NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:169.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat Reatha diam-diam pergi. Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Delapan Belas

Vania berjalan cepat meninggalkan kamar Reatha. Wajahnya masih dipenuhi kemarahan. Bahkan langkahnya terdengar lebih keras dari biasanya.

Begitu sampai di lobi, matanya langsung menemukan Azka yang sedang berdiri dekat sofa sambil memeriksa ponselnya.

“Azka!” panggil Vania dengan sedikit keras.

Pria itu mengangkat wajah, tampak terkejut. Vania langsung menghampirinya dengan wajah cemberut.

“Kamu kenapa?” tanya Azka.

Vania tidak langsung menjawab. Ia justru berdiri di hadapan Azka sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Aku nggak suka," ucap Vania.

Azka mengerutkan kening. “Nggak suka apa?” tanyanya.

“Aku nggak suka kamu perhatian sama Raisa," jawab Vania.

Azka terdiam. Vania semakin kesal melihat pria itu hanya diam.

“Kamu tadi lihat sendiri, kan? Kamu sampai menggendong dia, membawanya ke klinik, lalu mengantarnya ke kamar.” Suara Vania terdengar ketus. “Kamu bahkan menyuruh dia menghubungimu kalau ada apa-apa.”

“Itu karena dia terluka," balas Azka.

“Alasan!” seru Vania.

Azka menghela napas panjang.

Vania menatapnya lekat-lekat. “Kamu pasti sudah jatuh cinta dengan wanita itu.”

Azka langsung menatap Vania serius. “Vania,” ucapnya pelan, tetapi terdengar tegas. “Aku tak harus mengulang ucapanku setiap hari, kan?”

Vania terdiam.

“Aku sudah pernah bilang, perasaanku tetap sama.” Azka memasukkan ponselnya ke saku. “Kalau kamu nggak percaya, aku harus bagaimana lagi?”

Vania menggigit bibir dan menjawab dengan suara di buat sendu dan sedih, “Aku cuma takut kehilangan kamu.”

Azka tidak menjawab.

“Aku ingin kamu jauhi dia,” lanjut Vania. “Jangan terlalu perhatian. Jangan terlalu dekat. Jangan membuat aku merasa kalau posisi aku mulai tergeser.”

Azka menatap Vania beberapa detik. Kemudian ia hanya mengangguk.

“Baiklah," ucap Azka singkat.

Vania sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Azka akan mengiyakan permintaannya semudah itu.

“Serius?” tanya Vania.

“Iya," jawab Azka dengan sedikit malas.

Senyum tipis muncul di wajah Vania. “Kalau begitu, temani aku.”

“Ke mana?” tanya Azka.

“Kita cari tempat wisata lain.” Vania langsung menarik lengan Azka. “Aku nggak mau liburan ini rusak hanya karena kejadian tadi.”

Azka sebenarnya ingin kembali ke kamar untuk melihat keadaan Reatha. Namun, ia akhirnya mengikuti langkah Vania. Mereka meninggalkan hotel dan menuju tempat wisata lain yang tidak terlalu jauh.

Sore berganti malam.

Setelah puas berjalan-jalan, Vania mengajak Azka makan malam di sebuah restoran mewah. Restoran itu berada di lantai atas sebuah gedung dengan pemandangan kota yang dipenuhi cahaya lampu.

Vania terlihat jauh lebih ceria. Ia sibuk memilih makanan sambil sesekali bercerita tentang tempat wisata yang mereka datangi tadi.

Sementara Azka hanya sesekali menanggapi. Pikirannya justru beberapa kali melayang kepada Reatha.

Ia membayangkan perempuan itu sendirian di kamar hotel.

Apakah dia sudah makan? Apakah kakinya masih sakit? Apakah dia membutuhkan sesuatu?

Azka tanpa sadar menghela napas pelan. Hal itu terdengar oleh Vania.

“Kamu kenapa?” tanya Vania.

“Nggak apa-apa," jawab Azka.

“Kamu kelihatan melamun, dan pikiranmu entah kemana," ujar Vania.

“Aku cuma capek," balas Azka.

Vania akhirnya kembali melihat menu. Tak lama kemudian, makanan mereka datang. Namun, baru beberapa suap, Azka tiba-tiba meletakkan sendoknya.

“Aku ke kamar mandi sebentar," ucap Azka.

Vania mengangguk. Azka berdiri lalu berjalan menjauh dari meja. Begitu sampai di tempat yang lebih sepi, ia mengambil ponsel dari sakunya.

Jarinya sempat berhenti beberapa detik di atas nama kontak Raisa. Entah kenapa, ia merasa sedikit ragu.

Bukankah tadi ia sudah berjanji kepada Vania untuk menjaga jarak? Namun, rasa khawatirnya justru lebih kuat.

Akhirnya Azka menekan tombol panggil. Tidak lama kemudian, panggilan tersambung.

“Hallo?” Suara Reatha terdengar dari seberang.

Azka tanpa sadar tersenyum kecil. “Raisa.”

“Kenapa?" tanya Reatha di seberang sana.

“Kamu sudah makan?” tanya Azka.

“Sudah.”

Azka bersandar pada dinding. “Tadi makan apa?” tanyanya lagi.

“Tadi sudah diberi makanan hotel.”

“Oh.”

Azka terdiam sebentar. Lalu ia bertanya lagi, “Kamu mau aku belikan apa?”

Reatha terdengar bingung. “Belikan?”

“Iya.”

“Buat apa?” tanya Reatha.

“Ya buat kamu makan.”

Reatha tertawa kecil. “Aku sudah bilang tadi sudah makan.”

“Buat nanti kalau lapar.”

Reatha berpikir sebentar, sebelum menjawab, “Martabak telur.”

Azka langsung mengernyit. “Martabak telur?”

“Iya.”

“Dasar selera kampung," ucap Azka.

Reatha langsung tertawa kecil.

“Yang elit kek pesanannya.”

“Ya suka-suka aku. Seleraku itu.” Reatha terdengar santai. “Kalau kamu nggak mau beli ya udah.”

Azka tersenyum. “Siapa bilang nggak mau?”

“Barusan kamu bilang selera kampung," jawab Reatha.

“Memang.”

“Terus?”

“Aku beli dengan gerobak dan penjualnya sekalian untukmu," ujar Azka.

Hening beberapa detik. Kemudian suara tawa Reatha terdengar dari seberang. Azka ikut tersenyum.

“Gitu dong,” ucapnya.

“Apa?”

“Tertawa.”

Reatha terdiam.

“Jangan diam terus, dan hanya fokus pada game di ponselmu," ucap Azka.

Senyum Reatha perlahan menghilang. Ia menatap langit-langit kamar sambil menggenggam ponselnya.

“Udah sana,” katanya kemudian.

“Kenapa?” tanya Azka.

“Nanti Vania ngambek lagi dengar kamu hubungi aku.”

Azka terdiam. Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Ia menatap layar ponselnya. “Ya sudah.”

“Pergilah!" seru Reatha.

Azka masih diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan. “Iya.”

Sambungan telepon pun terputus. Azka menurunkan ponselnya. Namun, sudut bibirnya masih menyisakan senyum kecil.

Sementara di kamar hotel, Reatha juga masih memandangi ponselnya. Entah kenapa, percakapan singkat tadi berhasil membuat suasana hatinya jauh lebih baik.

1
ken darsihk
Waktu nya memberi pembuktian Azka , dan apa yng kamu ucapkan perlu pembuktian bukan bualan semata
Akasia Rembulan
ayo azka perjuangkan Reatha
Cicih Sophiana
ayo buktikan Azka klo cinta itu ada... bukan cuma kata kata bualan tp dgn pembuktian... yg pantas di percaya
daffakhafidz
semangat💪💪💪
Naufal Affiq
buktikan azka,biar rea percaya jangan asal ngomong aja,aku mendukungmu azka untuk bersatu dengan rea lagi
Naufal Affiq
bilang azka,aku mau hidup bersama istri ku yang duduk di samping ku,sewaktu aku ijab kabul
Cicih Sophiana
ayo Azka perjuangan mu banyak sandungan nya... kamu harus semangat harus kuat memperjuangkan Reatha💪💪💪 jgn hanya kata kata tp bukti kan dgn ketulusan hati mu Azka...
Sugiharti Rusli
yah sepertinya kamu memang harus kerja keras membuktikan kalo kamu bisa membuat Reatha percaya lagi pada ketulusan cinta Ka, semoga kamu berhasil yah🤲💪💪
Sugiharti Rusli
apalagi saat itu pun ternyata si Azka juga hanya menjadikan pernikahannya sebagai perjanjian karena dia sudah memiliki pilhan sendiri,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya, apa yang selama ini Reatha alami dari keluarganya memang memberikan trauma tersendiri yah di hatinya bahkan sampai saat disuruh jadi pengantin pengganti kembarannya,,,
Sri Supriatin
Berjuanglah Azka, semangat ortumu sdh meluluhkan hati Reatha🙏🙏🙏🙏👍👍👍
@alfaton🤴
Reatha pasti takut meneycintamu Ka.....dia tau dibelakang Azka ada perempuan yang dulu dia bela dengan tak tau waktu dan situasi......dia Vania .....ada juga perempuan yang Reatha tahu luar dalam yang selalu menganggapnya rendah bahkan mungkin sampah .....dia adalah Raisha saudara kembarnya sendiri.....juga ibunya yang harusnya bisa berbagi kasih sayang......mampukah kamu jadi pelindung jadi sandaran buat Reatha kelak Azka......💪💪💪semoga kalian bersatu dalam ikatan pasutri dalam suka dan duka selamanya ya😊😊😊
@alfaton🤴
jangan hanya janji ya Azka......tapi bukti......bukti kalau kehadiran Reatha dibutuhkan kehadiran Reatha dinantikan setiap saat bukan hanya sebagai pendamping tapi bener bener sebagai istri yang kamu nomer satukan kamu ratukan karena hanya ada Reatha yang dihatimu cinta pertama mu......ah terlalu berlebihan ya Thor......ayo Azka terus berjuang dapatkan cintanya Reatha 😊😊😊
Lilis Ilham
sehat dan sukses selalu dalam segala kebaikan💪💪 ditunggu
Mama Reni: Aamiin 🙏🙏
total 1 replies
Linda Ayu Tong-Tong
selesaikan alu semuanya aska dg kluarga raisa.urus perceraimanmu dilu dg sah secara negara dlu.perjelas setatusmu dlu .
Adinda
perjelas dulu statusmu arka
Lela Angraini
perjuangkan jika memang kamu benar benar menginginkannya azka,krn reatha sdah terlalu banyak menanggung rasa sakit. ntah dri kelg,orang lain maupun darimu
Adinda
perjelas dulu statusmu azka pembatalan pernikahan atau perceraian dengan raisa jangan membawa raisa kasihan dia sudah diperlakukan kejam sama keluarganya
Adinda
aku tim david
Adinda
kamu gak berhak azka kamu bukan siapa siapa reatha🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!