NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Penyelamat Malam Hari

Malam semakin larut saat mobil sedan hitam milik Darel membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Di dalam kabin mobil yang hening, hanya terdengar helaan napas Aira yang sesekali masih tertahan. Suasana begitu tenang, bertolak belakang dengan kekacauan di ballroom hotel beberapa saat lalu.

Aira duduk di kursi penumpang depan, masih terbungkus jas mewah milik Darel yang beraroma kayu manis dan musk pekat. Noda merah di bajunya tersembunyi rapi di balik jas itu. Jemari Aira yang dingin tak berhenti meremas ujung jas Darel.

Darel mengemudi dengan satu tangan, sementara sebelah tangannya yang lain mendadak terulur, menggenggam jemari Aira yang gemetar di atas pangkuan.

"Masih gemetar?" tanya Darel pelan. Suaranya sehalus beludru, begitu menenangkan di tengah kegelapan malam.

Aira menoleh pelan, menggeleng tipis. "Enggak terlalu, Kak... Makasih banyak ya. Kalau enggak ada Kak Darel, aku gak tahu harus gimana lagi di depan orang sebanyak itu."

Darel tersenyum manis, mempererat genggaman tangannya pada jemari Aira. Cengkeramannya terasa sangat erat—sedikit terlalu kuat untuk sekadar usapan hangat, seolah ia tidak berniat melepaskan Aira sama sekali.

"Kan saya sudah bilang, kamu gak perlu takut selama ada saya," bisik Darel tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. "Dunia ini jahat, Aira. Orang-orang seperti Caren, bahkan Vino... mereka cuma mau memanfaatkan ketakutan kamu."

Aira menunduk, kata-kata Darel meresap dalam ke dalam benaknya. Setiap kali nama Vino disebut, ada rasa nyeri yang tertinggal. Vino yang membiarkannya dipermalukan, Vino yang selalu membentaknya, dan Vino yang sama sekali tidak mengulurkan tangan malam ini.

Mobil Darel tidak mengarah ke rumah Pradipta. Pria itu justru membelokkan kemudinya menuju area bukit buatan di pinggiran kota yang sepi, tempat pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian bisa terlihat jelas.

Darel mematikan mesin mobil, menyisakan kegelapan dan keheningan yang sedikit mencekam.

"Kak... kita gak langsung pulang ke rumah?" tanya Aira canggung, matanya menatap sekeliling yang sepi.

"Saya mau kamu tenang dulu," jawab Darel pelan. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menghadap Aira sepenuhnya.

Di bawah remang cahaya lampu jalan, mata Darel menatap Aira dengan intensitas yang tidak biasa. Tidak ada lagi binar ramah yang kekanak-kanakan; yang ada hanyalah tatapan yang begitu dalam, pekat, dan mengunci.

Darel mengulurkan tangannya, menyibak helai rambut yang menutupi dahi Aira, lalu menyusuri garis pipi cewek itu dengan ibu jarinya. Sentuhannya sangat lembut, tetapi Aira merasakan sensasi dingin yang mendadak menjalar di sepanjang tulang belakangnya.

"Kamu cantik banget malam ini, Aira," gumam Darel, suaranya merendah hampir menyerupai bisikan. "Bahkan dengan baju kotor ini... kamu kelihatan sangat sempurna."

Aira menegang. "Kak Darel..."

"Kamu tahu, Aira?" potong Darel halus, menatap lurus ke dalam manik mata Aira tanpa berkedip. "Saat saya pertama kali lihat kamu di rumah Vino, saya tahu kamu itu milik saya. Bukan milik Vino, bukan jaminan utang siapa pun. Cuma saya yang paham cara memperlakukan kamu."

Sentuhan jari Darel berpindah ke leher Aira, mengusap bekas tengkuk Aira dengan tekanan yang sedikit lebih berat. Aira menahan napasnya. Ada rasa hangat yang membingungkan, tapi di saat yang sama, insting terdasarnya membisikkan rasa waswas yang asing. Posesivitas Darel terasa begitu pekat dan mengekang.

"Jangan pernah tinggalkan saya ya, Aira?" bisik Darel lagi. Senyuman tipis terukir di bibirnya, namun matanya tidak menyiratkan kehangatan sama sekali. "Kalau kamu nurut sama saya, saya bakal kasih semua yang kamu mau. Tapi kalau kamu coba-coba lari... saya gak bisa garansi apa yang bakal terjadi."

Aira terkunci oleh tatapan itu. Kepolosannya membuat Aira mengartikan peringatan itu sebagai bentuk rasa sayang dan perlindungan yang sangat besar.

"Aku... aku gak bakal kemana-mana, Kak," sahut Aira pelan, nyaris tak terdengar.

Darel tersenyum puas. Ia menepuk puncak kepala Aira dengan lembut, kembali menjadi figur pahlawan yang manis dalam sekejap mata.

"Anak pintar," puji Darel, lalu menyalakan kembali mesin mobilnya. "Sekarang kita pulang. Biar saya yang bicara sama Vino kalau dia berani ganggu kamu malam ini."

Saat mobil kembali melaju menuju rumah Pradipta, Aira menyenderkan kepalanya pada kaca jendela. Hatinya merasa terlindungi dari kekejaman Vino dan Caren, tetapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah benih kecemasan baru mulai tumbuh—kecemasan akan bayangan gelap Darel yang perlahan-lahan mulai mengurungnya tanpa jalan keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!