NovelToon NovelToon
Putri Mafia

Putri Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.

Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.

Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.

Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.

Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.

Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?

Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Tengah Hujan

Carolina Gomes Santos berusia dua puluh empat tahun dan sejak kecil sudah belajar bahwa sebagian orang harus dewasa sebelum waktunya. Mungkin karena itu, di balik penampilannya yang rapuh dan sikapnya yang lembut pada orang-orang yang ia sayangi, ada kekuatan dalam dirinya yang sulit dikenali orang pada pertemuan pertama. Carolina manis, peka, dan sopan, tetapi juga memiliki tekad yang hampir mustahil dipatahkan. Begitu memutuskan menempuh suatu jalan, jarang ada yang bisa membujuknya mundur.

Berkulit cokelat, berambut keriting yang tebal, berbibir penuh, dan bermata sipit lonjong, ia menarik perhatian bahkan ketika tak bermaksud demikian. Sahabat-sahabat dekatnya memanggilnya Carol, panggilan yang masih dipakai Catarina sama alaminya seperti saat mereka masih remaja.

Keduanya sudah saling kenal lebih dari sepuluh tahun.

Catarina

Pertemuan pertama mereka terjadi di sebuah rumah sakit, ketika keduanya masih gadis kecil dan ibu mereka sama-sama berjuang melawan sakit. Carolina baru empat belas tahun ketika kehilangan Maria Cecília Gomes Santos, ibunya sekaligus satu-satunya keluarga yang ia punya.

Ia tak pernah mengenal ayahnya.

Sepanjang masa kecilnya, keluarganya hanya mereka berdua. Maria Cecília bekerja, mengurus anaknya, dan melakukan segala yang ia bisa agar putrinya hidup layak, bahkan ketika kesehatannya sendiri mulai memburuk. Penyakit autoimun itu berkembang cepat, dan setelah berbulan-bulan menjalani pengobatan, konsultasi, dan rawat inap, Carolina harus menghadapi kehilangan yang paling ia takuti.

Beberapa lama setelahnya, rumah itu terasa terlalu luas untuk satu orang.

Barang-barang Maria Cecília masih di tempat yang sama, pakaiannya masih tersimpan, dan beberapa foto masih menghiasi dinding. Tetapi kehadiran yang membuat tempat itu menjadi rumah telah lenyap. Carolina harus belajar hidup dengan ketiadaan itu, sambil masih mencoba memahami bagaimana caranya terus hidup tanpa ibunya.

Dua bulan kemudian, Catarina pun kehilangan ibunya.

Kedua gadis itu, yang persahabatannya sudah terjalin selama ibu mereka dirawat di rumah sakit, menjadi tak terpisahkan setelah kehilangan itu. Antônio Figueiredo, ayah Catarina, menolak membiarkan salah satu dari mereka menghadapi masa itu sendirian. Ia membawa Carolina ke rumahnya dan selama bertahun-tahun membesarkan mereka berdua seperti saudari kandung.

Begitulah Carolina mendapat keluarga, saat ia mengira keluarganya sudah hilang.

Tahun-tahun berikutnya tidak mudah, tetapi membawa tanggung jawab, mimpi, dan pencapaian kecil yang membantu mereka terus melangkah. Namun ketika Carolina berusia dua puluh tahun, satu kehilangan lagi kembali mengubah arah hidup mereka.

Antônio meninggal tertabrak mobil.

Saat itulah Carolina dan Catarina untuk pertama kalinya sadar bahwa bertahan di tempat yang sama mungkin berarti menghabiskan sisa hidup dikelilingi kenangan akan segala yang telah hilang.

Mereka menjual barang-barang yang tak seberapa, mengumpulkan tabungan yang bisa disisihkan, dan memutuskan meninggalkan Brasil.

Madrid dipilih nyaris tanpa rencana.

Tak satu pun dari mereka mengenal kota itu dengan baik, tetapi keduanya sudah belajar bahasa Spanyol, mencari-cari peluang, dan ingin memulai hidup baru. Mereka berhasil menyewa sebuah rumah kecil di kawasan sederhana yang tenang, cukup dekat ke pusat kota untuk memudahkan akses ke tempat kerja dan kampus.

Mereka juga mendapat pekerjaan di sebuah kafe yang hanya dua blok dari rumah.

Keduanya tekun belajar, dan setelah berbulan-bulan mengirim pendaftaran, dokumen, dan permohonan beasiswa, mereka diterima di jurusan Teknologi Informasi dengan beasiswa penuh. Kuliahnya berat, pekerjaan menyita sebagian besar waktu, dan uang tetap harus dihitung cermat, tetapi tak satu pun dari mereka mengeluh.

Carolina menyukai tantangan.

Mungkin karena semua yang pernah ia lalui, ia terbiasa tidak berharap hidup akan memudahkan jalannya. Ia lebih suka menyelesaikan masalahnya sendiri dan terus melangkah, bahkan ketika sudah terlalu lelah untuk itu.

Namun Jumat itu, lelah menekan pundaknya.

Karena kuliah diliburkan, Carolina setuju mengambil shift ganda di kafe untuk menggantikan rekan yang sakit. Ia bekerja hampir seharian, dan ketika akhirnya melepas celemek, tubuhnya mengeluh akibat berjam-jam berdiri.

Catarina mengirim beberapa pesan sepanjang hari, menanyakan kapan ia pulang. Carolina hanya membalas bahwa ia sedang menyelesaikan shift.

Begitu keluar dari kafe, ia sadar hujan sudah jauh lebih deras.

"Sempurna," gumamnya sambil menengadah ke langit yang kelabu.

Ia mengambil ponsel, memesan mobil lewat aplikasi, lalu menunggu di trotoar. Saat itulah matanya menangkap seorang pria di seberang jalan.

Pria itu tinggi.

Sangat tinggi.

Carolina tak bisa menjelaskan apa persisnya yang membangkitkan rasa penasarannya. Mungkin cara pria itu berdiri di depan pintu samping klub malam, mungkin sikapnya yang serius, atau sekadar kenyataan bahwa ia tampak benar-benar kebingungan menghadapi benda biasa seperti payung.

Satu tangan pria itu memegang gagang, sementara tangan satunya berusaha menggerakkan mekanismenya, tetapi tak ada hasil.

Ia mencoba lagi.

Carolina menggigit bibir pelan-pelan untuk menahan tawa.

Pemandangan itu membangkitkan kenangan lama. Saat remaja, ia juga cukup ceroboh. Ia menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan bisa mengubah tugas kecil menjadi kekacauan yang membuat Catarina tertawa berpuluh-puluh menit.

Antônio biasa bilang ia perlu belajar lebih memperhatikan apa yang sedang dikerjakan.

Karena itulah ia memasukkan Carolina dan Catarina ke kelas bela diri.

Menurutnya, itu akan membantu mereka mengembangkan disiplin, konsentrasi, dan refleks.

Berhasilkah? Ya. Carolina masih sesekali melakukan kecerobohan, tetapi ia belajar tetap tenang saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!