Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 18
Jexen kaluar dari rumah sakit untuk membeli makanan. Tapi dia tiba-tiba ingat akan sesuatu. Rinda tak punya pakaian lagi. Hari itu hanya ada 3 potong pakaian. Satu sudah dipakai untuk tidur, dan satu dipakainya sekarang.
"Aku sebaiknya beli pakaian untuk Rinda juga."
Jexen bergegas menuju ke pusat perbelanjaan. Sebuah toko khusus pakaian untuk wanita dimasuki oleh Jexen. Dia menunjuk beberapa pakaian dan langsung meminta untuk dibungkus. Tak hanya itu, Jexen juga meminta beberapa pakaian dalam dengan ukuran Rinda tentunya.
Setidaknya ada 6 paper bag yang sudah ada di tangan Jexen. Dia pun bergegas kembali ke rumah sakit. Makan siang milik Rinda juga sudah ada di tangan.
"Jex?"
Satu kata itu membuat Jexen menghentikan langkahnya yang sudah siap keluar dari pusat perbelanjaan. Dia membalikkan tubuhnya, dan melihat ke sumber suara.
"Ma? kenapa Mama di sini?"
Jexen mengerutkan alisnya melihat sang ibu yang ada di sana, sendirian. Sungguh tidak seperti biasanya. Biasanya ibunya tersebut akan datang bersama dengan ayah atau siapapun itu, asalkan tidak sendiri. Ayahnya yang cukup posesif tak membiarkan istrinya keluar sendiri begitu saja.
"Main saja, Mama bosen di rumah sendiri. Kamu sendiri sedang apa? Itu baju perempuan, buat Rinda? Katanya Rinda di rumah sakit?"
Jexen menganggukkan kepalanya cepat. Soal Rinda, baik Jeremy maupun Xeena memang sudah tahu.
"Ya sudah kalau begitu Mama ikut kamu ya, pengen ketemu sama Rinda."
"Jangan Ma, nanti Rinda tahu siapa aku."
Xeena hanya tertawa kecil melihat wajah putranya yang panik. Jexen sangat berbeda dengan Xerena. Putra bungsunya itu sellau serius. Dan hidupnya sangat monoton. Tapi sejak mengenal Rinda, Jexen menjadi pribadi yang sedikit berbeda.
"Ya sudah kalau begitu."
"Aku antar Mama dulu."
Xeena menggelengkan kepalanya. Dia menolak tawaran sang putra. Rinda pasti membutuhkan Jexen lebih dulu ketimbang dirinya saat ini.
"Tapi Ma," ucap Jexen.
"Tuh lihat Mama sama supir, jadi segeralah ke tempat Rinda. Makan siang itu nanti keburu dingin dan tidak enak," ucap Xeena. Dia mengusap lembut kepala putranya.
Rasanya baru kemarin Xeena menggendong Jexen, dan sekarang putranya sudah dewasa dan begitu tampan. Putra bungsunya itu sudah mulai mengenal wanita dan bahkan jatuh cinta.
"Mama benar tidak apa-apa. nanti aku digetok sama papa lagi."
"Tidak sayang, pergi lah Rinda sudah nunggu kamu."
Jexen akhirnya menyerah. Dia pun bergegas pergi tapi sebelumnya Jexen memeluk sang ibu dengan erat.
Jexen membawa mobilnya dengan lebih cepat. Dia lalu bergegas menuju ke kamar Rinda saat sampai di rumah sakit. Jexen tersenyum saat menemui Rinda sudah bangun dari tidurnya.
"Pas sekali. Aku bawa makanan buat Mbak. Terus ini juga ada beberapa pakaian. Mbak tidak ada pakaian lagi kan?"
"Thanks Jex. Nanti aku transfer uang gantinya."
Jexen hanya tersenyum. Dia tidak menolak tapi juga tidak menerimanya. Jexen paham betul siapa Rinda. Wanita itu tidak suka kalau ada penolakan, sehingga Jexen lebih memilih diam.
"Tapi Jex, untuk proposalnya bagaimana?"
Rinda beringsut, dia menegakkan punggungnya. Melihat hal tersebut, Jexen membantu Rinda. Meletakkan bantal di balik punggung Rinda sehingga dia bisa duduk sambil bersandar.
"Aman kok Mbak. Kalau seandainya besok kondisi Mbak kurang memungkinkan, mungkin aku bisa pergi ke sana sendiri."
Jexen dengan ekspresi ragu berkata demikian. Tentu saja itu bagian dari cara dia untuk membuat Rinda melihat bahwa dia sedikit penakut untuk menghadapi orang besar.
"Tidak, aku yang akan maju sendiri. Tuan Jeremy katanya adalah pria yang sedikit sulit untuk dihadapi. Jadi kamu tidak akan bisa menghadapi dia. Aku tetap akan maju untuk menemuinya."
Jexen mengerti dan dia suka sikap gigih yang dimiliki Rinda. Kesepakatan investasi itu, mau Rinda datang atau tidak, akan tetap diberikan.
Sebenarnya Jexen ingin berkata demikian, akan tetapi itu sama saja akan membongkar jati dirinya. Meski sebenarnya tak ada niat Jexen untuk melakukannya, tapi semua sudah terlanjur bejalan seperti ini. Membuka identitasnya sekarang, sama saja membuat semuanya menjadi kacau.
"Kalau begitu, setelah makan, tidurlah lagi Mbak. Aku akan selesaikan proposalnya."
Sementara itu, Gani yang ada di rumah ragu untuk pergi menemui Rinda. Ternyata dia tadi melihat Rinda yang digendong oleh Jexen menuju ke rumah sakit. Tapi Gani terlalu pengecut untuk mengejar mobil Jexen. Dia juga sampai sekarang masih ragu untuk pergi.
"Gani."
Suara Teani membuyarkan pikiran Gani. Dia juga sedikit tersentak.
Gani lalu menegakkan tubuhnya dan mengangkat wajahnya.
"Ada apa?"
"Gan, apa kamu masih tetep ingin melakukan pembatalan pernikahan?"
Gani menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh rasanya enggan sekali membahas hal tersebut sekarang, wajah Gani pun terlihat sekali tidak suka. Pria itu mengalihkan wajahnya, tak mau menatap ke arah Teani.
"Kenapa kamu seperti ini sekarang Gan. Padahal sebelumnya kita masih sangat mesra berdua. Kita saling memeluk dengan hangat. Tapi sekarang, kamu sepeti ini kepada ku. Kamu benar-benat melupakan semua yang sudah kita lalui?"
"STOP! Berhenti bicara yang tida-tidak Teani. Aku sedang enggan sekarang. Jangan paksa aku untuk berbicara."
Gani berucap keras. Tangannya terangkat, lalu dia memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut.
"Gani, kamu tidak melakukan ini padaku bukan karena Rinda kan?"
Semakin kesal saja Gani dibuat oleh Teani. Rahangnya mengeras dan urat lehernya menegang.
"Sudah ku bilang Rinda istriku. Dia kembali, jadi aku pun harus kembali padanya!" pekik Teani.
"Lantas bagaimana dengan ku hah! Selama ini kamu anggap aku apa?"
Teani tidak terima dengan apa yang Gani katakan. Teani tidak ingin pisah dengan Gani. Apapun caranya, dia akan terus bertahan.
"Cukup Tea, aku lelah. Aku akan kukuh pada pendirian ku untuk melalukan pembatalan pernikahan terhadap mu."
"Tidak! Kamu tidak bisa Gani. Kamu tidak bisa melakukan itu."
Teani semakin berani. Suaranya semakin keras dan penuh dengan keyakinan. Terang saja hal itu membuat Gani merasa curiga. Gani merasa Teani memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk mengancamnya.,
"Apa yang kamu rencanakan hmmm?"
"Apapun itu, akan membuatmu tidak akan bisa menceraikan aku. Lagi pula jangan sok suci Gani, kamu bersamaku jauh sebelum kalian kecelakaan. Kita sudah bersama di setengah tahun yang lalu. Apa kamu pikir Rinda akan mau kembali pada mu setelah mengetahui semuanya. Pikirkan itu Gani."
Degh!
TBC