Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.Jerat
Aura di dalam ruang privat restoran hotel bintang lima itu mendadak amat mencekam. Pendingin udara terasa menghujam kulit Aruna yang hanya dilapisi kemeja krem tipis.
Di seberang meja, Kaivan Adikara menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu jati berukir. Sikap tubuhnya tenang, namun tatapan matanya yang kelam menyapu seisi ruangan bagaikan seorang raja yang sedang menginspeksi deretan pesuruhnya.
Ketika pandangan mata Kaivan mendarat tepat di wajah Aruna, Aruna secara refleks menundukkan kepala. Ada ketajaman yang begitu mengintimidasi dari iris hitam milik pria itu. Tatapan yang tidak menyimpan kehangatan sedikit pun, melainkan penilaian yang dingin dan menusuk.
"Pak Kaivan, perkenalkan ini anak kami," Rendra memecah kesunyian dengan suara yang dibuat sehalus mungkin, meski ada getar gugup yang tak bisa ia sembunyikan. Tangannya menunjuk ke arah Aruna.
"Ini Aruna. Aruna Rasyara."
Kaivan tak langsung bersuara. Jemari tangannya yang panjang dan bersih mengetuk-ngetuk permukaan meja secara konstan. Tuk. Tuk. Tuk. Suara ketukan yang terasa seperti hitungan mundur bagi Aruna.
"Aruna?" suara Kaivan terdengar rendah, bernada datar tanpa ekspresi.
"Bukan Karin?"
Seketika, Mamah—Rosmala—yang duduk di sebelah Aruna langsung berdehem pelan. Senyum canggung terpatri di wajah mewahnya yang penuh riasan.
"Ah, begini Pak Kaivan... Karin ini anak sulung kami, dia seorang model sibuk yang jadwalnya sangat padat. Tapi Aruna... Aruna ini putri kami yang sangat telaten, penurut, dan selalu fokus menjaga rumah tangga. Dia gadis yang sangat tenang."
Karin, yang duduk di sisi lain, menyimpul senyum tipis yang penuh kepalsuan sembari mengibaskan rambut panjangnya.
"Iya, Pak Kaivan. Saya punya banyak kontrak kerja di luar negeri yang tidak bisa ditinggalkan. Lagi pula, Aruna ini jauh lebih punya banyak waktu luang untuk mengurus hal-hal di rumah."
Aruna meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Hatinya seperti diiris sembilu yang tumpul. Waktu luang? Ia bekerja dari pagi hingga malam di kafe, menguras keringat demi memberi uang jajan tambahan untuk Karin dan menutupi tuntutan Mamah.
Namun di depan pria asing bertaraf taipan ini, keluarganya dengan mudah melabeli Aruna sebagai sosok yang tak memiliki kesibukan berarti—sebuah barang pajangan yang siap diserahterimakan.
Kaivan menatap Aruna dari ujung rambut hingga ujung sepatu ketsnya yang mulai pudar warnanya. Tatapan itu penuh kemuakan yang terselubung. Di mata Kaivan, gadis di hadapannya ini tampak sengaja tampil polos dan menyedihkan untuk menarik simpati. Skenario klasik dari keluarga pengusaha bangkrut yang ingin menjeratnya.
"Jadi," Kaivan memulai kalimatnya, memajukan tubuhnya sedikit hingga bayangannya menutupi sebagian cahaya lampu gantung ke arah Aruna.
"Ini yang kalian tawarkan untuk menutup utang investasi proyek pelabuhan Rasyara Group sebesar tiga puluh miliar?"
Tiga puluh miliar?
Jantung Aruna serasa berhenti berdetak seketika. Matanya membelalak, dadanya mendadak dihantam rasa sesak yang luar biasa.
Ia mengalihkan pandangannya dengan cepat ke arah Papah dan Mamah, berharap ada bantahan dari mulut orang tuanya. Namun yang ia lihat justru sebaliknya: Papah menunduk dengan wajah pucat dipenuhi peluh, sementara Mamah mengulum bibir dengan raut memohon.
"P-Pak Kaivan... tolong mengerti kondisi kami," Rendra memohon, suaranya kini sama sekali tak memiliki wibawa seorang kepala keluarga. "Aset kami sudah dijaminkan ke bank. Kalau proyek itu mangkrak dan perkara ini sampai ke ranah hukum, nama baik Rasyara Group runtuh. Karin juga bisa kehilangan seluruh sponsor modelnya. Kami tidak punya opsi lain selain meminta dana segar dari Adikara Group..."
"Dan opsi solusi kalian adalah menjual anak?" potong Kaivan tanpa keraguan sedikit pun.
Kalimatnya tajam, lugas, dan sama sekali tidak memikirkan perasaan siapa pun di meja itu.
Ruangan itu seketika hening.
Rosmala tampak tersentak, tetapi ia dengan cepat mengatur ekspresi wajahnya demi menutupi rasa malu.
"Bukan begitu, Pak Kaivan... Ini... ini kan demi niat baik membina tali silaturahmi antar keluarga. Kakek Pak Kaivan dulu kan juga berteman baik dengan almarhum Ayah saya. Aruna anak yang sangat berbakti, dia pasti bisa jadi istri yang baik untuk Pak Kaivan."
Aruna merasa bumi di bawah pijakannya runtuh seketika. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas.
Menjual anak? Pernikahan? Penutup utang?
Suara-suara di sekitarnya mendadak terdengar bergemuruh ganjil di dalam telinganya. Harapan naif yang tadi sempat mekarkan bunga-bunga kecil di hatinya—harapan bahwa malam ini orang tuanya ingin merayakan ulang tahunnya yang terlewat—hancur berkeping-keping menjadi debu yang tak berharga. Mereka membawanya ke tempat mewah ini bukan untuk menyayanginya, melainkan untuk memasangnya sebagai jaminan utang.
"P-Papah..." bisik Aruna dengan suara yang sangat bergetar. Tangannya mencoba meraih lengan jas Papah Rendra.
"Pah... ini bercanda, kan? Aruna... Aruna nggak mau, Pah..."
Rendra merenggut tangannya kasar dari genggaman Aruna. Matanya menatap Aruna dengan kilatan peringatan yang dingin.
"Diam kamu, Aruna! Jangan bikin malu Papah di depan Pak Kaivan!"
"Tapi, Mah..." Aruna beralih menatap Mamah, matanya mulai berkaca-kaca. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini sudah menggenang di pelupuk mata.
"Aruna punya kehidupan sendiri, Mah... Aruna kerja di kafe..."
"Cukup, Aruna!" ketus Rosmala tajam setengah berbisik melalui celah giginya.
"Kamu mau lihat Papahmu masuk penjara?! Kamu mau lihat keluarga kita gembel di jalanan?! Cuma ini cara kamu bisa berbakti sama orang tua! Dari kecil kamu sudah dibesarkan, diberi makan, disekolahkan! Sekarang saatnya kamu berguna buat keluarga!"
Karin bersedekap, mendengus pelan tanpa simpati sedikit pun.
"Lagipula kamu untung, Na. Menikah sama Pak Kaivan Adikara itu impian semua wanita. Jangan belagu kayak korban, deh."
Aruna menyandarkan punggungnya yang lemas ke kursi. Lidahnya mendadak kelu. Pikirannya kosong. Kata-kata Mamah menancap begitu dalam di dadanya, menimbulkan luka berdarah yang tak kasat mata. Dibesarkan? Diberi makan? Bukankah selama ini ia hanya memakan makanan sisa Karin? Bukankah baju-baju yang ia kenakan hanyalah baju bekas yang tak lagi dipakai kakaknya?
Bahkan untuk biaya hidup tiga tahun terakhir, Aruna membiayai dirinya sendiri dari uang lelah menyajikan kopi dari pagi hingga malam!
Sementara itu, Kaivan memerhatikan interaksi keluarga tersebut dengan pandangan yang semakin dingin. Di matanya, drama tangisan Aruna hanyalah sebuah sandiwara murah.
Ia sudah terlalu sering bertemu dengan wanita-wanita yang berpura-pura menjadi korban demi masuk ke dalam lingkaran kekayaan keluarga Adikara.
"Saya tidak punya waktu untuk drama keluarga kalian," ujar Kaivan datar seraya melirik jam tangan berlogo mewah di pergelangan tangannya.
"Sesuai kesepakatan awal dengan Kakek saya yang menginginkan saya segera menikah demi memenuhi syarat kepemilikan saham utama Adikara Group... saya akan menyetujui transaksi ini."
Kata transaksi diucapkan Kaivan dengan penekanan yang sangat jelas. Pria itu bangkit dari duduknya, berdiri menjulang dengan aura yang menekan.
"Dana suntikan tiga puluh miliar akan ditransfer ke rekening Rasyara Group besok pagi setelah dokumen perjanjian pranikah ditandatangani," lanjut Kaivan, matanya menatap lurus ke arah Rendra.
"Tapi ingat satu hal, Pak Rendra. Jika ada satu saja klausul yang dilanggar, saya tidak ragu untuk menarik seluruh aset perusahaan Anda dalam hitungan jam."
"Baik! Baik, Pak Kaivan! Kami janji tidak akan ada masalah!" sahut Rendra cepat dengan wajah berseri-seri, seolah baru saja mendapat napas baru dari malaikat pencabut nyawa.
Kaivan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Aruna. Untuk pertama kalinya, mata hitam yang dalam itu menatap langsung ke dalam manik mata Aruna yang basah oleh air mata.
"Dan untuk kamu," ucap Kaivan dengan nada dingin yang sanggup membekukan darah di pembuluh Aruna.
"Jangan pernah berharap pernikahan ini akan berjalan seperti dongeng indah. Kamu datang ke rumah saya sebagai barang jaminan utang. Bersikaplah tahu diri dan jangan pernah mencampuri urusan pribadi saya."
Tanpa menunggu balasan atau sekadar sapaan perpisahan, Kaivan membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan privat tersebut.
Dua pengawalnya mengikuti dari belakang, menutup pintu dengan bunyi klak yang menggema keras.
Keheningan kembali melingkupi ruangan. Namun beda dari sebelumnya, kini pancaran lega terpancar jelas di wajah Rendra dan Rosmala.
"Alhamdulillah! Selamat, Pah! Perusahaan kita selamat!" seru Rosmala girang seraya memeluk suaminya.
"Iya, Mah! Untung Pak Kaivan mau menerima Aruna!" Rendra menghela napas lega, lalu mengusap dadanya.
Karin tersenyum puas seraya memeriksa kuku-kukunya yang dipoles rapi.
"Nah, gitu dong, Na. Jadi anak harus berguna. Nanti kalau kamu udah tinggal di rumah mewah Kaivan, jangan lupa kirim gaun-gaun bagus buat aku ya."
Aruna masih duduk mematung. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes menyusuri pipinya yang pucat, menetes tepat di atas kemeja kremnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya bagaimana perasaannya.
Tidak ada pelukan hangat untuk menenangkan jiwanya yang hancur. Bagi mereka, tugas Aruna telah selesai: ia berhasil dijual dengan harga tiga puluh miliar.
Malam makin larut ketika Aruna berjalan sendirian menyusuri trotoar di luar hotel. Ia menolak naik mobil bersama Papah dan Mamahnya dengan alasan ingin menenangkan diri. Orang tuanya bahkan tak peduli dan langsung melaju meninggalkan Aruna di tepi jalanan Jakarta yang bising.
Angin malam yang berembus kencang membuat tubuh Aruna menggigil, namun rasa dingin di dalam dadanya jauh lebih membekukan. Ia memeluk dirinya sendiri, berjalan tanpa arah dengan pandangan kabur oleh genangan air mata.
Ponsel di dalam tas kainnya kembali bergetar. Aruna meraba benda itu dan melihat nama layar yang tertera: Bagas—Koki Cerewet.
Aruna mengusap air matanya, menetralkan suaranya yang serak sebelum mengangkat panggilan itu. "H-halo, Gas?"
"Halo! Na! Kamu di mana sih? Ini shift malam udah beres, nih!" suara Bagas yang lantang dan ceria menyeruak dari speaker, terdengar sangat kontras dengan suasana hati Aruna yang berada di titik terendah.
"Nih Mbak Maya udah beliin martabak manis keju spesial buat kamu! Rian tadi sampai mau nangis gara-gara dipaksa patungan lima belas ribu sama Mbak Maya, hahaha! Cepat balik ke kafe, kita makan bareng!"
Di seberang telepon, terdengar samar-samar suara Mbak Maya yang berteriak, "Bagas! Jangan buka rahasia dong! Bilang sama Aruna martabaknya cepat dihabisin sebelum dihabisin Rian!" diikuti gelak tawa riuh khas dapur kafe.
Mendengar suara-suara itu, pertahanan Aruna runtuh seketika. Ia menghentikan langkahnya di bawah lampu jalan yang temaram. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya pecah.
Ia menutupi mulutnya dengan sebelah tangan agar suaranya tidak terdengar terlalu kencang di telepon.
"Lho... Na? Aruna?" suara Bagas yang tadinya becanda mendadak berubah panik dan serius. "Na, kamu kenapa? Kamu menangis? Ada apa, Na? Kamu di mana sekarang?!"
"G-gak apa-apa, Gas..." bisik Aruna terputus-putus di antara isakannya.
"Aku... aku cuma... capek banget..."
"Jangan bohong kamu! Suara kamu kayak orang kesakitan gitu!" potong Bagas cemas. "Mbak Maya! Rian! Sini deh, Aruna menangis!"
Tak lama kemudian, suara Mbak Maya menggantikan Bagas di telepon. Suaranya penuh kehangatan seorang ibu yang tak pernah Aruna dapatkan di rumahnya sendiri.
"Na... Sayang, kamu di mana? Mau Mbak jemput sama Rian? Jangan dipendam sendiri kalau ada masalah ya, Na. Kafe masih terbuka lebar buat kamu. Pulang ke sini ya?"
Kalimat 'Pulang ke sini ya' meremas hati Aruna dengan sangat hebat. Sebuah kafe kecil dengan aroma biji kopi dan tawa teman-teman kafenya justru terasa jutaan kali lebih mirip 'rumah' dibandingkan istana megah tempat orang tuanya tinggal. Di kafe itu, ia dianggap ada. Di kafe itu, ia disayangi.
"Iya, Mbak..." Aruna mengusap air matanya dengan lengan kemeja. "Aruna jalan ke kafe sekarang..."
Aruna mematikan telepon, lalu mengepal jemarinya kuat-kuat. Ia harus menyembunyikan pernikahan paksa ini dari teman-teman kafenya. Ia tidak ingin menghancurkan satu-satunya tempat aman yang tersisa dalam hidupnya.
Biarlah pernikahan dingin dengan Kaivan Adikara menjadi beban mati yang ia tanggung sendiri di kegelapan, sementara di bawah sinar lampu kafe, ia akan tetap menjadi Aruna yang selalu tersenyum dan bekerja keras.
Aruna menatap langit malam tanpa bintang. Di balik ketakutan dan luka mendalam atas pengkhianatan keluarganya, sebuah tekad kecil mulai tumbuh di sudut hatinya. Ia memang telah dijual, ia memang dipaksa masuk ke dalam jerat sangkar emas milik pria dingin bernama Kaivan Adikara—namun Aruna berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan sisa harga diri dan jiwanya yang paling dalam.
_Bersambung