NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Rahasia di Antara Dua Sahabat

Di halaman pos, Budi masih sibuk menyelesaikan persiapan kegiatan sore. Ia memeriksa kembali daftar perlengkapan, memastikan kotak obat tersedia, dan mengingatkan anggota yang bertugas agar tidak meninggalkan barang penting.

Dari kejauhan, Yanto memperhatikannya. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu. Biasanya, Budi mampu menjalankan tugas dengan tenang tanpa terlalu banyak menunjukkan apa yang sedang dipikirkannya. Namun, sore itu, di balik kesibukannya, sesekali ia terlihat melamun.

Yanto mengetahui penyebabnya. Percakapan mereka sebelumnya masih membekas dalam pikiran Budi. Nasihat yang diberikan Yanto telah membuatnya berani mempertimbangkan langkah yang selama ini selalu ditundanya.

Budi ingin memperjuangkan perasaannya kepada Mita. Ia belum tahu bagaimana hasilnya nanti. Ia juga belum mengetahui apakah perempuan itu akan menyambut perasaannya atau justru menolaknya dengan cara yang paling halus sekalipun.

Namun, setidaknya, ia mulai memahami bahwa terus berdiam diri bukanlah jaminan untuk terhindar dari rasa sakit.

Yanto akhirnya menghampirinya, "Bagaimana persiapannya?" tanyanya.

Budi menoleh, "Aman. Tinggal menunggu beberapa anggota yang belum berkumpul."

Yanto mengangguk, kemudian berdiri di sampingnya, "Kapten tadi menanyakan jadwal kegiatan sore ini."

Budi menoleh lagi, "Kapten Reihan?"

"Memangnya ada kapten lain di pos ini?"

Budi mendengus kecil, "Jangan mulai."

Yanto tertawa, tetapi kali ini tawanya tidak berlangsung lama, “Dia juga menanyakan persiapan selanjutnya."

"Ya, wajar. Ini tugas kita."

"Benar."

Keduanya terdiam sejenak. Yanto melirik Budi, lalu berkata dengan nada lebih serius, "Bud, ada satu hal yang perlu kau ingat."

"Apa?"

"Jangan sampai persoalan perasaan membuatmu lupa siapa dirimu. Kau prajurit yang punya tanggung jawab. Apa pun yang terjadi nanti, jangan biarkan hal pribadi mengubah caramu menjalankan tugas."

Budi menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk, "Aku tahu, Yan."

"Dan satu lagi. Jangan pernah menganggap bu Mita sebagai piala yang diperebutkan."

Budi mengerutkan kening, tetapi tidak menyela.

"Kalau kau memang menyukainya, beri dia kesempatan untuk mengenalmu. Sampaikan perasaanmu kalau kau sudah siap. Tapi, keputusan tetap ada padanya."

Budi mengembuskan napas Panjang, "Aku tidak pernah berpikir untuk memaksanya."

"Aku tahu. Aku hanya ingin kau benar-benar memahami itu."

Budi mengalihkan pandangan ke arah kendaraan yang telah siap diberangkatkan, "Aku hanya ingin mencoba, Yan. Kalau ternyata dia tidak punya perasaan yang sama, setidaknya aku tidak penasaran tentang kemungkinan yang tidak pernah kuperjuangkan."

Yanto tersenyum tipis, "Itu baru Budi yang kukenal."

Budi tertawa kecil, tetapi senyumnya segera memudar. Ada sesuatu yang masih mengganjal dalam pikirannya, "Yan, menurutmu, apakah aku sedang melakukan sesuatu yang salah?"

Yanto menoleh, "Maksudmu?"

Budi terdiam sejenak, seperti sedang mencari kata-kata yang tepat, "Kapten Reihan."

Nama itu membuat Yanto tidak langsung menjawab.

Budi melanjutkan, "Aku menghormatinya. Dia komandan kita, dan selama ini aku tidak pernah punya masalah dengannya. Aku juga tahu dia orang yang baik. Tapi, kalau ternyata dia memamg menyukai bu Mita, apa aku salah kalau tetap ingin memperjuangkan perasaanku?"

Yanto menarik napas perlahan.

Pertanyaan itulah yang sejak tadi berusaha dihindarinya. Ia tidak bisa memberikan jawaban sederhana, sebab persoalan ini bukan tentang siapa yang lebih pantas atau siapa yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Perasaan bukan sesuatu yang bisa ditentukan berdasarkan pangkat, senioritas, atau seberapa dekat seseorang dengan perempuan yang disukainya.

"Kau tidak salah hanya karena memiliki perasaan yang sama," jawab Yanto akhirnya. "Perasaan itu bukan sesuatu yang bisa kau atur sesuka hati. Tapi, yang harus kau jaga adalah caramu bertindak."

Budi menatapnya, "Jadi, aku tetap boleh mencoba?"

"Selama kau tidak melanggar batas, tidak memaksakan kehendak, dan tetap menghormati semua orang yang terlibat, itu hakmu."

Yanto berhenti sejenak sebelum menambahkan, "Tapi, jangan menjadikan Kapten sebagai lawan yang harus kau kalahkan."

Budi terdiam.

"Kalau Mita memilihmu, itu bukan berarti kau menang atas Kapten Reihan. Dan kalau dia memilih Kapten, itu juga bukan berarti kau kalah sebagai laki-laki."

Kata-kata tersebut membuat Budi menundukkan kepala.

Ada benarnya.

Selama ini, ia begitu sibuk memikirkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan hingga nyaris lupa bahwa hasil akhirnya bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan. Ia dapat berusaha menjadi seseorang yang layak dipercaya, tetapi tidak bisa menentukan siapa yang akan dipilih Mita.

"Aku mengerti," katanya pelan.

Yanto menepuk bahunya, "Bagus. Sekarang, selesaikan tugasmu. Jangan sampai karena memikirkan perempuan, kau lupa memeriksa bahan bakar kendaraan."

Budi langsung menoleh ke arah mobil operasional, "Sial! Aku belum memeriksa kendaraan yang kedua."

Yanto tertawa lepas, "Nah, begitu. Akhirnya kau kembali menjadi Budi yang kukenal."

Budi menggeleng sambil berjalan menuju kendaraan.

Namun, meskipun suasana kembali mencair, Yanto tahu persoalan itu belum selesai. Menjelang keberangkatan, Yanto sempat kembali melirik ke arah teras pos.

Reihan masih berada di sana, berbicara dengan salah seorang anggota mengenai jadwal patroli berikutnya. Sikapnya tetap tenang, tegas, dan terkendali. Tidak ada yang menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan seorang perempuan yang sama sekali tidak berada di hadapannya.

Yanto menghela napas.

Reihan adalah sahabat sekaligus atasannya. Budi juga orang yang ia hormati. Ia tidak ingin melihat salah satu dari mereka terluka, apalagi jika luka itu tumbuh dari kesalahpahaman yang sebenarnya bisa dihindari.

Namun, ia juga tahu bahwa perasaan tidak selalu tunduk pada pertimbangan yang masuk akal. Ia bisa tumbuh tanpa direncanakan, menguat tanpa disadari, lalu mengubah cara seseorang memandang dunia.

Dan ketika dua laki-laki mulai menaruh harapan kepada perempuan yang sama, persoalannya tidak sesederhana menentukan siapa yang lebih dahulu berani mengungkapkan perasaan.

Sebab, Mita bukan hadiah yang bisa dimenangkan oleh siapa pun. Ia memiliki kehendak, pilihan, dan hak untuk menentukan siapa yang ingin berada di sisinya. Tidak peduli siapa yang lebih tinggi pangkatnya, siapa yang lebih lama mengenalnya, atau siapa yang paling berani mengambil risiko.

Pada akhirnya, ketulusan tidak bisa diukur hanya dari seberapa besar seseorang menginginkan orang lain. Ketulusan juga terlihat dari kesanggupan menghormati keputusan orang yang dicintainya.

Yanto berharap Reihan dan Budi memahami hal itu sebelum keadaan menjadi semakin rumit. Ia kemudian mengembuskan napas panjang, mengusap wajah, lalu tersenyum kecil saat menyadari betapa seriusnya ia memikirkan persoalan yang bahkan belum benar-benar terjadi.

"Sepertinya," gumamnya seorang diri, "Aku harus menyiapkan banyak kopi untuk menghadapi semua ini."

Senyum tipis menghiasi wajahnya, tetapi hanya sesaat. Sebab, di balik candaan itu, Yanto tahu bahwa suatu hari nanti ia mungkin harus berdiri di antara dua sahabat yang sama-sama memiliki alasan untuk memperjuangkan perasaan mereka. Dan ketika hari itu tiba, ia hanya bisa berharap persahabatan mereka cukup kuat untuk bertahan.

Sementara itu, Reihan masih belum mengetahui apa yang telah dibicarakan Yanto dan Budi. Ia juga belum menyadari bahwa perhatiannya kepada Mita perlahan mulai membuka ruang bagi kemungkinan-kemungkinan yang selama ini tidak pernah ia pertimbangkan.

Bagi Reihan, sore itu hanyalah sore biasa di pos perbatasan. Ia masih memikirkan jadwal patroli, kesiapan personel, dan berbagai tugas yang harus diselesaikan.

Ketika seorang anggota datang melaporkan bahwa seluruh persiapan kegiatan pelayanan masyarakat telah selesai, ia hanya mengangguk dan memberikan beberapa instruksi tambahan.

Namun, sesaat kemudian, tanpa sadar ia kembali bertanya, "Tim dari desa sudah mengonfirmasi kedatangan mereka?"

"Siap, Kapten. Berdasarkan informasi terakhir, mereka akan tiba sesuai jadwal."

"Baik. Pastikan anggota yang bertugas menyambut mereka sudah siap."

"Siap!"

Anggota itu berlalu.

Reihan menatap halaman pos yang perlahan mulai lengang. Ia tidak ingin mengakui bahwa ada alasan lain di balik perhatiannya terhadap kegiatan tersebut.

Mungkin ia hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar. Mungkin ia memang memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Atau mungkin, jauh di dalam hatinya, ia berharap dapat bertemu Mita lagi.

Reihan mengusap dagunya, lalu menggeleng kecil seolah ingin menepis pikiran yang terasa semakin sulit diabaikan. Ia belum pernah membicarakan perasaannya kepada siapa pun. Bahkan kepada Yanto, sahabat yang telah mengenalnya sejak pendidikan militer, ia belum merasa perlu membuka sesuatu yang baginya sendiri masih belum pasti.

Bagaimana ia bisa mengungkapkan perasaan jika ia bahkan belum yakin bagaimana cara untuk memulai pendekatan.

Reihan terbiasa menghadapi persoalan dengan pertimbangan matang. Ia tidak suka mengambil keputusan berdasarkan dorongan sesaat, apalagi jika keputusan itu menyangkut orang lain.

Namun, perasaan terhadap Mita tidak datang dalam bentuk persoalan yang bisa diselesaikan dengan laporan, evaluasi, atau perintah. Perasaan itu tumbuh diam-diam. Dan semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin sering pula perempuan itu hadir dalam pikirannya.

Sementara itu di halaman pos, Budi akhirnya menyelesaikan pemeriksaan kendaraan. Ia memastikan seluruh perlengkapan telah tersusun rapi sebelum melaporkan kesiapan kepada atasannya.

"Kapten, seluruh persiapan sudah selesai. Kendaraan siap diberangkatkan sesuai jadwal." Budi melapor begitu Reihan tiba di hadapannya.

Reihan mengangguk, "Bagus, Sertu Budi. Pastikan koordinasi dengan tim desa tetap berjalan. Jika ada perubahan di lapangan, segera laporkan."

"Siap, Kapten!" Budi memberi hormat.

Untuk sesaat, tatapan keduanya bertemu.

Bagi Budi, Reihan tetaplah seorang kapten yang ia hormati. Tidak ada alasan baginya untuk bersikap berbeda hanya karena kemungkinan adanya perasaan yang sama terhadap Mita.

Namun, kini ia mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ia pikirkan.

Suatu hari nanti, ia mungkin harus berhadapan dengan laki-laki yang selama ini menjadi panutannya dalam menjalankan tugas. Bukan di medan operasi. Bukan dalam latihan militer. Melainkan dalam persoalan hati yang tidak mengenal pangkat ataupun aturan komando.

Budi menegakkan bahu, kemudian kembali menjalankan tugasnya. Ia tidak ingin mengubah rasa hormatnya kepada Reihan menjadi permusuhan. Ia juga tidak ingin mengubah perasaannya kepada Mita menjadi ambisi untuk mengalahkan siapa pun.

Ia hanya ingin memperoleh kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya. Selebihnya, biarlah Mita yang menentukan.

Dari kejauhan, Yanto memperhatikan kedua laki-laki itu secara bergantian. Ia melihat bagaimana Reihan tetap memberikan instruksi dengan tenang, sementara Budi mendengarkan setiap arahan dengan penuh hormat.

Tidak ada pertentangan. Tidak ada kecurigaan yang tampak jelas.

Namun, Yanto tahu bahwa keadaan itu mungkin tidak akan bertahan selamanya. Sebuah rahasia kini diketahui oleh lebih dari satu orang. Sebuah keberanian mulai tumbuh. Dan sebuah perasaan yang semula tersembunyi perlahan bergerak menuju saat ketika ia harus menghadapi kenyataan.

Tanpa disadari siapa pun, persaingan itu telah dimulai.

Belum ada pengakuan yang diucapkan di hadapan Mita. Belum ada pertentangan yang muncul di antara Reihan dan Budi. Bahkan, perempuan yang menjadi pusat dari semua perasaan itu mungkin masih menjalani harinya tanpa mengetahui apa yang sedang tumbuh di hati dua orang laki-laki tersebut.

Namun, sesuatu telah berubah. Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, tidak ada pangkat, kedekatan, ataupun keberanian yang dapat menjamin siapa yang akan memenangkan hati Mita.

Sebab, keputusan terakhir tetap berada di tangan perempuan itu sendiri.

Sementara Yanto hanya bisa berharap, ketika hari itu tiba, kedua sahabatnya akan cukup dewasa untuk menerima apa pun yang telah dipilih Mita.

Sebab, cinta mungkin dapat mempertemukan dua orang dalam harapan yang sama, tetapi tidak selalu membawa mereka menuju akhir yang mereka idamkan.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!