NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Privilese Darah dan Teratai Kegelapan

​Tiga menit. Di kehidupanku yang dulu, tiga menit adalah waktu yang kuhabiskan untuk menyeduh kopi atau menunggu lift. Namun malam ini, tiga menit terasa seperti maraton melintasi ladang ranjau.

​Setiap langkah yang kuambil di atas karpet merah tebal itu menuntut konsentrasi penuh. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisku. Tulang rusukku yang retak berdenyut hebat seiring dengan ritme napasku yang tertahan.

​Sedikit lagi, batinku menyemangati diri sendiri.

​Aku berbelok di ujung lorong sayap timur dan menuruni tangga batu spiral yang dingin. Udara perlahan berubah menjadi lembap, membawa aroma tajam kayu ek yang basah dan fermentasi anggur.

​Gudang penyimpanan anggur keluarga Pendelton sangat luas, dipenuhi deretan tong kayu raksasa dan rak-rak botol berdebu yang menjulang hingga ke langit-langit. Tempat ini gelap gulita, hanya diterangi oleh sedikit cahaya bulan yang menyusup dari ventilasi udara di dinding atas.

​Aku tidak membuang waktu. Mengingat detail dari bab 50 novel 'Crown of Ash', aku berjalan melewati rak pertama, kedua, hingga tiba di ujung lorong ketiga.

​Di sana, di bagian rak paling bawah yang tertutup sarang laba-laba, terdapat deretan botol anggur dari tahun-tahun awal berdirinya Kekaisaran. Tanganku meraba botol ketiga dari kiri—sebuah botol berleher panjang dengan segel lilin hitam yang sudah memudar.

​Alih-alih menariknya, aku menekan botol itu ke dalam, lalu memutarnya sembilan puluh derajat searah jarum jam.

​Klak.

​Sebuah mekanisme roda gigi kuno berderak pelan di balik dinding batu. Sesaat kemudian, seluruh rak anggur di hadapanku bergeser mundur dan membuka ke samping, memperlihatkan sebuah lorong rahasia sempit yang terbuat dari batu bata hitam.

​Seringai tipis mengembang di wajahku. "Penulis novel ini benar-benar tidak kreatif membuat teka-teki ruang rahasia," gumamku pelan.

​Tanpa ragu, aku melangkah masuk. Begitu kakiku melewati ambang pintu, rak anggur di belakangku kembali menutup secara otomatis. Ruangan rahasia ini tidak besar, mungkin hanya seukuran kamar mandiku di kehidupan sebelumnya. Tidak ada emas atau perhiasan bergelimang.

​Hanya ada sebuah pilar obsidian setinggi pinggang di tengah ruangan.

​Di atas pilar tersebut, mengambang sebuah botol kristal kecil yang memancarkan pendar cahaya keunguan yang redup. Di dalam botol itu, cairan pekat berwarna hitam keunguan tampak berputar perlahan, seolah memiliki kehidupan sendiri.

​Elixir of the Abyssal Lotus. Ramuan legendaris yang disuling dari teratai yang hanya tumbuh di dasar jurang jurang iblis terdalam.

​Jantungku berdegup kencang. Ini dia. Kunci pertamaku untuk bertahan hidup.

​Aku melangkah maju dan mengulurkan tangan. Namun, tepat ketika ujung jariku berjarak beberapa inci dari botol itu, percikan listrik merah menyambar, memaksaku menarik tanganku kembali dengan kasar. Ujung jariku terasa kebas dan berbau hangus.

​"Ah, benar juga," desahku sambil menatap telapak tanganku. "Mantra pelindung leluhur."

​Dalam novel, Leon si protagonis membutuhkan waktu setengah jam untuk menghancurkan pelindung ini menggunakan pedang suci dan sihir apinya secara brutal. Tentu saja, itu karena Leon adalah orang luar. Sang penulis sengaja membuat adegan itu untuk memamerkan seberapa besar kekuatan tempur Leon.

​Namun, aku bukan Leon. Dan ironisnya, berada di tubuh 'sampah' ini justru memberikanku satu keuntungan tak terduga.

​Aku merogoh saku jubahku dan mengeluarkan belati perak kecil yang kuambil dari meja rias tadi. Tanpa ragu, aku menggores tipis telapak tangan kiriku. Rasa perih menyengat, dan darah segar perlahan merembes keluar.

​Aku menempelkan telapak tanganku yang berdarah ke udara kosong di sekitar botol kristal itu.

​Sihir pelindung itu kembali muncul, memancarkan cahaya merah yang agresif. Namun, begitu mendeteksi darahku—darah murni keturunan langsung Duke Pendelton—cahaya merah itu meredup, bergetar pelan, lalu pecah menjadi serpihan cahaya yang menguap di udara.

​Hak istimewa keturunan. Leon harus menghancurkannya karena dia rakyat jelata, sementara aku hanya perlu 'membuka kuncinya'.

​"Terima kasih, para leluhur yang picik," ucapku sinis.

​Aku meraih botol kristal itu. Dingin. Sensasi es langsung menjalar dari telapak tanganku, kontras dengan kekuatan mengerikan yang bergolak di dalamnya.

​Aku tidak bisa membawa benda ini kembali ke kamar. Jika pelayan atau penjaga melihat cahaya ungunya, aku akan dicurigai. Terlebih lagi, ayahku bisa merasakan fluktuasi sihir yang kuat. Aku harus menggunakannya sekarang juga.

​Aku duduk bersila di lantai batu yang kotor, menyandarkan punggungku ke dinding untuk menopang tubuhku yang cedera. Kubuka sumbat botol kristal itu. Bau harum yang sangat pekat, seperti perpaduan darah, mawar layu, dan ozon setelah badai, langsung menusuk indra penciumanku.

​Dalam novel disebutkan bahwa proses pembersihan Mana Core menggunakan Elixir ini sangat menyakitkan. Rasanya seperti menelan lelehan besi panas. Tapi kematian di alun-alun kota dengan leher terpenggal pasti jauh lebih menyakitkan.

​"Bersulang untuk awal yang baru," gumamku pada ruang kosong.

​Tanpa menutup mata, aku menenggak seluruh isi cairan itu dalam satu tegukan.

​Tiga detik pertama, tidak terjadi apa-apa. Rasanya seperti menelan air es.

​Namun di detik keempat, neraka meledak di dalam dadaku.

​Mataku terbelalak lebar. Vena di leher dan lenganku menonjol keluar, berwarna hitam keunguan. Rasa sakit yang melumpuhkan akal sehat menghantam pusat jantungku. Rasanya seolah ada seribu jarum beracun yang ditusukkan secara bersamaan ke dalam organ dalamku, mengoyak, membersihkan, dan memperluas pembuluh darahku secara paksa.

​Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga berdarah, berusaha keras untuk tidak berteriak. Jeritan sekecil apa pun akan mengundang penjaga. Aku harus menahannya. Aku harus tetap sadar!

​Dunia di sekelilingku mulai berputar. Kegelapan perlahan merayap di ujung pandanganku seiring dengan rasa sakit yang semakin memuncak hingga batas toleransi manusia.

​Tepat sebelum kesadaranku benar-benar terenggut, aku bisa merasakan sesuatu di dalam dadaku yang selama ini mati... mulai berdetak dengan irama sihir yang menakutkan.

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!