Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Setelah semalaman mempertimbangkan, Anyara akhirnya memutuskan untuk menemui Melia, dengan syarat pertemuan itu dilakukan di tempat umum dan Hans menunggu tidak jauh dari lokasi, siap dihubungi kapan saja jika situasi menjadi tidak nyaman.
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di pusat kota, jauh dari lingkungan rumah maupun kantor Juned. Anyara datang lebih dulu, memilih meja di sudut yang agak tersembunyi, jantungnya berdebar kencang menunggu kedatangan wanita yang selama ini hanya ia kenal lewat foto-foto di media sosial.
Melia datang beberapa menit kemudian, penampilannya sesuai dengan yang Anyara bayangkan—rambut pendek sebahu, gaya berpakaian modis, wajahnya menunjukkan kegugupan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Anyara.
"Makasih udah mau ketemu," ucap Melia, duduk di seberang Anyara dengan hati-hati.
"Kamu bilang ada yang penting mau disampein," jawab Anyara, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dalam hati bergejolak hebat.
Melia menghela napas panjang, tampak menyusun kata-kata dengan hati-hati. "Anyara, aku minta maaf duluan sebelum cerita lebih jauh. Aku tau ini nggak akan ngubah apa pun yang udah terjadi, tapi aku pikir kamu berhak tau kebenarannya."
"Kebenaran apa?"
"Juned bilang ke aku, dia udah lama pisah ranjang sama kamu, katanya pernikahan kalian cuma formalitas doang karena tekanan keluarga. Dia juga bilang, kalian berdua udah sepakat diam-diam buat pisah, tinggal nunggu waktu yang tepat aja buat umumin ke keluarga."
Anyara mendengarkan dengan perasaan campur aduk antara marah dan tidak terkejut. Pola manipulasi itu ternyata sama persis dengan yang dialami Dinda sebelumnya. "Itu bohong. Kami nggak pernah sepakat apa pun soal pisah."
"Aku tau sekarang, Anyara. Aku baru sadar setelah beberapa bulan, waktu aku nggak sengaja liat foto kalian berdua di acara keluarga, kelihatan jelas kalian masih hidup bareng kayak pasangan biasa. Aku langsung curiga, dan setelah aku desak, dia akhirnya ngaku kalau selama ini emang masih tinggal serumah sama kamu."
"Terus kenapa kamu masih lanjutin hubungan itu setelah tau kebenarannya?"
Melia menunduk, matanya berkaca-kaca. "Jujur, waktu itu aku udah kadung sayang, dan Juned selalu punya cara buat bikin aku percaya lagi sama janji-janjinya. Dia bilang bakal segera urus perceraian, tinggal nunggu waktu yang tepat aja."
Anyara merasakan kepahitan yang semakin dalam mendengar cerita itu. Pola yang sama persis digunakan Juned untuk memanipulasi dua wanita berbeda, membuat masing-masing percaya bahwa mereka adalah bagian dari rencana masa depannya, sementara Anyara sendiri, sebagai istri sahnya, sama sekali tidak pernah diberi tahu apa pun soal "rencana perceraian" itu.
"Kenapa sekarang kamu mau cerita semua ini ke aku?" tanya Anyara, mencoba memahami motif di balik keterbukaan Melia yang tiba-tiba.
"Karena minggu lalu, aku denger dari temen kantor, Juned juga deket sama karyawan baru, namanya Sinta. Aku jadi sadar, aku bukan cuma korban kebohongan dia soal kamu, tapi mungkin juga bakal jadi korban kebohongan dia lagi kalau aku terus percaya sama janji-janjinya."
Anyara terdiam, mencerna informasi baru itu. Sinta—nama lain yang belum pernah ia dengar sebelumnya, menambah daftar panjang wanita yang telah menjadi korban pola manipulasi Juned.
"Aku juga mau minta maaf secara langsung ke kamu, Anyara. Aku tau ini nggak akan ngembaliin apa pun yang udah hilang, tapi setidaknya aku pengen kamu tau, aku juga korban dari kebohongan yang sama."
Anyara menatap Melia lama, merasakan campuran emosi yang rumit. Ia tidak bisa sepenuhnya membenci wanita di hadapannya ini—toh, Melia juga telah dimanipulasi dengan cara yang sama seperti dirinya, hanya dengan skenario yang berbeda.
"Aku hargai kejujuran kamu," ucap Anyara akhirnya, "meski ini berat buat aku denger."
"Aku ngerti kalau kamu masih marah sama aku. Aku cuma pengen kamu tau kebenarannya aja, biar kamu bisa ambil keputusan yang tepat buat diri kamu sendiri."
Sepulang dari pertemuan itu, Anyara langsung menghubungi Hans yang sudah menunggu tidak jauh dari kafe, seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
"Gimana, Mbak? Aman?" tanya Hans, begitu Anyara masuk ke mobilnya.
"Aman, Pak. Tapi informasinya... lebih parah dari yang saya bayangkan," jawab Anyara, lalu menceritakan detail pengakuan Melia soal pola manipulasi Juned dan keberadaan wanita ketiga, Sinta.
Hans mendengarkan dengan wajah serius, rahangnya mengeras mendengar setiap detail yang diceritakan Anyara. "Mbak, ini udah bukan lagi soal khilaf sesaat. Ini pola yang udah terstruktur, dan korbannya bukan cuma Mbak sendirian."
"Saya tau, Pak. Rasanya semakin hari semakin jelas, saya nggak punya alasan lagi buat bertahan di pernikahan ini."
"Mbak udah yakin sepenuhnya sekarang?"
Anyara terdiam sesaat, menatap ke luar jendela mobil, memikirkan semua yang telah ia lalui—kebohongan demi kebohongan, manipulasi yang terstruktur, dan hidupnya sendiri yang selama ini terus dikorbankan demi mempertahankan sesuatu yang ternyata tidak pernah benar-benar nyata.
"Iya, Pak. Saya yakin sekarang. Saya cuma butuh waktu buat nyusun langkah selanjutnya, biar semuanya berjalan dengan cara yang tepat."
"Saya di sini kapan pun Mbak butuh bantuan, Mbak tau itu kan?"
Anyara mengangguk, tersenyum tipis meski hatinya masih dipenuhi kepedihan. "Makasih, Pak. Saya nggak tau harus gimana kalau nggak ada Bapak yang selalu ada buat saya."
Malam itu, sesampainya di rumah, Anyara memutuskan untuk tidak langsung menceritakan semua yang ia ketahui kepada Juned atau Ratih. Ia memilih menyimpan informasi tentang Sinta sebagai bukti tambahan, menunggu momen yang tepat untuk mengungkapkan semuanya sekaligus, tanpa memberi kesempatan bagi Juned untuk kembali berkelit dengan alasan-alasan baru.
Ketika Juned pulang dan bertanya bagaimana harinya, Anyara hanya menjawab singkat, "Baik, Mas," menyembunyikan gejolak besar yang baru saja ia alami di balik ketenangan yang dipaksakan.
Malam itu, sebelum tidur, ia membuka kembali dokumen rahasia di aplikasi notes-nya, menambahkan nama "Sinta" dan ringkasan pengakuan Melia ke dalam daftar bukti yang sudah semakin lengkap—sebuah kronologi kebohongan yang, cepat atau lambat, akan ia gunakan untuk mengakhiri babak kelam dalam hidupnya ini, dan memulai lembaran baru yang sepenuhnya menjadi miliknya sendiri.