NovelToon NovelToon
Dari Benci Jadi Rindu

Dari Benci Jadi Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: Aulia Cemmzz

Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas Yang Mengubah Segalanya

Sore itu langit terlihat sedikit mendung, seakan mau turun hujan tapi tertahan. Laras berjalan keluar gerbang sekolah sambil membawa buku-buku tebal di pelukannya. Dia berencana langsung pulang dan menyelesaikan tugas perpustakaan yang belum selesai. Tapi baru beberapa langkah, suara Dika memanggilnya dari belakang.

"Laras! Tunggu sebentar dong!"

Laras berhenti dan menoleh. Dika berlari kecil menyusul, di belakangnya terlihat Arka berjalan santai dengan wajah datar seperti biasa.

"Ada apa, Dik?" tanya Laras saat mereka sampai di hadapannya.

"Begini, Bu Ratna pesan supaya tugas makalah itu kita kumpulkan lebih cepat dari jadwal. Dia mau periksa dulu sebelum dipresentasikan. Jadi... boleh nggak kita kerjakan bareng sore ini? Sekarang juga?" tanya Dika sambil melirik Arka yang terlihat tidak antusias sama sekali.

Laras menatap mereka bergantian. "Sekarang? Di mana?"

"Di perpustakaan sekolah aja. Masih buka kok sampai jam empat. Atau kalau lu sibuk, di rumahku juga boleh," tawar Dika lagi.

"Di perpustakaan saja. Lebih netral," jawab Arka tiba-tiba, suaranya terdengar dingin tapi tegas.

Laras mengangguk setuju. "Oke, ayo. Tapi gue cuma sampai jam empat ya, gue harus pulang."

Mereka bertiga berjalan menuju perpustakaan. Di sana lumayan sepi, hanya ada beberapa siswa lain di sudut ruangan. Mereka memilih meja di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman sekolah. Angin sore berhembus pelan masuk membawa aroma tanah basah.

"Oke, gue bikin kerangkanya. Laras, lu cari sumber buku dan tulis isi bagian pertama. Arka, lu susun kesimpulan dan tambah data pendukungnya. Dik, lu perbaiki tata bahasanya dan rapikan jadi satu berkas," arah Laras tenang.

Arka mendengus pelan. "Lu suka banget ngatur ya? Padahal gue yang paling tahu materi ini."

"Bukan ngatur, tapi kalau nggak ada pembagian yang jelas, kita bakal buang waktu. Lu mau itu kan?" balas Laras tanpa menoleh dari buku yang sedang dia buka.

Arka terdiam. Dia duduk di seberang Laras sambil membuka bukunya dengan kasar. Sepuluh menit berlalu tanpa suara. Hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik dan pena yang menari di atas kertas.

Tiba-tiba Laras menyadap bukunya ke meja pelan. "Ini bagian ini salah konsepnya, Arka. Lu pakai teori yang nggak sesuai dengan pertanyaan makalah kita."

Arka mendongak, matanya membelalak. "Salah? Lu yang salah paham, Laras. Ini teori standar yang dipakai di buku paket juga. Lu cek dulu baru bilang."

"Gue sudah cek. Buku yang lu pakai edisi lama, ada revisi di edisi terbarunya. Lu lihat ini," Laras mendorong bukunya ke tengah meja.

Arka membuka halaman itu dengan tidak percaya. Dia membaca baris itu berulang kali. Wajahnya perlahan berubah merah karena malu tapi dia berusaha tetap tenang. "Oke, mungkin lu benar. Tapi itu bukan berarti gue salah, cuma belum tahu saja."

Laras tersenyum tipis. "Gue nggak mau menang atau kalah, Arka. Gue cuma mau tugas ini benar dan nilai kita bagus. Itu saja."

Arka menatapnya lama. Dia belum pernah melihat seseorang yang begitu tenang saat dia ditegur. Biasanya orang akan takut atau marah saat berdebat dengannya. Tapi Laras? Dia seakan-akan tidak terpengaruh sama sekali.

"Lu memang aneh ya, Laras," gumam Arka pelan, hampir tak terdengar.

Laras mengangkat alisnya. "Aneh gimana?"

"Nggak apa-apa. Lanjut kerjain aja," Arka buru-buru kembali menunduk menyembunyikan rasa canggungnya.

Satu jam berlalu tanpa mereka sadari. Dika yang dari tadi sibuk mengetik di ponselnya tiba-tiba menengadah sambil menguap. "Wah, ternyata kalau nggak berantem, kerja bareng kalian lumayan cepat juga ya. Hebat deh gue yang jadi penengah paling sukses sedunia."

Laras dan Arka saling bertatapan sekilas lalu sama-sama buru-buru membuang muka ke arah yang berbeda.

"Hati-hati di jalan ya. Sampai ketemu besok," pamit Laras sambil merapikan bukunya.

Arka melihat punggung Laras yang berjalan menjauh menuju gerbang. Dia menyadari satu hal hari ini Laras sebenarnya tidak menyebalkan. Dia hanya... berbeda. Dan entah kenapa, perbedaan itu justru membuat Arka penasaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!