NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Sepatu Mengilap dan Senior Menyebalkan

​Pagi itu, udara masih terasa sangat dingin. Matahari bahkan belum sepenuhnya muncul dari ufuk timur, tetapi lampu di bagian belakang toko buku kecil itu sudah menyala terang benderang.

​Maya berdiri tegak di depan cermin kecil yang sedikit retak di ujungnya. Ia sedang merapikan kerah seragam biru gelapnya—seragam pertamanya sebagai cleaning service di sebuah perusahaan raksasa. Jantungnya berdebar kencang. Hari ini adalah hari pertamanya menjejakkan kaki ke dunia luar sebagai seorang pekerja sungguhan.

​Tiba-tiba, Clara masuk ke ruangan. Wajah wanita paruh baya itu sedatar biasanya, tanpa senyum, tanpa ekspresi berlebihan. Namun, matanya bergerak cepat memindai penampilan Maya dari ujung rambut sampai ujung kaki layaknya seorang jenderal yang sedang menginspeksi pasukannya sebelum maju ke medan perang.

​Clara berjongkok tanpa aba-aba. Ia mengusap ujung sepatu kanvas Maya dengan jarinya.

​"Masih ada sedikit debu di bagian kiri," ucap Clara datar. Ia langsung mengambil kain lap dari meja dan menggosok sepatu itu dengan keras hingga mengilap. "Kalau sepatumu kotor, lantai yang kamu injak juga kotor. Bosmu akan memecatmu di hari pertama."

​Maya tersenyum kecil menahan tawa. "Iya, Bu. Aku akan hati-hati."

​Clara berdiri. Tangannya tiba-tiba terulur menarik kerah seragam Maya dengan sedikit kasar, merapikannya agar benar-benar simetris. "Rambutmu ikat lebih kencang. Jangan sampai menutupi mata. Kalau kamu menyapu lalu rambutmu jatuh, debunya menempel."

​"Sudah kencang, Bu."

​Clara kemudian berbalik ke meja makan, mengambil sebuah tas bekal berwarna hijau pudar dan menyodorkannya ke dada Maya. "Bawa ini. Jangan jajan di luar. Makanan di luar mahal dan tidak bersih. Kalau kamu sakit perut, siapa yang repot? Aku yang repot harus menjaga toko sendirian."

​Kata-kata itu terdengar ketus, namun Maya tahu betul makna di baliknya. Clara bangun jam empat pagi hanya untuk membuatkan bekal itu. Tidak ada panggilan 'anakku' atau 'sayang'. Tidak ada pelukan hangat. Namun, melihat bekal yang diisi penuh dan sepatu yang digosokkan, Maya merasakan kehangatan yang luar biasa.

​"Dan satu lagi," Clara menatap Maya tajam. "Di tempat kerja yang besar seperti itu, banyak orang licik. Jangan mudah percaya. Kalau ada laki-laki yang tiba-tiba sok akrab dan senyum-senyum sendiri melihatmu, jauhi. Jangan diajak bicara. Mengerti?"

​Maya tertawa pelan. "Memangnya aku ini artis sampai ada yang mau senyum-senyum sendiri?"

​"Jangan membantah. Jawab saja mengerti."

​"Mengerti, Bos!" Maya memberi hormat dengan gaya main-main.

​Clara mendengus pelan, membuang muka. "Cepat berangkat. Jangan sampai terlambat."

​Tiga puluh menit kemudian, Maya berdiri di depan lobi utama gedung perusahaan yang tingginya nyaris menembus awan. Kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Orang-orang berdasi dan berjas rapi berjalan cepat keluar masuk. Maya membusungkan dadanya, mengatur napas, dan melangkah masuk dengan penuh tekad.

​Ia datang dua puluh menit lebih awal. Setelah melapor, ia diarahkan ke ruang peralatan di lantai dasar.

​Ruangan itu sepi. Maya baru saja mengambil sebilah sapu dan kemoceng ketika tiba-tiba, sebuah suara berat dan kelewat santai terdengar dari belakang punggungnya.

​"Pagi, Gadis Kecil."

​Maya terlonjak kaget. Sapu di tangannya hampir jatuh. Ia berputar seratus delapan puluh derajat dan mendapati seorang pemuda berdiri menyandar di ambang pintu.

​Pemuda itu mengenakan seragam biru yang sama dengannya, tetapi kancing kerahnya terbuka dua, lengannya digulung asal-asalan, dan rambutnya sedikit berantakan seolah ia sengaja menata rambutnya dengan gaya 'baru bangun tidur'. Di tangannya terdapat segelas kopi kertas. Ia menyunggingkan senyum miring yang entah mengapa terlihat sangat menyebalkan.

​Maya mengerutkan kening. Mengingat pesan ibunya tadi pagi, alarm di kepala Maya langsung berbunyi. Laki-laki yang sok akrab dan senyum-senyum sendiri.

​"Siapa kamu?" tanya Maya waspada.

​Pemuda itu menunjuk dirinya sendiri menggunakan gelas kopinya. "Aku? Adrian."

​Maya diam, menunggu kelanjutan kalimatnya. Karena Adrian tidak menambahkan apa-apa lagi, Maya menyilangkan tangan di depan dada. "Lalu? Kenapa memanggilku gadis kecil?"

​Adrian tertawa renyah, sebuah tawa yang entah kenapa membuat ruangan yang dingin itu terasa sedikit lebih hidup. "Karena kamu memang kecil. Coba lihat, tinggi badanmu bahkan tidak sampai ke bahuku."

​Maya memelototinya dari ujung rambut sampai ujung sepatu. "Kita beda dua tahun."

​Senyum Adrian terhenti di udara. Ia mengerjap. "Serius? Kamu lima belas?"

​"Iya."

​"Aku tujuh belas," balas Adrian cepat, kembali menegakkan bahunya dengan bangga. "Nah, berarti di gedung ini, aku adalah seniormu."

​"Senior?" Maya mendengus. "Senior yang datang sambil minum kopi saat jam kerja sudah mau mulai?"

​Adrian melangkah mendekat, sengaja merendahkan tubuhnya sedikit agar wajahnya sejajar dengan Maya. "Gadis Kecil, dengar ya. Di dunia kebersihan ini, jam terbang adalah segalanya. Aku sudah bekerja di sini selama tiga bulan. Aku tahu setiap sudut kotor di gedung ini."

​"Bagus. Kalau begitu kau saja yang bersihkan semuanya," balas Maya sarkas, berbalik memunggungi Adrian dan mulai memeriksa ember.

​Adrian terperangah. Baru kali ini ada orang, apalagi seorang gadis yang lebih muda darinya, berani memotong kata-katanya dengan telak. Biasanya, semua orang menunduk hormat padanya (tentu saja sebelum ia disuruh ayahnya menyamar menjadi tukang pel).

​"Hei, Gadis Kecil, kamu tidak sopan pada senior!" seru Adrian mengejar Maya yang mulai berjalan keluar.

​"Namaku Maya. Bukan Gadis Kecil."

​"Mulai sekarang aku akan memanggilmu Gadis Kecil," goda Adrian sambil berjalan mundur di depan Maya.

​"Dan mulai sekarang aku akan mengabaikanmu," balas Maya tanpa ekspresi.

​Tepat saat itu, Pak Budi, sang supervisor lapangan, muncul di ujung lorong dengan wajah garang. "Adrian!"

​Adrian langsung berdiri tegak seperti prajurit yang tertangkap basah. "Siap, Pak Budi!"

​"Bagus kamu sudah di sini. Ini anak baru kita, Maya." Pak Budi menunjuk Maya. "Adrian, kamu sudah tiga bulan di sini, tapi kerjamu paling sering tidak beres. Mulai hari ini, kamu dan Maya adalah partner. Bersihkan sayap timur bersama-sama. Dan Maya..."

​Maya menunduk hormat. "Iya, Pak?"

​"Kalau senior letoy ini berani malas-malasan, laporkan langsung ke saya. Biar gajinya saya potong!"

​Maya langsung melirik Adrian dengan senyum kemenangan yang sangat lebar. "Siap, Pak Budi. Akan saya awasi setiap detik."

​Adrian membuka mulutnya protes. "Pak! Mana bisa begitu? Masa senior diawasi junior?"

​"Kerjakan!" bentak Pak Budi sebelum berlalu pergi.

​Adrian menghela napas panjang, meratap menatap langit-langit. Kemudian ia melirik Maya yang sedang mengangkat ember berisi air dan kain pel.

​"Gadis Kecil..." panggil Adrian.

​"Tolong angkatkan ini, Senior yang kuat," potong Maya, menyerahkan ember berat itu tepat ke dada Adrian hingga pemuda itu nyaris terjengkang menerimanya.

​Adrian menatap ember di tangannya, lalu menatap punggung Maya yang berjalan santai mendahuluinya. Alih-alih marah, sebuah senyum geli kembali merekah di wajah Adrian. Menarik, batinnya. Sangat menarik.

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!