Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 BISIKAN ALAM MANDALAGIRI
Perjalanan panjang meninggalkan keriuhan Kota Bandung membawa Raka Ardian kembali ke pelukan alam liar yang paling ia kenal dan hormati: Hutan Purba Mandalagiri.
Udara pegunungan yang pekat oleh kabut tebal menjelang senja menyambut langkah kaki sang pengembara begitu ia menapaki jalan setapak berbatu yang tertutup lumut hijau tebal. Di dalam tas kulit di punggungnya, botol perunggu tempat ia menyegel entitas gaib pengganggu Maya terus-menerus bergetar halus, memancarkan hawa dingin menusuk yang sesekali merambati pundaknya.
Namun, bukan sekadar pelarian fisik atau misi pembersihan gaib semata yang membuat langkah Raka terasa begitu berat di sepanjang jalur pendakian. Di setiap hela napasnya, bayangan wajah Nadia yang berkaca-kaca di ruang isolasi rumah sakit terus berkelebat di dalam kepalanya. Rasa rindu yang asing, hangat, dan begitu mendalam bergelayut di dadanya, memperkuat tekad Raka untuk segera menuntaskan ritual pemusnahan kutukan ini secepat kilat agar ia bisa segera kembali ke pelukan gadis yang telah merebut hatinya.
Hari pertama penyusurannya di dalam lebatnya hutan purba diwarnai oleh ujian fisik yang cukup menguras tenaga. Luka sayatan di bahu kirinya akibat hantaman cakar gaib makhluk malam itu mulai berdenyut nyeri akibat terpaan angin malam pegunungan yang menusuk tulang. Sadar bahwa tubuhnya membutuhkan pemulihan agar tidak melemah di tengah hutan terpencil, Raka memutuskan untuk mencari tempat perhentian yang aman di sebuah lembah tersembunyi yang dialiri oleh mata air jernih—sebuah tempat sakral di mana ia biasa berlatih olah batin semasa kecilnya di bawah bimbingan sang kakek.
Di tepi mata air yang memantulkan cahaya temaram bulan sabit, Raka bersila di atas batu datar yang dingin. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membuka seluruh pori-pori kulit dan jalur meridian tubuhnya untuk menyelaraskan diri secara total dengan frekuensi getaran alam semesta, sebuah metode tingkat tinggi dari intisari Welingan Sejati.
Saat keheningan malam menyelimuti hutan rimba, keajaiban kecil mulai terjadi. Raka merasakan aliran energi hijau yang murni meresap dari dalam tanah dan rimbunnya pepohonan tua di sekitarnya, mengalir masuk melalui telapak kakinya, menyusuri pembuluh darah, dan menyembuhkan luka robek di bahunya dengan kecepatan luar biasa. Tidak hanya itu, kepekaan panca indranya mendadak meluas berkali-kali lipat.
Di antara ribuan aroma dedaunan basah, hidung tajam Raka menangkap wangi harum yang sangat khas dan langka—wangi dari Akar Puspa Wandana, tanaman obat legendaris yang hanya tumbuh di atas tanah keramat dan hanya dapat ditemukan oleh seorang tabib berhati suci.
Dengan gerakan teliti dan penuh hormat kepada alam, Raka memetik beberapa helai akar puspa tersebut, lalu meraciknya langsung di tempat menggunakan air mata air murni untuk diminum sebagai penawar racun alami dan penguat energi batin.
Seketika, sebuah sensasi hangat yang luar biasa meledak di dalam dada Raka. Aliran tenaga dalamnya yang semula sempat terkuras habis akibat pertarungan panjang di rumah sakit kini pulih berlipat ganda, mengalir deras tanpa hambatan. Pembuluh darahnya terasa dialiri oleh kekuatan baru yang jauh lebih padat, matang, dan stabil.
Tanpa ia sadari, ritual penyelarasan jiwa dengan alam Mandalagiri malam itu telah membuka gerbang pemahaman tingkat tinggi dari warisan leluhurnya, meningkatkan level kesaktian Welingan Sejati miliknya ke tingkat kesempurnaan yang belum pernah ia capai sebelumnya.
Keesokan paginya, tatkala mentari pagi memecah kabut tebal di puncak bukit, Raka melanjutkan sisa pendakiannya menuju mulut gua keramat—tempat asal muasal entitas hitam tersebut pertama kali dipanggil oleh praktisi ilmu hitam masa lalu.
Setibanya di depan gua yang dipenuhi ukiran batu purba berlumut, Raka mengeluarkan botol perunggu dari dalam tas kulitnya. Dengan sisa tenaga dalam barunya yang kini berpendar memancarkan cahaya keperakan terang di ujung jemarinya, ia merapalkan mantra pemusnahan terakhir leluhur.
Bum!
Kilatan cahaya terang menyilaukan meledak di mulut gua, menghancurkan sisa-sisa kabut hitam iblis itu hingga lebur menjadi debu tak berbekas, diterbangkan oleh angin lembah yang berhembus sejuk. Ikatan kutukan darah hitam itu telah resmi putus untuk selama-lamanya.
Raka berdiri terpaku sejenak di hadapan gua, membiarkan angin pagi membelai wajahnya yang tenang. Di tengah keheningan hutan yang kembali damai, senyuman tipis yang tulus terukir di bibirnya. Misi berat telah tuntas dengan sempurna, dan kini, tidak ada lagi rintangan atau beban gaib yang bisa menahannya untuk segera berlari pulang... kembali kepada Nadia.