Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Gimana, Do? Mau kagak?" tanya Ohang berbisik lagi.
Edo menyunggingkan senyum tipis sambil manggut-manggut. "Oke, gue mau," jawabnya mantap, tapi tidak keras, karena takut didengar oleh Salma.
Ohang mengacungkan jempol. "Sip."
Berdeham Edo, "Tapi kenapa lo tiba-tiba ngajakin gue taruhan buat dapetin tuh janda?" tanyanya sedikit curiga.
Ohang pun pindah ke sebelah Edo. "Soalnya, gue pernah deketin dia. Tapi ditolak mentah-mentah, Do. Jujur ya, gue sakit hati banget. Gue pengen, pas nanti kalau lo berhasil mendapatkan tuh janda, lo rekam kegiatan lo, dan kirim ke gue, oke. Gue bakal buat perhitungan sama tuh janda sombong," tutur Edo menjelaskan.
"Oohh... jadi ceritanya lo dendam sama dia." Edo melirik Salma menggunakan ujung matanya.
"Iya. Gue pengen mempermalukan dia. Kan lo nggak pernah gagal tuh deketin cewek, jadi ya... gue yakin kalau dia bakal luluh sama lo."
"Haha..." Tawa bangga Edo keluar dari bibirnya. "Beres, Hang. Siapin aja tuh duit satu jutanya," pintanya dengan percaya diri.
"Oke, Do." Ohang menyeringai.
_____
"Mi, kamu udah kenal lama sama si Rifki?" tanya Neneng seraya berjalan masuk ke pabrik berdampingan dengan Mia.
"Lumayan, Teh. Pokoknya pas pertama aku ikut Edo... A Iki tuh udah ngontrak duluan di sana," jelas Mila.
"Ooh, gitu."
"Iya."
"Berarti kamu kenal dekat atuh sama dia?"
"Nggak lah, Teh. Cuma kenal biasa."
"Tapi dia kayak perhatian banget ke kamu, Mi," cetus Neneng.
"A Iki emang baik, Teh. Kalau dia kebagian shift pagi... dia selalu nawarin aku buat berangkat bareng. Tapi aku selalu menolak. Nggak enak, Teh. Takut jadi fitnah. Takut pacarnya marah."
Angguk-angguk kepala Neneng. "Emang dia udah punya pacar?"
Mia menggeleng, "Nggak tahu. Tapi nggak mungkin lelaki setampan, semapan dan sebaik dia nggak punya pacar. Mustahil, Teh. Apalagi kendaraan yang A Iki punya adalah salah satu kendaraan impian para wanita. Yang mau sama dia pasti banyak."
"Iya juga, sih. Kata si Ali juga gitu. Di OW, hampir semua pegawai perempuan yang masih lajang naksir sama dia. Si Rifki emang jadi rebutan."
"Tuh, kan. Dia pasti sudah punya pacar."
"Ya, ya." Neneng mengangguk.
Akhirnya, mereka tiba di tempat produksi. Keduanya langsung duduk di tempat masing-masing.
Neneng membalik badan ke belakang, menghadap Mia. "Mi, kamu masih pake KB suntik, nggak?" Wanita berambut ikal itu tak pernah kehilangan obrolan.
"Masih, Teh. Kenapa emang?"
"Ya Allah... dari pertama menikah belum pernah dilepas?"
"Belum."
"Ya ampun, Mi. Bahaya tahu kalau terlalu lama pakai KB. Apalagi yang suntik tiga bulan. Mending lepas deh, nanti kamu susah hamil," ungkap Neneng dengan suara sedikit bergetar.
Mia mengembuskan napas pelan. "Sebenarnya aku juga nggak mau suntik KB lagi, Teh. Badanku tuh benar-benar jadi nggak enak. Belum lagi sering pusing, haid nggak lancar, dan jadi susah tidur juga. Tapi Edo nggak mau punya anak sekarang-sekarang, Teh. Dia bilang nanti aja pas udah punya rumah. Jadi aku terpaksa deh masih tetap KB sampai sekarang."
"Ck!" Neneng berdecak. "Suamimu itu benar-benar egois, Mi. Kesal deh aku dengarnya. Pengen kujewer aja tuh telinganya. Dia beneran nggak peduli sama keadaan tubuh kamu. Mau enaknya sendiri. Kok ada ya, suami yang nggak mau punya anak. Aku dulu dan suamiku punya anak pas belum punya rumah. Tapi dua tahun setelah punya anak, alhamdulillah... kami bisa bangun rumah meksipun tidak besar," cerocos Neneng dengan wajah yang sedikit memerah. Urat di dahinya nampak menonjol.
"Iya, Teh. Aku pun maunya begitu. Nggak apa-apa punya anak dulu. Mana tahu setelah punya anak nanti kita malah dimudahkan punya rumah. Tapi Edo tetap kukuh nggak mau. Kalau membahas soal anak, dia malah suka marah sama aku. Jadi, ya..." Mia menggantung kalimatnya sambil mengembuskan napas pelan. "Aku cuma bisa nurut."
Neneng menatap Mia dengan sorot prihatin. "Tapi, Mi, kamu juga harus mikirin diri kamu sendiri. Jangan sampai karena terlalu nurut sama suami, kamu malah terus-terusan tersiksa."
Mia hanya tersenyum tipis. "Aku tahu, Teh. Tapi aku juga nggak mau jadi istri pembangkang."
"Bukan soal membangkang atau nggak, Mia." Neneng menggeleng. "Kalau tubuh kamu sudah nggak nyaman, kamu berhak ngomong. Suamimu juga seharusnya mau dengerin."
Mia terdiam. Tangannya mulai merapikan benang-benang di meja kerja. "Kadang aku juga kepikiran, Teh..." ucapnya lirih. "Kapan Edo bisa mengerti keadaanku? Bisa mendukung keinginanku."
Neneng menghela napas panjang. "Semoga secepatnya Edo berubah pikiran dan jadi suami yang peduli padamu," ujarnya kemudian. "Kamu jangan berhenti berdoa, Mi."
Mia mengangguk pelan. "Iya, Teh. Aku juga selalu berdoa."
Belum sempat obrolan itu tersambung lagi, suara bel panjang tanda produksi dimulai terdengar memenuhi ruangan. "Wah, waktu istirahat kita udah habis," ujar Neneng.
Mia terkekeh kecil. "Iya, Teh. Mari kita bergelut lagi dengan mesin."
"Siap!"
Keduanya pun kembali menghadap mesin masing-masing.
_______
Edo sudah mendapatkan akun Facebook Salma dari Ohang. Sebelum kembali masuk ke pabrik, lelaki itu membuka profil wanita tersebut. Matanya langsung tertuju pada sebuah unggahan yang baru saja dibuat beberapa menit lalu.
Salma tampak sedang berpose di depan konternya. Senyum manis menghiasi wajah wanita itu.
Edo pun tanpa ragu menekan tombol suka. Setelah itu, ia mengetik sebuah komentar. "Ih, Teteh meuni cantik sekali."
Tak sampai beberapa saat, notifikasi balasan muncul di layar ponselnya. "Terima kasih, Edo Perwira."
Mata Edo langsung membulat. Ia buru-buru memperlihatkan layar ponselnya kepada Ohang. "Lihat, Hang! Dibalas!"
Ohang langsung melihat komentar tersebut. Sesaat kemudian, ia bertepuk tangan. "Tuh, kan! Komen lo langsung dibalas." Ohang mendengkus kesal. "Lah, gue? Malah diabaikan, anjing! Sialan tuh janda sok cantik."
Edo terkekeh. Ia kembali menatap layar ponselnya dengan senyum penuh percaya diri. "Siapa dulu dong?" katanya sambil menepuk dada. "Edo Perwira, gitu lho!"
Ohang mendengus, tetapi kemudian menyeringai. "Sikat, Do! Jangan kasih kendor!"
"Oke, Hang." Edo memasukkan ponselnya ke saku celana. "Tunggu aja tanggal mainnya."
"Buruan minta pertemanan ke dia," titah Ohang menggebu-gebu.
Edo mengangguk, mengambil lagi ponselnya dari saku dan melakukan apa yang diperintahkan Ohang. "Udah, Hang. Tinggal lo siapin duitnya aja. Satu juta ya?" katanya sambil tertawa.
"Tenang, Do. Begitu lo lihatin video panas lo sama si Salma, gue langsung bayar di muka." Ohang menepuk bahu Edo cukup kencang.
Edo tertawa puas. "Hahaha! Oke-oke. Siap, Hang. Nanti gue kirim ke lo. Pandang terus deh tuh video gulat gue sama dia. Tapi ingat, lo jangan sebarin ke orang lain."
Ohang terkekeh. "Ya nggak lah. Gue cuma mau lihat aja kayak apa surabinya tuh janda. Apa berlapis emas atau tidak? Soalnya gue sakit hati banget sama penolakannya, Do. Dia bilang... gue nggak level sama dia."
Edo angguk-angguk. "Kalem, Hang. Nanti gue buktiin. Apa surabi si janda itu berlapis emas atau berlapis kerak?" Tawa dari dua lelaki seumuran itu mengudara.
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪