Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : HARI YANG MELELAHKAN
Pagi itu, Laura terbangun lebih awal dari biasanya. Laura bahkan sudah menyiapkan pakaian untuk pergi ke kampus sejak malam sebelumnya. Hari ini sebenarnya cukup penting baginya karena ada kegiatan bersama kelompok yang sudah mereka persiapkan selama beberapa minggu. Namun, semua rencana itu harus dia batalkan setelah ayahnya memintanya menemani Dinda berbelanja ke mal.
Laura berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya. Laura mengenakan blouse sederhana berwarna krem dan celana panjang hitam. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, dia mengambil tas dan keluar dari kamar.
Di ruang makan, Dinda sudah duduk bersama Helena. Di atas meja terdapat beberapa lembar kertas berisi daftar barang yang harus dibeli untuk persiapan pertunangannya dengan Adrian.
"Laura, kamu sudah siap?" tanya Helena ketika melihatnya datang.
"Sudah, Bu."
Dinda langsung menyerahkan sebuah kertas kepada Laura. "Ini daftar barang yang harus kita beli hari ini. Tolong kamu pegang, ya. Aku malas kalau harus terus membuka tas."
Laura menerima kertas itu dan membacanya sekilas. Daftarnya cukup panjang. Ada pakaian, sepatu, aksesori, beberapa perlengkapan untuk acara pertunangan, bahkan beberapa barang yang sebenarnya tidak terlalu penting.
"Kita mau membeli semuanya hari ini?" tanya Laura.
Dinda mengangguk santai. "Tentu saja. Aku tidak mau ada yang kurang."
Laura memasukkan kertas tersebut ke dalam tasnya. "Baik."
Helena berdiri dan mengambil tasnya. "Kalau begitu, ayo. Adrian juga akan menyusul kita nanti."
Laura hanya mengangguk.
Mereka bertiga kemudian berangkat menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota. Sepanjang perjalanan, Helena dan Dinda terus membicarakan persiapan pertunangan. Sesekali mereka membahas gaun, dekorasi, undangan, hingga cincin yang akan dipilih Dinda bersama Adrian.
Laura lebih banyak diam sambil melihat keluar jendela.Tidak ada satu pun yang menanyakan tentang kegiatan kampusnya yang harus dia tinggalkan hari ini.
Padahal, Laura sudah berjanji kepada teman-teman kelompoknya untuk hadir.
Sesampainya di mal, Dinda langsung menarik tangan ibunya menuju butik pertama. Laura mengikuti dari belakang.
"Laura, jangan jauh-jauh," panggil Dinda.
"Iya."jawab Laura.
Begitu masuk ke butik, Dinda mulai memilih beberapa pakaian. Ia mengambil satu per satu gaun dan meminta pendapat ibunya.
"Bu, yang ini bagaimana?"
"Bagus, tapi coba yang warna putih itu."
Dinda mengambil gaun lain. "Kalau yang ini?"
"Lebih cocok yang tadi. Kamu kan akan bertemu keluarga Adrian. Jangan sampai memilih warna yang terlalu mencolok."
Laura berdiri di dekat sofa sambil menunggu. Setelah hampir dua puluh menit, Dinda akhirnya menemukan dua gaun yang disukainya.
"Yang ini aku ambil," katanya.
Helena mengangguk. "Ambil saja dua-duanya."
Laura melihat dua gaun tersebut. Harganya bahkan lebih mahal daripada uang yang biasanya dia gunakan untuk kebutuhan kuliahnya selama beberapa minggu.
Dinda menyerahkan kedua gaun itu kepada Laura. "Kak, pegang dulu."
Laura menerima keduanya. "Kamu tidak mau membawanya?"
Dinda menggeleng. "Aku masih mau lihat yang lain."
Laura tidak mengatakan apa-apa.
Mereka berpindah dari satu toko ke toko lainnya. Setiap kali Dinda menemukan barang yang disukainya, barang tersebut akan diberikan kepada Laura.
Tas,Sepatu,Kotak aksesori,Pakaian.Bahkan beberapa kantong belanja milik Helena ikut diberikan kepadanya.
Awalnya Laura masih bisa membawanya dengan mudah. Namun setelah hampir dua jam berkeliling, kedua tangannya mulai terasa pegal.
Mereka berhenti di sebuah toko sepatu. Dinda sedang mencoba beberapa pasang sepatu sementara Helena duduk di sampingnya.
"Laura, taruh semua barangnya di sini dulu," ujar Dinda.
Laura menurunkan beberapa kantong belanja dari tangannya. "Tanganku sudah cukup pegal."
Dinda menoleh. "Baru segitu sudah pegal?"
Laura menatapnya. "Kita sudah berkeliling hampir dua jam."
Dinda mengerutkan kening. "Kak, aku juga capek. Tapi aku masih harus memilih sepatu. Tolong jangan mengeluh."
Helena yang mendengar perkataan itu langsung menatap Laura.
"Laura, kamu memang membawa beberapa barang, tapi Dinda sedang mempersiapkan pertunangannya. Cobalah mengerti sedikit."
Laura terdiam dia menundukkan pandangan pada kedua tangannya.
"Baik, Bu."
Dinda kembali mencoba sepatu seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Beberapa menit kemudian, Dinda akhirnya menemukan sepatu yang cocok. Ia berdiri dan berjalan beberapa langkah di depan cermin.
"Bagaimana?" dengan ini ma?"
Helena tersenyum. "Cantik sekali. Ambil."
Dinda kemudian menoleh kepada Laura. "Kak, tolong pegang kotaknya."
Laura yang sedang membawa beberapa kantong langsung melihat kotak sepatu yang diberikan kepadanya.
"Ini juga?" tanya Laura ke Dinda.
"Iya." iya kak Laura udah jangan ngeluh Mulu.
Laura menarik napas pelan sebelum menerimanya. "Baik."
Mereka melanjutkan perjalanan.
Saat melewati lantai berikutnya, Laura tidak sengaja melihat sekelompok mahasiswa dari kampusnya. Mereka sedang duduk di sebuah kafe yang berada di dekat eskalator.
Salah satu dari mereka adalah teman satu kelompoknya.Laura langsung menundukkan wajah.Laura tidak ingin ditanya mengapa tidak datang ke kegiatan kampus hari ini.
Namun salah satu temannya keburu melihatnya.
"Laura?"
Laura berhenti" Temannya berjalan menghampiri. "Kamu di sini? Bukannya hari ini ada presentasi kelompok?"
Laura tersenyum canggung. "Iya. Sebenarnya aku ingin datang, tapi ada urusan keluarga."
Temannya melihat banyaknya barang yang dibawa Laura. "Urusan keluarga?"
Laura mengangguk.
Teman nya melanjutkan "Oh... baiklah. Tapi tadi dosen sempat menanyakan kamu."
"Maaf. Nanti aku akan menjelaskan kepada beliau." kata Laura ke teman nya rasa tidak enak.
Temannya mengangguk. "Tidak apa-apa. Jangan lupa minta materi dari kami."
"Iya, terima kasih."Setelah temannya pergi, Laura menghela napas lega. dia kembali mengikuti Dinda dan Helena.
Namun Dinda justru terlihat kesal."Kak, kenapa tadi lama sekali?"
"Temanku dari kampus."
"Kalau begitu, lain kali jangan berhenti lama-lama. Kita masih banyak yang harus dibeli."
Laura mengangguk,Mereka kembali masuk ke sebuah toko aksesori. Kali ini Dinda memilih beberapa perhiasan untuk dikenakan saat acara pertunangan.
Ketika sedang melihat-lihat, Dinda tiba-tiba tersenyum.
"Yang ini bagus."
Dinda mengambil sebuah kalung sederhana dengan liontin kecil.
Helena langsung mendekat. "Coba pakai."
Dinda mengenakan kalung tersebut di depan cermin. "Bagaimana?"
"Cantik."
Dinda tersenyum puas. "Aku ambil."
Laura memperhatikan dari belakang. Laura tidak merasa iri dengan kalung itu. dia hanya berpikir betapa mudahnya Dinda mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Setelah selesai membayar, Dinda kembali menyerahkan kantong belanja kepada Laura.
"Kak, ini juga."
Laura menerima kantong tersebut. Tangannya kini benar-benar penuh.
"Kita masih mau ke mana lagi?" tanya Laura ke Dinda.
Dinda berpikir sebentar. "Aku ingin ke butik gaun. Setelah itu mungkin ke toko tas."
Laura menatapnya tidak percaya. "Masih?"
"Iya. Kenapa?" tanya Dinda.
Laura menggeleng. "Tidak apa-apa."
Mereka berjalan menuju butik gaun. Baru beberapa langkah, salah satu kantong yang dibawa Laura hampir terjatuh. Ia buru-buru memperbaikinya.
Dinda melihat kejadian itu, tetapi bukannya membantu, ia malah berkata, "Hati-hati, Kak. Itu barang mahal."
Laura menatap kantong tersebut.
"Iya."
Di dalam hatinya, ada rasa lelah yang semakin besar.Bukan hanya karena beratnya barang yang dia bawa.
Tetapi karena sejak pagi, tidak ada seorang pun yang benar-benar melihat bahwa dirinya juga lelah.
Setelah hampir seharian berkeliling, akhirnya mereka selesai berbelanja. Mereka berhenti di sebuah restoran untuk makan siang. Laura duduk di ujung meja dengan kedua tangannya masih dikelilingi kantong belanja.
Dinda dan Helena sibuk membicarakan hasil belanja mereka.
"Adrian pasti suka gaun yang tadi," ujar Dinda.
"Apalagi kalau kamu memakainya saat acara nanti," jawab Helena.
Laura hanya makan dalam diam.Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar.Sebuah pesan dari teman kelompoknya masuk.
"Laura, presentasinya sudah selesai. Dosen bilang besok kamu harus menjelaskan kenapa tidak hadir.
Laura menatap layar cukup lama.Dadanya terasa sesak.laura pun mengetik singkat.
" Iya. Maaf sudah merepotkan"
setelah mengirim pesan itu, Laura mematikan layar ponselnya.
"Kak?"
Laura mengangkat kepala, Dinda sedang melihatnya. "Nanti setelah makan, temani aku ke toko tas, ya."
Laura terdiam beberapa detik."Baik."
Dinda tersenyum puas lalu kembali berbicara dengan Helena.Laura menunduk dan melanjutkan makan.dia tidak tahu sampai kapan dirinya harus terus mengalah.
Namun satu hal yang Laura sadari hari itu adalah bahwa selama ini keluarganya tidak pernah benar-benar meminta bantuannya.
Mereka hanya menganggap Laura akan selalu berkata iya.Apa pun yang mereka minta.
Kapan pun mereka membutuhkannya.
Dan Laura mulai bertanya dalam hati, apakah suatu hari nanti akan ada seseorang yang memintanya untuk berhenti mengalah dan mulai memikirkan dirinya sendiri.