NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Kecil di Ruang Perawatan

Gelap itu tidak sepenuhnya gelap.

Aina merasakan tubuhnya terangkat. Sepasang lengan yang ia kenal betul menggendongnya, berlari melintasi halaman kantor camat. Bau minyak rambut yang sama dengan bantal di ranjang mereka.

"Bertahan, Na. Bertahan," suara Raka terengah di dekat telinganya.

Pintu mobil terbuka, Jok belakang yang dingin. Rini duduk di sampingnya, memangku kepalanya sambil terus membaca doa dengan suara bergetar. Dari jendela yang setengah terbuka, Aina sempat melihat sosok berkebaya ungu berdiri mematung di bawah pohon ketapang. Lale Rukmini tidak bergerak, tidak berteriak. Tangannya yang tadi menampar Raka kini menutup mulutnya sendiri.

Mesin mobil menderu. Hamdan duduk di kursi depan sembari menelepon seseorang. "Ibu, langsung ke RSUD Praya. Aina pingsan, Jangan panik!"

Setelah itu mobil itu pun langsung dikemudikan dengan cepat. Jalan dari Sengkol ke Praya berkelok-kelok, Setiap guncangan terasa seperti pisau di perut bawahnya. Aina mencoba membuka mata, tetapi kelopaknya terlalu berat.

Suara terakhir yang ia tangkap adalah Raka yang memukul setir dan berbisik berulang-ulang, "Jangan ambil dia Ya Allah, jangan ambil dia. Ambil aku saja."

Lalu semuanya benar-benar sunyi.

Beberapa saat kemudian mobil yang dikemudikan itu telah sampai di depan halaman RSUD Praya. Sesampainya disana, Aina langsung di tangani oleh tim medis rumah sakit itu. Yang pertama kali Aina rasakan setelah berada dirumah sakit itu adalah dingin. Udara dingin dari pendingin ruangan, seprai tipis yang dingin, dan sesuatu yang dingin menempel di punggung tangannya kemudian bau. Bau obat dan karbol yang tajam.

Ia membuka mata perlahan. Langit-langit putih dengan lampu neon panjang. Tirai hijau pucat di sekeliling ranjang. Sebuah selang infus menjuntai dari tiang besi di sampingnya, menetes pelan ke dalam pembuluh darahnya.

Didalam ruang perawatan Rumah sakit.

Aina kembali mengingat semuanya sekaligus, seperti ombak yang menghantam. Halaman kantor camat, Tamparan Lale Rukmini, Nyeri tajam di perutnya,Suara Raka yang berteriak Seolah semua itu takkan bisa lepas dari pikiran Aina.

Tangan Aina langsung meraba perutnya. Panik menyergap dadanya.

"Anakku…"

"Sudah, Nak. Sudah. Jangan banyak bergerak dulu."

Terdengar suara yang lemah lembut selembut la kapas, Ternyata suara itu berasal dari Ibunya. Aina menoleh, Ibunya duduk di kursi plastik di samping ranjang, mata sembap, kerudung cokelat lusuhnya miring. Tangan keriputnya menggenggam tangan Aina yang tidak diinfus.

"Ibu… bayiku?"

Ibu-nya tidak langsung menjawab. Ia hanya mengusap kening Aina, dan untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Aina menahan napas.

"Kata dokter, kita tunggu hasil pemeriksaan," jawab ibunya akhirnya dengan lembut. "Kamu berdoa saja dulu."

Beberapa jam kemudian terlihat Dokter kandungan RSUD Praya berjalan ke Arah sebuah brangkar tempat Aina berbaring. Seorang perempuan muda berkerudung putih dengan papan nama bertuliskan dr. Baiq Nurhasanah, Sp.OG. Di belakangnya, seorang perawat mendorong alat USG beroda.

"Ibu Aina, bagaimana perasaannya sekarang?"

"Takut, Dok," jawab Aina jujur.

Dokter itu tersenyum menenangkan. "Wajar, Bu. Kita lihat sama-sama, ya."

Gel dingin dioleskan ke perut Aina. Alat itu ditekan perlahan, bergerak pelan dari satu sisi ke sisi lain. Aina menatap layar hitam putih di samping ranjang tanpa berkedip. Ia tidak mengerti apa yang ia lihat. Hanya bayangan abu-abu dan hitam yang berputar.

Lalu dokter berhenti menggerakkan alatnya. Ia menekan sebuah tombol.

Suara itu memenuhi ruangan.

Dug-dug. Dug-dug. Dug-dug.

Cepat. Kecil. Tetapi kuat dan teratur.

"Itu detak jantungnya Bu," kata dokter pelan. "Janinnya masih ada. Masih bertahan."

Aina menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras, tetapi kali ini bukan air mata luka. Di sampingnya, Ibu-nya terisak sambil berulang kali mengucapkan syukur.

Dug-dug. Dug-dug.

Sepuluh tahun Aina menunggu. Akhirnya suara sekecil itu terasa lebih besar dari seluruh dunia.

"Tapi Ibu harus benar-benar hati-hati," lanjut dokter, nadanya berubah serius. "Ini kehamilan yang perlu dijaga. Ibu harus banyak istirahat total beberapa minggu ke depan. Tidak boleh capek, tidak boleh stres berat. Kalau ada keluhan nyeri atau flek lagi, langsung ke rumah sakit."

"Stres," ulang Ibu-nya pahit. "Bagaimana anak saya tidak stres, Dok, kalau…"

Aina meremas tangan ibunya, menghentikan kalimat itu.

Dokter menatap mereka berdua dengan pandangan mengerti. "Saya tidak tahu apa yang sedang Ibu hadapi. Tapi untuk sementara, biarkan orang lain yang mengurus masalahnya. Tugas Ibu sekarang hanya satu yaitu menjaga yang ada di dalam sini."

Lalu sore harinya, Hamdan masuk ke ruangan dengan wajah lelah. Ia membawa sekantong jeruk dan sebotol air mineral.

"Bagaimana keponakanku?" tanyanya sambil tersenyum tipis.

"Masih bertahan Kak, Kuat seperti ibunya, kata dokter."

Hamdan tertawa kecil, lalu duduk di ujung ranjang. Senyumnya pelan-pelan memudar.

"Raka ada di luar," katanya. "Sejak siang. Dia yang menggendongmu ke mobil dan menyetir sampai ke sini. Dia belum pergi sejak itu."

Aina terdiam.

"Dia tidak berani masuk. Katanya, dia tidak mau kamu terkejut melihatnya dan malah tambah sakit." Hamdan menggeleng pelan. "Aku tidak akan membelanya, Dik. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, aku melihat dia bersikap seperti laki-laki."

"Lalu dimana Ibu Rukmini?"

"Dia tidak ikut ke sini. Kata Rini, dia berdiri lama di halaman kantor setelah kita pergi, tidak bicara dengan siapa pun. Lelaki berbatik yang datang bersamanya itu ternyata kenalannya dari kabupaten. Begitu tahu kamu sudah melapor lebih dulu dan Raka sudah memberi keterangan, dia langsung pamit. Katanya, kalau ada laporan, harus lewat jalur resmi. Dia tidak mau ikut campur urusan keluarga." Hamdan menarik napas. "Pak Camat juga menelepon. Laporanmu dan keterangan Raka sudah dikirim ke kabupaten tadi sore. Beliau bilang kamu tidak perlu memikirkan apa-apa dulu. Kalau ada panggilan pemeriksaan, beliau sendiri yang akan minta ditunda sampai kamu sehat."

Aina menatap langit-langit, Perasaanya saat itu bercampur aduk. Ada perasaan Lega, Ada juga perasaan takut, marah, dan sedih. Semuanya bercampur menjadi satu, terlalu berat untuk dipilah.

"Kak," ucapnya pelan. "Bilang ke Raka, dia boleh masuk. Sebentar saja."

Karena Aina yang memintanya, Hamdan pun segera memberitahukan pada Raka.

Raka pun masuk dengan langkah sangat pelan, seolah lantai rumah sakit itu terbuat dari kaca. Ia berhenti di ujung ranjang, tidak berani mendekat. Kaus abu-abunya masih kotor, ada noda debu di lututnya.

"Na…"

"Dokter bilang dia masih ada," kata Aina sebelum Raka sempat berkata apa-apa lagi. "Jantungnya berdetak."

Raka memejamkan mata. Bahunya bergetar. Ia menunduk lama, lalu mengusap wajahnya dengan punggung tangan.

"Alhamdulillah," bisiknya. "Alhamdulillah."

Aina memperhatikannya. Ia mencoba mencari kemarahan di dalam dirinya, kemarahan yang beberapa hari ini membakar. Tetapi yang ia temukan hanya kelelahan. Tidak ada sesuatu yang lain, yang belum bisa ia namai.

"Mas, aku mau kamu dengar ini baik-baik."

Raka mengangkat wajahnya.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu. Mungkin suatu hari, mungkin tidak pernah." Suara Aina tenang. "Tapi anak ini tidak bersalah. Kalau kamu benar-benar ingin menjadi ayahnya, buktikan. Bukan dengan kata-kata. Tetapi juga dengan tindakan. Tanpa satu pun kebohongan lagi."

"Aku akan buktikan, Na."

"Lalu bagaimana dengan Sekar," lanjut Aina. "Dia juga korbanmu. Arsya juga. Jangan sampai mereka menanggung kesalahanmu sendirian."

Raka menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku sudah bicara dengan Sekar tadi siang lewat telepon. Dia… dia minta waktu. Dia akan pulang ke rumah orang tuanya bersama Arsya." Ia menunduk. "Aku pantas menerimanya."

Aina tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya memejamkan mata, lelah.

Raka mundur pelan-pelan. Di ambang pintu, ia berhenti.

"Na, boleh aku tetap menunggu di luar? Aku tidak akan masuk kalau kamu tidak memanggil. Aku cuma… ingin ada di dekat sini."

Aina tidak menjawab. Tapi ia juga tidak berkata tidak.

Malam hari di RSUD Praya terlihat Ibu Aina tertidur di kursi plastik dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Hamdan pulang untuk mengambil pakaian ganti. Lorong di luar sunyi, hanya sesekali terdengar langkah perawat yang lewat.

Aina tidak bisa tidur. Ia berbaring miring, tangannya melingkar di perut, mengingat suara detak jantung kecil itu berulang-ulang di kepalanya.

Dug-dug. Dug-dug.

Pukul sepuluh malam, pintu ruangan terbuka pelan.

Aina mengira itu perawat yang datang memeriksa infus. Tetapi langkah kaki itu terlalu pelan, terlalu ragu. Lalu Ia pun menoleh.

Di ambang pintu, berdiri seorang perempuan berkebaya ungu. Kebaya yang sama yang siang tadi berkibar di halaman kantor camat. Tetapi kali ini, tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada dagu yang terangkat. Selendang songketnya tersampir miring, sanggulnya sedikit berantakan, dan matanya bengkak seperti habis menangis berjam-jam. Seseorang itu adalah sosok mertua Aina.

Lale Rukmini.

Aina yang melihat mertuanya datang seketika langsung menegang. Tangannya mencengkeram seprai, siap membangunkan ibunya.

Tetapi perempuan tua itu mengangkat kedua tangannya pelan, telapak tangan terbuka, seperti seseorang yang menyerah.

"Jangan takut, Aina," bisiknya parau. Suaranya bergetar, tidak lagi seperti suara perempuan yang tadi siang menampar anaknya di depan banyak orang. "Aku datang bukan untuk bertengkar."

Ia melangkah masuk satu langkah, lalu berhenti. Di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil berukir, kusam dimakan usia.

"Tadi siang, di halaman kantor camat, aku hampir mengatakannya di depan semua orang. Dengan marah, dengan cara yang salah." Ia menarik napas gemetar. "Aku datang karena ada sesuatu yang harus kau ketahui," katanya. "Sesuatu yang sudah tiga puluh tahun aku sembunyikan. Bahkan dari Raka."

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!