Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Kotak itu berukuran sekitar satu jengkal. Kayunya halus, tidak ada ukiran, dan memiliki engsel besi kecil di sampingnya.
Elara memutar kotak itu. Ia menggaruk sedikit cat hitam di sudutnya dengan kukunya. Ia mengetuk-ngetuk sisi kotaknya dengan buku jarinya.
Tok. tok. tok.
“Kotak ini solid,” gumam Elara. “Bukan kayu lapis. Ini kayu jati muda. Dan lihat paku di sudutnya. Paku tempa, bukan paku cor. Ini dibuat oleh pandai besi militer, bukan pengrajin sipil.”
Lucian menyipitkan matanya. “Lalu?”
“Yang lebih penting,” Elara menunjuk bagian dalam kotak yang kini terbuka, “lihat sekat di dasarnya. Ini bukan kotak perhiasan. Dan ini bukan kotak racun yang dibuat khusus. Ini adalah kotak amunisi standar untuk busur silang ringan.”
Keheningan menyelimuti ruang interogasi itu. Selir Lin berhenti menangis, menatap Elara dengan wajah basah dan bingung.
“A-apa?” suara Lucian terdengar pelan.
“Kotak amunisi,” ulang Elara, bersandar kembali di kursinya dan meraih cangkir teh jahenya. “Di desa kuno saya, kami menyebutnya *inventory mismatch* atau ketidakcocokan inventaris. Mengapa racun militer dikirim dalam kotak amunisi busur silang? Karena kotak amunisi tidak diaudit oleh Departemen Keuangan.”
Lucian terdiam. Otak briliannya mulai memproses kata-kata Elara dengan kecepatan tinggi.
“Departemen Keuangan hanya mengaudit barang-barang yang bernilai tinggi atau bahan makanan,” Elara menjelaskan dengan nada dosen yang sedang mengajar kelas pagi yang membosankan.
“Amunisi busur silang adalah barang habis pakai. Mereka hanya menghitung jumlah kotak yang dikirim ke garnisun, bukan memeriksa isi setiap kotak. Siapa pun yang punya akses ke gudang amunisi bisa mengeluarkan satu kotak, mengosongkannya, mengisi racun ke dalamnya, dan mengirimkannya ke istana melalui jalur logistik militer. Jalur yang tidak akan diperiksa oleh penjaga gerbang istana karena membawa stempel Departemen Perang.”
Elara meminum teh jahenya, merasakan hangatnya merambat ke tenggorokannya.
“Jadi, pelakunya bukan pedagang gelap,” lanjut Elara sambil menguap. “Pelakunya adalah seseorang di dalam Departemen Perang yang punya akses ke gudang amunisi, dan punya koneksi dengan Pasukan Pembunuh Bayangan Utara. Atau lebih parah lagi.. seseorang yang menggunakan jalur logistik militer untuk menyelundupkan barang ke dalam istana.”
Lucian menatap Elara. Tatapan itu begitu intens hingga Elara merasa perlu menarik selimutnya lebih rapat.
“Kau.." suara Lucian terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan. “Kau baru saja memecahkan misteri penyelundupan racun militer yang membuat Kepala Inteligensiku pusing selama tiga hari, hanya dengan menggaruk cat kotak ini dan mengetuknya dengan kuku.”
“Saya tidak memecahkan misteri, Yang Mulia,” Elara mengoreksi, matanya sudah mulai terpejam. “Saya hanya benci orang yang tidak rapi. Kalau barang tidak dilabeli dengan benar, itu membuat saya kesal. Sekarang, bisakah saya pulang? Jam biologis saya sudah berteriak minta tolong.”
Lucian tidak langsung menjawab. Ia menatap kotak amunisi itu, lalu menatap Selir Lin yang kini tampak seperti orang bodoh, dan akhirnya menatap Elara yang sedang berjuang melawan kantuknya.
“Selir Lin,” ucap Lucian tiba-tiba, suaranya kembali dingin dan mematikan. “Siapa yang memberimu kotak ini?”
Selir Lin gemetar. “H-hamba.. hamba mendapatkannya dari seorang pelayan laki-laki di gerbang timur! Hamba tidak tahu namanya! Dia memakai jubah Departemen Perang!”
Lucian menutup matanya sejenak. Departemen Perang. Itu adalah wilayah yang dikendalikan oleh Paman Elara sendiri, Adipati Clervant—keluarga asli dari tubuh yang kini ditempati Elara. Dan Departemen Perang memiliki hubungan erat dengan Gereja Matahari, institusi yang mendukung Putri Mahkota Aurelia.
“Bawa dia ke sel isolasi,” perintah Lucian pada para pengawal. “Jangan biarkan siapa pun menemuinya. Termasuk para tabib.”
Saat Selir Lin diseret pergi, Lucian berdiri. Ia menatap Elara yang kepalanya sudah mulai terangguk-angguk.
Tanpa berkata apa-apa, Lucian membungkuk, lalu dengan hati-hati menggendong Elara.
Elara yang setengah sadar langsung memeluk leher Lucian secara refleks, menempelkan pipinya di dada pria itu yang hangat. “Yang Mulia.. Anda menggendong saya? Ini melanggar protokol.. tapi kasur Anda di Paviliun Matahari Terbit lebih empuk.."
“Kita akan kembali ke paviliunmu,” bisik Lucian, membawa Elara keluar dari ruang bawah tanah yang pengap.
“Mmm.. besok pagi jangan bangunkan saya sebelum matahari tinggi.. saya tidak mau ikut rapat debit dan kredit lagi.."
“Akan kulakukan,” jawab Lucian pelan, menatap wajah wanita yang tertidur pulas di pelukannya.
Di dalam hati, Kaisar Aethelgard yang kejam dan tak kenal ampun itu sedang membuat sebuah daftar.
Pertama, amankan gudang amunisi. Kedua, selidiki pelayan Departemen Perang. Ketiga, awasi Gereja Matahari. Dan keempat..
Lucian menatap bulu mata Elara yang terpejam rapat.
..belikan kasur bulu angsa yang lebih empuk untuknya. Yang ini tampaknya kurang mendukung tidurnya.