NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 MISI MEMANCING EMOSI

Keesokan harinya...

Matahari pagi Jogja kembali bersinar terang, mengusir sisa-sisa embun yang menempel di dedaunan pohon beringin di halaman SMA Budi Bangsa.

Bagi kebanyakan siswa, pagi ini adalah awal dari rutinitas belajar yang biasa.

Namun...

Bagi Wira Aji Pratama...

Hari ini adalah medan pertempuran!

Semalaman Wira menyusun rencana. Ia menolak menerima kenyataan bahwa harga dirinya sebagai penguasa tongkrongan di Bogor bisa dilumpuhkan hanya dengan beberapa untaian kalimat lembut dan tatapan setenang air telaga.

Otak begajulannya menyimpulkan satu hal: Asmara hanya sedang memakai topeng.

Tidak ada manusia—apalagi anak SMA—yang memiliki kesabaran tak berujung. Pasti ada satu titik di mana gadis sok suci itu akan meledak, berteriak, dan memperlihatkan wajah aslinya yang jelek saat marah.

Dan Wira bertekad menjadi orang pertama yang merobek topeng tersebut!

Ia sengaja datang sedikit lebih pagi, masuk ke Kelas XI IPS 2 sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Padahal selama sekolah di Bogor, hal itu tak pernah ia lakukan.

Penampilannya masih konsisten urakan, meski tidak separah kemarin karena ia malas berdebat panjang lebar dengan guru piket di gerbang.

Begitu ia melangkah masuk ke kelas, matanya langsung tertuju pada kursi di barisan ketiga. Di sana, Asmara sudah duduk dengan postur tegaknya yang khas. Gadis itu sedang membaca sebuah buku tebal, tampak begitu fokus dan damai, seolah dunia di sekitarnya tidak eksis.

Melihat kedamaian itu, darah Wira mendidih oleh rasa gatal yang aneh.

"Dih, apa-apaan sih tuh cewek? Sok rajin banget! Awas aja lo, gue rusak ketenangan lo hari ini!" gumam Wira membatin.

Ia melangkah tegap menuju mejanya.

Akan tetapi, bukannya meletakkan tas ranselnya perlahan, Wira justru mengayunkan tas berat itu dan membantingnya ke atas meja kayu dengan tenaga ekstra.

BRAK!!!

Suara benturan keras itu membuat beberapa murid di kelas terlonjak kaget.

Dan getaran dari bantingan tas Wira menjalar ke separuh meja Asmara, membuat kotak pensil kaleng milik gadis itu terjatuh ke lantai.

Klotak!

Isinya berhamburan—pulpen, pensil, penghapus, dan penggaris berserakan di bawah meja.

Wira langsung memasang senyum miring, menjatuhkan dirinya ke kursi, dan melipat tangan di dada.

Ia menoleh ke arah Asmara, menunggu.

"Ayo, marah! Teriak! Maki gue!" tantang Wira dalam hati. Jantungnya berdebar penuh antisipasi.

Namun, reaksi yang diharapkan Wira sama sekali tidak terjadi.

Asmara hanya menghentikan bacaannya, menutup bukunya perlahan, lalu menoleh menatap tas Wira, dan beralih menatap wajah pemuda itu.

Tidak ada kilat kemarahan di mata bulatnya. Tidak ada helaan napas kesal.

Dengan gerakan gemulai, Asmara menunduk, mengumpulkan alat-alat tulisnya yang berceceran di lantai satu per satu, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak kalengnya.

Setelah selesai, Asmara meletakkan kotak pensil itu agak menjauh dari batas tengah meja mereka. Ia menoleh ke arah Wira dan tersenyum tipis.

"Mejanya memang sedikit licin, Mas Wira... Kalau tasnya berat, mungkin lebih aman ditaruh di kursi kosong di belakang, atau disandarkan ke kaki meja, supaya tidak mudah meluncur jatuh," ucap Asmara dengan nada suara yang begitu lembut, seolah ia benar-benar mengira tas Wira jatuh karena ketidaksengajaan.

Rahang Wira mengeras seketika. Serangannya meleset.

Gadis ini justru memberikan solusi dengan nada keibuan yang membuat Wira merasa seperti balita yang baru saja menjatuhkan mainannya.

"Sengaja gue banting," balas Wira ketus, mencoba memprovokasi lebih jauh.

"Tas gue, meja gue, ya suka-suka gue dong!"

Asmara hanya mengangguk pelan. "Oh, begitu... Ya sudah... Asal Mas Wira nyaman..."

Hanya itu.

Setelahnya, Asmara kembali membuka bukunya dan melanjutkan membaca, sama sekali tidak terpengaruh oleh aura permusuhan yang dipancarkan Wira.

Wira menggertakkan giginya sambil kembali membatin kesal, "Anjir... Belom kena juga nih, cewek? Awas aja lo!"

Misi pertama gagal total.

Tapi ini baru pemanasan.

Jam pelajaran pertama dimulai.

Pak Harun, guru Matematika yang terkenal killer namun usianya sudah cukup sepuh, masuk ke kelas dan mulai menuliskan rumus-rumus logaritma di papan tulis. Suasana kelas sangat hening, hanya terdengar suara kapur yang bergesekan dengan papan dan decak kagum tertahan dari murid-murid yang pusing melihat rentetan angka tersebut.

Ini adalah panggung yang sempurna bagi Wira untuk melancarkan serangan kedua.

Wira mengeluarkan sebuah pulpen mekanik bermaterial besi dari sakunya. Sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan malas, ibu jari Wira mulai menekan ujung pulpen itu secara berulang-ulang.

Cetek. Cetek. Cetek. Cetek. Cetek. Cetek.

Suara klik dari pulpen itu terdengar sangat nyaring di tengah keheningan kelas. Ritmenya cepat dan konstan, seperti suara pelatuk pistol yang ditarik berulang kali.

Satu menit berlalu.

Beberapa teman di bangku depan mulai melirik ke belakang dengan kening berkerut. Danang, sang ketua kelas, menatap Wira dengan tatapan memohon agar pemuda itu menghentikan aksinya, namun Wira justru semakin mempercepat ritme klik pulpennya.

Cetek! Cetek! Cetek! Cetek! Cetek! Cetek!

Matanya terus melirik tajam ke arah Asmara dari sudut matanya.

Asmara sedang sibuk menyalin rumus dari papan tulis. Tangan kirinya memegang penggaris, tangan kanannya menari lincah di atas buku catatannya. Namun Wira tahu, suara pulpen ini pasti mengganggu konsentrasinya. Wira lalu memajukan duduknya, menumpukan sikunya di atas meja hingga melewati batas area Asmara, lalu menggoyangkan kaki kanannya dengan keras hingga seluruh meja mereka ikut bergetar.

Cetek-cetek-cetek-cetek!

Meja bergetar. Tulisan Asmara seketika mencang-mencong, keluar dari garis buku karena guncangan itu.

"Kena, lo!" batin Wira bersorak.

"Ayo, bentak gue sekarang! Bilang kalau gue ganggu! Bikin keributan di kelas ini! Ayo! Buruan, woy!" batin Wira lagi.

Asmara menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap garis tintanya yang melenceng jauh akibat getaran meja, lalu perlahan menoleh ke arah Wira.

Jarak wajah mereka cukup dekat. Wira mengangkat dagunya menantang, ibu jarinya masih setia menekan-nekan pulpen.

Asmara tidak mengernyit. Ia tidak mendelik. Gadis itu justru membuka kotak pensil kalengnya, mengambil sebuah pulpen bertinta gel berwarna hitam, lalu menyodorkannya ke hadapan Wira.

"Pulpen Mas Wira sepertinya macet tintanya, makanya Mas tekan-tekan terus dari tadi, kan?" bisik Asmara sangat pelan, memastikan suaranya tidak terdengar oleh Pak Harun di depan.

Senyum tulus kembali merekah di wajah kuning langsatnya. "Pakai pulpen saya saja, Mas. Tintanya lebih lancar, dan yang paling penting... tidak bersuara."

"Haaah??? Apaaa???" reaksi batin Wira. Gerakan ibu jari Wira terhenti seketika.

Cetek...

Suara klik terakhir itu terdengar ironis di telinganya, atau lebih tepatnya...

Wira merasa...

GOBLOK.

🤣🤣🤣🤣🤣🤣

Wira menatap pulpen gel di tangan Asmara, lalu menatap wajah gadis itu dengan pandangan tidak percaya.

Logikanya benar-benar tidak bisa mencerna respons ini.

Ia sedang mengganggu!

Ia sengaja membuat meja bergetar!

Kenapa gadis ini malah meminjamkan pulpen dengan alasan bodoh bahwa pulpen Wira macet???!!!

"Gue nggak butuh pulpen lo!" desis Wira pelan, nyaris seperti ular yang mendesis. Ia menarik sikunya dari meja dan menjauhkan kakinya. Rasa kesal yang luar biasa membuat napasnya memburu.

Asmara tersenyum maklum, menarik kembali pulpennya dan meletakkannya di atas meja. "Kalau begitu, boleh saya minta tolong kakinya tidak digoyangkan terlalu keras, Mas? Kasihan meja ini, umurnya sudah tua, nanti sekrupnya lepas."

Tanpa menoleh, Wira kembali membatin sendirian, "Mana ada meja tua?! Lo yang tua!!"

Sebenarnya itu bukan teguran. Itu lebih terdengar seperti permintaan tolong dari seorang teman. Namun bagi Wira, itu adalah kekalahan kedua kalinya di hari yang sama. Ia tidak berhasil memancing kemarahan Asmara.

Ia justru berhasil membuat dirinya sendiri terlihat seperti...

Anak kecil hyperaktif yang sedang gelisah.

😂😂😂😂😂😂

Sisa jam pelajaran Matematika dihabiskan Wira dengan menggerutu dalam hati.

Ia merasa seperti sedang meninju gumpalan kapas. Sekuat apa pun tenaga yang ia keluarkan, kapas itu tidak hancur, tidak melawan, hanya menyerap seluruh pukulannya tanpa sisa.

Jam istirahat pun tiba.

Sebagian besar murid berhamburan ke luar kelas, menuju kantin atau lapangan basket. Asmara memilih tetap duduk di bangkunya. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berlogo OSIS dan mulai merekap beberapa lembar kuitansi dana kegiatan sekolah.

Wira, yang belum menyerah, memutuskan untuk tidak pergi ke kantin. Ia duduk menyamping, menghadap Asmara secara terang-terangan.

Matanya mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu.

"Lo itu beneran manusia, atau robot sih??" Wira akhirnya membuka mulut, nadanya penuh selidik dan provokasi.

Asmara tidak menoleh, tangannya sibuk menghitung angka di kalkulator. "Saya manusia, Mas Wira... Memangnya kulit saya terbuat dari besi di matamu, Mas? Memangnya, ada yang salah dengan saya?"

"Banyak!!" potong Wira cepat.

Ia lalu mencondongkan tubuhnya, mengambil selembar kuitansi yang belum dihitung Asmara dari atas tumpukan, lalu mulai melipat-lipat kertas itu sembarangan. "Nggak ada manusia normal yang nggak bisa marah! Lo tahu gue sengaja gangguin lo dari tadi pagi, kan? Lo tahu gue sengaja bikin lo jengkel! Tapi lo malah sok senyum! Sok baik! Sok sabar!"

Asmara menghentikan jarinya di atas tombol kalkulator. Ia akhirnya menoleh, menatap kuitansi penting yang kini sedang diubah menjadi pesawat kertas mainan di tangan Wira.

"Mas Wira," panggil Asmara, nadanya sedikit lebih tegas dari biasanya, meski tetap tidak ada unsur teriakan di sana. "Itu bukti pembayaran iuran siswa. Kalau rusak, saya yang harus menggantinya."

"Oh ya?!" Wira menyeringai puas.

"Akhirnyaaa!!! mulai terpancing!!!" Wira kembali membatin, namun seperti mendapatkan hadiah jackpot besar yang memang sudah ia tunggu-tunggu.

Wira mengangkat pesawat kertas itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. "Ambil sendiri dong kalau berani. Marah aja, teriak! Bilang ke gue kalau lo muak lihat muka gue! Ayo, keluarin sifat asli lo!"

Wira sudah bersiap. Jika Asmara melompat untuk merebut kertas itu, atau mulai berteriak memakinya, Wira akan merasa misinya berhasil.

Topeng gadis itu akan hancur.

Namun Asmara tidak melompat. Ia tidak menaikkan suaranya.

Gadis itu justru menatap Wira lekat-lekat. Pandangannya perlahan berubah menjadi tatapan yang sangat redup, memancarkan kedalaman empati yang entah mengapa membuat dada Wira mendadak sesak.

Asmara menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Wira.

Tangannya tidak berusaha merebut pesawat kertas itu.

"Mas Wira sungguh ingin melihat saya marah?" tanya Asmara pelan. Suaranya mengalun seperti melodi sedih yang menyayat hati.

Wira menelan ludah, senyum miring di wajahnya perlahan luntur. "I-iya! Gue mau buktiin kalau lo itu cuma cewek munafik yang pakai topeng kesucian di depan orang-orang!"

"Mas..." Asmara tersenyum miris, menggelengkan kepalanya pelan.

"Kemarahan itu mahal harganya. Tidak pantas diobral untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. Kalau saya marah hanya karena Mas menggeser meja atau mengambil selembar kertas, lalu apa bedanya saya dengan anak kecil yang menangis karena permennya direbut?"

Asmara mencondongkan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka. Wira tanpa sadar menahan napas saat mencium aroma melati yang lembut dari gadis itu.

"Mas Wira terus-menerus memancing emosi saya, melakukan hal-hal menyebalkan yang menguras energi Mas sendiri. Mas tahu apa artinya itu?" Asmara menatap tepat ke manik mata Wira, mengunci pandangan pemuda itu hingga tak bisa lepas.

"Itu artinya... Mas Wira sebenarnya sedang berteriak minta diperhatikan."

DEG!!!

Dada Wira seolah dihantam balok es.

Matanya membelalak kaget.

"Mas kesepian di kota ini," lanjut Asmara, suaranya bagaikan bisikan angin yang menelanjangi seluruh pertahanan jiwa Wira. "Mas merasa dibuang, Mas merasa tidak ada yang peduli. Makanya Mas membuat keributan, karena bagi Mas, dibenci itu jauh lebih baik daripada diabaikan. Begitu, kan?"

Tangan Wira yang memegang pesawat kertas perlahan turun.

Tenaganya seolah menguap.

Kalimat Asmara menusuk tepat di jantung kelemahannya.

Rahasia terbesar yang bahkan tidak berani Wira akui pada dirinya sendiri, kini dibacakan dengan begitu gamblang oleh gadis yang baru mengenalnya dua hari.

"Lo... lo jangan sok tahu!" bentak Wira, suaranya bergetar hebat.

Ia membuang muka, menghindari tatapan Asmara yang seolah bisa melihat isi kepalanya.

Asmara meraih pesawat kertas itu dari tangan Wira yang sudah lemas. Ia membuka lipatannya dengan hati-hati, menghaluskannya kembali di atas meja.

"Saya tidak sok tahu, Mas," jawab Asmara, kembali pada nada tenangnya. Ia menyusun kuitansi itu ke dalam map.

"Saya hanya melihat apa yang coba Mas sembunyikan di balik suara keras dan sikap begajulan itu. Silakan Mas berteriak sekeras apa pun, silakan Mas ganggu saya setiap hari. Tapi saya minta maaf, saya tidak akan memberi Mas kemarahan yang Mas cari."

Asmara berdiri dari kursinya, merapikan rok seragamnya. Sebelum melangkah pergi meninggalkan Wira sendirian di kelas, gadis itu menoleh untuk terakhir kalinya, memberikan senyuman paling tulus yang pernah Wira lihat.

"Karena yang Mas butuhkan saat ini bukan musuh untuk dilawan, tapi teman untuk mendengarkan. Permisi, Mas Wira."

Langkah kaki Asmara menjauh, keluar dari pintu kelas.

Wira tertinggal di sana, membeku di kursinya.

Ruang kelas yang kosong terasa semakin hampa, namun di dalam dada pemuda itu, terjadi badai dahsyat yang meluluhlantakkan segalanya.

Misinya mencari perhatian sukses besar, tapi bukan dalam bentuk yang ia harapkan. Bukannya meruntuhkan pertahanan Asmara, Wira justru merasa seluruh jiwanya baru saja ditelanjangi, diadili, dan dimaafkan dalam satu waktu.

Dan yang paling mengerikan bagi Wira adalah...

Ia menyadari bahwa gadis itu sepenuhnya benar.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, good rekomendasi yang suka bacaan teen romantis. natural nggak lebay romantis nya. dan yang paling wow nya setting di jogja.
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!