Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mafia Tanah, Sengketa Lapangan RT, dan Taktik Gerilya Daster Hijau
Ketenangan warga RT 04 Kelurahan Babakan terusik pada Senin pagi yang cerah. Suara deru mesin bulldozer raksasa memecah udara, diiringi dentuman keras tembok gapura RT yang dirobohkan secara paksa.
Tania, yang baru saja kembali dari warung membawa satu kantong plastik tahu pong dan cabai rawit, menghentikan langkahnya. Di depannya, lapangan serbaguna RT 04—tempat anak-anak biasa bermain bola dan ibu-ibu senam Aerobik setiap Minggu pagi—telah dikepung oleh dua puluh pria berbadan tegap mengenakan seragam ormas serba hitam.
Di tengah lapangan, berdiri seorang pria klimis berkemeja safari dengan kacamata hitam, memegang gulungan kertas besar. Dialah Bos Hendra, pimpinan pialang tanah yang terkenal suka mencaplok lahan warga secara ilegal menggunakan sertifikat bodong.
"Perhatian seluruh warga!" teriak Bos Hendra menggunakan megafon. "Lahan lapangan ini dan bangunan Posyandu di sebelahnya sudah resmi dibeli oleh PT Sinar Sentosa! Kami beri waktu dua jam untuk mengosongkan area, atau ekskavator kami yang akan meratakannya!"
Bu RT, seorang wanita paruh baya bertubuh tambun, berlari histeris menghampiri Bos Hendra. "Nggak bisa gitu, Pak! Ini tanah fasum (fasilitas umum) milik warga dari zaman Belanda! Surat-suratnya ada di kelurahan!"
"Surat kelurahanmu itu kedaluwarsa, Bu!" bentak salah satu preman berbadan kekar, memetik kasar pot bunga Bougainvillea kesayangan Bu RT hingga hancur terinjak boot militernya. "Sekarang lahan ini punya bos kami. Mundur atau saya gilas!"
Bu RT terduduk menangis di atas aspal.
Tania menatap pot bunga yang hancur dan air mata Bu RT dengan mata yang menyipit. Tahu pong di tangannya ia remas hingga hancur.
Ancaman kartel senjata Eropa tidak pernah membuat Tania gentar, tapi melihat preman lokal menindas ibu-ibu tetangganya di depan matanya sendiri... itu adalah penyelewengan hak asasi emak-emak yang tidak bisa ditoleransi.
Tania berjalan santai menghampiri Bu RT, membantunya berdiri, lalu menoleh ke arah kediaman Hapsburg yang berjarak lima puluh meter dari lapangan.
"Mas Xander!" teriak Tania menggelegar. "Bawa pasukannya ke sini! RT kita mau di-takeover!"
Sepuluh menit kemudian, lapangan RT 04 berubah menjadi arena standoff paling aneh dalam sejarah sengketa tanah di Indonesia.
Di satu sisi, berdiri dua puluh preman bayaran bersenjata kayu kaso, besi ulir, dan ekskavator raksasa.
Di sisi lain, berdiri barisan ibu-ibu PKK RT 04 yang dipimpin oleh Tania. Namun yang membuat Bos Hendra mengernyitkan alis adalah kehadiran tiga figur asing di belakang ibu-ibu tersebut.
Xander von Hapsburg berdiri tegap mengenakan kemeja seragam Hansip warna hijau tua yang sedikit sempit di bagian bahunya yang tebal, lengkap dengan sabuk kulit besar dan rompi bertuliskan "SEKSI KEAMANAN RT 04". Di sebelahnya, Dirga dan Freya mengenakan kaos rombongan karang taruna.
Di pojok lapangan, Dea duduk di atas benteng semen, memangku laptop militernya yang terhubung ke jaringan serat optik kota.
"Tania, Sayang," bisik Xander sambil memperbaiki posisi topi Hansipnya yang agak miring. "Aku sudah mengidentifikasi kontraktor ini. Aku bisa meretas rekening bank bos mereka, membekukan seluruh aset perusahaannya dalam hitungan detik, dan mengirimkan tim Mercenary dari Singapura untuk mengepung mereka."
"Jangan, Mas," potong Tania tegas, merapikan gulungan lengan daster hijaunya. "Ini sengketa tingkat RT. Kalau kita pakai cara impor, nanti birokrasinya ribet. Kita selesaikan pakai hukum adat jalanan."
Bos Hendra tertawa terbahak-bahak melihat barikade tersebut. "Hahaha! Apa-apaan ini?! Lu mau menahan ekskavator belasan ton cuma pakai ibu-ibu dasteran dan bule seragam Hansip?! Maju kalian! Ratakan tempat ini!"
Operator ekskavator mengangguk, menginjak tuas gas. Mesin diesel raksasa itu mengaum, roda rantai besinya bergerak maju menuju barisan warga. Ibu-ibu PKK mulai panik dan berjerit.
"Dea, matikan mainannya!" perintah Tania melalui earpiece.
"Siap, Bu," Dea mengetik satu baris kode di laptopnya.
Melalui gelombang frekuensi pendek yang dipancarkan dari laptop Dea, sistem ECU (Engine Control Unit) eksternal dari ekskavator tersebut diretas secara instan.
BZZZZT!
Mesin ekskavator raksasa itu mendadak mati total. Asap hitam mengepul dari kap mesinnya, dan seluruh sistem hidrauliknya terkunci mati. Operatornya panik, menekan-nekan tombol starter yang kini sama sekali tidak merespons.
"Lho?! Kenapa berhenti?!" teriak Bos Hendra murka. "Kalian yang di depan, serbu mereka! Hancurkan!"
Dua puluh preman bersenjata kayu kaso berlari menerjang sambil berteriak liar.
"Ibu-ibu! Formasi Penyiraman Tanaman!" seru Tania memimpin komando.
Lima belas ibu-ibu PKK yang sudah dibekali ember-ember besar berisi air sabun cuci piring pekat bercampur minyak goreng jelatah maju ke depan. Dengan aba-aba Tania, mereka menyiramkan ratusan liter cairan licin itu ke atas jalan aspal yang miring tepat di depan barisan preman.
SRRRRRT! BUGH! BUK! BUK!
Efek hukum gesekan fisika bekerja secara brutal. Belasan preman yang sedang berlari kencang itu kehilangan pijakan. Sepatu mereka meluncur di atas cairan minyak sabun, membuat mereka jatuh terlentang secara beruntun bagaikan pin guling yang dihantam bola boling. Beberapa di antaranya bahkan terpelanting masuk ke dalam got saluran air desa.
Lima preman tersisa yang berhasil lolos dari jebakan minyak meloncat marah ke arah Tania. "Emak-emak sialan!"
"Seksi Keamanan, eksekusi," ucap Tania dingin.
Xander melangkah maju. Tanpa perlu mencabut senjata api, mantan raja mafia Eropa itu menunjukkan kenapa ia dijuluki Dominus Umbrae.
Ketika preman pertama mengayunkan kayu kaso ke arah kepalanya, Xander menangkap kayu itu dengan satu tangan, memutarnya hingga kayu itu patah menjadi dua, lalu mengunci lengan preman tersebut menggunakan teknik pitingan Hansip lokal yang dieksekusi dengan tenaga raksasa.
KRAK!
"Aduuuh! Ampun, Pak Hansip! Sakit!" jerit preman itu berlutut.
"Ini namanya pengamanan ketertiban umum," ucap Xander datar dengan nada bahasa Indonesia yang kaku namun mengerikan.
Xander memutar tubuhnya, menggunakan tubuh preman pertama sebagai tameng untuk menangkis sabetan besi ulir preman kedua, lalu melayangkan satu tendangan lurus ke dada preman ketiga. Hantaman boot Xander membuat preman bertubuh seratus kilo itu terlempar lima meter ke belakang dan tersangkut di tiang gawang lapangan.
Sementara itu, dua preman lainnya mencoba menyerang Tania dari samping.
Tania tidak bergeming. Dari balik kantong dasternya, ia mengeluarkan sebuah botol semprotan tanaman berisi ulekan air cabai rawit setan cair.
CROS! CROS!
Semprotan cairan merah pekat itu mendarat tepat di kedua mata preman tersebut.
"ARGHHHH! MATAKU! PANASSS! PEDASSS!" jerit kedua preman itu histeris, melepaskan senjatanya dan berguling-guling di tanah sambil memegangi wajah mereka yang terasa terbakar.
Dalam waktu kurang dari lima menit, dua puluh preman bayaran yang tadinya gagah berani kini terkapar tak berdaya di lapangan. Ada yang terendam air got, ada yang keseleo bahunya akibat kuncian Xander, dan ada yang menangis meraung-raung memanggil ibunya karena iritasi air cabai.
Bos Hendra berdiri gemetar sendirian di tengah lapangan. Gulungan kertas sertifikat di tangannya terjatuh ke tanah. Wajah klimisnya mendadak pucat pasil bagaikan mayat.
Tania melangkah mendekati Bos Hendra, memutar-mutar botol semprotan cabainya dengan santai. Xander berdiri rapat di belakang istrinya, melipat tangannya yang berotot di dada, menatap Bos Hendra dengan pandangan membunuh di balik seragam Hansipnya.
"J-jangan mendekat! Ini perbuatan melawan hukum!" teriak Bos Hendra gagap, mundur selangkah demi selangkah. "Saya punya sertifikat resmi dari Badan Pertanahan!"
Dea berjalan menghampiri mereka sambil memutar rekaman data di tabletnya. Suara jernih Dea mengudara melalui pengeras suara posyandu yang telah ia sambungkan.
"Sertifikat Hak Milik Nomor 402 atas nama PT Sinar Sentosa adalah dokumen palsu hasil manipulasi data sistem digital BPN dua bulan lalu," ucap Dea tenang. "Aku baru saja meretas basis data pusat pertanahan, mengembalikan status tanah ini sebagai Hak Guna Bangun Fasilitas Umum milik RT 04, dan melampirkan rekaman transaksi suap Bos Hendra kepada oknum pejabat BPN senilai lima ratus juta rupiah langsung ke email Divisi Propam Polri dan KPK."
SIRENE POLISI BERGEMA DI KEJAUHAN.
Suara sirine mobil patroli Kepolisian Resor Bogor mulai terdengar mendekat dari arah jalan raya utama, dipanggil langsung oleh sistem laporan otomatis yang dikirimkan oleh Dea.
Bos Hendra terduduk lemas di aspal. Rencana perampasan tanahnya tidak hanya gagal total, tapi karier dan kebebasannya dipastikan tamat hari itu juga.
Ibu-ibu PKK dan warga RT 04 yang menyaksikan hal itu langsung meledak dalam sorak-sorai kemenangan.
"Luar biasa Bu Tania!" teriak Bu RT kegirangan sambil memeluk Tania erat-erat. "Pak Hansip bule juga hebat banget! Nanti pas rapat RT bulanan, insentif Hansipnya saya naikkan dua kali lipat!"
Xander mengedipkan matanya, sedikit bingung. "Insentif? Berapa nilainya, Bu RT?"
"Lapan puluh ribu sebulan, Pak Xander! Tambah kopi hitam dua sachet!" jawab Bu RT bangga.
Xander—pria yang dulu mengelola dana operasi internasional bernilai ribuan triliun rupiah—tersenyum bangga sambil menepuk dada kemeja Hansipnya. "Terima kasih, Bu RT. Sebuah kehormatan bisa mengabdi untuk RT 04."
Tania tertawa renyah, merangkul pinggang suaminya yang masih mengenakan seragam Hansip. Ia menatap lapangan RT yang kini aman kembali, tempat anak-anak mulai keluar rumah untuk kembali bermain.
"Gimana, Mas?" bisik Tania goda. "Lebih seru mana? Lawan mafia internasional atau lawan mafia tanah lokal?"
Xander menatap istrinya dengan pandangan hangat penuh cinta, lalu mengacak pelan rambut Tania. "Lawan siapa pun tidak masalah, Tania... selama aku berada di tim yang sama dengan Komandan Daster Hijau-ku."
Di bawah sinar matahari pagi Bogor, keluarga Hapsburg kembali membuktikan sebuah hukum tak tertulis di Indonesia: Jangan pernah mengusik kenyamanan sebuah lingkungan tempat tinggal, jika kau tidak siap menghadapi kemurkaan seorang ibu-ibu beserta suami bulenya yang berjiwa Hansip sejati.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor