Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Cahaya keemasan fajar New York menembus celah gorden tirai penthouse, melukiskan garis-garis hangat di atas lantai hardwood dan sprei putih yang berantakan.
Udara pagi terasa sangat dingin, namun kehangatan masih tertinggal pekat di balik selimut tebal berukuran king-size.
Dominic menjadi yang pertama terbangun. Matanya terbuka perlahan, menyesuaikan dengan silau tipis yang merayap di dalam kamar.
Sensasi berat di lengan kirinya membuat pria itu menoleh. Di sana, tertidur lelap dengan napas teratur dan wajah yang polos tanpa riasan, adalah Ester Alba.
Lengan kokoh Dominic masih melingkar protektif di pinggang mulus gadis itu. Bercak-bercak keunguan di sekitar leher dan bahu Ester yang terekspos menjadi saksi bisu betapa brutalnya perbuatan Dominic sepanjang malam hingga pagi buta.
Untuk sejenak, Dominic terpaku menatap bulu mata lentik yang terpejam damai itu. Ada perasaan asing yang mendadak mekar di dadanya—sebuah rasa memiliki yang begitu pekat.
BZZZZT! BZZZZT! BZZZZT!
Dering keras dan getaran hebat dari ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja nakas mendadak memecah ketenangan pagi. Dering itu terdengar agresif, berulang-ulang tanpa henti.
Dominic meringis pelan, takut suara itu akan mengusik tidur lelap Ester. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, membisikkan kata-kata di dekat telinga gadis itu.
"Sebentar... aku akan mengambil ponselku," lirih Dominic dengan suara khas bangun tidur yang teramat parau.
Ester yang matanya masih terpejam rapat hanya mengerang halus, mengangguk kecil seraya menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi dadanya, lalu kembali terlelap karena kelelahan yang luar biasa pada sekujur tubuhnya.
Dominic merenggangkan pelukannya perlahan, bergerak meraih benda persegi hitam di atas meja nakas. Layar ponselnya menyala terang, memajang puluhan notifikasi yang menumpuk.
Di barisan paling atas, tertera angka yang mencolok: 43 Panggilan Tak Terjawab — Florence.
Dominic menatap nama itu dengan pandangan datar. Melihat stempel waktu pada panggilan-panggilan tersebut, Dominic langsung paham.
Puluhan panggilan itu masuk saat ia sedang menghabiskan waktunya meminum alkohol di bar bersama Julian dan Joy—saat ponselnya ditinggalkan di dalam mobil bersama sang sopir pribadi.
Dulu, satu saja panggilan tak dijawab dari Florence akan membuat Dominic panik setengah mati dan buru-buru menelpon balik seraya meminta maaf berulang kali.
Namun pagi ini? Hatinya terasa begitu kebal. Angka 43 itu sama sekali tak lagi menggetarkan jiwanya.
Sebelum ia sempat mengabaikan ponselnya kembali, sebuah notifikasi pesan masuk muncul, disusul dering baru.
Pesan itu datang dari sang Mommy—Parrie Ashford.
[Datang ke mansion pagi jam 10. Mommy mengadakan pesta kecil].
Dominic menaikkan sebelah alisnya.
Mommy-nya memang sosok yang sangat sosial dan gemar mengadakan pesta kecil-kecilan di kediaman utama Ashford, jadi undangan seperti ini bukan hal baru baginya.
Dominic baru saja hendak beranjak berdiri dari tepi ranjang ketika ponsel di tangannya kembali berdering hebat dengan nama Mommy tertera di layar.
Dominic menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Ya, Mommy?"
"Happy Birthday, sayang!" Suara Parrie Ashford meluncur penuh kehangatan dan nada riang dari seberang telepon.
"Jangan pura-pura lupa! Pulang ke mansion sekarang, jam 10 pesta dimulai. Ketiga saudaramu sudah menunggumu dari tadi!"
Dominic terpaku di tempatnya berdiri.
Ulang tahun?
Dominic mengusap wajahnya dengan satu tangan. Sungguh, demi Tuhan, ia bahkan sepenuhnya lupa bahwa hari ini—tanggal lahirnya bersama ketiga saudara kembarnya—telah tiba.
Rasa sakit akibat penolakan Florence dan kekacauan malam kemarin benar-benar menghapus tanggal itu dari ingatannya.
"Ah... ya, Mommy. Terima kasih," jawab Dominic pelan, sebuah senyum tipis terbit di bibirnya. "Aku akan bersiap dan segera pulang."
"Bagus! Jangan terlambat, Dominic!" pesan Parrie sebelum memutuskan panggilan.
Dominic menurunkan ponselnya, lalu perlahan memutar tubuhnya menatap kembali ke arah tempat tidur. Tangannya masih menggenggam ponsel, sementara matanya tertuju lurus pada Ester yang meliuk kecil di balik selimut.
Sebuah kenyataan manis sekaligus ironis menghantam benaknya: Dominic telah menghabiskan detik-detik awal di hari ulang tahunnya yang ke-32 bukan dengan Florence, melainkan berdua bersama Ester.
Menikmati pelepasan gairah, desahan, dan kehangatan dari gadis muda ini sepanjang malam hingga memasuki hari barunya.
Langkah kaki Dominic berbelok menuju kamar mandi. Jam dinding digital di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul 08.56 pagi. Ia hanya punya waktu satu jam untuk bersiap dan membawa Ester kembali.
Namun, baru dua langkah memasuki area kamar mandi yang luas dan berlapis marmer, Dominic menghentikan langkahnya.
Pria itu menoleh kembali ke arah ranjang.
Ada kilat jahat dan memanjakan di matanya.
Dengan langkah santai namun pasti, Dominic kembali melangkah mendekati tempat tidur. Tanpa peringatan dan tanpa menyibak selimut sepenuhnya, Dominic menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh Ester, lalu mengangkat tubuh polos berbalut selimut itu dalam satu gerakan menggendong secara mendadak.
"Kyaaa?!"
Ester melotot sempurna, terperanjat dari tidurnya yang nyenyak. Rasa melayang yang tiba-tiba membuat refleks jemarinya langsung mencengkeram erat leher kokoh Dominic.
Napasnya memburu, matanya membelalak menatap wajah tampan Dominic yang jaraknya hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya.
"T-Tuan?! Apa yang kau lakukan?!" seru Ester panik, berusaha menutupi dadanya yang terancam terekspos karena selimut yang merosot.
"Mandi," jawab Dominic singkat dan santai tanpa dosa. "Waktu kita tidak banyak. Jam 10 aku harus berada di mansion."
Dominic melangkah santai membawa Ester ke dalam kamar mandi mewah tersebut, mengabaikan protes dan rintihan canggung gadis itu. Ia mendudukkan Ester di tepi bak mandi porselen yang hangat, meloloskan selimut dari tubuh mulus itu, lalu menyalakan kucuran shower bertemperatur hangat.
Sepanjang proses memandikan Ester, gadis berusia 22 tahun itu tak menghentikan aksinya: mengerucutkan bibirnya yang sedikit bengkak, memalingkan wajah dengan pipi yang memerah padam, dan bergumam kekalutan seraya menutupi area-area sensitifnya yang penuh bekas gigitan Dominic.
"Jangan cemberut seperti itu, Ester. Bibirmu bisa makin bengkak," goda Dominic pelan seraya mengusapkan busa sabun beraroma sandalwood ke bahu mulus Ester.
"Tuan menyebalkan! Aku bisa mandi sendiri!" bisik Ester ketus, berusaha merebut spons mandi dari tangan Dominic, meski rasa perih di area kewenangannya membuat gerakannya terbatas.
Dominic terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang rasanya sudah bertahun-tahun tidak pernah keluar dari tenggorokannya.
Di dalam hatinya, Dominic sungguh merasa bingung dan terheran-heran pada dirinya sendiri.
Pria 32 tahun yang biasanya sangat kaku, amat menjaga jarak, dan penuh formalitas ini... bagaimana bisa ia sama sekali tidak merasa canggung pada Ester?
Gadis muda di hadapannya ini baru saja melewati malam panas bersamanya, namun interaksi mereka pagi ini mengalir begitu alami, seolah-olah mereka telah terbiasa bersama sejak lama.
Padahal, selama dua tahun terakhir di kediaman Ashford, interaksi mereka tidak pernah lebih dari sekadar urusan formal: menandatangani dokumen gaji guru privat, pembahasan evaluasi belajar keponakan kembarnya, atau sekadar teguran sopan seperti 'Selamat sore, Tuan' dan 'Permisi'.
Namun pagi ini, batas formalitas itu telah lebur sepenuhnya.
Dominic tak lagi memandangnya sebagai guru privat beruntung yang kaku, melainkan sebagai seorang wanita muda yang kini berada penuh di dalam cengkeraman dan perlindungannya.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏