Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kamar tidur Duchess Kayla von Ardent kini terasa lebih seperti sel isolasi rumah sakit jiwa daripada ruangan seorang bangsawan tinggi.
Kayna duduk di tepi tempat tidur, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan tatapan seorang inspektur yang sedang mencari celah keamanan. Di sudut ruangan, Rosa berdiri tegak dengan nampan teh di tangannya, berkeringat dingin. Pelayan gempal itu menatap Kayna dengan kewaspadaan tingkat tinggi, seolah menunggu majikannya akan tiba-tiba mengubah diri menjadi naga dan membakar ruangan.
"Rosa," panggil Kayna datar, tangannya menekan-nekan sebuah bantal hias berwarna keemasan.
"Y-ya, Nona?" suara Rosa bergetar.
"Bantal ini isinya apa?"
"B-bulu angsa pilihan dari wilayah Utara, Nona. Sangat lembut dan.."
"Terlalu lembut," potong Kayna, mengerutkan kening. "Kalau aku tekan ke wajahku, udara masih bisa masuk dari celah-celah bulunya. Tidak efisien untuk suffokasi."
Napas Rosa tercekat. Nampan teh di tangannya berdenting keras. "N-Nona! Demi dewa, jangan bicara seperti itu! Tuan Duke akan menguliti saya hidup-hidup jika Anda sampai kekurangan oksigen!"
Kayna menghela napas, melempar bantal itu ke lantai. "Kau dan Tuan Duke sama saja. Terlalu dramatis."
Sebenarnya, Kayna tidak benar-benar berniat menggunakan bantal itu saat ini. Ia hanya sedang melakukan survei. Tapi melihat reaksi Rosa, ide itu tiba-tiba terdengar cukup menjanjikan.
Lagipula, lehernya sudah diperban, tidak ada benda tajam, dan jendela dikunci. Opsi yang tersisa hanya suffokasi atau kelaparan. Dan Kayna tahu, jika ia mogok makan, mereka akan menyalurkan makanan paksa lewat selang. Jadi, suffokasi adalah satu-satunya jalan.
"Rosa, ambilkan aku air minum. Tenggorokanku kering," perintah Kayna, menunjuk ke meja kecil di dekat pintu.
"Tentu, Nona! Sebentar!" Rosa meletakkan nampan teh di atas meja rias dan bergegas menuju meja kecil di dekat pintu, membelakangi Kayna.
Ini dia. Kesempatannya.
Dengan kecepatan yang tidak terduga dari tubuh yang baru saja sembuh dari luka gores, Kayna menyambar bantal bulu angsa terbesar dari tempat tidur. Ia tidak membuang waktu untuk berdrama atau mengucapkan kata-kata terakhir. Ia langsung menekan bantal itu kuat-kuat ke wajahnya, membaringkan dirinya di kasur, dan menahan napas.
Satu... dua... tiga...Dunia mulai berputar. Bagus. Pertahankan, Kayna. Jangan bernapas.
Rasa pusing mulai menyerang. Pandangannya menghitam di tepi-tepinya. Ia bisa merasakan paru-parunya menjerit minta oksigen, tapi tekadnya bulat. Hanya beberapa detik lagi. Tiket ke kehidupan selanjutnya sudah di tanganku..
BRUK!
Pintu kamar terbuka dengan kekuatan penuh, menghantam dinding hingga plesternya retak.
Sebelum Kayna sempat kehilangan kesadaran sepenuhnya, sebuah tangan besar mencengkeram ujung bantal dan menariknya dengan kekuatan luar biasa. Udara segar langsung menyerbu masuk ke paru-paru Kayna.
"Uhuk! Uhuk!" Kayna terbatuk kasar, matanya berair karena kekurangan oksigen. Ia mendongak, menatap dengan tatapan membunuh ke arah pria berambut perak yang berdiri di samping tempat tidurnya.
Duke Adrian. Napasnya tersengal, dadanya naik turun, dan matanya yang sedingin es kini menyala dengan api kemarahan dan sesuatu yang mirip dengan kepanikan.
"Apakah kau..." suara Adrian terdengar rendah, berbahaya, dan sedikit parau. "Apakah kau baru saja mencoba membunuh diri dengan bantal?!"
Kayna mengusap air matanya, lalu duduk dengan raut wajah kesal. "Itu bukan bantal sembarangan, Tuan Duke. Itu bantal bulu angsa Utara. Dan ya, aku mencoba. Tapi kau merusaknya. Lagi."
Adrian memijat pangkal hidungnya, seolah sedang berusaha mencegah otaknya meledak. Di belakangnya, Rosa sedang menangis tersedu-sedu di ambang pintu, memeluk kaki salah satu penjaga.
"Aku menyuruh Rosa membuatkanmu teh," geram Adrian, suaranya bergetar karena menahan emosi. "Aku hanya datang untuk memastikan kau tidak melakukan hal bodoh, dan apa yang kulihat? Tunangan saya sedang mencoba mencekik dirinya sendiri dengan bantal seharga seratus keping emas!"
"Secara teknis, aku tidak mencekik diri. Aku hanya menutup jalan napas," koreksi Kayna santai, sambil merapikan gaunnya yang kusut. "Dan kalau kau tidak menarik bantal itu tiga detik lebih cepat, aku sudah tenang sekarang. Kau tahu, Tuan Duke, menginterupsi orang yang sedang berusaha mati itu sangat tidak sopan."
Adrian menatap Kayna. Ia mencari-cari. Ia mencari setitik pun tanda bahwa wanita di hadapannya ini sedang berakting. Bahwa ini adalah manipulasi, trik murahan untuk menarik perhatiannya, atau cara licik untuk membuat pria itu merasa bersalah.
Tapi tidak ada.
Mata Kayna yang menatapnya tidak mengandung kelicikan. Tidak ada air mata yang dibuat-buat. Yang ada hanyalah kekesalan murni dari seseorang yang antreannya di kasir tiba-tiba dipotong oleh orang asing.
"Kau... benar-benar ingin mati," bisik Adrian, lebih pada dirinya sendiri. Realisasi itu menghantamnya lebih keras daripada pedang musuh di medan perang.
..gagal terus🤣