"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 SERAGAM KUSUT DI KELAS BARU
Kejadian memalukan di pelataran Alun-alun Utara kemarin benar-benar membuat Wira tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan gadis berambut lurus dengan tatapan setenang telaga itu terus berputar-putar di kepalanya.
Wira, sang penguasa tongkrongan sekolah di Bogor, pemuda yang tak pernah sudi menundukkan kepala pada siapa pun, kemarin harus rela membungkuk memungut sampah hanya karena sepasang mata teduh dan teguran selembut sutra.
Bagi Wira, itu adalah sebuah kekalahan telak. Harga dirinya terkoyak habis-habisan.
Karena itulah, pagi ini ia bertekad untuk merebut kembali takhtanya. Ia harus membuktikan pada dirinya sendiri—dan pada siapa pun di kota ini—bahwa ia bukanlah pemuda lemah yang bisa dijinakkan dengan petuah-petuah halus.
Begitu mobil Kijang kapsul Pak Tris menghilang di tikungan jalan depan gerbang SMA Budi Bangsa, Wira segera melancarkan aksinya.
Ia tidak membolos seperti rencananya kemarin. Ia melangkah tegap melewati gerbang besi bercat hijau tua itu. Namun, tepat di balik tembok pos satpam yang tak terlihat oleh guru piket, tangan Wira bergerak cepat merombak penampilannya.
Ia menarik kasar kemeja putihnya keluar dari dalam celana abu-abunya. Tiga kancing teratas ia buka lebar-lebar, sengaja memamerkan kaus oblong hitam favoritnya. Dasinya ia tarik hingga simpulnya melorot jauh ke dada, menggantung asal-asalan layaknya kalung yang putus. Lengan kemejanya ia gulung sembarangan hingga sebatas siku. Sebagai sentuhan akhir, ia mengacak-acak rambut ikalnya agar terlihat messy dan berantakan.
"Ini baru gue..." gumamnya pelan sambil menyunggingkan senyum miring yang penuh percaya diri.
Ia melangkah menyusuri koridor utama sekolah dengan gaya berjalan yang sedikit diayun, kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Dagunya terangkat angkuh. Ia merasa seperti bintang rock yang sedang berjalan di atas karpet merah.
Suasana SMA Budi Bangsa pagi itu sangat kontras dengan kehadirannya. Koridor sekolah tampak bersih mengkilap tanpa setitik pun sampah plastik. Para siswa dan siswi berjalan dengan tertib, seragam mereka disetrika licin, kemeja dimasukkan rapi lengkap dengan sabuk hitam berlogo sekolah. Beberapa murid yang sedang mengobrol di depan kelas menggunakan volume suara yang begitu sopan hingga nyaris terdengar seperti bisikan di telinga Wira.
Kehadiran Wira yang urakan tentu saja langsung menyedot perhatian.
Bagaikan setetes tinta hitam yang jatuh di atas selembar kanvas putih, Wira menjadi pusat anomali pagi ini.
Mata-mata mulai melirik ke arahnya. Terdengar bisik-bisik tertahan dari sekelompok siswi perempuan yang sedang berdiri di depan mading sekolah.
Wira, dengan tingkat kepedeannya yang menyentuh langit, justru menikmati tatapan-tatapan itu. Ia berasumsi bahwa gadis-gadis itu terpesona oleh ketampanannya dan gaya pemberontaknya yang macho.
Saat ia melewati sekelompok siswi tersebut, Wira bahkan menyempatkan diri memberikan kedipan sebelah mata, membuat mereka gelagapan dan buru-buru memalingkan wajah sambil menahan tawa yang entah karena kagum atau justru geli melihat tingkahnya yang berlebihan.
"Gampang banget bikin cewek-cewek culun di sini salah tingkah, hehehe..." batin Wira pongah. Kesombongannya kembali terisi penuh.
Langkahnya akhirnya berhenti di depan ruang Tata Usaha. Setelah melapor dan diomeli selama lima belas menit oleh guru Bimbingan Konseling karena penampilannya—omelan yang hanya ditanggapi Wira dengan anggukan malas dan janji palsu akan merapikannya nanti—ia akhirnya diantar oleh wali kelas barunya, seorang pria berkacamata tebal bernama Pak Budi Sutiyoso, menuju Kelas XI IPS 2.
"Ingat, Wira... Ini sekolah yang menjunjung tinggi tata krama... Bapak harap kamu bisa segera menyesuaikan diri, dan tidak membawa kebiasaan buruk dari sekolah lamamu," nasihat Pak Budi saat mereka berjalan beriringan di koridor lantai dua.
"Siap, Pak! Aman itu mah... Saya gampang adaptasi kok," jawab Wira enteng, sama sekali tidak berniat memperbaiki kemejanya yang masih menjuntai keluar.
Pak Budi hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan murid barunya ini.
Beliau kemudian berhenti di depan sebuah pintu kelas yang terbuka separuh, mengetuknya pelan, lalu melangkah masuk. Wira mengekor di belakangnya dengan langkah santai yang diseret.
Begitu Pak Budi masuk, suasana kelas yang tadinya diwarnai obrolan ringan seketika senyap.
Tiga puluh pasang mata serempak mengarah ke depan.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Budi, berdiri di depan meja guru.
"Selamat pagi, Pak," seisi kelas terdengar menjawab dengan begitu rapi dan teratur.
"Pagi ini, kelas kita kedatangan teman baru dari Bogor. Silakan, perkenalkan dirimu," ucap Pak Budi, mundur selangkah untuk memberikan panggung utama kepada Wira.
Wira melangkah ke tengah ruang kelas.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
Matanya menyapu wajah-wajah murid XI IPS 2 yang menatapnya dengan berbagai ekspresi—ada yang penasaran, ada yang takjub melihat betapa berantakannya seragam Wira, dan ada pula siswa laki-laki yang memandangnya dengan raut wajah defensif.
Dengan senyum miring andalannya, Wira berdeham pelan.
"Halo semua," sapanya santai, suaranya sengaja ia buat sedikit diberatkan agar terdengar lebih karismatik. "Kenalin, nama gue Wira Aji Pratama. Pindahan dari Bogor. Salam kenal buat semuanya. Nggak usah kaku-kaku amat kalau sama gue, santai aja. Kalau ada yang mau nongkrong atau main bareng balik sekolah, ajak-ajak gue aja. Thanks."
Hening.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorakan heboh seperti yang biasa ia terima setiap kali ia beraksi di sekolah lamanya. Seisi kelas XI IPS 2 hanya terdiam kaku. Penggunaan kata ganti "gue" dan gaya bahasanya yang kelewat santai di depan seorang guru benar-benar merupakan budaya asing di ruangan itu. Beberapa murid saling lirik dengan canggung.
Wira sedikit mengernyitkan dahi di dalam hati, namun ia dengan cepat menguasai keadaan. Ia tidak peduli jika mereka menganggapnya aneh. Ia adalah raja di dunianya sendiri.
"Baik, Wira. Terima kasih untuk perkenalannya yang... sangat santai," ucap Pak Budi, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa canggung. "Silakan kamu cari tempat duduk yang kosong. Sepertinya ada satu kursi kosong di barisan ketiga dari depan, di dekat jendela."
"Oke, Pak," jawab Wira singkat.
Ia mulai melangkah menyusuri lorong antar meja. Saat itulah, kejadian yang tidak pernah ia prediksi dalam skenario terhebatnya sekalipun, terjadi.
Matanya yang sedang mencari kursi kosong tiba-tiba terpaku pada satu titik.
Di barisan ketiga, tepat di sebelah kursi kosong yang ditunjuk oleh Pak Budi, duduk seorang siswi yang sedari tadi terhalang oleh tubuh siswa tinggi di depannya. Siswi itu duduk dengan postur tegak yang sangat anggun. Rambut hitam lurusnya diikat separuh ke belakang, membiarkan sisanya tergerai rapi membingkai wajah kuning langsatnya. Seragam putihnya tersetrika sangat licin, dasinya terpasang sempurna, dan di dada kirinya tersemat lencana kepengurusan OSIS.
Gadis itu sedang menatap Wira.
Bukan dengan tatapan kagum seperti siswi-siswi di koridor tadi, dan bukan pula dengan tatapan menghakimi. Sepasang mata bulat yang teduh itu menatap Wira dengan ketenangan yang membekukan darah. Sebuah senyum tipis—senyum maklum yang sama persis dengan yang dilihat Wira kemarin di pelataran Alun-alun—kini tersungging di bibirnya.
Itu Asmara!
Sang Putri Penyelamat sekaligus Penakluk dari Alun-alun Utara kemarin siang, kini duduk hanya berjarak satu meter dari kursi yang harus Wira tempati.
Dada Wira terasa seperti dihantam palu godam tak kasat mata. Langkah kakinya yang tadinya tegap dan berayun santai mendadak tersendat. Senyum miring penuh kepedean yang sejak tadi ia pasang di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh raut terkejut yang gagal ia sembunyikan. Mulutnya sedikit terbuka, kehabisan kata-kata.
Dunia seolah runtuh menimpa kesombongannya. Dari ratusan sekolah di Jogja, dari puluhan kelas di SMA ini, bagaimana mungkin takdir melemparnya tepat ke samping gadis yang paling ingin ia hindari—gadis yang telah menyaksikan detik-detik paling memalukan saat egonya dihancurkan menjadi debu kemarin?
Asmara tidak memalingkan wajahnya. Saat Wira dengan langkah kaku akhirnya tiba di kursi kosong di sebelahnya dan menjatuhkan tas ranselnya dengan canggung, gadis itu justru sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Wira.
Wira menelan ludah. Ia berusaha keras memasang kembali topeng angkuhnya, menatap Asmara dengan gaya sok cuek seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Ia berharap gadis itu akan diam dan membiarkannya mempertahankan sisa-sisa wibawanya di depan teman-teman kelas yang lain.
Namun, harapan Wira menguap dalam hitungan detik.
Dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, namun mengusung ketegasan yang tak terbantahkan, Asmara membuka suara.
"Selamat pagi, Mas Wira," sapa Asmara lembut, seulas senyum tipis masih setia menghiasi wajahnya. Matanya kemudian melirik turun, menyapu kemeja Wira yang terbuka lebar dan menjuntai keluar dari celana. "Senang bisa bertemu lagi. Tapi sepertinya, seragam Mas Wira pagi ini jauh lebih berantakan daripada sampah plastik di Alun-alun kemarin."
Mendengar sindiran halus yang menusuk tepat ke ulu hati itu, Wira langsung mati kutu. Di hari pertamanya menantang dunia, ia kembali takluk pada orang yang sama, di meja yang akan menjadi saksi bisu hari-harinya ke depan. Permainan baru saja dimulai, dan Wira tahu, ia sudah tertinggal satu langkah dari Asmara.