Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Angka Merah
Valeska melangkah menyusuri koridor sekolah dengan kepala tegak, menahan rasa panas dan perih yang menjalar dari tumit kakinya yang berdarah di dalam sepatu sempit. Setiap pijakan rasanya seperti menekan luka terbuka di atas kerikil tajam, tapi dia menolak untuk berjalan pincang di depan orang-orang yang ingin melihatnya hancur.
Tiba di Kopi Senja, Valeska langsung menuju area staf belakang. Tanpa menyapa siapa pun, dia mengambil apron hitamnya, mengikatnya di pinggang, lalu masuk ke dapur basah.
Tumpukan piring dan gelas kotor sore itu jauh lebih tinggi dari biasanya. Valeska menarik napas panjang, memasang sarung tangan karet tipis yang kini tak lagi mampu melindunginya dari rasa perih. Begitu air kran mengalir dan busa sabun menyentuh kulit jarinya yang terkelupas, rasa perih yang menyengat langsung membuat Valeska menggigit bibir bawahnya rapat-rapat.
"Argh..." ringis Valeska pelan, memejamkan mata sejenak sebelum kembali menggosok piring stainless di depannya.
Di bar depan, Elang sedang meracik pesanan kopi pengunjung. Dari sela-sela sekat dapur yang sedikit terbuka, matanya beberapa kali melirik ke arah bak cuci piring. Dia melihat Valeska yang sesekali menyandarkan badannya ke tembok keramik karena menahan sakit di kakinya, namun jemari cewek itu terus bergerak tanpa henti menggosok setiap piring kotor.
Elang diam, menggenggam portafilter mesin espresso-nya lebih erat dari biasanya. Keinginan untuk melangkah ke dapur dan menyodorkan sarung tangan karet yang lebih tebal atau sekadar memberinya plaster luka sempat terlintas di kepalanya. Tapi ucapan tegas Valeska di koridor sekolah kembali bergema: "Gak usah peduli lagi sama gue. Gue sanggup."
Elang menghela napas panjang, membuang pandangannya kembali ke cangkir kopi di depannya. "Lo yang minta jalan sendiri, Val. Jangan salahin gue kalau gue beneran lepas tangan," gumam Elang sangat pelan, menekan tombol mesin kopi.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika shift Valeska akhirnya usai. Dengan tangan lemas dan badan yang serasa mau rubuh, Valeska melepas apronnya. Mas Bayu yang baru keluar dari kantornya menghampiri Valeska sambil menyodorkan amplop harian lima puluh ribu rupiah.
"Makasih ya, Val. Hari ini pengunjung ramai banget, tapi dapur tetap beres gara-gara kamu," puji Mas Bayu ramah.
Valeska tersenyum tipis, menerima amplop itu dengan tangan yang bergetar. "Sama-sama, Mas. Saya pamit pulang dulu."
Valeska berjalan keluar melalui pintu samping kafe. Saat melintasi parkiran, dia melihat Elang yang baru saja bersiap menaiki motor matic-nya. Untuk sekejap, mata mereka saling bertatapan di bawah remang lampu parkiran.
Elang menatap Valeska datar, memegang helmnya tanpa berniat menyapa atau menawarkan tumpangan.
Valeska menelan ludahnya yang terasa pahit. Rasa sakit di tumit kakinya makin melilit, tapi dia menolak untuk terlihat lemah. Valeska memalingkan wajah, mengabaikan keberadaan Elang sepenuhnya, lalu mulai melangkah menyusuri trotoar jalan raya yang mulai sepi.
Elang memperhatikan punggung Valeska yang makin menjauh, melangkah perlahan menembus angin malam yang dingin.
"Gengsi lo setinggi langit, Val," bisik Elang pelan pada dirinya sendiri, sebelum akhirnya memakai helmnya, menyalakan mesin motor, dan memutar arah berlawanan menuju rumahnya.
Valeska terus berjalan membelah kegelapan malam. Kaki kanan dan kirinya serasa sudah mati rasa, tapi jemarinya menggenggam erat amplop lima puluh ribu di dalam saku roknya.
"Gue bisa..." gumam Valeska lirih pada angin malam, air matanya menetes pelan tanpa ada lagi bisikan kata menyerah. "Gue bisa bertahan... walau harus jalan sendirian."
Perjalanan pulang malam itu terasa dua kali lipat lebih panjang. Begitu pintu kontrakan cat hijau pudar itu terkunci rapat dari dalam, Valeska langsung ambruk di atas lantai semen. Tubuhnya remuk, kakinya berdenyut-denyut parah, dan matanya sudah seberat timah.
Namun, bayangan angka 35 berwarna merah mencolok di kertas ulangannya kembali menghantam ingatannya.
Dengan napas terengah dan rasa kantuk yang luar biasa menyiksa, Valeska memaksa dirinya bangkit. Dia mengambil buku paket Fisika dan Matematika yang tebalnya seperti bantal dari dalam tas lusuhnya. Dia duduk berselonjor di atas kasur kapuk, menyandarkan punggungnya ke dinding keramik yang dingin, tepat di bawah remang-remang lampu bohlam kuning kontrakan yang berkedip-kedip pasrah.
Valeska membuka lembaran buku itu dengan jemari tangannya yang memerah dan terkelupas. Rumus-rumus rumit di hadapannya mendadak kelihatan seperti tulisan cakar ayam yang mustahil dibaca.
"Gue biasanya kagak pernah sepusing ini..." oceh Valeska sendiri, suaranya parau dan serak memecah kesunyian malam.
Dia memukuli jidatnya sendiri pelan, menahan kelopak matanya yang terus-terusan terpejam.
"Dulu... tinggal duduk manis di kamar ber-AC, dipanggilin Kak Rendy sama Kak Nadia dari lembaga bimbingan belajar paling mahal," gumam Valeska sinis, tersenyum pahit meratapi nasibnya. "Tinggal bilang, 'Kak, aku kagak ngerti rumus ini,' terus dijelasin sampai paham sambil nyemil kue impor. Lah sekarang? Dijelasin sama siapa, hah?!"
Valeska membanting pelan buku paket Fisika itu ke paha kakinya yang dibalut perban seadanya.
"Buka buku aja mata gue udah mau merem!" jeritnya lirih, mengusap wajahnya kasar. "Gimana otaknya mau nyerep rumus, coba?! Badan gue pegal-pegal habis cuci puluhan piring, tangan gue perih, kaki gue mau copot... terus gue disuruh memahami materi Fisika kelas sebelas sendirian?!"
Dia meremas rambutnya frustrasi, menatap lampu bohlam tua yang temaram di atas kepalanya.
"Bohlamnya juga kenapa redup banget sih?!" omel Valeska pada lampu di atasnya. "Sengaja banget bikin mata gue tambah meram-melek! Mau bikin gue buta sekalian?!"
Valeska menarik buku paket itu lagi mendekat ke mukanya, mencoba membaca baris demi baris penjelasan materi bab Dinamika Rotasi. Tapi baru baca dua kalimat, kepalanya mendadak teler berat, terkulai hampir menabrak halaman buku.
"Argh! Bangun, Val! Buka mata lo!" bentak Valeska pada dirinya sendiri, menampar pelan kedua pipinya agar tidak tertidur.
"Gue kagak boleh dapat nilai merah lagi," cicitnya dengan suara mulai bergetar bercampur amarah dan tangis frustrasi. "Gue kagak mau dibilang bodoh sama si Jena! Gue kagak mau dibilang miskin bikin otak tumpul! Gue harus dapet nilai bagus!"
Namun, rasa lelah fisiknya yang teramat sangat tidak bisa dibohongi. Air matanya menetes lagi, jatuh membasahi kertas buku paket Fisika yang lusuh itu.
"Tapi ini susah banget, Ma..." bisik Valeska akhirnya menyerah, memeluk buku tebal itu di dadanya sambil menangis sesenggukan. "Valeska bingung... Valeska enggak ngerti rumusnya... Valeska ngantuk banget..."
Di bawah remang-remang lampu kontrakan yang berkedip pelan, Valeska akhirnya tertidur dalam posisi terduduk menyandar dinding, memeluk buku sekolahnya ketat-ketat—sebuah perlawanan sunyi dari seorang cewek kaya yang kini dipaksa menjadi petarung sendirian di tengah kerasnya dunia.
Pagi berikutnya di SMA Nusantara, Valeska melangkah lambat menyusuri lorong lantai satu menuju kelasnya. Setiap pijakan kakinya masih menyisakan rasa perih yang tertahan, tapi dia berusaha keras berjalan setegak mungkin.
Namun, langkah Valeska mendadak terhenti di dekat belokan koridor perpustakaan.
Dari balik pilar semen, matanya menangkap sosok Elang yang sedang berdiri bersandar di dinding. Di depannya, Caca—siswi kelas sepuluh yang polos itu—sedang memegang sebuah kotak bekal kecil berwarna merah muda dengan wajah memerah malu-malu.
"Ini... Caca buatin nasi goreng buat Kak Elang," bisik Caca pelan sambil menyodorkan kotak bekal itu dengan kedua tangannya. "Kemarin kan Kak Elang udah nemenin Caca beli buku. Tapi... maaf ya Kak, rasanya mungkin biasa aja."
Elang meraih kotak bekal itu, lalu menyunggingkan senyum yang sangat manis—sebuah senyum hangat yang belum pernah sekalipun Valeska lihat selama mengenal cowok itu. Elang mengusap pelan puncak kepala Caca dengan penuh kelembutan.
"Bercanda lo ya? Apapun buatan lo pasti enak, Ca," kata Elang dengan suara yang terdengar begitu lembut dan renyah. "Lagian, jangankan nasi goreng... lo senyum kayak gini aja udah bikin hari gue kenyang kok."
"Ih, Kak Elang! Mulai deh gombalnya!" pekik Caca pelan, refleks memukul lengan Elang pakai buku catatannya sambil tertawa renyah. "Awas ya kalau enggak dihabisin!"
"Iya, pasti gue habiskan sampai bersih," balas Elang, matanya menatap Caca dengan binar kehangatan yang amat tulus. "Nanti pas istirahat gue samperin ke kelas lo ya? Kita makan bareng."
"Beneran ya, Kak? Janji?" tanya Caca dengan mata berbinar-binar.
"Janji, Caca," sahut Elang pelan, lalu menyelipkan helai rambut Caca ke belakang telinganya dengan sangat hati-hati.
Valeska berdiri membeku di balik pilar, menyaksikan seluruh adegan itu dari kejauhan.
Tidak ada rasa cemburu romantis di dalam dadanya. Valeska sadar betul dia tidak pernah menyukai Elang sebagai seorang pria. Namun, ada sensasi asing dan rasa iri yang sangat dalam membakar ulu hatinya. Mengetahui betapa hangat dan bahagianya dunia orang lain, sementara dunianya sendiri kini begitu gelap, sepi, dan dipenuhi penderitaan.
Elang yang selama ini bersikap sangat dingin dan galak padanya... ternyata bisa menjadi sosok yang begitu manis dan pelindung bagi cewek lain.
Valeska menundukkan kepalanya dalam-dalam, menggenggam erat tali tas sekolahnya yang terasa kian berat.
"Hangat banget ya dunia mereka..." gumam Valeska lirih pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar di antara riuh lalu lalang siswa di koridor. "Kenapa cuma dunia gue yang dingin dan hancur kayak gini?"