Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Malam di Dalam Gua
Perjalanan menuju gua memakan waktu hampir dua jam, melewati jalan setapak yang curam dan licin karena embun malam. Anak-anak kecil digendong bergantian oleh santri-santri yang lebih besar, sementara yang lain membawa bekal dan barang-barang penting yang sempat diselamatkan.
Ketika akhirnya seluruh rombongan tiba di mulut gua, napas semua orang terengah-engah, tapi ada kelegaan yang terasa begitu mereka memasuki kegelapan yang aman itu. Gua tersebut cukup luas, dengan langit-langit tinggi yang meredam suara, dan beberapa ruang lebih kecil di bagian dalam yang bisa digunakan untuk memisahkan area putra dan putri.
"Semua sudah masuk?" tanya Ustaz Malik, menghitung dengan cepat sambil memeriksa setiap wajah yang lewat di depannya.
"Sudah, Ustaz," jawab beberapa santri senior yang membantu menghitung.
Kiai Wahid, yang berjalan di barisan terakhir bersama beberapa ustaz senior, memberi isyarat untuk memadamkan sebagian besar obor, menyisakan hanya beberapa yang diperlukan untuk penerangan minimal. "Kita harus berhati-hati. Cahaya bisa terlihat dari kejauhan."
Dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya temaram itu, seluruh rombongan mulai mengatur diri, mencari tempat duduk atau berbaring di antara bebatuan yang sudah dilapisi tikar seadanya yang sempat dibawa dari perkemahan.
Zaki duduk di dekat mulut gua, membantu mengawasi jika ada pergerakan mencurigakan dari luar, bersama beberapa santri senior lain yang ditugaskan bergantian berjaga sepanjang malam.
Dari kejauhan, suara gemuruh yang mereka dengar sebelumnya semakin jelas terdengar, kadang disertai kilatan cahaya samar di kaki langit, seperti kilat namun berbeda ritmenya, lebih teratur dan mengancam.
"Itu meriam," bisik salah satu santri senior yang pernah mendengar suara serupa sebelumnya, wajahnya pucat di bawah cahaya obor yang redup.
Ketegangan menyelimuti seluruh rombongan yang berjaga di dekat mulut gua. Beberapa anak kecil di bagian dalam mulai menangis ketakutan, ditenangkan oleh ibu-ibu dan santriwati yang lebih dewasa dengan bisikan lembut dan pelukan hangat.
Zaki menoleh ke arah dalam gua, mencoba mencari sosok Nafisah di antara kegelapan, dan menemukannya sedang duduk bersama beberapa anak kecil, salah satunya adalah Timin yang tampak ketakutan, memeluk lengan Nafisah erat-erat.
"Tidak apa-apa, Timin," dengar Zaki suara Nafisah, lembut tapi penuh ketegasan yang menenangkan. "Kita di sini aman. Allah menjaga kita semua."
Kata-kata itu, meski ditujukan untuk anak kecil, entah kenapa juga memberi ketenangan bagi Zaki sendiri yang mendengarnya dari kejauhan.
Malam itu berlangsung sangat panjang. Suara gemuruh sesekali terdengar lebih dekat, sesekali menjauh, seperti pertempuran yang bergerak tidak menentu di kejauhan. Tidak ada yang benar-benar bisa tidur nyenyak, meski tubuh-tubuh yang lelah sesekali terlelap sejenak karena kelelahan yang tak tertahankan.
Menjelang tengah malam, Zaki bergantian jaga dengan santri lain, dan ia memutuskan untuk berjalan sebentar ke bagian dalam gua, memeriksa keadaan, meski sebenarnya hatinya juga ingin memastikan Nafisah dan yang lain baik-baik saja.
Ia menemukan Bu Nyai terjaga, duduk bersandar pada dinding gua, matanya menatap kegelapan dengan tenang meski jelas ada kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya.
"Bu Nyai," sapa Zaki pelan, "apakah semua baik-baik saja di sini?"
"Alhamdulillah, Nak Zaki. Semua tenang, meski beberapa anak masih sulit tidur." Bu Nyai menatapnya dengan mata yang teduh meski lelah. "Bagaimana keadaan di luar?"
"Masih ada suara-suara dari kejauhan, Bu Nyai. Tapi belum ada tanda-tanda mereka mendekat ke arah sini."
Bu Nyai mengangguk pelan, lalu menatap Zaki dengan tatapan yang lebih dalam, seperti seorang ibu yang memperhatikan anaknya sendiri. "Nak Zaki, terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan selama ini. Sebagai kurir, sebagai santri yang bisa diandalkan. Kiai dan saya sangat menghargainya."
"Itu kewajiban saya, Bu Nyai."
"Bukan hanya kewajiban, Nak. Saya melihat ketulusan di setiap yang kamu kerjakan." Bu Nyai tersenyum tipis dalam cahaya temaram, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut, "Dan saya juga melihat ketulusan yang sama dalam caramu menjaga jarak dengan Nafisah selama ini, meski hati kalian jelas berbicara hal yang berbeda."
Zaki merasa wajahnya memanas, meski dalam gelap tidak ada yang bisa melihatnya dengan jelas. "Bu Nyai..."
"Tidak apa-apa, Nak. Saya tidak akan menghakimi." Bu Nyai menepuk tangannya lembut. "Zaman ini penuh ujian, untuk semua orang, dalam berbagai bentuk. Yang penting, kalian menjaga kejujuran dan kesabaran, seperti yang sudah kalian tunjukkan selama ini. Allah melihat usaha itu, bagaimanapun hasilnya nanti."
Kata-kata Bu Nyai menetap dalam di dada Zaki, memberikan semacam ketenangan di tengah malam yang penuh ketidakpastian itu. Ia berpamitan dengan hormat, lalu melanjutkan pemeriksaannya ke sudut lain gua, sebelum akhirnya kembali ke posisi jaganya di dekat mulut gua.
Menjelang subuh, suara gemuruh yang sejak malam terdengar mulai mereda, digantikan oleh kesunyian yang justru terasa lebih mencekam, seperti ketenangan sebelum sesuatu yang lebih besar terjadi.
Kiai Wahid, yang sejak awal terjaga penuh memimpin doa-doa singkat sepanjang malam, akhirnya mengumpulkan seluruh ustaz dan santri senior untuk evaluasi singkat menjelang subuh.
"Alhamdulillah, sepertinya pertempuran semalam tidak mendekat ke arah kita," katanya, suaranya lega meski masih menyimpan kewaspadaan. "Tapi kita tidak boleh lengah. Kita akan tetap di sini sampai ada kepastian keadaan sudah aman."
Zaki, yang ikut dalam evaluasi singkat itu, merasakan campuran antara lega dan lelah yang mendalam. Malam pertama di dalam gua telah berlalu, tapi ia tahu, ini mungkin baru permulaan dari malam-malam panjang yang akan mereka hadapi bersama, di tengah ketidakpastian perang yang terus mengintai dari kejauhan, namun juga, di tengah kebersamaan dan kepedulian yang justru semakin erat terjalin di antara mereka semua yang berlindung dalam gelapnya gua itu.
Ketika azan subuh berkumandang pelan dari salah satu ustaz yang mengumandangkannya dengan suara tertahan, seluruh rombongan mulai bergerak mempersiapkan diri untuk shalat berjamaah, sebuah rutinitas yang, di tengah segala kekacauan, tetap menjadi jangkar yang mengingatkan mereka semua bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang selalu menyertai, apa pun yang terjadi di dunia yang sedang bergejolak ini.