formal buat jadi tutor privat lo," jawab Damien tanpa beban. Ia menyeringai makin lebar, menambahkan kalimat berikutnya dengan nada menggoda yang tajam, "Sekalian lapor ke Tuan Rexander kalau putri bungsunya sekarang udah makin berani ngajak mesum dan godain cowok lebih tua."

Wajah Clyrine seketika memerah padam hingga menjalar ke telinganya. Panas, malu, dan kaget bercampur jadi satu di dadanya.

"KAK DAMIEN! JANGAN GILA YA!" teriak Clyrine panik setengah mati, refleks memukul pelan lengan bidang Damien dengan kedua tangannya.

Kalau Damien benar-benar masuk ke dalam dan mengadukan omongan konyolnya tadi pada Charles Rexander yang kaku dan disiplin, habislah riwayatnya! Daddynya pasti akan langsung mengurungnya di kamar seumur hidup atau membuangnya ke luar negeri.

Damien tertawa rendah—suara tawa renyah yang sangat maskulin dan jarang sekali didengar orang lain. Ia menangkap kedua pergelangan tangan Clyrine dengan mudah, menghentikan pukulan panik gadis itu.

"Makanya, jadi anak jangan suka nantangin batas kalau belum siap nerima akibatnya," goda Damien dengan suara berat yang tepat berbisik di dekat telinga Clyrine.

Clyrine merenggut sebal, berusaha menarik tangannya dari genggaman Damien, meski dalam hati ia tahu jantungnya tengah berdegup liar tak karuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!