"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Marahnya Keysha, (Revisi)
Kerumunan di lapangan basket bubar seperti semut yang bubar disiram air. Menyisakan atmosfer abu-abu yang lengket dan menyesakkan.
Di koridor belakang aula yang sepi, Keysha mempercepat langkahnya, setengah berlari mengejar punggung tegap yang berjalan dengan entakan penuh amarah.
"Marvel! Stop! Mau sampai kapan lo lari kayak gini?!" teriak Keysha. Suaranya bergema di lorong yang sunyi.
Marvel menghentikan langkahnya kasar. Dia berbalik, wajahnya merah padam, sisa kepanikan akibat ancaman Ziva di lapangan tadi masih tercetak jelas di matanya. "Lari? Siapa yang lari? Gue mau balik ke kelas, Key. Gak usah bikin drama baru."
"Gue yang bikin drama?" Keysha tertawa hambar, matanya mulai berkaca-kaca karena kombinasi rasa malu, kecewa, dan takut. "Lo yang hampir bikin kaki Rian patah, Vel! Lo sengaja! Gue lihat sendiri di video Ziva tadi. Kenapa lo jahat banget, sih?"
Marvel mendengus, melangkah maju hingga jarak mereka terkikis. Dia menunduk, menatap Keysha dengan sorot mata yang belum pernah Keysha lihat selama enam bulan mereka pacaran. Dingin dan asing.
"Lo lebih belain anak pembantu itu dibanding cowok lo sendiri?" tanya Marvel, suaranya rendah tapi penuh tekanan. "Dia cuma apes pas landing, Key. Dan Ziva? Cewek gila itu cuma nyari panggung pake video editan."
"Itu bukan editan, Marvel! Stop denial!" Keysha memukul dada Marvel pelan, frustrasi karena cowok di depannya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. "Rian gak salah apa-apa sama lo. Dia cuma main basket! Kenapa lo harus se-insecure itu sama dia? Karena dia lebih pinter? Karena dia dapet beasiswa?"
Plak!
Marvel memukul loker besi di samping kepala Keysha dengan keras.
Bunyi dentangan besi itu membuat Keysha tersentak dan refleks memejamkan mata. Napas Marvel memburu tepat di depan wajahnya.
"Jaga mulut lo, Keysha," desis Marvel. "Jangan pernah sebut nama cowok itu lagi di depan gue. Lo pacar gue, harusnya lo berdiri di belakang gue, bukan malah pasang badan buat cowok lain!"
Rasa takut sempat menyergap Keysha, tapi rasa muak di dadanya jauh lebih besar. Dia membuka mata, menatap langsung ke dalam manik mata Marvel yang egois. "Gue bakal selalu berdiri di belakang lo kalau lo bener, Vel. Tapi hari ini? Lo monster. Lo egois."
"Oh, jadi sekarang lo peduli banget sama masa depan dia?" Marvel mundur selangkah, senyum miring yang memuakkan kembali muncul di bibirnya. "Kenapa? Lo suka sama dia? Lo kasihan karena dia miskin, terus lo mau jadi pahlawannya?"
"Marvel, lo keterlaluan!"
"Gue yang keterlaluan atau lo yang kecentilan?!" bentak Marvel, suaranya meninggi, memutus kalimat Keysha tanpa ampun. Udara di koridor itu mendadak terasa mencekik.
Keysha menggelengkan kepala, air matanya akhirnya luruh. Dia merasa tidak lagi mengenali cowok yang selama ini selalu bersikap manis dan protektif padanya. Marvel yang ada di depannya sekarang adalah produk dari lingkungan yang terlalu memanjakannya dengan uang dan kekuasaan.
"Gue cuma punya empati, Marvel. Sesuatu yang kayaknya gak pernah dibeliin sama bokap lo," ucap Keysha lirih namun menembus tepat di ulu hati.
Kata-kata Keysha sukses menyulut sisa-sisa sumbu pendek di kepala Marvel. Kilat amarah yang tadinya sempat mereda karena ketakutan hukum, kini meledak menjadi ego yang terluka. Dipermalukan oleh Ziva di depan satu sekolah sudah cukup menghancurkan harga dirinya, dan sekarang pacarnya sendiri ikut menginjaknya.
Marvel maju, mencengkeram kedua lengan atas Keysha. Tidak sampai membuat memar, tapi cukup kuat untuk mengunci cewek itu agar tidak bisa menghindar.
"Dengerin gue baik-baik, Keysha," kata Marvel, suaranya bergetar menahan amuk, setiap kata ditekankan dengan artikulasi yang tajam. "Gue gak peduli seberapa sucinya lo atau seberapa kasihan lo sama si Rian itu. Tapi kalau sampai gue dengar lo nanyain kabar dia lagi, atau lo kelihatan nengok dia di rumah sakit..."
Marvel menjeda kalimatnya. Dia menatap Keysha dengan pandangan mengancam yang membuat jantung Keysha berdegup dua kali lebih cepat karena ngeri.
"Kita putus."
Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Marvel, dingin dan tanpa beban.
Keysha membeku. Lidahnya mendadak kelu, dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di sekitar mereka habis dalam sekejap. Putus? Hanya karena dia membela kebenaran?
"Gue gak main-main," ancam Marvel lagi, melepaskan cengkeramannya dari lengan Keysha dengan sentakan kasar hingga Keysha agak limbung. "Pilih. Lo tetep jadi pacar Marvel Sanjaya dengan semua fasilitas dan proteksi yang gue punya, atau lo mau jadi relawan sosial buat anak pembantu itu tapi jangan pernah kenal gue lagi. Pilih sekarang, Key."
Keysha menatap Marvel dengan pandangan tidak percaya. Di matanya, Marvel bukan lagi kekasih tempatnya bersandar, melainkan sebuah tebing curam yang siap menjatuhkannya kapan saja jika dia salah melangkah. Ego cowok itu begitu tinggi hingga sanggup menjadikannya sebagai taruhan.
Sebelum Keysha sempat menjawab, Marvel sudah berbalik. Dia berjalan pergi meninggalkan koridor, membiarkan bunyi sepatunya bergema memecah keheningan, meninggalkan Keysha yang berdiri sendirian dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
......................
...****************...
Tbc,