NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Kota yang Tidak Mengenalnya

​

​Kereta malam yang membawa mereka melintasi kegelapan akhirnya berhenti.

​Suara roda besi yang bergesekan dengan rel terdengar berderit panjang, memecah kesunyian stasiun, sebelum perlahan-lahan menghilang ditelan desisan rem angin.

​Maya terbangun dari tidurnya yang gelisah. Untuk beberapa saat, anak perempuan berusia tujuh tahun itu hanya duduk diam di kursi kayu kelas ekonomi yang keras. Kesadarannya masih setengah mengantuk, matanya mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya lampu stasiun yang menyilaukan. Ia menempelkan wajahnya ke kaca jendela yang berembun, memandang ke luar.

​Kota itu sama sekali tidak dikenalnya.

​Tidak ada gedung-gedung yang familier, tidak ada jalanan yang ia tahu namanya. Di peron stasiun, orang-orang berlalu-lalang dengan langkah tergesa-gesa membawa koper dan tas besar. Beberapa anak sebayanya berjalan santai sambil menggandeng tangan orang tua mereka yang hangat. Suara pengumuman dari pengeras suara stasiun terdengar bergema dari kejauhan, menyebutkan nama kota asing yang kini akan menjadi tempat pelarian mereka.

​Maya memandangi semua pemandangan itu dengan sepasang mata bulatnya yang dipenuhi rasa ingin tahu, sekaligus sedikit kecemasan.

​“Ibu... kita sudah sampai?” tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

​Di sebelahnya, Clara yang tampak pucat dan kelelahan mengangguk kaku. “Sudah. Ambil tasmu, jangan sampai ada yang tertinggal.”

​Maya segera turun dari kursi, meraih tas kain kecilnya yang lusuh. Namun sebelum melangkah turun menuju lorong gerbong, gadis kecil itu menoleh sekali lagi ke arah kursi tempat ia tidur meringkuk sepanjang perjalanan panjang tadi. Tangannya perlahan merayap ke bawah, menyentuh pergelangan kaki kanannya di balik celana panjangnya. Jari-jarinya merasakan permukaan logam dingin dari gelang kaki emas berinisial 'E' yang diberikan oleh Elena di malam perpisahan mereka.

​Senyum kecil yang tulus muncul di bibir Maya.

​Kak Elena juga pasti sedang memegang gelang dariku, batinnya polos.

​Entah kenapa, pikiran sederhana itu bekerja seperti sihir, membuat hatinya yang tadinya diselimuti ketakutan akan tempat baru, terasa sedikit lebih tenang dan berani. Maya melompat turun dari kereta, bergegas berlari kecil mengikuti langkah lebar Clara yang sudah berjalan lebih dulu membelah keramaian stasiun.

​Mereka berjalan kaki cukup jauh meninggalkan area stasiun, menyusuri jalanan kota yang mulai sepi menjelang fajar. Hembusan angin subuh terasa menusuk tulang, namun Maya tidak mengeluh. Ia terus melangkah di belakang Clara, hingga akhirnya mereka berbelok ke sebuah gang sempit dan berhenti di depan sebuah rumah petak di ujung jalan.

​Kondisi rumah itu sangat memprihatinkan. Dinding batanya sudah tua, cat putihnya banyak yang mengelupas dan ditumbuhi lumut hijau di bagian bawahnya. Daun pintunya yang terbuat dari kayu murahan pun terlihat melengkung, seolah sudah digunakan dan dibiarkan lapuk selama bertahun-tahun tanpa perawatan.

​Maya berdiri diam di depan rumah itu. Ia mengamati pemandangan di sekelilingnya selama beberapa saat, mencoba mencerna realitas baru yang harus ia hadapi. Kemudian, ia menoleh ke atas, menatap wajah Clara yang tampak tegang.

​“Di sini kita tinggal, Bu?” tanya Maya pelan.

​“Iya,” jawab Clara pendek, memutar kunci yang berkarat di lubang pintu.

​Maya tidak menjawab lagi. Ia hanya melihat sekelilingnya dengan saksama. Rumah petak ini memang sangat jauh berbeda dari tempat yang baru saja ditinggalkannya. Tidak ada halaman berumput luas tempat ia biasa berlarian. Tidak ada ruang bermain yang dipenuhi mainan mahal. Tidak ada kamar yang harum dan bagus seperti milik Elena. Rumah ini hanyalah sebuah kotak sempit yang pengap.

​Namun, Maya tidak mengeluh. Ia tidak merengek meminta pulang.

​Clara mendorong pintu kayu itu hingga terbuka dengan derit yang menyayat telinga. Bau apak dan debu langsung menyengat hidung mereka. “Masuk,” perintah Clara.

​Maya mengikutinya melangkah ke dalam. Ruangan itu sangat kecil, hanya terdiri dari satu ruang depan yang menyatu dengan dapur seadanya, dan satu petak kamar tidur tanpa pintu.

​Setelah melihat sekeliling bagian dalam rumah yang kosong dan berdebu itu, hal yang tidak terduga terjadi. Alih-alih menangis, Maya justru tersenyum kecil.

​“Tidak apa-apa,” gumam Maya ringan.

​Clara, yang sedang menunduk mengeluarkan beberapa helai pakaian dari dalam tas bututnya, seketika menghentikan gerakannya. Ia menoleh, menatap Maya dengan kening berkerut tajam. “Apa katamu?”

​Maya membalas tatapan ibunya dengan kepolosan yang murni. “Rumahnya kecil, Bu.”

​Clara tidak mengatakan apa-apa, rahangnya mengeras bersiap mendengar keluhan dari anak yang mewarisi darah Vera itu.

​Namun, Maya kemudian tersenyum jauh lebih lebar, matanya menyipit membentuk lengkungan bulan sabit. “Tapi tidak apa-apa, Bu.”

​“Kenapa tidak apa-apa?” tanya Clara sinis, suaranya terdengar dingin.

​Maya memiringkan kepalanya, berpikir sebentar. Lalu, dengan suara kekanak-kanakan yang sarat akan ketulusan paling dalam, ia menjawab, “Yang penting ada Ibu. Di mana Ibu berada, di situ adalah rumah Maya.”

​Clara membeku di tempatnya berdiri. Seolah waktu di dalam ruangan pengap itu berhenti berdetak.

​Maya sama sekali tidak menyadari dampak dari kalimatnya. Ia sudah berbalik membelakangi Clara, melangkah riang membawa tas kain kecilnya ke sudut ruangan untuk ditata rapi. Ia membersihkan sedikit debu di lantai dengan tangannya, seolah kalimat luar biasa yang baru saja ia ucapkan bukanlah sesuatu yang berarti, melainkan sekadar fakta kehidupan baginya.

​Namun bagi Clara... kalimat itu melesat cepat seperti belati beracun, menusuk tepat menembus pertahanan hatinya yang paling ingin ia lindungi.

​Di mana Ibu berada, di situ rumah Maya.

​Clara menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangan yang tadinya mencengkeram pakaian kini perlahan mengendur, membiarkan kain lusuh itu jatuh ke lantai. Dadanya mendadak terasa sakit, sangat sakit hingga ia kesulitan bernapas. Matanya mulai memanas, digenangi oleh air mata yang mendesak keluar.

​Mengapa... mengapa kamu harus mengatakan hal seperti itu? jerit batin Clara, meratapi konflik di dalam jiwanya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa amis darah. Kenapa kamu masih bisa menganggapku sebagai rumahmu, setelah semua kekejaman yang aku lakukan padamu? Setelah aku merampas masa depanmu?

​Clara sangat ingin berteriak, ingin berkata bahwa Maya salah, bahwa ia bukanlah ibu yang baik, apalagi sebuah 'rumah'. Namun kata-kata pengakuan itu tidak pernah sanggup melewati kerongkongannya. Ego dan dendamnya mengunci rapat mulutnya.

​Sebaliknya, dengan susah payah Clara menelan kembali emosinya, memasang wajah sedingin batu, lalu berkata dengan suara serak, “Taruh barangmu di sudut sana. Jangan berantakan.”

​Maya menoleh dan mengangguk patuh. “Iya, Bu.”

​Begitu anak itu menunduk sibuk dengan barangnya, Clara segera membuang muka ke arah dinding yang kusam. Sebutir air mata jatuh menetes ke lantai.

​Maafkan aku... bisiknya dalam diam.

​Hari-hari pertama di kota baru itu terasa sangat asing dan membingungkan bagi Maya.

​Clara mulai sibuk keluar rumah dari pagi hingga sore untuk mencari pekerjaan serabutan, menawarkan jasa cuci-gosok ke perumahan di sekitar. Akibatnya, Maya lebih sering terkunci di dalam rumah petak sendirian. Setiap pagi, dari balik jendela kaca yang buram dan berdebu, gadis kecil itu berdiri berjinjit, melihat anak-anak sebaya di lingkungan itu berjalan berbondong-bondong menuju sekolah.

​Seragam mereka putih bersih. Tas mereka beraneka warna dan terlihat bagus. Wajah mereka ceria membicarakan pelajaran. Maya hanya bisa berdiri diam di balik kaca, memperhatikan mereka hingga menghilang di ujung jalan, dengan sorot mata yang menyiratkan kerinduan mendalam.

​Suatu sore, ketika Clara pulang dengan wajah lelah dan meletakkan tasnya di atas meja, Maya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Ia berjalan mendekat dengan langkah ragu.

​“Ibu.”

​Clara melepas sepatunya tanpa menoleh. “Apa?”

​Maya meremas ujung bajunya yang kedodoran. “Aku... aku boleh sekolah?”

​Langkah Clara yang hendak menuju dapur seketika terhenti. Ia berbalik, menatap wajah putrinya. Di sepasang mata bulat Maya, terpancar sebuah harapan kecil yang begitu terang, memohon untuk tidak dipadamkan.

​“Aku janji tidak akan nakal, Bu. Aku ingin belajar,” tambah Maya pelan.

​Clara menatap wajah itu dalam-dalam. Ia tahu persis bahwa Maya memang sangat ingin belajar. Ia melihat bagaimana anak ini dulu selalu antusias mendengarkan cerita, ia tahu Maya memiliki kecerdasan yang terpendam, dan ia tahu betul bahwa secara moral, Maya sangat pantas mendapatkan kesempatan pendidikan itu.

​Namun, tepat sebelum rasa iba dan keibuan sempat menguasai akal sehatnya, bayangan wajah Elena kembali menyelinap masuk ke dalam benaknya dengan paksa.

​Elena. Anak kandungnya yang sekarang berada jauh di pelukan Vera. Anak yang seharusnya berada di sisinya, yang mungkin kini sedang memeluk wanita perebut suaminya itu.

​Clara menarik napas panjang, mengeraskan rahangnya untuk membunuh nuraninya sendiri.

​“Belum bisa,” jawab Clara datar.

​Maya berkedip, senyum kecil di bibirnya memudar perlahan. “Kenapa, Bu?”

​“Kita belum punya uang untuk biaya sekolahmu. Paham?”

​Maya terdiam sejenak, mencerna penolakan itu. “Oh.”

​Hanya itu yang keluar dari bibir kecilnya. Ia tidak menangis meraung-raung. Ia tidak memaksa ibunya dengan berguling-guling di lantai. Ia bahkan tidak berani melontarkan pertanyaan lebih lanjut yang mungkin akan memicu amarah Clara.

​Clara menatap wajah pasrah itu, dan entah mengapa, hatinya langsung terasa perih bagaikan disiram air garam.

​Maafkan Ibu, Maya, tangis Clara di dalam hatinya yang gelap. Ibu tahu kamu sangat ingin belajar. Ibu tahu kamu tidak pernah meminta banyak dariku. Bahkan untuk meminta izin pergi ke sekolah saja, kamu melakukannya dengan sangat hati-hati agar aku tidak marah.

​Untuk satu detik yang rapuh, Clara hampir saja membuka mulutnya untuk memberikan harapan palsu—ingin mengatakan bahwa nanti, ketika keadaan keuangan mereka sudah sedikit membaik, Maya pasti boleh mendaftar sekolah.

​Namun, bisikan iblis dari masa lalunya datang meracuni pikirannya kembali. Jangan. Jangan beri dia terlalu banyak harapan. Jangan biarkan darah daging Vera ini tumbuh menjadi seseorang yang berpendidikan, yang kelak bisa merendahkanmu atau meninggalkanmu.

​Clara kembali menelan empati itu bulat-bulat, mengeraskan hatinya menjadi sekeras baja.

​“Mulai sekarang, kamu bantu Ibu saja mengurus pekerjaan di rumah. Tidak usah memikirkan sekolah,” titah Clara tegas.

​Maya menelan kekecewaannya dalam diam, lalu mengangguk patuh. “Baik, Ibu.”

​Kemudian, secara ajaib, seulas senyum kembali menghiasi bibir Maya yang pucat. “Kalau aku bisa membantu Ibu di rumah, mencuci piring dan menyapu... Ibu pasti tidak akan terlalu capek bekerja, kan?”

​Clara terdiam membisu, suaranya hilang ditelan udara. Ia hanya bisa berdiri kaku, menunggu hingga Maya berbalik badan melangkah kembali ke arah dapur kecil.

​Setelah punggung kecil anak itu membelakanginya, mata Clara perlahan memerah hebat. Ia mencengkeram pinggiran meja kayu untuk menopang tubuhnya yang mendadak terasa lemas.

​Anak bodoh... batin Clara mengutuk, air matanya nyaris tumpah. Kenapa kamu tidak marah saja padaku? Kenapa kamu tidak membenciku karena menghancurkan mimpimu? Kenapa kau harus terus menjadi malaikat di saat aku terus menjadi iblis bagimu?

​Beberapa hari kemudian, Maya mencoba mengambil alih tugas dapur.

​Bahan makanan yang tersedia di lemari sangat terbatas, hanya ada sedikit beras dan garam. Dengan sisa ingatannya melihat orang dewasa memasak, Maya mencoba membuat bubur sederhana di atas kompor minyak tanah yang apinya harus dijaga hati-hati.

​Sore harinya, ketika Clara pulang membawa tubuh yang pegal linu, Maya sudah berdiri menyambutnya di depan meja makan kayu yang reyot.

​“Ibu sudah pulang,” sapa Maya hangat.

​Clara mengangguk lelah, meletakkan tas kerjanya.

​“Aku membuat makanan, Bu. Silakan duduk.”

​Clara menoleh, melihat sebuah mangkuk agak gompal berisi bubur panas di atas meja. Ia berjalan mendekat, mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan meragukan. “Kamu yang buat ini semua sendiri?”

​“Iya, Bu.”

​“Bisa dimakan tidak?” tanya Clara sinis.

​Maya tertawa kecil, mengusap tengkuknya dengan malu. “Entahlah, Bu. Maya baru pertama kali membuatnya.”

​Clara menarik kursi dan duduk. Ia mengambil sendok aluminium, mengaduk bubur yang terlihat agak terlalu encer itu, lalu mencicipinya sedikit.

​Rasanya sangat hambar. Terlalu banyak air, dan garamnya nyaris tidak terasa. Namun, alih-alih memuntahkannya atau memarahi Maya karena membuang-buang beras, Clara menelannya dengan susah payah. Ia menghela napas pelan.

​“Lumayan,” ucap Clara singkat, tanpa intonasi.

​Satu kata ajaib itu mengubah dunia Maya. Mata gadis kecil itu langsung berbinar-binar seperti bintang kejora. “Benarkah, Bu?! Buburnya enak?!”

​“Iya, bisa dimakan.”

​“Kalau begitu, besok Maya akan buatkan lagi untuk Ibu!” seru Maya kegirangan.

​Clara sebenarnya hendak membuka mulut untuk melarang, berkata 'Jangan, kamu hanya membuang-buang bahan makanan'. Tetapi saat ia mendongak dan melihat wajah mungil yang memancarkan kebahagiaan luar biasa itu, kata-kata penolakan tertahan di kerongkongannya.

​Clara kembali menunduk menatap mangkuknya. “Besok jangan terlalu banyak air masaknya. Dan tambah garam sedikit.”

​Maya mengangguk kuat-kuat. “Iya, Bu! Maya ingat!”

​Malam itu, setelah menghabiskan bubur hambar buatan putrinya, Clara berbaring sendirian di atas kasurnya dalam kegelapan. Ia menatap langit-langit kamar yang penuh sarang laba-laba. Pikirannya terus berputar mengingat ekspresi wajah Maya sore tadi ketika mendengar satu kata pujian darinya.

​Lumayan.

​Hanya satu kata datar tanpa emosi. Tetapi anak itu menyambutnya seolah Clara baru saja memberikannya dunia.

​Air mata Clara jatuh meluncur melewati pelipisnya, membasahi bantal keras yang ia gunakan. Anak ini... dia hanya membutuhkan sedikit saja kasih sayang. Sedikit validasi bahwa kehadirannya diinginkan. Kenapa... kenapa aku bahkan tidak mampu memberikannya secara pantas?

​Clara menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya yang kasar, menangis tanpa suara. Namun, di tengah penyesalan yang menggigit itu, bayangan Elena kembali muncul tanpa diundang, mengambil alih pikirannya. Rasa rindu kepada putri kandungnya datang begitu kuat hingga rongga dadanya terasa sesak.

​“Tante...”

​Seolah-olah suara ceria Elena memanggilnya di halaman sekolah dasar dulu kembali beresonansi dengan jelas di telinganya. Clara memejamkan matanya rapat-rapat, menggigit bibirnya untuk menahan isakan yang lebih keras.

​“Maafkan aku...” bisik Clara parau di tengah malam yang sunyi. Entah permintaan maaf itu ia tujukan kepada Elena yang ia tinggalkan, atau kepada Maya yang ia siksa secara perlahan.

​Malam semakin larut, keheningan merajai kota kecil itu.

​Clara terbangun karena rasa haus yang mencekik tenggorokannya. Ia bangkit dari kasur dan berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur. Namun, ketika ia melewati ruang depan yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalan, langkah kakinya terhenti.

​Ia melihat Maya tertidur pulas beralaskan tikar pandan tipis di lantai, karena suhu kamar malam itu terasa sangat panas bagi anak itu.

​Clara berdiri mematung di ambang batas antara ruang tengah dan dapur. Lama sekali ia hanya berdiam diri, mengawasi sosok kecil yang tergulung dalam selimut kain pudar. Kemudian, seolah ditarik oleh daya magnet yang tak kasatmata, Clara melangkah maju secara perlahan. Tidak ada suara langkah yang terdengar.

​Ia menekuk lututnya, duduk bersimpuh tepat di samping Maya yang sedang tertidur.

​Napas Maya terdengar halus dan teratur. Wajah anak itu terlihat sangat tenang, damai, dan masih sangat muda. Wajah yang terlalu suci untuk dipaksa memahami kebencian dan dendam orang dewasa yang tak berujung.

​Dengan tangan yang gemetar, Clara perlahan-lahan mengangkat tangannya. Ia memberanikan diri untuk menyentuh puncak kepala Maya, membelai rambut hitam anak itu dengan kelembutan yang sangat canggung. Sekali... kemudian ia mengulanginya sekali lagi.

​Air mata Clara jatuh membasahi tikar. “Maafkan Ibu...” suaranya bergetar hebat, nyaris pecah oleh emosi yang ia tahan mati-matian.

​Maya tiba-tiba bergerak sedikit dalam tidurnya, mengubah posisi kepalanya. Clara tersentak kaget, secepat kilat menarik tangannya kembali ke pangkuannya, seolah baru saja ketahuan melakukan pencurian besar. Jantungnya berdegup kencang.

​Namun setelah Maya kembali diam dan mendengkur pelan, Clara kembali menatap wajah putrinya.

​Di bawah cahaya remang malam itu, ada sesuatu dalam tatapan Clara yang perlahan-lahan berubah—sesuatu yang bahkan wanita keras kepala itu sendiri tidak sudi untuk mengakuinya. Ada kasih sayang di sana. Kasih sayang alamiah yang pelan-pelan tumbuh antara seorang ibu dan anak yang telah berjuang hidup bersama melewati kelaparan dan penderitaan selama tujuh tahun penuh.

​Clara sangat ingin menjatuhkan tubuhnya, memeluk anak kecil itu erat-erat, dan melindunginya dari dinginnya malam. Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar, mencondongkan tubuhnya bersiap merengkuh Maya.

​Namun, tepat beberapa sentimeter sebelum kulitnya menyentuh tubuh Maya, pikirannya kembali dikhianati oleh ingatannya sendiri.

​Wajah angkuh Vera muncul di kepalanya. Vera, sahabat yang menikamnya dari belakang. Vera, wanita yang melahirkan anak yang sedang ia tangisi ini. Vera, yang di masa lalu pernah merendahkannya dan menyingkirkannya dari sisi Daniel.

​Dada Clara kembali bergemuruh hebat, terasa sesak oleh amarah yang tiba-tiba tersulut kembali. Dendam kesumat yang ia pelihara bertahun-tahun kembali berbisik meracuni akal sehatnya.

​Jangan sampai kamu lupa, Clara! teriak sisi gelap jiwanya. Jangan sampai kamu lupa siapa ibunya! Jangan lupa siapa yang membuat hidupmu hancur berantakan seperti ini! Anak ini adalah darah daging Vera!

​Clara memejamkan matanya kuat-kuat, rahangnya mengeras. Ia perlahan-lahan menurunkan tangannya kembali ke sisi tubuhnya, mengepalkan jemarinya hingga buku-bukunya memutih. Air matanya masih terus mengalir, namun kini diiringi oleh rasa muak. Ia membenci perasaan lemah ini. Ia membenci dirinya sendiri karena setiap kali ia melihat Maya, hatinya yang dipenuhi batu dendam itu perlahan-lahan terkikis oleh rasa kasihan.

​Dan di saat yang sama, ia merasa marah kepada Maya.

​“Kenapa...” bisik Clara dengan nada penuh penderitaan, suaranya parau dan nyaris tak terdengar. “Kenapa kamu harus lahir sebaik ini...? Kalau kau terus bersikap sebaik ini padaku... bagaimana caranya aku bisa terus membencimu...?”

​Untuk beberapa detik yang krusial, Clara benar-benar berada di tepi jurang penyerahan. Ia sangat ingin menyerah kalah pada dendamnya. Ia ingin berhenti menyalahkan Maya atas dosa-dosa orang tuanya. Ia ingin memeluk anak itu dan menangis bersama, mengakui bahwa semua ini bukanlah kesalahan Maya.

​Namun kemudian, dendam itu kembali mengambil kendali penuh atas dirinya, menelan sisa nuraninya. Clara menarik selimut tipis milik Maya, menariknya ke atas hingga menutupi tubuh mungil anak itu agar tidak kedinginan. Tangannya berhenti mengambang di atas kepala Maya. Ia tidak menyentuhnya lagi. Ia membiarkannya mengambang di sana selama beberapa saat, seolah memberikan belaian imajiner, sebelum akhirnya menarik napas tajam dan berdiri.

​“Tidurlah,” ucapnya dingin.

​Clara berbalik badan. Sebelum ia melangkah masuk kembali ke kamarnya yang gelap, ia menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa menoleh ke arah tikar tempat Maya tertidur, ia berbisik ke udara kosong, “Maafkan aku, Maya.”

​Kemudian, ia menghilang di balik kegelapan.

​Pagi berikutnya datang membawa rutinitas yang sama kerasnya. Maya bangun seperti biasa, menyapu lantai, dan menunggu ibunya di dapur.

​“Ibu,” panggil Maya ceria.

​Clara yang sedang menakar sisa beras untuk sarapan mereka tidak menoleh. “Apa?”

​Maya mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. “Hari ini... aku boleh belajar membaca, Bu?”

​Clara menghentikan gerakannya. Ia berbalik dan menatap benda yang dipegang Maya. Itu adalah sebuah buku cerita tua yang halamannya sudah sobek di mana-mana dan sampulnya hilang. Maya pasti menemukannya di tempat sampah jalanan ketika bermain di luar.

​“Aku bisa belajar membaca sendiri, Bu. Aku tidak akan mengganggu Ibu,” bujuk Maya dengan mata berbinar-binar penuh harap.

​Clara menatap buku lusuh itu cukup lama. Kemudian, pandangannya beralih menatap wajah Maya. Hatinya kembali terasa berat, dihantam oleh dilema yang sama. Anak ini benar-benar haus akan ilmu. Ia tidak meminta dibelikan mainan, ia hanya meminta izin untuk mengeja kata dari buku sobek yang ia pungut dari jalanan.

​Clara hampir saja mengangguk setuju. Ia hampir saja mengatakan 'Iya, bacalah'.

​Namun dendam itu memblokir tenggorokannya. Clara kembali mengingat Elena, mengingat masa depannya yang terenggut, dan mengingat semua pengorbanan yang telah ia buat hingga berakhir di kota kumuh ini. Keputusannya di masa lalu tidak bisa dibatalkan hanya karena rasa kasihan sesaat.

​“Tidak perlu,” jawab Clara mutlak, merampas kebahagiaan itu dalam satu detik.

​Maya terdiam, senyumnya luntur seketika. “Kenapa, Bu?”

​“Karena membaca buku sobek tidak akan membuat kita kaya. Kamu bantu Ibu saja mengurus rumah,” perintah Clara tanpa perasaan.

​Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, memeluk buku sobek itu di dadanya. “Baik, Ibu.”

​Clara melihat wajah kecil yang menyiratkan kekecewaan mendalam itu. Dan sekali lagi, Maya membuktikan betapa lenturnya jiwanya menghadapi penderitaan. Alih-alih menangis, Maya mengangkat kepalanya dan tersenyum tulus kepada ibunya.

​“Nanti... kalau Ibu sudah punya banyak uang, baru aku belajar lagi ya, Bu,” ucap Maya polos, menghibur dirinya sendiri sekaligus menenangkan ibunya.

​Clara tidak sanggup menjawab. Tenggorokannya terasa seperti disumbat batu. Ia berbalik kembali menghadap kompor, membiarkan Maya berlari kecil membawa buku sobeknya ke sudut ruangan untuk disembunyikan.

​Kali ini, Clara tidak merampas dan menyita buku sobek itu. Ia membiarkannya. Hanya sekali ini saja, nurani kecilnya menang melawan dendamnya. Ia membiarkan anak itu menyimpan sedikit harta karunnya.

​Air mata Clara hampir jatuh menetes ke dalam panci beras. Ia menahan isakannya sekuat tenaga. Maafkan Ibu.

​Tetapi kali ini, bersamaan dengan rasa bersalah yang menusuk itu, ada suara gelap lain yang menggema lebih kuat di dalam dirinya. Suara yang memaksanya untuk tetap berada di jalur kehancuran.

​Aku masih terlalu lemah, batin Clara memperingatkan dirinya sendiri. Jangan biarkan anak ini maju. Jangan biarkan dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari Elena. Jika dia cerdas, dia akan pergi meninggalkanmu.

​Clara mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga urat-uratnya menonjol. Ia tahu betul pikiran itu sangat kejam, egois, dan jahat. Ia tahu dengan pasti bahwa Maya tidak bersalah sedikit pun atas tragedi ini. Namun Clara tetap membiarkan pikiran beracun itu tinggal menetap di dalam hatinya. Karena dendamnya kepada Vera belum mati. Dan selama dendam itu masih bernapas... Clara akan terus memastikan bahwa anak yang paling mencintainya di dunia ini akan selalu merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup baik.

​Sementara itu, Maya... anak perempuan kecil yang hidup dalam pusaran badai dendam itu, tetap tidak tahu apa-apa.

​Ia hanya tahu bahwa ibunya sedang mengalami kesulitan hidup. Karena itulah, sore harinya, ia tetap menyiapkan makanan dengan sebaik mungkin. Ia tetap membersihkan lantai rumah hingga mengkilap. Ia tetap menunggu Clara pulang di ambang pintu, dan tetap menyambut kepulangan ibunya dengan senyuman paling lebar, seolah tidak pernah ada penolakan pagi tadi.

​Dan setiap kali kata-kata pedas Clara keluar untuk melukai hatinya, Maya selalu memeluk lututnya sendiri dan mengatakan kalimat yang sama berulang-ulang di dalam kepalanya:

​Tidak apa-apa. Ibu pasti punya alasan karena Ibu lelah. Kalau Maya terus menjadi anak yang penurut dan lebih baik lagi... mungkin suatu hari nanti, Ibu akan tersenyum tulus kepada Maya, sama seperti dulu Ibu tersenyum saat menatap Kak Elena.

​Di dalam rumah petak kecil yang asing itu, Maya terus menyirami benih harapannya sendiri dengan kepolosan. Sedangakan Clara... setiap malam ia menangis diam-diam di samping tikar anak itu, ingin memeluknya, ingin meminta maaf beribu kali atas kekejamannya, namun selalu kalah secara tragis oleh bayang-bayang dendam yang belum sanggup ia lepaskan.

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!