Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Steven tiba dikantor dan mulai menanyai para karyawannya apakah Angga meninggalkan pesan kemana ia akan pergi, namun tak satupun yang tahu kemana perginya lelaki pemilik perusahaan itu. Ia lalu mengirimkan pesan pada Laluna yang memberitahu bahwa Angga sama sekali tak meninggalkan pesan pada siapapun disana.
Sama halnya dengan Steven dan Laluna yang masih menunggu kabar dari Angga, Arni sibuk menghubungi semua akun media sosial lelaki itu.
"Aneh, kemana dia pergi sampai tidak aktif berhari-hari?" Tanyanya mengerutkan kening.
Tak sekalipun Angga memainkan ponselnya, ia memang sengaja mematikan ponselnya agar tak seorangpun dapat mengganggu perjalanannya dalam menjemput Raisa, sementara ponsel Raisa yang hilang disekitar pantai kini sudah tidak aktif lagi.
***
Hingga sore hati tibalah mereka di kediaman Laluna, mendengar suara mobil Angga, dua anggota keluarga didalam rumah rumah tersebut segera berlari menuju halaman dan benar saja kalau orang yang ada didalam mobil itu adalah Angga, Raisa dan sopir mereka.
"Angga, kamu dari mana saja?" Tanya Laluna marah menaikkan nada suaranya.
"Kamu, kenapa kamu kembali lagi kesini?" Pekiknya meneriaki Raisa juga.
Angga yang baru saja duduk di kursi rodanya hanya menguap cuek, ia menyuruh sopirnya untuk mendorong kursi rodanya masuk kedalam rumah. Steven menatap heran pada pasangan suami istri itu, terutama pada Raisa yang masih dibalut perban itu.
"Kamu baik-baik saja? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Steven yang ikut masuk kedalam rumah.
Wanita itu hanya menjawab dengan gelengan kepala, ia berjalan mendahului suami dan mertuanya, kakinya yang masih lemah menaiki anak tangga itu sekuat tenaga hingga sampailah ia dikamarnya. Satu-satunya tempat aman baginya dirumah tersebut. Baru saja ia duduk dipinggiran kasurnya tiba-tiba punggung tangannya basah oleh beberapa titik-titik darah segar, segera ia menyentuh hidungnya, mendapati kalau darah segar mengalir dari sana ia mengangkat dagunya agar darahnya berhenti, diraihnya tisu diatas meja untuk membersihkan darah tersebut lalu menyumbat hidungnya dengan kapas sebelum akhirnya ia membersihkan diri untuk beristirahat.
Tak seorang pun dari ketiga anggota keluarganya tersebut yang datang menanyai keadaannya, Raisa berdiri di depan lemarinya dengan tatapan kosong, ia meraih kedua gagang pintu lemari tersebut hingga lemarinya terbuka, didalam susunan pakaian usangnya ia meraih sebuah kardus yang ukurannya hanya sepanjang lengannya tersebut, ia meraih kardus tersebut juga meraih sebuah bingkai foto yang terbalik didalam lemari dan membawanya keatas tempat tidurnya.
Bingkai foto itu tampak masih baru namun berdebu sebab sudah lama tersimpan didalam lemari, melihat foto pernikahannya yang mana hanya ia yang tersenyum membuat hatinya bertambah pilu. Beberapa detik kemudian air matanya mengalir lagi membasahi foto pernikahannya tersebut, tangannya dengan cekatan mengeluarkan kertas foto tersebut dari bingkai dan merobeknya hingga menjadi beberapa kepingan kecil yang tak lagi beraturan.
Ia lalu membuka kardus kotak diatas tempat tidur, kotak yang sudah ia simpan hampir delapan tahun sebab disana ia dapat menemukan senyuman aslinya, senyum tanpa beban di hatinya. Juga lelaki yang sangat dicintainya dahulu, hingga kini. Ratusan foto dari momen-momen bahagia yang mungkin tak akan pernah terulang lagi bahkan jika ia harus menangis darah sekalipun.
Tok tok tok
Raisa menoleh ke arah ketokan di pintu, menunggu seseorang dari balik sana berbicara.
"Raisa!"
Suara serak dan berat itu memanggil namanya setengah berteriak.
"Raisa, ayo turun dan makan"
Raisa mengusap air matanya namun tetap tak menghiraukan panggilan itu, ia menyusun kembali foto-fotonya dengan Steven lalu menyimpannya ke tempat dimana sebelumnya benda itu disimpannya. Sementara foto pernikahannya dengan Angga telah berantakan diatas lantai sebab beberapa potongan yang tadinya ada diatas kedua kaki Raisa terjatuh saat ia berdiri.
Raisa memegangi perutnya yang sudah lapar, namun ia ragu untuk turun makan bersama dengan keluarga suaminya tersebut karena yang ia dengar pasti hanya makian dari ibu mertuanya tersebut.
Tok tok tok
"Raisa!" Panggil Angga lagi.
Wanita ini tampak murung menatap pintu kamarnya yang masih terkunci.
"Tumben dia memanggilku untuk makan, biasanya dia tidak peduli dengan apa yang aku lakukan" ucapnya dalam hati.
"Raisa, aku tau kau mendengarnya, cepat buka pintunya"
Raisa lalu melangkah membuka pintu, begitu ia menekan kenop pintu hal pertama yang dilihatnya adalah Angga, tapi kali ini Angga tak menatapnya dengan tatapan marah atau tajam, justru ia dengan pelan memundurkan kursi rodanya.
"Ayo, semua sudah menunggu di meja makan" ucapnya pelan namun Raisa tak menghiraukannya, wanita ini berlalu begitu saja meninggalkannya mematung kebingungan.
Melihat punggung istrinya yang tampak menekuk ia yakin kalau Raisa tengah tak baik-baik saja.
"Mungkin aku perlu membawa tukang urut kerumah" ucapnya berbicara pada dirinya sendiri, saat hendak memutar kursi rodanya matanya tak sengaja menemukan beberapa potongan kertas kecil di bawah ranjang Raisa, ia mengerutkan keningnya lalu membuka lebih lebar pintu dihadapannya untuk masuk kedalam kamar pribadi istrinya tersebut dan itu adalah kali pertama ia masuk kesana, suasana juga ukuran kamar itu jelas sangat berbeda jauh dari kamarnya, hanya ada kamar mandi kecil yang toilet dan shower mandinya menyatu, sebuah divan kecil sederhana yang diatasnya terdapat sebuah kasur berukuran 60 x 120 yang terbuat dari busa ditutupi kain seprei polos tipis yang mungkin sudah dipakai bertahun-tahun sehingga warnanya tak lagi cerah. Lemari kayu di sudut kanan kamar itu juga menutupi sebagian besar jendela, dibawah jendela itu juga terdapat sebuah meja rias yang diatasnya hanya terdapat sebotol parfum yang isinya bahkan akan habis jika disemprotkan sebanyak tiga atau empat kali, sebuah pelembab kulit yang dapat digunakan untuk seluruh tubuh juga lipstick merah jadul dan sebuah bedak padat yang bahkan packagingnya sudah terkelupas. Lalu di depan cermin terselip sebuah sisir plastik berwarna biru yang juga sudah mulai kehilangan warna aslinya.
Mendadak Angga merasa bersalah saat matanya liar menatap setiap sudut ruang kamar istrinya itu, ia memungut potongan kertas diatas lantai, ia kenal foto itu sebab potongannya masih menyisakan sisa gambar wajahnya yang murung dan kaku.
"Ini, ini kan foto pernikahan kami. Tapi" Angga memungut potongan lainnya dari atas tempat tidur.
"Raisa, kau berani merusak foto pernikanmu sendiri? Apa kau benar-benar ingin bercerai denganku?" Ucapnya marah sebelum akhirnya ia membawa potongan kertas itu keluar kamar lalu turun mengggunakan lift dan terus bergerak kearah meja makan.
"RAISA!" Pekiknya memanggil Raisa yang baru saja memakan sesuap nasi dipiringnya.
Namun karena sudah terlalu biasa suaminya tersebut meneriakinya dihadapan banyak orang ia tak lagi terkejut, ia tetap tenang mengunyah makanan di mulutnya sementara Angga yang baru saja tiba di meja makan melemparkan potongan foto tadi ke udara, membuat Laluna dan Steven merasa ketakutan.
"Kak, ada apa sih?" Tanyanya kesal.
"Lihat, lihat potongan foto itu, itu foto pernikahan ku dengan mantan pacarmu itu!" Jawabnya marah, Laluna dan Steven memetik beberapa potongan kertas itu lalu menoleh pada Raisa yang masih terlihat tenang.
"Raisa, apa benar kamu yang merobek foto pernikahanmu dengan Angga?" Laluna bertanya dan dengan kasar menarik lengan Raisa hingga sendok ditangannya terjatuh diatas lantai.
Wanita muda itu menoleh menatap wajah ibu mertuanya serius.
"Benar" jawabnya membuat wanita paruh baya tersebut terkejut, begitu juga dengan Steven.
"Lagipula untuk apa menyimpannya terlalu lama? Kami akan bercerai, pernikahan ini juga merupakan penikahan palsu, tak ada kehidupan di dalamnya, hubungan kami juga tak seperti suami istri diluaran sana"
"Maksudmu apa, Raisa? Kau ingin tidur denganku? Baiklah, mulai malam ini kau tidur di kamarku!" Ucap Angga menyela perkataan istrinya.
"Untuk apa? Kamu tidak mendengar perkataan ku barusan? Kita akan bercerai, kau juga sudah setuju bukan?"
Laluna terdiam mematung untuk beberapa saat.
"Tidak, tidak bisa. Kalian tidak boleh bercerai sebelum Steven dan Arni menikah, apa kata orang nanti jika kalian bercerai sementara hari pernikahan adikmu akan berlangsung sebentar lagi, Angga" ucapnya.
Raisa tersenyum masam menatap Steven yang masih syok, saat mereka melakukan kontak mata mendadak pertahanannya runtuh dan air matanya kembali mengalir.
Sambil tersenyum ia mengepal tangannya.
"Selalu saja tentang Arni, tidak disini, tidak disana, selalu saja Arni. Tidak suamiku, tidak mantan kekasihku, semua milik Arni. Cihhh, atau bahkan hidup dan matiku juga ditentukan oleh Arni. Betapa hinanya hidup disetir adik tiri kejam penuh drama itu!" Ujarnya membuat semua orang kebingungan.
"Baik, aku akan bercerai dengan Angga setelah pernikahan mu dan Arni selesai!" Ucapnya menatap Steven lalu beranjak dari tempat duduknya.
Raisa terus melangkah meninggalkan meja makan sementara Angga tak lagi kuasa menahan amarahnya.
"RAISAAAAA!"
"JANGAN SESEKALI KAU MENERIAKIKU LAGI!"