Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Langkah yang Membawa Cerita Baru
Kadang kita pikir setelah halaman terakhir tertulis semuanya selesai begitu saja. Ternyata tidak. Buku itu mungkin sudah tertutup rapi di rak meja kerjaku, tapi ceritanya justru mulai hidup di tempat-tempat yang aku sendiri nggak pernah sangka sebelumnya. Itulah hal yang paling indah kan? Cerita yang tulus tidak pernah berakhir saat halaman terakhir selesai dibaca. Dia justru baru saja mulai hidup di hati orang-orang yang membacanya.
Pagi itu aku bangun dengan perasaan yang ringan banget. Cahaya matahari masuk lewat celah jendela dan menyinari meja kerjaku. Di sana ada tumpukan surat-surat yang baru saja datang dari berbagai penjuru tempat. Setiap amplop punya tulisan tangan yang berbeda-beda, ada yang rapi dan ada yang sedikit miring tapi tetap hangat. Aku duduk dan membukanya satu per satu. Ada surat dari seorang kakek yang bilang setiap pagi dia menyempatkan diri membaca satu halaman cerita ini sebelum pergi ke ladangnya. Dia bilang rasanya seperti ada teman lama yang selalu menunggunya di pagi hari. Ada surat dari seorang mahasiswi yang bilang dia hampir menyerah dengan impiannya sampai dia membaca tentang langkah Bima yang tidak pernah terburu-buru tapi selalu tulus. Ada surat dari seorang ayah yang ingin diajarkan cara mendengarkan anaknya bercerita tanpa terburu-buru memberi solusi. Setiap baris yang kubaca hatiku terasa hangat sekaligus terharu sampai mataku berkaca-kaca. Bima, lihat kan? Kamu berjalan 38.000 langkah dulu cuma untuk sampai ke hatiku. Sekarang langkahmu itu berjalan lebih jauh dari yang kita berdua bisa bayangkan. Kamu hidup di setiap baris yang mereka baca dan di setiap harapan yang mereka bangun kembali.
Beberapa hari kemudian aku mendapat undangan sederhana dari sebuah perpustakaan kecil di pinggiran kota. Mereka ingin menyediakan rak khusus untuk cerita-cerita sederhana yang menguatkan hati. Bukan buku yang mahal atau terkenal. Cuma cerita-cerita tentang kehidupan, kehilangan, keberanian, dan kebaikan kecil yang berarti besar. Mereka minta izin untuk menaruh bukuku di sana supaya siapa pun yang butuh teman bisa datang membacanya tanpa harus merasa berhutang apa pun. Tentu saja aku setuju dengan senang hati. Hari penyerahannya sederhana banget. Tidak ada pidato atau upacara besar. Cuma aku dan penjaga perpustakaan yang sudah berumur itu menaruh buku di rak paling bawah yang mudah dijangkau oleh siapa pun yang datang. Dia tersenyum dan bilang terima kasih sudah berbagi cerita yang tidak membuat pembaca merasa sendirian. Itu pujian yang paling berharga bagiku.
Saat aku berjalan pulang aku melewati taman itu lagi. Bangku kayu di bawah pohon besar masih di sana seperti biasa. Hari itu ada dua orang anak muda yang duduk di sana sambil berbagi bekal makanan dan tertawa lepas. Mereka terlihat begitu bahagia dengan hal-hal yang sederhana. Aku berhenti sebentar dan memperhatikan mereka dari kejauhan sambil tersenyum. Dulu aku pikir kebahagiaan itu hal yang sulit dicapai dan harus diperjuangkan dengan susah payah. Ternyata kebahagiaan itu ada di hal-hal kecil yang sering kita lewatkan tanpa sadar. Berbagi makanan dengan teman. Duduk diam menikmati angin sore. Mendengarkan seseorang bercerita tanpa menyela. Menyapa orang asing dengan senyum tulus. Semua itu sederhana banget, tapi di situlah letak kebahagiaan yang sebenarnya.
Malam itu aku duduk di meja kerjaku dan membuka buku catatan baru yang halamannya masih putih bersih. Aku tidak tahu apa yang akan kutulis nanti. Mungkin bukan kisah cinta yang besar dan menyentuh hati seperti cerita tentang Bima dan aku. Mungkin cuma kumpulan cerita-cerita kecil dari orang-orang yang aku temui setiap hari di jalan, di pasar, di taman, atau di perpustakaan kecil itu. Cerita tentang kebaikan yang sederhana tapi luar biasa kuat. Cerita tentang orang-orang biasa yang melakukan hal luar biasa hanya dengan menjadi diri mereka sendiri.
Aku menulis baris pertama di halaman pertama buku baru itu dengan hati yang penuh syukur.
"Setiap orang punya ceritanya sendiri. Ada yang sedih, ada yang bahagia, ada yang terjal dan ada yang mulus. Tapi satu hal yang pasti, tidak ada cerita yang tidak berharga. Bahkan cerita yang paling sederhana sekalipun bisa menjadi cahaya bagi seseorang yang sedang berjalan dalam gelap. Jadi jangan pernah malu dengan ceritamu sendiri. Teruslah berjalan dengan tulus. Siapa tahu langkahmu yang sederhana itu justru menjadi harapan bagi seseorang yang belum kamu temui."
Aku meletakkan pena dan berdiri menghadap jendela yang terbuka sedikit. Angin malam berhembus lembut menyentuh wajahku. Di kejauhan lampu-lampu kota berkelap-kelip terlihat begitu damai. Setiap cahaya itu pasti ada ceritanya masing-masing kan? Sama seperti setiap orang yang sedang tidur atau terjaga di luar sana, mereka semua sedang menulis bab kehidupan mereka dengan cara yang unik dan berharga.
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Siapa pun kamu dan di mana pun kamu berada, aku berharap cerita sederhana ini bisa menemanimu sejenak di hari-harimu yang berat maupun yang menyenangkan. Ingatlah selalu bahwa kamu tidak berjalan sendirian. Bahwa langkah kecilmu yang tulus selalu berarti. Bahwa boleh saja berjalan pelan asalkan kamu tidak berhenti. Dan bahwa kebaikan yang kamu sebarkan hari ini akan sampai ke hati seseorang di masa depan, bahkan saat kamu tidak melihatnya sendiri.
Teruslah berjalan. Ceritamu belum selesai. Masih ada banyak hal indah yang menunggu untuk kamu tulis. Percayalah pada setiap langkah kakimu. Karena setiap langkah yang diambil dengan cinta, akan selalu sampai ke tujuannya.