Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: SYARAT SANG PENGUASA
Merasakan ketegangan yang menumpuk dan bibir bawahnya yang mulai terluka akibat gigitannya sendiri, Kamilah mendadak kehilangan kendali atas emosinya. Rasa takut, bingung, dan kekesalan yang bertumpuk sejak semalam meledak seketika. Ia memajukan kepalanya dan menggigit bibir bawah Rizky Syah dengan cukup keras. Rasa amis darah tipis langsung menyebar di antara pertautan bibir mereka.
Bukannya marah, meringis kesakitan, atau mendorong Kamilah menjauh, Rizky justru perlahan melepaskan ciumannya. Pria itu menyandarkan dahinya pada dahi Kamilah. Sudut bibirnya yang berdarah terangkat menyunggingkan senyuman tipis yang teramat lembut—sebuah pemandangan luar biasa langka dari seorang penguasa bisnis yang terkenal dingin dan tak berhati.
Kamilah mendongak dengan napas tersengal-sengal, menatap pria di hadapannya dengan pandangan heran bercampur kesal yang membuncah. "Kamu ini bodoh ya? Kalau aku gigit seperti tadi... apa kamu tidak merasa sakit sama sekali?"
Rizky menundukkan kepala sedikit lagi, menatap langsung ke dalam manik mata Kamilah dengan binar tajam yang begitu dalam dan misterius. "Daripada melihatmu menyakiti dirimu sendiri hingga terluka... aku jauh lebih memilih aku yang merasa sakit."
Ucapan itu bergema pelan di area parkiran bawah tanah yang sunyi, menusuk tepat ke bagian terdalam dari dada Kamilah. Namun, benteng pertahanan batin Kamilah yang terbiasa bersikap waspada sejak kecil segera membentenginya kembali. Ia menolak untuk terbawa suasana manis yang berbahaya ini.
Hanya satu malam saja... bisik Kamilah di dalam hatinya dengan senyum sinis yang tersembunyi. Tua-muda seorang Rizky Syah yang sangat berpengalaman di dunia bisnis dan selalu dikelilingi banyak wanita cantik, mana mungkin benar-benar menyimpan rasa atau sungguh-sungguh membuka hatinya untuk gadis sepertiku?
Kamilah memelototi Rizky, lalu menepis pelan tangan pria itu yang masih melingkar di pinggangnya. Ia berbisik dengan nada menyindir yang tajam. "Kamu ini ternyata sangat sabar ya menyikapi mainan yang datang sendiri menyerahkan diri padamu?"
Mendengar kata 'mainan' keluar dari mulut gadis itu, sorot mata Rizky mendadak berubah sangat serius dan temaram. Kehangatan di wajahnya meredup digantikan aura intimidasi yang pekat. Jemari kekarnya terangkat, merengkuh lembut bagian belakang kepala Kamilah lalu mengusap helai demi helai rambut halus gadis itu dengan penuh kehati-hatian.
"Kamilah... aku tidak pernah mengizinkanmu merendahkan dirimu sendiri seperti itu di hadapanku," ucap Rizky tegas, suaranya terdengar begitu berat, dalam, dan protektif.
Kamilah tertawa hambar, mencoba menetralkan suasana yang mendadak emosional dan menghimpit dadanya. "Bukankah begitu fakta aslinya? Bukankah kamu sendiri yang bilang kemarin... kalau ada begitu banyak wanita yang melemparkan diri dan bermimpi untuk bisa tidur di ranjangmu?"
Rizky menghela napas panjang, menatap raut wajah polos namun keras kepala di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kamu ini benar-benar tidak tahu cara berterima kasih ya? Apa kamu tidak ingat ucapanku sebelumnya? Selain kamu... aku menolak semua wanita yang mencoba mendekat."
PLETUK!
Rizky menyentil jidat mulus Kamilah secara mendadak dengan jari tengahnya.
"Aduh!" Kamilah mengusap jidatnya yang sedikit memerah sambil memelototi Rizky dengan mata membelalak kesal. "Tapi kita berdua tahu fakta sebenarnya! Aku ini bukan calon tunanganmu!"
Rizky mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. "Kalau aku bilang iya... maka jawabannya berarti iya. Sekarang mungkin belum, tapi nanti kamu pasti akan resmi jadi tunanganku."
"Pasti akan jadi..." bisik Rizky lagi dengan nada penuh keyakinan mutlak. Sebelum Kamilah sempat menyusun kalimat bantahan, Rizky kembali mendaratkan ciuman singkat namun tegas di bibir Kamilah untuk mengunci kata-katanya.
Pipi Kamilah mendadak merona merah padam akibat ciuman tiba-tiba itu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong dada bidang Rizky agak kuat demi menciptakan jarak. "Jangan ngawur! Aku... aku ini sudah dijodohkan dan akan segera bertunangan dengan Ikram Pratama dari Jakarta Selatan!"
"Jangan bicara sembarangan!" seru Kamilah lagi untuk menegaskan batas tegas di antara mereka, lalu berbalik cepat dan melangkah lebar-lebar meninggalkan Rizky di tempatnya.
Rizky tidak langsung mengejar dengan tergesa-gesa. Pria itu berdiri tegap di tempatnya, perlahan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya. Seringai tipis yang sarat akan dominasi kembali terukir di wajah tampannya yang sempurna.
"Benar-benar mau pergi begitu saja?" panggil suara Rizky dingin dan bergema kencang di seluruh lantai parkiran.
Langkah Kamilah agak melambat, namun ia tetap mencoba mengabaikan panggilan itu dan terus melangkah menuju pintu keluar.
"Kalau kamu benar-benar melangkah pergi dan meninggalkanku sendirian di sini..." lanjut Rizky dengan nada santai namun membawa ancaman yang mematikan, "...aku tidak keberatan untuk langsung meluncur ke rumah sakit dan menceritakan secara detail kejadian malam itu pada Kakek Ye."
Langkah kaki Kamilah terhenti seketika. Tubuhnya membeku kaku di atas lantai beton. Ancaman itu benar-benar menjadi kartu AS yang sanggup melumpuhkannya tanpa syarat. Jika Kakek Ye yang kondisi kesehatannya sedang kritis tahu ia salah kamar dan tidur dengan pria lain sebelum acara perjodohan resmi... kakeknya bisa terkena serangan jantung seketika itu juga!
Kamilah menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk menekan rasa jengkel yang siap meledak di kepalanya. Ia membalikkan badan dengan terpaksa, menatap Rizky yang sedang berdiri santai di dekat mobil sport hitamnya.
Kamilah berjalan mendekati pria itu kembali dengan langkah yang terhentak-hentak kesal. "Sebenarnya... kamu itu mau apa, sih?!"
Rizky menyunggingkan senyum kemenangan yang amat menawan. Tanpa mengulurkan kunci mobil lagi, ia langsung merangkul pinggang kecil Kamilah dengan lengan kekarnya, menarik tubuh gadis itu rapat melekat di samping tubuh tinggi tegapnya.
"Sudah kubilang dari tadi... antar aku pulang," bisik Rizky santai tepat di pelipis Kamilah.
Dengan kuncian erat di pinggangnya yang tak memungkinkan untuk meloloskan diri, Kamilah terpaksa melangkah bersama Rizky. Rizky membukakan pintu mobil untuknya, lalu dengan enggan Kamilah masuk ke dalam kabin mobil mewah yang beraroma harum maskulin tersebut.
Di dalam mobil yang melaju membelah malam Kota Jakarta, suasana terasa begitu sunyi namun dipenuhi ketegangan terselubung. Kamilah membuang pandangannya ke luar jendela, menatap gemerlap lampu kota yang berpendar cepat.
"Kenapa diam saja?" suara Rizky memecah keheningan, matanya fokus menatap jalanan di depan sambil sebelah tangannya memegang kemudi dengan santai.
"Aku sedang berpikir... bagaimana cara melarikan diri dari pria pemaksa seperti kamu," jawab Kamilah jujur tanpa menoleh sedikit pun.
Rizky terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang terdengar sangat menyenangkan di telinga. "Berpikirlah sepuasmu, Kamilah. Tapi perlu kamu tahu... begitu kamu masuk ke dalam jangkauanku, tidak akan ada jalan keluar untuk melarikan diri."
Kamilah meremas gaunnya pelan. Hatinya kian berdebar tak karuan. Pria di sampingnya ini bukan hanya sekadar kaya dan berkuasa, tetapi juga memiliki aura posesif yang sanggup menjerat siapa pun yang mendekatinya.
Aku harus menemukan cara secepatnya untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini sebelum semuanya menjadi makin rumit dan tak terkendali, batin Kamilah penuh kecemasan.