NovelToon NovelToon
Talakmu, Kebebasanku

Talakmu, Kebebasanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.

Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.

Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.

Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.

Mia terpuruk.

Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.

"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Tarmi memekik, "Serius, Mia?"

"Serius, Mbak."

"Teteh..." Rifki melirih. Ada rasa lega sekaligus prihatin dalam tatapannya. Setidaknya, lelaki yang selama ini menyakiti Mia tidak lagi memiliki alasan untuk menganggap perempuan itu sebagai istrinya.

"Ya Tuhan..." Pak Udin mengembuskan napas panjang. "Kalau begitu, kamu dan Edo memang sudah sah bercerai, Mia. Tinggal urusan administrasinya saja kalau memang diperlukan, Mia. Tinggal sidang."

Mia menggeleng pelan. "Nggak perlu sidang, Pak."

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

"Kenapa?" tanya Jamal.

"Karena aku dan Edo menikah di bawah tangan," jawab Mia lirih.

"Hah?!" Kelima orang itu serempak membelalakkan mata.

"Nikah di bawah tangan?!" ulang Tarmi tak percaya.

Mia mengangguk. "Iya, Mbak. Pernikahan kami memang nggak tercatat secara negara. Tiga tahun lalu, kami menikah secara agama saja."

Pak Udin menghela napas panjang. "Oh..."

Mia menundukkan wajahnya. "Jadi, aku tinggal memberitahukan hal ini kepada orang tuaku dan orang tua Edo. Setelah itu, aku akan menyelesaikan apa pun yang masih perlu dibereskan."

Tarmi meraih tangan Mia dan menggenggamnya erat. "Yang sabar, ya, Mia." Mia mengangkat wajah. "Ini justru bisa menjadi awal yang baru buat kamu," lanjut Tarmi. "Kamu sudah lepas dari suami seperti Edo. Kamu nggak perlu lagi hidup dalam ketakutan. Dan aku yakin, suatu hari nanti kamu pasti mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dan pasangan yang jauh lebih baik juga."

Mia tersenyum tipis.

Ucapan Tarmi tentang kehidupan dan pasangan baru itu justru membuat dada Rifki terasa aneh. Jantung lelaki itu berdetak sedikit lebih cepat. Ia buru-buru mengalihkan pandangan. "Jangan mikirin hal itu dulu, Ki. Nggak pantas, Teh Mia sedang berduka." Rifki menggeleng kecil, berusaha menyingkirkan pikiran tersebut.

Mia kembali menatap Tarmi. "Iya, Mbak. Tapi aku nggak mau memikirkan soal pengganti atau berumah tangga dulu untuk saat ini."

"Memangnya aku menyuruh kamu buru-buru?" Tarmi tersenyum.

Mia ikut tersenyum tipis. "Aku cuma mau fokus menyembuhkan luka hati dan fisikku. Setelah itu, aku mau menyelesaikan semua masalah ini supaya semuanya jelas."

"Bagus!" Tarjo mengangguk mantap. "Itu yang paling penting sekarang."

Rifki kemudian melangkah sedikit mendekat. "Tapi sebelum memikirkan yang lain, kondisi Teteh harus diperiksa." Mia menatap lelaki itu. "Sekarang juga ayo kita pergi ke klinik yang buka dua puluh empat jam di dekat kantor pos," ujar Rifki tegas tetapi tetap lembut. "Biar Teteh diperiksa. Leher Teteh habis dicekik, belum lagi bagian tubuh lain yang sakit."

Mia hendak membuka mulut untuk menolak. "Nggak perlu, A. Aku-"

"Iya, Mia. Ayo," potong Tarmi. Mia menoleh.

"Aku dan Mas Tarjo juga akan menemani kamu," lanjut Tarmi.

"Iya, Teh," timpal Jamal. "Lebih baik diperiksa sekarang. Jangan menunggu sampai besok."

Pak Udin mengangguk setuju. "Betul. Kita nggak tahu seberapa parah luka yang kamu alami, Mia. Mungkin saja ada cedera. Supaya kalau ada sesuatu yang serius, bisa segera diketahui."

Mia terdiam. Tangannya kembali menyentuh leher. Begitu jemarinya menekan sedikit bagian yang memerah, wajahnya langsung meringis. Rasa sakit menusuk dari leher hingga ke bagian belakang kepala. Belum lagi pipinya yang masih terasa panas akibat beberapa kali tamparan Edo. Punggungnya nyeri. Bahunya terasa pegal. Bahkan beberapa bagian tubuhnya yang sempat terbentur ketika bertengkar dengan Edo masih terasa sakit. Ia akhirnya mengembuskan napas panjang. "Iya..." jawabnya pelan.

Rifki mengangguk lega. "Ya sudah, kalau begitu kita berangkat sekarang."

Mia perlahan beringsut dari kasur. Namun, begitu berdiri, tubuhnya sedikit oleng.

"Hati-hati!" Rifki refleks maju. Tangannya hampir saja memegang lengan Mia, tetapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat Tarmi sudah lebih dulu menopang tubuh perempuan itu.

"Aku nggak apa-apa," ujar Mia.

"Jangan grasak-grusuk, Mia. Pelan-pelan saja," kata Tarmi.

Mia mengangguk.

Rifki inisiatif mengambil jaket tipis yang tergantung di dekat pintu dan menyerahkannya kepada Mia. "Pakai jaket ini, Teh. Supaya tidak masuk angin."

"Terima kasih, A."

Rifki hanya mengangguk.

Tarjo segera berdiri di dekat pintu. "Ayo, kita bergegas."

Jamal menyahuti, "Aku mau ambil kunci motor dulu."

"Saya juga mau ikut." Pak Udin ikut mengangguk. "Biar kita ramai-ramai ke sananya."

Mia memandang kelima orang di hadapannya. Dadanya kembali terasa hangat. Tubuhnya memang dipenuhi rasa sakit. Hatinya pun masih berantakan. Namun, di tengah kehancuran rumah tangganya, Mia baru menyadari bahwa dirinya tidak benar-benar sendirian. Masih ada orang-orang yang peduli. Masih ada tangan-tangan yang bersedia membantunya berdiri.

_____

Edo terus memacu motornya tanpa tujuan yang jelas. Amarah, rasa kesal, dan sisa-sisa emosi dari pertengkarannya dengan Mia masih bercampur aduk di dalam kepala. Hingga akhirnya, motor yang dikendarainya berhenti di depan rumah Ohang.

Edo mematikan mesin. Ia turun, lalu berjalan menuju teras. Namun, rumah itu tampak sepi. Edo mengernyitkan dahi. Ia melirik ke dalam rumah melalui jendela. "Ohang ke mana, sih?" gumamnya. Ia mengetuk pintu beberapa kali. "Hang!" Tidak ada jawaban. Edo menghela napas kesal. Ia kemudian mengambil ponselnya dari saku jaket. Begitu melihat layar yang retak parah akibat dibanting Mia, emosinya kembali naik. "Anjing!"

Edo hampir saja membanting ponsel itu lagi, tetapi ia mengurungkan niatnya. "Semuanya gara-gara si Mia setan!" gerutunya. Ia menjatuhkan tubuh ke kursi rotan di teras. Punggungnya bersandar, sementara kedua kakinya menjorok ke lantai. "Dasar wanita brengsek!" makinya. "Bikin hidup gue berantakan saja!" Beberapa detik kemudian, ekspresi Edo justru berubah. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia terkekeh sendiri. "Ha... hahaha..." Tawa kecil itu berubah menjadi tawa puas. "Gue sudah nggak punya hubungan apa pun lagi sama wanita setan itu!" Edo menepuk pahanya sendiri. "Gue bebas!" Ia menyandarkan kepala ke kursi rotan. Ia merasa seolah-olah beban besar telah terangkat dari pundaknya. "Nggak ada lagi yang cerewet. Nggak ada lagi yang nanyain gue pulang jam berapa. Nggak ada lagi yang ngatur-ngatur hidup gue." Edo tertawa kecil. "Mulai sekarang gue bebas!"

Namun, sesaat kemudian, pikirannya tertuju kepada Bela. Senyumnya semakin lebar. "Berarti sekarang gue juga nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi kalau mau ketemu sama Bela." Ia terkekeh. "Besok gue bisa langsung temui dia. Bawa Bela ke hadapan si Mia." Edo terdiam sejenak.

Namun senyumnya perlahan menghilang ketika sebuah pikiran lain muncul. "Eh..." Ia menepuk dahinya. "Pakaian gue masih di kontrakan." Edo mengembuskan napas panjang. "Besok pagi gue harus balik lagi ke sana buat ngambil semuanya." Terdiam sesaat Edo sambil memijat pelipis. "Kepala gue pusing banget." Edo menatap jalanan di depan rumah Ohang yang mulai sepi.

Pertengkaran dengan Mia, teriakan, talak yang baru saja ia ucapkan, hingga tatapan para tetangga terus berputar di kepalanya. "Aduh..." Ia mengusap wajah kasar-kasar. "Gue butuh pelampiasan." Edo menelan ludah. "Gue butuh arak." Ia langsung bangkit dari kursi rotan.

"Ohang juga nggak ada." Edo melirik rumah yang masih sunyi. "Percuma gue nunggu di sini." Ia berjalan menuju motornya, lalu menaikinya.

Sebelum menyalakan mesin, Edo sempat berpikir beberapa detik. "Apa gue ke rumah Bela aja, ya?" Ia menggeleng. "Nggak." Edo memutar kunci kontak. "Jangan sekarang! Udah malam." Mesin motor menyala. Edo menarik gas perlahan. "Mending gue pergi ke warung remang-remang." Tanpa berpikir panjang lagi, ia memutar gas lebih dalam.

Motor itu melaju meninggalkan rumah Ohang, membawa Edo menuju tempat yang ia pikir bisa menjadi pelarian dari kekacauan malam itu.

______

Mia dan para tetangganya akhirnya tiba kembali di kawasan kontrakan. Mia turun dari boncengan motor Rifki dengan langkah perlahan. Tubuhnya masih terasa lemas setelah pemeriksaan di klinik. Dokter yang berjaga tadi sudah memeriksa beberapa bagian tubuhnya, terutama leher yang memerah akibat cekikan Edo, kemudian memberikan obat dan meminta Mia beristirahat.

Rifki mematikan mesin motornya. "Pelan-pelan, Teh."

"Iya, A Iki. Terima kasih."

Tarmi, Tarjo, Jamal, dan Pak Udin juga sudah turun dari kendaraan masing-masing. Mereka berjalan bersama menuju kontrakan Mia.

Sesampainya di depan pintu, Mia berbalik menghadap mereka. "Terima kasih banyak, ya, semuanya."

Tarmi langsung menggeleng. "Sudah, Mia. Nggak usah berkali-kali berterima kasih."

"Tapi aku benar-benar berterima kasih. Kalau tadi kalian nggak datang..." Mia terdiam sejenak. "Aku nggak tahu apa yang akan terjadi padaku."

Tarmi menggenggam tangan Mia. "Yang penting sekarang kamu sudah diperiksa dan sudah mendapatkan obat. Istirahat yang cukup."

Mia mengangguk.

Tarmi kemudian menatap wajah Mia yang masih pucat. "Kalau kamu nggak keberatan, malam ini aku menginap di kontrakan kamu, ya?"

Mia tersenyum tipis. "Nggak perlu, Mbak. Aku sudah jauh lebih baik. Mbak Tarmi juga pasti capek."

"Tapi-"

"Aku benar-benar nggak apa-apa," potong Mia lembut. "Aku cuma butuh tidur."

Tarmi akhirnya mengangguk. "Kalau begitu, kalau ada apa-apa, langsung gedor pintu kontrakanku, ya."

"Iya, Mbak."

Rifki ikut mengingatkan, "Kalau merasa pusing atau kondisi Teteh memburuk, jangan dipendam. Panggil kami."

Mia menatap pemuda itu dan tersenyum kecil. "Iya, A. Terima kasih."

Rifki mengangguk. "Selamat istirahat, Teh."

"Selamat malam."

"Selamat malam, Mia," sahut Tarmi.

"Istirahat yang cukup, Mia. Jangan pikirkan masalah barusan," ujar Tarjo.

Jamal dan Pak Udin juga berpamitan.

Setelah semuanya masuk ke kontrakan masing-masing, Mia akhirnya membuka pintu. Ia masuk perlahan. Pintu ditutup. Suasana di dalam kontrakan mendadak terasa begitu sunyi. Mia berjalan menuju kamar dengan langkah setengah linglung. Tubuhnya terasa berat. Setiap bagian tubuh seolah menuntutnya untuk segera beristirahat.

Begitu sampai di kamar, Mia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Ia memejamkan mata beberapa detik.

Namun, kemudian kembali membukanya. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. Untuk beberapa saat, tidak ada suara apa pun selain embusan napasnya sendiri. Mia mengangkat satu tangan dan menyentuh lehernya yang masih terasa nyeri.

Bayangan kejadian malam ini kembali berputar di kepalanya. Pertengkaran, cekikan, ikrar talak, teriakan, lalu kepergian Edo.

Mia mengembuskan napas panjang. Anehnya, di balik semua rasa sakit itu, ada perasaan lega yang perlahan memenuhi dadanya. "Kejadian malam ini," bisiknya. Matanya kembali berkaca-kaca. "Mungkin memang jawaban dari doa-doaku selama ini." Satu tetes air mata mengalir dari sudut matanya. Mia tidak menghapusnya. "Selama ini aku selalu berdoa agar Allah menunjukkan jalan keluar." Ia menarik napas perlahan. "Dan mungkin... perpisahan ini adalah jalan terbaik." Mia memalingkan wajah ke samping. "Memang sakit. Sangat sakit." Bibirnya bergetar. "Tapi aku ikhlas menerima semua ini, Ya Allah."

Ia terdiam cukup lama. Kemudian, perlahan, tatapan Mia berubah. Ada tekad yang mulai tumbuh di balik mata yang masih basah itu. Mia menatap ke sampingnya, tempat Edo selama tiga tahun ini berbaring bersamanya. "Edo... aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi mulai hari ini, aku memilih mencintai diriku sendiri. Aku akan membuktikan padamu..." Tangannya mengepal di atas kasur. "Bahwa aku bisa hidup bahagia tanpa dirimu." Mia menarik napas dalam-dalam. "Aku bisa menjalani hidup dengan tenang." Ia mengusap air mata di pipinya. Sudut bibir Mia terangkat membentuk senyum tipis. "Aku yakin... aku bisa lebih sukses darimu, Edo Perwira."

1
nunik rahyuni
lanjuut thor ..pingin liat versi edo setelah diusir ...🤣🤣🤣laki kok ssmpe diusir. itu tandanya lakianya g modal g becus g guna mokondo benalu gpokoknya g ada baik2 nya ...biar tau rasa busuk si otong lumpuh layu 😅😅😅😅
Ama Apr: Pasti kk, nantikan sj
total 1 replies
Dartihuti
Nikmati hasil jerih payahmu Mia bahagia ...laki mokondo ky Eduuu ...tinggal nunggu penyesalannya betulkah dng mudah dpt'i cewek lbh dr mu?krn merasa ganteng,tgl tar blg'i ...makan tu gantengmu
😁😁🤭
Ama Apr: Ganteng doang nggk ada duit dan nggak mau kerja mh buat apa ya. Wajah ganteng tk akan bisa mengenyangkan perut🤣
total 1 replies
Lucy
syukurlah Mia kau bisa menikmati hasil jerih payahmu sendiri tanpa berbagi dgn Edo bayar tagihan motornya🤣🤣
Ama Apr: iya kk🥰
total 1 replies
Ma Em
Mia kamu harus cepat move on lupakan laki mokondo dan selalu bahagia setelah berpisah dgn Edo , semoga dapat pengganti Edo lelaki yg lbh baik yg cinta dan sayang pada Mia , Edo pasti menyesal dan akan dapat karmanya karena sdh jahat pada Mia dan selalu menyiksanya .
Ama Apr: Aaamiin🥰
total 1 replies
nunik rahyuni
kok cuma fikit thor. lanjuuuuy thooor
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪
Ama Apr: hehe, iya, nnti lnjut lg
Ah, jng dlu lah, aku mau buat dia pusing 7 keliling dulu🤣
total 1 replies
Lucy
lanjut thor😃Mia ceritakan KDRT yg di lakukan Edo terhadapmu jgn hnya talak 3 yg kau ceritakan, semua kau ceritakan ke org tuamu biar mereka paham👍
Ama Apr: Pasti Kk. Oke
total 1 replies
nunik rahyuni
gpp janda asal bahagia ...bebas dari laki mokondo..👍
Ama Apr: betul tul
total 1 replies
Ma Em
Mia jadi janda bkn aib daripada hdp Mia tersiksa lbh baik berpisah dgn Edo benalu sok kegantengan banget , ganteng kalau kere juga cewe mandi kir dia kali atuh , semoga Mia bahagia setelah bercerai dgn Edo dan dapat pengganti Edo lelaki yg lbh baik cinta dan sayang juga bertanggung jawab pada Mia jgn seperti seperti si Edo .
Ama Apr: Aaamiin🥰
total 1 replies
EmakKece
mending jd janda terhormat, drpada hidup sm manusia jelmaan iblis mia
Ama Apr: Iya bnr, bebas2 make uang sendiri
total 1 replies
Lucy
lebih baik JD janda Mia drpd di pukuli dan diselingkuhi oleh Edo 🤭JD janda LBH bahagia mia🤣🤣🤣
Ama Apr: ahihihi🫰
total 9 replies
EmakKece
Triple Up thor 🤭
Ama Apr: haha nanti2 y kk aku blum nabung bab🤭
total 1 replies
Ma Em
Akhirnya Mia terbebas dari Edo si mokondo benalu yg tdk tau diri maunya cuma porotin uang Mia doang , semoga Mia makin sukses setelah bercerai dari si benalu biar saja pasti Edo yg akan menyesal karena sdh membuang ATM berjalan nya .
Ama Apr: Aamiin, tinggal mia menikmati hidup sekarang
total 1 replies
✨Kayla Rane✨
sudah lega ya Mia, biarin ntar hidupnya si edo blangsak 😆
Ama Apr: Iya lagi, siapa yg byr cicilan motor🤣
total 1 replies
Ma Em
Syukur Alhamdulillah akhirnya Mia sdh lepas dari Edo suami benalu sukanya selingkuh tdk tau diri , semangat Mia semoga Mia bahagia dan sukses setelah berpisah dgn Edo .
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🥰
total 1 replies
Nice1808
Akhirnya mia bebas dr Edo bangsat🤣🤣🤣
Ama Apr: iya hehe
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
othoooooorrr...q padamu alapiyu se keboooonnn lap lap lap pokok nya❤️❤️❤️meskipun sabuk hitam🥋 si mia gk dikeluarkan🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: Haha iya kk, nyaris hilang nyawa dia. Tp sudah lah ya, edo bebas juga
total 1 replies
✨Kayla Rane✨
Alhamdulillah akhirnya cerai juga😤
Ama Apr: Walau nyaris bbk belur
total 1 replies
EmakKece
gak disini gak di cerita satunya, aku misuh2 mulu perasaaan. emang dasar si othor mah 🤧
Ama Apr: maaf y kk🤭
total 1 replies
EmakKece
laki ky kamu sempurna??? dasar gendeng !!
Ama Apr: biasa NPD🤣
total 1 replies
Dartihuti
Mokondo...kerasukan di lawan,bkn bukti" di tranfer ke hp'm ih ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!