NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:331
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Percakapan Terakhir di Sungai

Kesempatan itu datang dua hari kemudian, ketika Zaki mendapat tugas mengambil air untuk dapur umum bersama beberapa santri putra lain, pada jam yang sama ketika kelompok santriwati biasanya mencuci pakaian di bagian sungai yang lebih hilir.

Ia sengaja memilih waktu itu, meski hatinya bergejolak antara ingin dan ragu. Ini akan menjadi percakapan terakhir sebelum ia menahan diri, seperti yang sudah ia janjikan pada Darto dan pada dirinya sendiri.

Sungai itu jernih, mengalir dari mata air di puncak bukit, dengan bebatuan besar yang menjadi tempat duduk alami bagi siapa saja yang datang mengambil air atau mencuci pakaian. Zaki mengisi kendi-kendi besar dengan sengaja bekerja lebih lambat dari biasanya, matanya sesekali melirik ke arah hilir sungai, tempat kelompok santriwati biasa berkumpul.

Nafisah muncul beberapa menit kemudian, membawa keranjang pakaian bersama dua santriwati lain. Ia tampak lelah, ada bayangan gelap tipis di bawah matanya yang membuat dada Zaki semakin sesak mengingat penyebabnya.

Ketika kedua santriwati lain sibuk mencuci di bagian yang agak jauh, Zaki memberanikan diri mendekat, meski tetap menjaga jarak yang wajar, seperti kebiasaan mereka.

"Mbak Nafisah," sapanya pelan.

Nafisah menoleh, dan wajahnya, yang tadinya lelah, berubah sedikit cerah melihatnya, meski ada kehati-hatian baru di sana. "Kang Zaki."

"Saya dengar soal kejadian kemarin. Dengan Timin." Zaki menatapnya penuh kekhawatiran. "Mbak baik-baik saja?"

Nafisah menunduk sejenak, memainkan ujung kerudungnya seperti kebiasaan lamanya ketika gugup atau sedih. "Saya baik-baik saja, Kang. Hanya... ditegur cukup keras. Ustazah bilang, di tengah keadaan seperti ini, kita harus lebih menjaga diri, lebih menjaga nama baik pondok."

"Saya minta maaf," kata Zaki, suaranya penuh penyesalan. "Kalau bukan karena saya, Mbak tidak akan kena masalah seperti ini."

"Jangan minta maaf, Kang." Nafisah mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca tapi tegas. "Saya yang memilih untuk membalas surat-surat itu. Saya tidak menyesalinya."

Kata-kata itu menetap di dada Zaki seperti embun pagi, menyejukkan sekaligus menyakitkan, karena ia tahu apa yang harus ia katakan selanjutnya.

"Mbak," katanya, mengumpulkan keberanian. "Saya pikir, untuk sementara waktu, mungkin kita perlu... menahan diri. Tidak berkirim kabar dulu lewat Timin atau siapa pun. Bukan karena saya berubah pikiran, tapi karena saya tidak ingin Mbak terus-menerus kena masalah karena saya."

Nafisah terdiam lama, menatap air sungai yang mengalir jernih di antara bebatuan. Ketika ia kembali menatap Zaki, matanya basah tapi suaranya tetap tenang.

"Saya mengerti, Kang," katanya pelan. "Dan saya setuju. Ini bukan tentang menyerah, kan?"

"Bukan," jawab Zaki cepat, hampir tanpa berpikir. "Ini tentang menjaga, dengan cara yang berbeda."

Nafisah tersenyum tipis, senyum yang menyimpan banyak hal yang tidak bisa diucapkan di tempat terbuka seperti ini. "Kalau begitu, Kang, izinkan saya mengatakan satu hal terakhir, sebelum kita benar-benar menahan diri."

"Silakan, Mbak."

Nafisah menarik napas dalam, seperti mengumpulkan seluruh keberanian yang ia punya. "Apa pun yang terjadi setelah ini, entah kita bisa terus berkirim kabar atau tidak, entah keadaan memisahkan kita lebih jauh lagi atau tidak, saya ingin Kang tahu: perasaan saya tidak akan berubah hanya karena jarak atau waktu. Saya akan menunggu, sama seperti yang Kang tulis dulu di halaman terakhir kitab itu."

Dada Zaki terasa penuh sampai sulit bernapas. Ia menatap Nafisah lama, berusaha merekam wajah itu dalam ingatannya selengkap mungkin, karena ia tidak tahu kapan lagi mereka bisa bicara seleluasa ini.

"Saya juga, Mbak," jawabnya akhirnya, suaranya serak menahan emosi. "Apa pun yang terjadi, saya akan menunggu. Dan saya akan menjaga kitab itu, dan semua yang tertulis di dalamnya, sampai kita bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik."

Dari kejauhan, terdengar suara salah satu santriwati memanggil Nafisah, mengingatkan bahwa waktu mereka sudah hampir habis. Nafisah menoleh sebentar, lalu kembali menatap Zaki dengan mata yang penuh keteguhan meski basah oleh air mata yang ditahan.

"Saya harus pergi, Kang."

"Iya. Jaga diri baik-baik, Mbak."

"Kang juga."

Nafisah berbalik dan berjalan menjauh, bergabung dengan kelompoknya, meninggalkan Zaki yang berdiri sendirian di tepi sungai dengan kendi-kendi air yang sudah penuh sejak beberapa menit lalu, tapi tidak ia sadari.

Ia menatap punggung Nafisah yang semakin menjauh, hilang di balik rimbunnya pohon kopi, dan merasakan sesuatu yang aneh: kesedihan karena harus menahan diri, bercampur dengan ketenangan karena tahu bahwa apa yang mereka miliki tidak bergantung pada surat-surat kecil atau pertemuan singkat, melainkan pada sesuatu yang lebih dalam, yang tidak bisa dihapus oleh keadaan apa pun.

Malam itu, ketika Zaki berbaring di tikar pandannya, Darto menoleh dari sebelahnya.

"Kang, sudah bicara?"

"Sudah."

"Bagaimana?"

"Berat," jawab Zaki jujur. "Tapi saya rasa, ini yang terbaik untuk sekarang."

Darto terdiam sejenak, lalu menepuk bahunya pelan. "Kamu melakukan hal yang benar, Kang. Kadang, cinta yang sungguh-sungguh justru ditunjukkan dengan cara menahan diri, bukan dengan terus mengejar tanpa memikirkan risiko bagi orang yang kita cintai."

Zaki mengangguk dalam gelap, meski dadanya masih terasa berat. Ia menutup mata, mencoba tidur, tapi bayangan wajah Nafisah di tepi sungai, dengan mata berkaca-kaca dan kata-kata penuh keteguhan itu, terus terbayang sampai akhirnya kelelahan tubuhnya mengalahkan kegelisahan hatinya, dan ia pun tertidur dengan doa dalam hati agar Allah menjaga mereka berdua, di mana pun dan bagaimana pun keadaan yang akan mereka hadapi selanjutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!