Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Aira akhirnya membeli dua bungkus nasi buat sarapan bareng Bapak. Kasihan, Bapak harus segera minum obat. Lagian di warung tadi, orang-orang pada heboh minta maaf ke Aira. Mereka mengaku salah paham dan baru percaya kalau semalam Aira bener kena musibah kecelakaan, bukan lagi keluyuran berbuat yang enggak-enggak.
Selesai menemani Bapak sarapan, Aira berjalan tertatih menuju dapur. Biarpun kakinya cenat-cenut sampai susah melangkah, dia tetap memaksakan diri buat memasak sesuai instruksi Ibunya. Pekerjaan dapur jadi lambat sekali. Sampai Bu Ismi pulang dari pasar pun, masakan Aira belum ada yang matang.
"Ya ampun, Aira! Dari tadi kamu ngapain aja sih?! Ibu udah pulang pasar kok belum selesai juga?" semprot Bu Ismi begitu melihat Aira baru sibuk mengupas bumbu.
"Kamu tuh masih harus bikin kue! Inget ya, kalau hari ini kamu libur, besok kita gak ada pemasukan!" omelnya tanpa batas.
"Maaf, Bu... Kaki Aira sakit banget, jadi geraknya lambat." bisik Aira pelan. Dia juga takut kalau dipaksa, kakinya malah tambah parah.
"Halah! Alasan aja kamu!" cibir Bu Ismi sinis. "Masak gitu aja leletnya minta ampun. Jam segini baru ngeracik bumbu!"
Nyeri di hati Aira mendadak lebih tajam dibanding rasa sakit di kakinya. "Kan Aira udah bilang, Bu, kaki Aira beneran sakit. Lagian Karin sama Mbak Siska kan udah gede, mereka bisa cari makan sendiri..."
"Heh! Enak aja kamu kalau ngomong!" mata Bu Ismi langsung melotot lebar. "Karin sama Siska tuh udah capek kerja seharian! Masa pas pulang gak ada makanan? Kasihan mereka! Mereka butuh makanan sehat dan bergizi biar otaknya makin pinter!"
Aira memilih mengunci mulut. Percuma mendebat Bu Ismi, cuma bikin kepala makin pusing. Padahal kalau jujur, Aira sendiri di rumah udah kayak babu. Hampir sembilan puluh persen urusan rumah dia yang pegang sendirian. Ibunya? Paling cuma bantu seujung kuku, itu pun kalau lagi mood.
Selain beresin rumah yang tidak ada habisnya, Aira masih dibebani tugas bikin kue buat disetor ke toko-toko. Tidak pernah sekalipun Bu Ismi menunjukkan rasa iba atau perhatian. Padahal apa pun yang diminta sang Ibu, Aira selalu berusaha menurutinya. Dalam hati, Aira cuma berharap suatu hari Bu Ismi bisa menyayanginya tulus, seperti beliau menyayangi Karin dan Siska.
Dengan langkah menyeret, Aira berusaha membuka pintu kulkas buat ngambil bahan adonan. Tapi Bu Ismi yang udah terlanjur emosi malah merebut paksa bahan-bahan itu dari tangan Aira.
"Aduh, lelet banget sih kamu! Sini biar Ibu aja yang masak! Kamu buruan bikin kue sana! Nanti kesiangan, langganan pada kabur!" seru Bu Ismi gusar.
Dari dalam kamar yang letaknya tepat di samping dapur, Pak Bambang mendengar jelas gertakan istrinya pada putri keduanya itu.
*Uhuk... uhuk...*
Dada Pak Bambang terasa sesak. Dia kasihan setengah mati pada Aira. Sejak kecil, istrinya memang selalu membedakan dan menyisihkan Aira. Ingin rasanya Pak Bambang berdiri dan pasang badan membela Aira, tapi fisiknya yang lemah tak berdaya hanya bisa terkulai di atas ranjang.
Akhirnya, Aira kembali memeras keringat dalam diam. Begitu tumpukan kue selesai dicetak dan dikemas, Bu Ismi langsung menyodorkan wadahnya.
"Udah selesai, kan? Sana buruan anterin ke toko-toko biar cepet dapet duit!" titah Bu Ismi.
Aira cuma bisa mengangguk pasrah. Protes pun cuma bakal memancing ledakan emosi yang lebih besar.
"Lho, kamu mau ke mana, Aira?" suara Devan tiba-tiba memecah suasana. Pria itu baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.
Bu Ismi yang melihat Devan datang langsung memanfaatkan situasi. "Nah, kebetulan kamu pulang! Tuh anterin istri kamu nganterin kue ke toko, biar dapet duit!"
"Tapi Bu, kaki Aira kan lagi sakit." protes Devan, dahinya berkerut khawatir.
"Ya ampun, Devan! Kamu ini baru jadi menantu di rumah ini udah berani membantah?!" semprot Bu Ismi tajam. "Kalau Ibu suruh anterin, ya anterin! Lagian gak ada salahnya kamu bantu-bantu. Kamu kan ikut makan di rumah ini, mana gak pernah ngasih uang lagi. Sadar diri dong!"
Devan menarik napas panjang, menahan emosinya. "Ya sudah, kalau gitu biar Devan aja yang antar kue-kue ini ke toko. Aira istirahat aja di rumah."
"Tapi Mas... kamu tahu toko mana aja yang harus disetorin?" tanya Aira ragu.
"Kamu tinggal kasih alamat atau patokannya aja, Ra. Udah, sini biar aku saja." Devan langsung mengambil alih wadah kue dari tangan Aira.
"Awas aja kalau sampai gak becus! Pulang-pulang kamu harus bawa uang, paham?!" ancam Bu Ismi, mengira Devan sengaja pulang siang cuma buat numpang makan.
"Beres, Bu,m." jawab Devan singkat, lalu melangkah pergi membawa daftar alamat dari Aira.
Tak butuh waktu lama, Devan kembali ke rumah. Tapi kali ini tangannya memegang beberapa bungkusan makanan. Dia tahu Aira sedang sakit, jadi Devan berinisiatif membelikan makanan siap saji supaya istrinya gak perlu repot-repot berdiri di depan kompor.
Namun, begitu Devan menginjakkan kaki di ambang pintu, Bu Ismi langsung menghadangnya dengan telapak tangan menengadah.
"Ayo, mana uangnya?" tagih Bu Ismi tanpa basa-basi.
"Ya ampun, Bu... Sabar dong, Mas Devan kan baru nyampe." tegur Aira gak enak hati.
Devan merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyerahkannya pada sang ibu mertua.
Seketika, mata Bu Ismi berbinar terang saat melihat sepuluh lembar uang berwarna merah di tangannya. Satu juta rupiah! Biasanya, Aira gak pernah menyetor uang sebanyak ini. Paling banyak cuma lima ratus ribu, itu pun masih harus dipotong modal beli bahan besok.
"Tumben dapet banyak?" tanya Bu Ismi heran sambil menghitung lembaran uang itu.
"Iya, Mas... Nggak mungkin penjualan kemarin dapet satu juta." timpal Aira bingung. Uang yang ditagih hari ini adalah hasil penjualan kemarin, sementara hasil hari ini baru bisa diambil besok.
"Ya... mungkin kue buatan kamu lagi laris manis, jadi untungnya berlipat." jawab Devan santai.
Aira makin mengerutkan kening. Setahu Aira, walaupun seluruh kuenya ludes tanpa sisa, total pendapatannya gak akan pernah menyentuh angka satu juta dalam sehari. Tapi Bu Ismi jelas masa bodoh dengan perhitungan itu. Yang penting, dompetnya makin tebal.
"Oh iya, kamu bawa apa itu?" tanya Bu Ismi menyadari bungkusan di tangan Devan.
"Ini Devan beliin makanan buat kita makan siang, Bu. Kasihan Aira kalau harus masak, kakinya masih sakit." terang Devan sambil menyerahkan bungkusan itu pada Aira.
Bu Ismi langsung mencibir. "Halah! Cuma sakit gitu doang pake manja segala! Aira tuh udah biasa kerja keras! Lagian kamu itu cuma kuli bangunan ya, gak usah belagu sok belian makanan luar! Boros!"
Saat menyiapkan makan siang di meja, Bu Ismi sengaja menahan sebagian besar lauk pauk yang dibawa Devan.
"Makanannya sengaja gak Ibu keluarin semua. Ini terlalu banyak, jadi disimpan buat makan malam nanti." cetus Bu Ismi tanpa rasa bersalah.
"Iya, gak apa-apa, Bu." sahut Devan tenang.
Aira yang kini resmi menjadi seorang istri berinisiatif mengambilkan nasi dan lauk untuk Devan. Namun saat Aira mau mengambil lauk untuk porsinya sendiri, tangan Bu Ismi langsung menepisnya.
"Udah! Kamu ngambil lauk secukupnya aja, gak usah banyak-banyak!" tegur Bu Ismi galak, membuat jemari Aira terhenti tepat di atas piring ayam bakar.
Melihat Aira dilarang makan ayam bakar padahal lauk itu dibeli menggunakan uangnya sendiri dada Devan berdesir panas. Dia tidak tega melihat istrinya diperlakukan seperti itu.
"Udah, Bu. Gak apa-apa, makan aja lauknya. Kalau kurang nanti Devan bisa beli lagi,m." Devan langsung mengambil sepotong ayam bakar berukuran besar dan memindahkannya ke piring Aira.
"Makan aja apa yang kamu mau, Ra.@ bisik Devan lembut pada Aira.
Bu Ismi langsung mendengkus keras. "Kamu tuh kalau ngomong gampang banget ya! Emang berapa sih gaji kamu sebagai kuli bangunan?! Mending uangnya kamu tabung buat beli motor! Lihat tuh, motor kamu udah butut banget! Gak malu apa?! Gak usah sok gaya-gayaan ngatur makanan!"
Devan tak membalas sepatah kata pun. Dia hanya diam, melanjutkan makannya dengan tenang di samping Aira.